Mag-log inSudah seminggu berlalu sejak pertengkaran terakhir mereka, tak ada satu pun panggilan telepon atau pesan singkatnya yang dibalas oleh Davina. Berkali-kali ia berdiri di depan pintu unit apartemen mewah itu, mengetuk dan memanggil nama Davina hingga tangannya pegal, namun tak pernah ada jawaban. Pintu itu tetap terkunci rapat, menyisakan keheningan yang kian hari kian membunyikan alaram bahaya di dalam kepalanya. Rasa khawatir yang membakar akal sehatnya membuat Fahri tak bisa lagi berdiam diri. Dengan langkah tergesa-gesa, ia berjalan menuju lantai dasar ditiup angin panik. Ia memanggil dua orang petugas keamanan gedung, memaksa mereka membawa kunci cadangan master untuk membuka paksa unit yang ditempati Davina. "Pak, ini tidak sesuai prosedur kalau tidak ada izin pemilik," tahan salah satu petugas keamanan dengan ragu. "Buka sek
Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian malam itu, malam yang menghancurkan seluruh hidup Trian. Sidang perceraian pertama di Pengadilan Agama pun telah dilewati begitu saja tanpa kehadiran para pihak utama. Melalui laporan singkat dari tim pengacaranya, Trian mengetahui bahwa Davina juga tidak hadir dalam persidangan tersebut. Wanita itu sepenuhnya menyerahkan seluruh proses hukum kepada kuasa hukum yang ditunjuknya. Proses perceraian berjalan begitu cepat, seolah takdir sedang tergesa-gesa memisahkan mereka. Dan minggu depan adalah jadwal sidang pengucapan ikrar talak—momen di mana secara hukum negara dan ikatan resmi, Trian harus merelakan hubungannya dengan Davina benar-benar berakhir menjadi debu kenangan. Trian duduk bersandar di kepala tempat tidur dalam remang lampu kamar. Matanya yang sembap dan menyisakan gurat lelah menatap lurus pada sosok mungil yang kini terlelap di sampingnya. Kamari. Boca
"Apa yang sudah kulakukan..." lirih Fahri, suaranya parau menembus keheningan lorong apartemen yang sepi. Pria itu merosot duduk di lantai dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding di sudut pintu unit Davina. Kantong kertas berisi makan siang hangat itu tergeletak begitu saja di sampingnya, tak lagi tersentuh. Fahri mengepalkan kedua tangannya rapat-rapat, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa penyesalan yang teramat pekat mulai merayapi seluruh pembuluh darahnya, menyiksa dadanya hingga terasa sangat sesak. Ia telah berhasil memisahkan Davina dari Trian. Ia telah menghancurkan rumah tangga rival bisnisnya hingga tak tersisa. Namun, harga yang harus ia bayar ternyata teramat mahal: jiwa Davina yang hancur berkeping-keping dan kebencian abadi dari wanita yang paling dicintainya. Fahri mengacak rambutnya frustrasi. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara membuat Davina mema
Fahri berdiri mematung di depan pintu unit apartemen mewah itu. Di tangan kanannya, sebuah kantong kertas berisi porsi makan siang hangat dari restoran favorit Davina tergenggam erat. Sudah hampir sepuluh menit ia berdiri di sana, mengetuk pintu unit itu berulang kali, namun tak ada satu pun sahutan dari dalam. "Davina... buka pintunya, Dav. Aku bawakan makan siang untukmu," panggil Fahri dengan nada lembut yang dipaksakan. Keheningan melingkupi lorong apartemen yang sepi. Fahri menghela napas panjang, menekan tombol bel sekali lagi. Tepat ketika ia berniat memutar kunci cadangan yang dipegangnya, terdengar suara gesekan kunci dari dalam. Pintu perlahan terdorong terbuka. Davina berdiri di ambang pintu. Penampilannya tampak begitu berantakan dan mengenaskan. Kaos longgar yang dikenakannya kusut, rambutnya terikat asal-asalan, dan wajahnya pucat pasi bagaikan mayat hidup. M
Dengan napas memburu dan jantung yang berdegup kencang, Trian membopong tubuh ibunya yang tak sadarkan diri menuju mobil. Pria itu memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota, membelah kemacetan hingga akhirnya tiba di pintu darurat rumah sakit terdekat. Nyonya Sandra segera dilarikan ke ruang penanganan darurat oleh tim medis. Trian berdiri mematung di luar ruangan dengan wajah pucat dan tubuh yang bergetar hebat. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah serius. "Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?" buru Trian langsung menghampiri sang dokter. "Tekanan darahnya melonjak sangat tinggi akibat syok berat, Pak Trian," jelas dokter dengan suara tenang namun tegas. "Kondisi jantungnya membahayakan jika tidak dipantau secara intensif. Beliau harus menjalani rawat inap selama beberapa hari ke depan sampai kondisinya be
Hari ini Trian memutuskan untuk tidak pergi ke kantor. Tubuhnya terasa begitu lemas dan kepalanya terus berdenyut nyeri. Pria itu menelepon Biru melalui sambungan seluler untuk mengatur seluruh urusan administrasi. "Biru, saya tidak masuk hari ini. Tolong kamu urus berkas perceraian saya dengan Davina ke Pengadilan Agama. Saya ingin terima beres saja," ujar Trian dingin. Di seberang telepon, Biru tertegun cukup lama sebelum akhirnya bersuara dengan nada panik. "Maksud Bapak bagaimana? Cerai? Pak Trian, tolong pikirkan lagi matang-matang. Jangan mengambil keputusan saat emosi, Pak!" "Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, Biru. Semuanya sudah selesai," potong Trian datar. "Tapi Pak Trian, Mbak Davina—" "Saya sudah mengucapkan talak tiga padanya tadi malam!" pangkas Trian t







