Mag-log inPintu ruang meeting terbuka pelan saat Ranu melangkah masuk diikuti Pani. Suasana di dalam sudah penuh. Beberapa orang langsung berdiri memberi salam. Ranu membalas dengan anggukan singkat, wajahnya kembali datar seperti biasa.
Pani bergerak cepat, menyiapkan dokumen, membuka laptop, memastikan proyektor siap. Napasnya masih sedikit terengah, efek dari panik beberapa menit lalu. “Mulai,” ucap Ranu singkat. Semua langsung fokus. Pembahasan berjalan intenBeberapa saat kemudian, suasana ruang kerja utama di lantai atas terasa aneh. Pani duduk di meja sekretaris dengan wajah ditekuk sejak tadi pagi. Bibirnya maju beberapa senti, alisnya turun, tangannya mengetik keyboard dengan tenaga yang seolah ingin menghancurkan tombol satu per satu. Tak sekali dua kali ia melirik tajam ke arah ruangan kaca milik Ranu. Sementara di dalam sana, Ranu pura-pura sibuk membaca laporan. Pura-pura. Sebab sejak satu jam lalu, isi laporan yang sama bahkan belum dibalik halamannya. Pria itu beberapa kali mengangkat kepala, lalu cepat-cepat kembali menunduk setiap kali bertemu tatapan Pani. Tatapan itu terlalu mengganggu. Terlalu menuduh. Dan yang paling membuat Ranu tidak nyaman adalah bibir cemberut itu. Bibir yang tadi sempat... Ranu langsung berdeham keras sendiri. "Fokus kerja," gumamnya pelan. Tok. Tok. T
Pani menjerit. "Aaaak! Pak! Apa ini?!" Air dari gelas sudah membasahi bagian depan bajunya. Rambutnya juga sedikit kena. Sementara Ranu, yang tadi hanya bereaksi spontan, ikut membeku di atasnya dengan wajah sama kagetnya. "Kenapa kamu di sini?" "Kan Bapak yang suruh!" "Ke kamarku?" "Bangunin!" Pani sedikit nge-gas. Ranu baru teringat, kalau dia yang suruh sekertarisnya untuk datang pagi-pagi sekali. "Kenapa kamu bawa air?" tanya Ranu tajam, masih menahan pergelangan tangan Pani. "Karena haus!" balas Pani cepat, refleks, walau suaranya terdengar panik. "Memangnya kenapa?!" Ranu menyipitkan mata. "Haus sampai dibawa ke arah wajahku?" "Itu kebetulan!" Pani membela diri, wajahnya memerah antara malu dan kesal. "Saya tidak mau nyiram bapak!" "Tidak meyakinkan." "Ya ampun, saya bukan orang jahat, Pak!"
Pagi di kantor terasa sedikit berbeda. Pani sudah berdiri di depan pintu, menunggu dengan tubuh agak tegang. Begitu Ranu muncul di ujung lorong dengan langkah cepat, ia langsung membungkuk. “Selamat pagi, Pak.” Ranu berhenti sebentar, menatapnya sekilas. “Pagi.” Pani mengangkat kepala, wajahnya sedikit canggung. “Pak… saya mau minta maaf soal semalam. Tentang Desi. Dia memang kadang… kalau lagi enggak suka, jadi begitu.” Ranu memasukkan tangannya ke saku, ekspresinya datar seperti biasa. “Tidak masalah.” “Beneran?” “Iya.” Pani menghela napas lega. “Syukurlah…” Ranu melangkah melewatinya, lalu tiba-tiba berhenti lagi. Ia menoleh sedikit. “Kalau memang merasa bersalah, ada cara menebusnya.” Pani langsung curiga. “Kenapa saya merasa ini tidak akan bagus untuk saya?”
Pintu ruang meeting terbuka pelan saat Ranu melangkah masuk diikuti Pani. Suasana di dalam sudah penuh. Beberapa orang langsung berdiri memberi salam. Ranu membalas dengan anggukan singkat, wajahnya kembali datar seperti biasa. Pani bergerak cepat, menyiapkan dokumen, membuka laptop, memastikan proyektor siap. Napasnya masih sedikit terengah, efek dari panik beberapa menit lalu. “Mulai,” ucap Ranu singkat. Semua langsung fokus. Pembahasan berjalan intens. Proyek pengembangan baru yang dibahas cukup besar. Nilai investasinya tinggi, risikonya juga tidak kecil. Ranu berbicara tegas, setiap kalimatnya terukur. Ia memotong jika ada yang berputar-putar, menajamkan arah diskusi. Pani duduk di sampingnya, mencatat dengan cepat. Sesekali ia menyelipkan data tambahan saat Ranu membutuhkannya. “Timeline terlalu longgar,” kata Ranu dingin. Salah satu manajer mencoba menjelaskan. “Kami mempertimbangkan faktor lapangan, Pak.”
Langkah kaki di atas treadmill terdengar ritmis, berpadu dengan suara napas yang mulai berat. Pani sudah lima menit berlari, dan itu sudah terasa seperti lima jam baginya. “Pak…” napasnya tersengal. “Ini… masih pemanasan?” Ranu melirik sekilas. “Iya.” “Kalau ini pemanasan, inti latihannya apa? Lari ke luar kota?” Ranu tidak menjawab. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke arah Pani. Mata gadis itu sampai melebar, otaknya mikir yang tidak-tidak. "Eh, mau ngapain nih Pak Ranu? Masa mau nyium aku?" pikirnya yang mulai berkelana ke mana-mana. Namun... "Eh? Eh? Kok jadi tambah cepat?" pikirnya lagi. Rupanya, tadi Ranu yang menambah kecepatannya. "Loh? Loh? Loh? Pak!? Apaan ini!?" jeritnya. Ranu kembali ke posisinya dan malah menambah kecepatan treadmillnya. Pani langsung melotot. “Pak! Kalau mau nambah ya nambah punya sendiri! Jangan jadikan orang lain perco
Lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di atas aspal yang sedikit basah. Mobil melambat, lalu berhenti tepat di samping sosok yang berdiri di tepi trotoar. Ranu menurunkan kaca jendela. Matanya menyipit. “Pani?” Pani yang sedang jongkok di samping motornya langsung menoleh. Rambutnya agak berantakan, wajahnya terlihat kesal. “Pak Ranu?” Ia berdiri cepat. “Ngapain Bapak di sini?” Ranu melirik motor itu. “Aku yang tanya. Kamu lagi ngapain?” Pani menunjuk motornya dengan ekspresi datar. “Piknik, Pak. Malam-malam, di pinggir jalan. Seru banget.” Ranu menghela napas pendek. “Motor mogok?” “Enggak, lagi meditasi.” Ranu menatapnya tanpa ekspresi. Pani mengangkat bahu. “Iya, mogok.” Sopir di kursi depan menahan senyum. Ranu membuka pintu mobil dan turun. Ia mendekat, melihat kondisi motor sekilas. “Sudah coba
Ruangan kembali sunyi setelah percakapan kecil itu. Pani duduk di kursinya, mencoba fokus pada layar komputer. Namun sudut matanya sesekali melirik ke arah Ranu yang tampak serius membaca dokumen. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Lalu tiba-tiba Pani bersuara. “Pak
Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena
Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah
"Papa!"Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?"Aji!"Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu."Maaf, Pak.""Dia an







