LOGINHai makasih masih baca sampai bab ini, mohon maaf chapter ini pendek, insyallah chapter berikutnya lebih panjang. Selamat hari libur semuanya.
Elia maju selangkah. Matanya menajam ke arah Celine. “Kau sedang berhadapan dengan permaisuri Ravensel. Satu jentikan jari saja akan membuatmu mendekam di tahanan kerajaan,” imbuh Elia tak terima dengan perkataan Celine yang seakan berusaha merendahkan statusnya. Sejak pertama pengasingan, Edric tidak mengumumkan itu pada dewan dan rakyat secara resmi. Pengasingan adalah hukuman yang paling aman untuk Elia. semua orang mengira jika Elia masih menyandang status ratu di Ravensel. Sengaja, Edric tidak mengumumkan hal itu demi menjaga stabilitas kerajaan. Celine menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh perkataan Elia. Ia menatapnya sekali lagi. Tak gentar. “Aku akan tutup mulut asalkan—”Elia mengepalkan ke dua tangannya di sisinya. “Kau bukan sekutu bagiku.” ia menoleh ke arah Emma yang berada di sampingnya. “Ayo, Emma. Kita harus segera pulang,” imbuhnya dengan suara yang lantang. Sengaja, agar terdengar oleh Celine.Mereka sudah menaiki kereta bersama. S
Pelabuhan Stormhaven, RavenselPelabuhan Stormhaven telah ramai sejak fajar. Deretan kapal memenuhi dermaga, layar-layar terkembang tertiup angin laut. Hari ini bukan hari biasa. Pangeran bersama tim ekspedisi istana dijadwalkan berangkat. Rombongan istana bahkan telah tiba di pelabuhan tiga puluh menit lebih awal, memastikan segala persiapan berjalan tanpa cela.“Kau harus berhati-hati, Nak,” ujar Elia. Ia mengantar putranya hingga ke bibir dermaga, lalu membetulkan mantel berbahan bulu binatang yang menyampir di pundak sang pangeran, seolah enggan melepasnya begitu saja.Evander hanya bisa pasrah ketika mendapat perhatian yang berlebihan dari ibunya. Ia berkata dengan suara rendah. “Aku akan baik-baik saja, Bu. Lihatlah, ada pengawal Inez di sini. Dia akan melindungiku,” katanya sembari melirik Inez yang berdiri di sampingnya. Elia sempat melirik ke arah gadis yang dipanggil oleh putranya. Ia berjalan mendekatinya. “Kau harus memastikan pangeran Ravensel pulang dalam keadaan selam
Wajah Evander memerah seketika. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “A-aku ..”Leon menepuk pundak adiknya kencang. “Aku harap, kau bisa menikah dengan wanita yang kau cintai. Dan, wanita itu juga mencintaimu.”Kata-kata Leon menyadarkannya. Evander spontan menjawab. “Jadi, aku bebas memilih wanita pilihanku?”Leon mengangguk. “Kalau bisa bangsawan.”Evander mengerutkan keningnya dalam. “Kenapa harus bangsawan, Kak? Ini tidak adil. Kak Leon bisa menikah dengan Kak Ana meskipun kalian menikah awalnya karena kesalahpahaman,” sergah Evander tidak terima dengan perkataan kakaknya. Leon meneguk saliva. Ia menatap tajam ke arah adiknya. “Jelas ini berbeda.”Suara Evander naik. “Berbeda apa?”Leon menghela panjang. “Nanti kau akan tahu jawabannya,”Evander menggelengkan kepalanya ribut. Tatapannya menajam ke arah sang kakak. “Aku tidak terima ini, Kak.”Leon menghembuskan napas kasar. “Dengarkan aku, Evander. Kau pangeran Ravensel. Tapi … kau tidak diminta untuk menikah karena pernikah
Pintu berbahan kayu oak terbuka dengan lebar. Sosok pemuda berambut keemasan masuk dengan langkah mantap. “Ibu kenapa tidak tinggal di istana sayap barat?” Evander bertanya dengan nada sedikit kesal. Ia mengambil tempat duduk kosong di salah satu kursi kayu di sana.“Aku pikir, Ayah sudah benar-benar memaafkanmu,” keluhnya dengan wajah yang setengah ditekuk. Tangannya mengetuk-ketuk di atas meja. Sore itu ia baru pulang dari distrik bangsawan, mewakili Leonhart menghadiri acara pertemuan dengan para kolega penting. Ia selalu menyisakan waktu, mengunjungi ibunya setiap kali ada kesempatan. Elia duduk tenang, dekat jendela. Ia menghabiskan waktu dengan merajut. Di sampingnya, Emma–dayang setianya, menggulung benang rajut berbahan katun dan merapikannya ke dalam peti berbahan walnutt. “Kau sudah tahu jawabannya, Evan. Ayah masih belum sepenuhnya memaafkan Ibu. jadi, beliau meminta ibu tinggal di sini. Tapi—” ia melemparkan pandangan ke arah jendela yang menghadap ke paviliun.“Ibu kir
Usia pernikahan Clarissa dan Cedric sudah menginjak dua bulan. Sepasang pengantin itu menjalani hari-hari barunya sebagai pengantin baru yang bahagia. Seraphina sama sekali tidak berani mengusik kebahagiaan mereka. Raja Alric mengawasinya secara ketat. Pagi itu Cedric baru saja berlatih pedang dengan para prajurit di halaman istana. Peluh mengucur deras membasahani pakaiannya.“Latihan selesai,” imbuhnya pada para prajurit Velmont. Clang!Suara denting baja terakhir mengudara. Sang ksatria membubarkan latihan pedang hari itu. Ia menyeka keringatnya dengan sapu tangan lalu menyelipkannya kembali sapu tangan pemberian istrinya itu ke balik jubahnya. “Yang Mulia, ini minumannya,” salah seorang prajurit menyorongkan kendi berisi air minum untuknya. Cedric menerima kendi itu lalu menegak isinya. Rasa haus segera sirna setelah air itu mengalir di tenggorokannya. Ia duduk sejenak untuk beristirahat. Setelah itu kembali ke kamar istrinya. Tumben, pagi itu istrinya belum keluar kamar.
Inez terperanjat saat tahu siapa yang menolongnya. Ia membeku. Napas mereka beradu saking dekatnya. Menyadari posisi mereka yang tak pantas di hadapan puluhan mata, Inez berusaha melepaskan diri tapi … Evander malah masih menahannya. Ia menatapnya dalam. Sikap Evander membuat inez merasa ingin menggali lubang dan bersembunyi di dalamnya. Jantungnya berdetak lebih kencang. “Yang Mulia, m-maaf,” imbuh Inez, matanya tampak memelas. Tak seperti biasa. Wajahnya memerah seketika.Menyadari itu, Evander berusaha melepaskan Inez. Ia mundur selangkah.Inez berdiri lalu membungkuk hormat pada Evander. Wajahnya tampak kaku mirip rusuk bambu. “Terima kasih, Yang Mulia,” imbuh Inez, suaranya rendah. Evander tak langsung menjawab. Tatapannya masih mengunci pada gadis itu. Rasanya, ia begitu merindukan momen di mana mereka saling sapa seperti dulu meskipun hanya sebagai pangeran dan pengawal.Komandan yang menyaksikan pemandangan itu berdehem canggung. “Latihan dihentikan sementara.”Barisan pra







