LOGINWu Teng tidak “menjadi” Bayangan Sunyi karena takdir liar atau teknik terlarang semata. Seseorang telah menanamkan sesuatu dalam dirinya. Fragmen giok. Wadah. Pilar.
Ingatan masa kecilnya selalu kabur. Hanya kilatan cahaya, rasa panas di dada, dan wajah gurunya yang memandangnya dengan kesedihan lebih dari sekadar kebanggaan.Apakah gurunya tahu?Gas semakin tebal. Rak kayu mulai berderit karena kelembaban bercampur racun.Wu Teng mengepalkan tangan. Di dal"Sekte itu... mereka tahu apa yang paling kau takuti," bisik Ling'er, suaranya serak. "Mereka akan terus menguji kita. Jangan biarkan mereka menang."Wu Teng mengangguk, napasnya masih tersengal. Rasa terima kasih yang mendalam membanjiri dirinya. Ling'er telah menyelamatkannya dari jurang keputusasaan yang hampir menelannya. Ia tahu, ancaman ini berbeda.Pertarungan fisik saja tidak akan cukup. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan."Kita butuh jawaban," kata Lin Wei, menyarungkan pedangnya, matanya yang tajam menyapu hutan yang kembali tenang, namun terasa lebih mengintai. "Master Liao berbicara tentang sejarah Sekte Jiwa Beku yang misterius. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk tentang Pilar Keputusasaan di tempat lain, di luar jangkauan langsung mereka."Li Hua mengangguk. "Ada legenda kuno di Benua Utara. Sebuah tempat bernama Perpustakaan Terlarang. Dikatakan menyimpan catatan sejarah dan sihir yang dilupakan, te
"Mereka mencari titik terlemah dalam jiwa seseorang," lanjut Master Liao, matanya memandang jauh ke depan, seolah melihat masa lalu yang kelam."Mereka akan memutarbalikkan kenyataan, mengubah orang terkasih menjadi musuh, dan membuatmu mempertanyakan setiap ingatan. Sekte Jiwa Beku memiliki sejarah yang jauh lebih panjang, lebih misterius, dan lebih licik daripada Sekte Cakar Hitam. Mereka tidak mengumpulkan pengikut untuk kemarahan, tetapi untuk kehampaan."Ling'er bersandar pada Wu Teng, wajahnya masih pucat. "Firasatku... kehendak purba itu. Dia terkait dengan akar dari semua keputusasaan. Dia ingin menghancurkan harapan, bukan hanya dunia."Master Liao mengangguk, sorot matanya serius. "Tepat sekali, Penyeimbang. Sekte Jiwa Beku adalah alatnya. Pilar Keputusasaan adalah kuncinya. Jika kalian pergi ke sana, kalian akan menghadapi musuh yang tidak bertarung dengan pedang, melainkan dengan racun di dalam pikiran kalian sendiri." Ia menatap Wu Teng dengan
Di tengah kepanikan Wu Teng dan kekhawatiran yang mendalam, sebuah denyutan lain merayap dari kedalaman Benua Utara.Lebih jauh, lebih dalam, dan jauh lebih kuat dari Pilar Kebencian. Itu adalah denyutan Pilar terakhir. Dan entitas raksasa itu, Tuan Kegelapan Abadi, ia pasti masih ada.Li Hua dan Lin Wei segera menghampiri, mata mereka penuh kekhawatiran.Li Hua berlutut, dengan cekatan memeriksa nadi Ling'er. Napasnya tercekat melihat betapa lemahnya gadis itu."Dia masih hidup, tapi energinya... terkuras habis. Ini seperti inti jiwanya nyaris padam."Li Hua segera mengamankan area, pedangnya disarungkan, matanya memindai sisa-sisa pengikut Sekte Cakar Hitam yang terkapar, kebingungan dan ketakutan mengisi mata mereka.Lin Wei, meskipun terluka sendiri, mengambil ramuan penyembuh dari kantungnya, menuangkannya sedikit ke bibir Ling'er. Gerakannya lambat, gemetar."Apakah dia akan baik-baik saja?" tanya Wu Teng, suaranya
Wu Teng mencoba melawan, tetapi energinya, yang begitu lama didominasi kebencian, kini balik menyerang dirinya sendiri.Wu Teng menarik diri, Pilarnya berdenyut kelelahan, namun kemenangan terpancar dari dirinya.Ketua Sekte Cakar Hitam terhuyung mundur, tubuhnya mulai hancur menjadi serpihan energi gelap, seperti patung pasir yang ditiup angin.Raungan terakhirnya adalah campuran amarah dan kekosongan.Hanya dalam hitungan detik, ia lenyap, larut menjadi ketiadaan, meninggalkan topeng cakar yang retak dan jubah hitam yang compang-camping di lantai.Keheningan kembali menyelimuti aula, kali ini disertai dengan rasa lega yang mendalam.Para pengikut Sekte Cakar Hitam yang masih hidup terkapar di tanah, energi kebencian di mata mereka telah meredup, digantikan oleh kebingungan dan kelelahan.Pilar Kebencian di belakangnya kini berdenyut kacau, aura merah gelapnya memudar, lalu kembali muncul, seolah tak stabil, di ambang k
Li Hua mengikuti di belakang Wu Teng, pedangnya menari. Dia adalah badai yang tak terhentikan, tebasan dan tusukan presisinya menebas formasi musuh.Dia tahu setiap sudut dan celah, menggunakan dinding gua sebagai pijakan untuk serangan yang tak terduga.Tubuhnya bergerak luwes, otot-ototnya menegang, membuktikan mengapa dia adalah salah satu pendekar terbaik Aliansi Harapan.Ling'er tetap berada di dekat Wu Teng, melindungi punggungnya.Energi Penyeimbang mengalir dari telapak tangannya, menciptakan riak pelindung yang menjauhkan serangan dari titik buta mereka.Sesekali, ia memancarkan gelombang energi yang menenangkan, menyebabkan beberapa pendekar Sekte Cakar Hitam sejenak terhuyung.Cengkeraman kebencian pada jiwa mereka sedikit mengendur, memberikan kesempatan bagi Wu Teng dan Li Hua untuk menembus.Mereka menyusuri lorong demi lorong, melintasi aula-aula yang dipenuhi pengikut Sekte Cakar Hitam. Setiap p
Pagi berikutnya, Lin Wei mempersiapkan diri. Ia menanggalkan jubah hitamnya yang biasa, menggantinya dengan kain kasar yang compang-camping, kotor oleh debu dan lumpur. Wajahnya diolesi arang dan tanah, rambutnya diacak-acak, dan ia bahkan membuat luka goresan palsu di lengannya. Ia mempraktikkan ekspresi ketakutan dan keputusasaan, membiarkan tubuhnya membungkuk, menirukan gerakan para budak yang mereka lihat di desa. Pedang pendeknya disembunyikan di lipatan jubah, belati di sepatu botnya. Ia menjadi sosok yang ringkih, putus asa, dan penuh kebencian yang samar —persis target yang dicari Sekte Cakar Hitam."Aku akan memberimu Qi penyamaran kecil," kata Ling'er, menyentuh bahu Lin Wei.Energi Penyeimbang mengalir, menyelimuti Lin Wei dengan aura samar yang menyamarkan jejak energinya, membuatnya lebih sulit dideteksi oleh indra peka para pendekar Sekte Cakar Hitam."Hati-hati, Lin Wei," kata Wu Teng, suaranya dipenu
Mesin-mesin berputar tanpa suara, rune kuno berkelip di sepanjang dinding.Ini bukan dunia sekte dan pedang. Ini adalah dunia sebelum pedang.Wu Teng berdiri di tengah pelataran luas, tubuhnya tak lagi berdarah, tak lagi kelelahan. Ia hanya seorang pengamat —tak terlihat, tak te
Semakin tinggi, kabut menjadi tebal. Batu-batu berubah menjadi tangga alami yang tidak simetris.Di satu titik, mereka harus melewati jembatan kayu tua yang tergantung di atas jurang tak berdasar.Zayan menahan napas.“Terlalu sunyi,” katanya.Dan benar.
Kelelahan merenggut Wu Teng.Napasnya tersengal. Tangan yang menggenggam pedang mulai gemetar. Fragmen giok yang menyatu dengan bilah terasa panas membakar.Makhluk itu menyerang dari segala arah.Serpihan dimensi seperti cakar tak terlihat mencabik bahu dan punggungnya
Wu Teng mengangkat pedangnya.Tidak dengan kemarahan, bukan pula dengan kepasrahan. Ia berdiri seperti manusia yang memutuskan untuk memilih, meskipun takdir telah memilihkannya sejak lahir.Di dadanya, dua denyut berdetak bersamaan. Satu miliknya. Satu milik sesuatu yang lebih







