Share

Terbawa Perasaan

Author: Smilegummy
last update publish date: 2026-09-24 10:40:47

Setibanya di rumah, suasana sunyi kembali menyambut mereka. Tanpa diminta, Biru langsung melangkah ke dapur, melepaskan jas kemejanya dan menggulung lengan kemeja soft blue-nya hingga ke siku.

Dengan cekatan, ia menyiapkan mangkuk sup ayam hangat yang sempat ia beli dalam perjalanan pulang tadi.

Davina yang duduk di sofa ruang tengah memperhatikan setiap gerak-gerik Biru. Ada rasa hangat yang pelan-pelan merayap di dadanya.

Perhatian Biru yang b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!   Anu nya Bengkok?

    Biru benar-benar tidak lagi peduli meskipun harus terlambat ke kantor pagi ini. Seluruh fokus dan kewaspadaannya yang biasanya begitu runtut kini meleleh, tergantikan oleh naluri murni seorang pria dewasa. Dengan gerakan yang tegas namun tetap presisi, Biru menindih tubuh Davina. Jemarinya yang biasanya cekatan memegang pena kini dengan cepat melepas kancing kemejanya sendiri satu per satu lalu melemparkannya ke lantai. Otot-otot perutnya yang keras dan terbentuk sempurna terekspos tanpa celah di bawah pendar temaram lampu kamar. Tanpa membuang waktu, tangan Biru bergerak menyusuri dada Davina, melepas kancing piyama satin yang dikenakan wanita itu. Kain lembut itu terbuka lebar, membuat penampilan Davina tampak berantakan dan teramat menggairahkan. Biru tak lagi menunggu. Ia menundukkan wajahnya, mulai menciumi sisi leher jenjang Davina yang halus. Sentuh

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!   Tolong, Puaskan Aku Malam Ini !

    Aroma parfum Biru—wangi woody hangat yang kaya akan sentuhan sandalwood dan amber—menyeruak hebat di indra penciuman Davina. Aroma itu sangat berbeda dengan wangi maskulin segar beraroma citrus*l yang selalu melekat pada tubuh Trian. Perbedaan yang begitu nyata itu seketika mengirimkan sengatan asing, membuat jantung Davina berdetak tak karuan hingga dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Tanpa melepaskan pandangan intensnya, Biru menaikkan satu tangannya, memotong jarak untuk melepaskan kacamata yang membingkai wajahnya. Benda itu dilemparkannya asal ke atas nakas. Tanpa penghalang kaca itu lagi, sorot mata Biru tampak begitu tajam, liar, dan sarat akan gairah murni seorang pria dewasa yang selama empat bulan ini terkurung rapat di balik benteng kendali diri. Sebelum Davina sempat memproses logikanya, Biru mencondongkan tubuhnya secara mendadak. Pria itu menyapu jarak yang tersisa dan langsun

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!   Ah, Sentuh Aku di Bagian ini..

    Ponsel Biru yang tergeletak di atas meja mendadak berdering nyaring, memecah tangis sunyi Davina. Nama Pak Trian berkedip-kedip di layar, seolah menguji ketahanan mental mereka berdua. Biru menarik napas panjang, menetralkan suaranya sebelum menggeser layar dan mengangkat telepon tersebut. "Ya, Pak Trian?" "Biru! Bagaimana?" suara Trian di seberang sana terdengar sangat tegang, bernapas memburu seperti pria yang sedang dikejar ketakutan. "Waktu kita cuma tinggal satu bulan, Biru! Kalian... kalian sudah melakukannya atau belum?!" Biru melirik Davina yang kini ikut membeku, menatapnya dengan raut wajah penuh cemas. "Belum, Pak," jawab Biru jujur dan lugas, meski suaranya terasa begitu berat. "Kenapa belum, Biru?!" amuk Trian di ujung telepon, perpaduan antara frustrasi, panik, dan rasa cemburu yang membakar terdengar sangat jelas. "Kamu tahu kan konsekuensiny

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!   Kenapa Kamu Tidak Menyentuhku?

    Empat bulan sudah berlalu sejak babak drama ini dimulai, menyisakan satu bulan terakhir sebelum masa kontrak lima bulan antara Davina dan Biru resmi berakhir. Namun, di balik berjalannya waktu yang makin menipis, sebuah benang kusut yang sangat krusial belum juga terurai—bahkan masih membeku tanpa kejelasan. Hingga detik ini, Biru dan Davina sama sekali belum pernah melakukan hubungan badan. Padahal, dalam aturan hukum syariat yang berlaku untuk talak tiga, syarat mutlak agar Davina bisa sah bercerai dari Biru lalu kembali rujuk dengan Trian bukanlah sekadar dokumen di atas kertas atau hitungan bulan. Keduanya harus benar-benar menyatu sebagai pasangan suami istri yang utuh secara fisik. Tanpa adanya syarat bersetubuh itu, pernikahan mereka tetap dianggap belum memenuhi rukun untuk perceraian sah yang membolehkan Davina kembali ke pelukan Trian. Pagi itu, atmosfer di dalam rumah

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!   Selamat Tidur

    Malam merambat semakin larut, melingkupi rumah dua lantai itu dalam keheningan yang kian pekat. Jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul sebelas malam. Usai menyelesaikan beberapa dokumen pekerjaan kantor, Biru melangkah perlahan memasuki kamar tidur utama di lantai atas. Di dalam kamar yang hanya diterangi temaram lampu tidur di atas nakas, tampak Davina sudah berbaring di atas ranjang king size. Posisinya menyamping membelakangi sisi ranjang milik Biru. Namun, dari irama napasnya yang belum teratur, Biru tahu betul bahwa wanita itu sebenarnya belum tertidur lelap. Biru melepaskan kacamatanya, meletakkannya di atas nakas, lalu perlahan menaiki tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya di sisi kanan, mengambil posisi telentang seraya menyelimuti separuh tubuhnya. Jarak di antara mereka di atas tempat tidur yang luas itu dipisahkan oleh celah kosong setebal bantal guling—sebuah benteng tak kasat mata yang

  • Pak Bos Galak, Tidak Mau di Tolak?!   Terbawa Perasaan

    Setibanya di rumah, suasana sunyi kembali menyambut mereka. Tanpa diminta, Biru langsung melangkah ke dapur, melepaskan jas kemejanya dan menggulung lengan kemeja soft blue-nya hingga ke siku. Dengan cekatan, ia menyiapkan mangkuk sup ayam hangat yang sempat ia beli dalam perjalanan pulang tadi. Davina yang duduk di sofa ruang tengah memperhatikan setiap gerak-gerik Biru. Ada rasa hangat yang pelan-pelan merayap di dadanya. Perhatian Biru yang begitu teratur, tenang, dan tanpa pamrih perlahan memicu desir aneh yang tak pernah ia duga sebelumnya. "Dav, supnya sudah siap. Makan dulu mumpung masih panas," panggil Biru seraya membawa mangkuk asap mengepul itu ke meja makan. Davina bangkit dan melangkah mendekat. "Kamu tidak makan, Biru?" "Saya sudah makan tadi di luar. Ini khusus buat kamu," jawab Biru ramah. Ia menarikkan kursi untuk Davina dengan penuh kesopanan, persis sepe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status