LOGINBiru menghembuskan napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya dengan tegas. Sorot matanya memancarkan keprihatinan yang mendalam, namun keputusannya sudah bulat. "Maafkan saya, Pak Trian. Saya sangat menghormati Bapak dan bersyukur atas semua kebaikan Bapak selama ini. Saya rela mempertaruhkan nyawa saya untuk perusahaan dan Bapak... tapi untuk hal yang satu ini, saya tidak bisa," ujar Biru dengan nada suara yang mantap namun tetap penuh rasa hormat. "Biru, tolong..." bisik Trian, suaranya hampir menyerupai rintihan. "Pak Trian, ini bukan sekadar bantuan bisnis atau formalitas di atas kertas," potong Biru pelan, mencoba menyadarkan atasannya. "Jika saya melakukan ini, saya justru hanya merusak masa depan keluarga Bapak, bukannya membantu. Tolong, Pak... jangan biarkan rasa frustrasi membuat Bapak mengambil jalan yang salah." Trian perlahan meluruhkan tangannya. Tubuhnya bersandar lemas pada tepi meja ke
Trian terdiam. Tidak memiliki jawaban atas pernyataan Davina. Otaknya buntu. Syariat agama adalah hal yang tidak bisa ditawar, sekuat apa pun rasa cinta yang membakar dadanya saat ini. Lalu tak lama ia pamit untuk kembali ke kantor. Trian bilang akan menjemput Kamari sore hari. Trian mau Davina istirahat total dulu, biarlah urusan Kamari diurus oleh Bik Asih dan Nyonya Sandra untuk sementara waktu. Meski berat dan hatinya berat melepas putri kecilnya, Davina terpaksa setuju. Ia mengangguk pelan, mengantar Trian hingga ke depan pintu apartemen dengan kecanggungan yang begitu pekat membelit udara di antara mereka. Di kantor, Trian benar-benar tidak fokus bekerja. Otaknya terus berpikir bagaimana ia bisa kembali memiliki Davina. Berkas-berkas laporan keuangan dan dokumen kerja sama di atas meja mahoninya sama sekali tak tersentuh. Tatapannya hampa menerobos dinding kaca ruang kerjan
"Baiklah, Sayang... Papa janji," bisik Trian seraya mengusap lembut punggung Kamari yang masih terisak di dekapannya. "Besok pagi, setelah Kamari siap, Papa akan antar Kamari bertemu Mama. Kita main bersama di sana sepanjang hari." Mendengar janji itu, tangisan Kamari perlahan mereda. Usapan hangat di kepalanya dan ketegasan dalam suara Trian berhasil menenangkan dada mungilnya. Dengan mata yang masih sembap dan hidung yang memerah, putri kecil itu akhirnya mengangguk pelan. Nyonya Sandra segera mengambil mangkuk sup yang sempat terabaikan, lalu menyuapkannya perlahan kepada cucunya. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah hari-hari yang melelahkan, Kamari mau menghabiskan makanannya hingga tak tersisa. Keesokan harinya, matahari pagi menyinari balkon unit apartemen dengan lembut. Trian tiba bersama Kamari tepat pukul sembilan. Begitu pintu unit terbuka, Kamari langsung berlari kencang m
Davina mengalihkan pandangannya menuju luar jendela mobil, menatap deretan pepohonan kota yang berkelebat cepat. Ia menunduk, melirik jarinya yang kini polos tanpa lingkar cincin pernikahan. Kesadaran itu menghantamnya tanpa ampun: ia bukan lagi istri sah Trian. Momen kebersamaan di rumah sakit kemarin hanyalah intermeso singkat dari takdir yang terlanjur patah. Ikrar talak tiga yang telah diketok Pengadilan Agama adalah dinding tebal yang tak mungkin diterobos begitu saja. Trian yang memegang kemudi sesekali mencuri pandang melalui kaca spion tengah. Setibanya di sebuah gedung apartemen, mobil Trian berhenti di area parkir khusus. Trian menoleh ke belakang, menatap Davina dengan sorot mata yang penuh kehati-hatian. "Kita sudah sampai, Dav," ujar Trian pelan. Suaranya serak dan sarat akan penyesalan. "Kamu... kamu tinggal di unit apartemen lamaku dulu, ya. Di sini aman
Keesokan harinya, tim dokter datang untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Davina. Setelah memeriksa tanda-tanda vital dan fungsi organ tubuhnya yang perlahan stabil, dokter mengangguk lega meski raut wajahnya tetap memberikan peringatan tegas. "Fisik pasien sudah mulai menunjukkan respons yang sangat baik," terang Dokter seraya mencatat perkembangan di papan medisnya. "Namun, depresi dan trauma emosionalnya belum sepenuhnya pulih. Saya minta pasien tetap menjalani rawat inap beberapa hari lagi untuk pemulihan total dan pemantauan nutrisi." Trian mengangguk cepat tanpa keraguan. "Lakukan yang terbaik, Dok. Saya akan pastikan dia istirahat total di sini." Selama empat hari berikutnya, kondisi Davina berkembang pesat. Kehadiran Kamari yang tak pernah absen memeluk ibunya serta perhatian manis dari Nyonya Sandra menjadi obat paling ampuh untuk menyembuhkan jiwanya. Senyu
Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Keheningan malam mencengkeram kamar rawat inap itu dengan begitu dingin. Nyonya Sandra telah pulang beberapa jam lalu membawa Kamari yang tertidur lelap akibat kelelahan. Kini, hanya tersisa Trian seorang diri yang masih setia terjaga di samping ranjang. Lampu utama ruangan sengaja dimatikan, menyisakan pendar temaram dari lampu sudut yang memantulkan gurat lelah di wajah Trian. Pria itu bergeming di kursinya, kedua tangannya menggenggam erat telapak tangan kanan Davina yang masih terasa agak dingin. Bibirnya tak berhenti melafalkan doa-doa keselamatan, diiringi bisikan lembut yang terus-menerus memanggil nama wanita yang teramat dicintainya itu. Trian nampak begitu putus asa. Kepala Trian terkulai di tepi kasur, tepat di samping lengan Davina. Harusnya ia tidak semudah itu percaya







