LOGINMohon maaf satu bab dulu, next doble ya. Makasih sudah menanti cerita Ana Merwin. Jangan lupa support novelnya dengan ulasan, gem atau hadiah. Support kalian sangat berarti buat Author. Thanks ya
Leon menerima kitab pemberian Ana dengan enggan. Sebetulnya, ia kurang meyakini apa yang Ana temukan. Pertama, ia belum bisa melihat langsung wabah dan korbannya. Ke dua, ia memang sukar untuk mempercayai sesuatu.“Aku akan simpan,” kata Leon berusaha menghargai usaha Ana. Ana mengulum senyum melihat respon Leon—yang dengan senang hati mendengar ceritanya dan kitab tentang sejarah perkembangan ilmu medis dan alkimia puluhan tahun silam. “Jadi kau berangkat hari ini?” tanya Ana kemudian. Tenggorokannya tercekat tiba-tiba. Jika Leon pergi ke daerah wabah, ia tidak bisa menghadiri upacara pernikahan Evander. Leon menghela napas berat. Ia menatap istrinya lurus. “Iya, Sayang. Aku harus berangkat hari ini. Tapi … kau tidak usah khawatir. Kami akan pergi dengan sejumlah pasukan elit dan tim medis.”Ana tergugu. Ia percaya dengan pengawalan pasukan elit. Ini bukan tentang pengawalan tetapi pernikahan Evander. “Leon, beberapa hari lagi hari pernikahan Evander dan Inez.”Leon terdiam bebera
Ruang pribadi raja berubah sunyi ketika tabib istana dipanggil dengan tergesa. Leon berdiri di sisi ranjang, wajahnya tegang, sementara beberapa pelayan menyingkir memberi ruang. Tabib tua itu memeriksa denyut nadi Edric dengan teliti. Jemarinya menekan pergelangan tangan sang raja, lalu beralih memeriksa pupil matanya.“Bagaimana keadaannya?” tanya Leon, suaranya tertahan.Tabib menghela napas pelan. “Yang Mulia tidak terserang wabah.”Leon sedikit mengendur, meski belum sepenuhnya lega. “Lalu?”Leon terdiam. Ia tahu itu hampir mustahil. Namun tidak menutup kemungkinan wabah bisa muncul di mana saja. “Kelelahan. Tubuh beliau dipaksa bekerja terlalu keras. Kurang istirahat, terlalu banyak pikiran.” Tabib itu menegakkan punggungnya. “Untuk sementara, beliau harus benar-benar beristirahat. Tidak boleh memikirkan urusan pemerintahan dulu.”Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Elia melangkah masuk dengan wajah pucat. Tatapannya langsung tertuju pada suaminya yang terbaring lemah.“Y
Leon mendengus kesal. Kali ini … tindakan Clara sudah keterlaluan. Dia sudah pergi ke lembah Hidennia—lembah perbatasan di antara dua kerajaan Ravensel dan Dragoria tanpa seijinnya. Tunggu, sebuah pertanyaan mencuat di kepalanya. Mengapa waktu penelitian tanaman herbal bertepatan dengan adanya wabah yang menyerang daerah perbatasan Ravensel dan Dragoria? Tentu saja, Leonhart bukan orang yang mudah dikelabui. Ia yakin Clara tidak mungkin mengetahui kabar tentang wabah itu tanpa sumber yang jelas—dan kemungkinan besar informasi tersebut datang dari pihak Dragoria.Apa pun motif di baliknya, Leonhart sadar ia tidak bisa hanya menunggu laporan. Ia harus turun tangan sendiri, melihat dengan mata kepalanya apa yang sebenarnya terjadi di Lembah Hidenia.Ia juga tak menutup kemungkinan bahwa wabah itu bukan sekadar bencana alam. Dalam politik perbatasan, penyakit pun bisa dijadikan senjata. Bukan tak mungkin apa yang terjadi sekarang hanyalah pengulangan taktik lama—menciptakan kekacauan, l
Pagi hari, akhirnya Clara bisa setidaknya duduk dengan tenang di meja kayu dekat jendela kecil. Cahaya lilin sudah hampir padam, tetapi sinar matahari menyelinap lewat jendela kayu yang masuk. Di depannya, lembaran perkamen kosong. Sebuah quil bulu ia genggam dengan perasaan berkecamuk. Ia menarik napas panjang sebelum mencelupkan pena ke tinta.“Untuk Dewan Medis Kerajaan Ravense,” gumamnya pelan, seolah memastikan kalimat pertama itu cukup kuat menahan beban yang akan ia tulis.Tinta mengalir perlahan.[Kepada Yang Mulia Putra Mahkota Leonhart dan Dewan Medis Kerajaan,Laporan ini dikirim dari Pondok Hidenia pada pagi hari setelah penyisiran kedua lembah. Sebelumnya, kami tim ekspedisi dari alkemi istana Ravensel sedang melakukan penelitian ramuan herbal di lembah Valderon. Namun, di perjalanan, kami menemukan seorang pria yang terkapar di dalam kereta dalam kondisi sakit tidak wajar. Singkat cerita, saya, Clara berhasil mengobati korban tersebut. Namun tak lama kemudian, di hari
Menjelang dini hari, di atas Lembah Hidenia Thorian berdiri di tepi lereng berbatu dengan wajah yang kusut masai. Beberapa hari ia tidak tidur demi melakukan patroli di sekitar daerah wabah. Dari ketinggian itu, ia bisa melihat atap-atap rumah kayu yang sebagian hangus, sebagian lagi terbuka seperti luka menganga. Akibat chaos terjadi kebakaran di pemukiman penduduk yang tinggal di sana. Namun yang membuat rahangnya mengeras bukan bangunan yang rusak. Melainkan bayangan-bayangan yang bergerak di antara jalan tanah. Korban akibat wabah Umbrae semakin agresif. Sepertinya, wabah itu mengalami mutasi, pikirnya. “Mereka semakin banyak,” gumam salah satu prajurit di belakangnya.Thorian tidak menjawab. Namun, kepalanya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang terjadi. Di bawah sana, puluhan sosok berjalan terseok-seok. Tidak sepenuhnya seperti mayat. Tidak juga seperti manusia sehat. Gerakan mereka patah-patah dan kaku seperti rusuk bambu, tapi tidak lambat. Beberapa berhenti tiba-tiba, ke
Clara bergegas menghampiri Eva. “Di mana Nathan?”Eva menghela napas panjang sebelum bersuara. “Maaf Lady, aku tidak tahu. Kereta kami terperosok saat menuju penginapan. Saat kami turun, tiba-tiba kami diserang. Aku berlari karena dikejar. Begitupula dengan Nathan dan yang lainnya.”Mendengar pengakuan Eva, Clara merasa sesak di dada. Jantungnya terasa diremat. “Lady, apa kau baik-baik saja?” tanya prajurit yang berada tak jauh dari sisinya. Wajah Clara semakin memerah. Kepalanya terasa berdenyut hebat. Demamnya semakin tinggi. Alih-alih menjawab, pandangan Clara menyebar ke segala penjuru arah. Ia mencari adiknya. Helaan napas berat lolos dari bibirnya. “Nathan,” rasa takut menyelinap begitu saja ke dalam hatinya. Ia lantas menoleh ke arah prajurit. “Carikan adikku,”Suara kemerosok dari arah hutan terdengar secara tiba-tiba, membuat semua mata di sana menatap waspada. Clara spontan menegakan pundaknya kendati tubuhnya terasa lemah. Rupanya sosok seseorang muncul lebih dulu dari







