Beranda / Romansa / Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak / bab 3 - Dinas yang mendebarkan

Share

bab 3 - Dinas yang mendebarkan

Penulis: SingoRanu
last update Tanggal publikasi: 2026-05-16 12:32:42

Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya.

“Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?”

Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya.

“Iya, Pak.”

Ranu menatap anak yang paling besar. Tingginya sudah sedada Pani. Yang satu skitar sepinggang Pani.

Anak laki-laki yang paling kecil tiba-tiba mengangkat wajah. Matanya menatap Ranu ragu-ragu.

“Papa…”

Pani langsung menegang.

“Aji!” suaranya sedikit keras.

Anak itu tersentak, lalu mundur sedikit. Wajahnya berubah takut.

“Jangan sembarangan manggil!” lanjut Pani, nada suaranya lebih tegas.

Ranu mengangkat alis, sedikit kaget.

Aji menunduk. “Maaf…”

Pani menghela napas, lalu berlutut di depan anaknya. Suaranya melembut.

“Enggak semua orang itu papa kamu, Aji. Mama kan udah bilang.”

Aji mengangguk pelan.

Ranu memperhatikan, ada sesuatu yang terasa menusuk di dadanya, entah kenapa.

Pani berdiri lagi, lalu berdeham kecil.

“Maaf, Pak. Waktu itu saya sudah memarahi Aji, tapi dia sepertinya belum sepenuhnya mengerti.”

Ranu mengangguk. “Tidak apa-apa.”

Pani menarik napas, lalu mencoba tersenyum.

“Ini Desi,” katanya sambil menunjuk anak perempuan paling besar. "Ayo salim," suruhnya.

Desi mendekat, menyalami dan mencium tangan Ranu. Ranu terlihat agak canggung, tapi tetap membalas dengan sopan.

“Yang ini Sasa,” lanjut Pani.

Sasa ikut menunduk, dan mengikuti Desi, menyalami dan mencium tangan Ranu.

Aji hanya melirik sekilas, masih sedikit takut. Pani menatap anaknya. “Ayo, salim, Aji.”

Aji menyalami walau takut-takut.

Setelah itu, Pani menoleh ke arah Ranu.

“Mau masuk dulu, Pak? Istirahat sebentar?”

Ranu langsung menggeleng. “Tidak usah. Sudah sore juga.”

Pani mencebik, "Tadi katanya mau lihat-lihat," gumamnya sangat pelan lebih kepada dirinya sendiri.

“Baik, Pak. Terima kasih sudah mengantar.” katanya dengan suara lebih keras

Ranu hanya tersenyum tipis, lalu berbalik menuju mobil. Sebelum masuk, dia sempat melirik lagi ke arah mereka. Tiga anak itu kini mengelilingi Pani, berbicara bersamaan, berebut cerita.

Pani tertawa kecil. Pemandangan itu terasa… hangat.

****

Di rumah, Ranu langsung mengganti pakaian.

Tanpa banyak berpikir, dia mulai melakukan gerakan olahraga ringan. Tarikan napasnya teratur. Keringat mulai mengalir.

Satu gerakan.

Dua gerakan.

Lalu pikirannya kembali berputar.

“Ning…”

Nama itu kembali muncul. Ranu berhenti sejenak. Tangannya bertumpu di lutut.

“Aku harus berhenti,” gumamnya pelan.

Dia menarik napas dalam, lalu melanjutkan lagi.

Lebih cepat.

Lebih fokus.

Seolah ingin mengusir sesuatu dari dalam kepalanya. “Aku harus bisa…”

Gerakannya makin intens. Keringat membasahi bajunya. Namun bayangan itu tetap muncul.

Senyum Ning.

Suara Ning.

Dan kenyataan yang tidak bisa diubah. Ranu akhirnya berhenti. Duduk di lantai. Napasnya memburu.

“Cukup…”

Dia menyandarkan kepala ke dinding. Beberapa menit berlalu. Keringatnya mulai mengering. Ranu bangkit, berjalan ke kamar mandi. Air dingin membasahi tubuhnya. Perlahan, pikirannya terasa lebih tenang. Setelah mandi, dia duduk di depan laptop.

“Aku harus fokus kerja,” ucapnya pelan.

Layar menyala. File laporan terbuka. Ranu mulai membaca satu per satu.

Teliti.

Serius.

Namun tangannya berhenti saat membuka satu data. Profil karyawan. Nama Paniyem ada di bawah profile nya.

Ranu menyipitkan mata.

“Dua puluh tiga tahun?”

Dia membaca ulang. “Status… belum kawin.”

Ranu bersandar. Pikirannya kembali pada tiga anak tadi.

“Anak siapa?”

Dia mengetuk meja pelan.

“Mungkin data lama…”

Namun wajah Aji yang memanggilnya papa kembali terlintas. Dan cara Pani menegurnya. Ada sesuatu yang terasa… tidak sederhana. Ranu menghela napas panjang.

“Sudahlah.”

Dia menutup file itu.

“Bukan urusanku.”

Lalu kembali ke laporan lain. Malam itu dihabiskan dengan pekerjaan. Tanpa sadar, pikirannya benar-benar mulai teralihkan.

****

Hari berikutnya di kantor. Suasana berjalan seperti biasa.

“Pagi, Pak,” sapa beberapa karyawan.

“Pagi.”

Ranu masuk ke ruangannya. Tidak lama kemudian, pintu diketuk.

“Masuk.”

Pani muncul dengan map di tangan.

“Ini revisi yang kemarin, Pak.”

Ranu menerimanya. “Terima kasih.”

Pani berdiri sebentar. “Ada lagi yang perlu saya bantu?”

Ranu menggeleng. “Tidak.”

“Baik.”

Pani berbalik. Langkahnya tenang. Ekspresinya kembali datar. Profesional. Seolah kejadian kemarin tidak pernah terjadi. Ranu memperhatikan sekilas, lalu kembali fokus ke pekerjaannya.

****

Beberapa hari kemudian.

“Pak, jadwal peninjauan lokasi sudah fix,” kata salah satu staf.

Ranu mengangguk. “Kapan berangkat?”

“Besok lusa. Dua hari satu malam.”

Ranu menoleh ke Pani. “Kamu ikut.”

Pani mengangguk. “Siap, Pak.”

Hari keberangkatan. Semua sudah siap. Ranu sudah duduk di mobil. Pani juga sudah di kantor. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Pani melihat layar.

“Ada apa, Bu?” ucapnya pelan.

Dia menjauh sedikit. “Kenapa, Bu?”

Wajahnya langsung berubah. “Tidak ada yang jaga?”

Dia mulai panik. “Loh… yang kemarin gimana?”

Beberapa detik hening. “Tidak bisa dihubungi?”

Pani menutup mulutnya. “Iya, Ma… iya…”

Telepon terputus. Pani berdiri diam. Wajahnya pucat. Ranu memperhatikan dari jauh.

“Ada apa?”

Pani mendekat, jelas gelisah.

“Pak… maaf… anak-anak saya di rumah tidak ada yang jaga.”

Ranu mengernyit.

“Orang yang harusnya jaga… tidak datang. Tidak bisa dihubungi.”

Ranu diam.

“Orang tua saya juga kerja,” lanjut Pani. “Saya… saya lagi cari orang, Pak. Sebentar.”

Dia menjauh, mulai menelepon satu per satu.

“Mbak, bisa tolong jaga anak saya hari ini? Saya tambah bayaran.”

“Tidak bisa? Mbak, tolong banget. Aku enggak mungkin meninggalkan mereka di rumah sendirian. Kalau begitu... Apa apa ada kenalan yang bisa?”

Pani lemas, menghela napas berat. “Baik… terima kasih…”

Telepon berikutnya.

“Mas, tolong bantu…”

“Tidak bisa juga?”

Wajahnya semakin panik. Di sepanjang perjalanan, Pani masih terus menghubungi kenalan dan kerabatnya.

"Hanya untuk siang aja kok, Mbak. Nanti malam juga ada ibu yang urus mereka."

Ranu diam sedari tadi, merasa cukup terusik. Lalu ia berbicara pada supir.

“Pak, putar arah.”

Pani langsung menoleh, panik.

“Pak?”

“Ke rumah Pani.”

Pani membeku.

“Pak… kenapa ke rumah saya?”

“Mereka tidak ada yang jaga. Pekerjaan ini juga tak bisa ditunda. Satu-satunya jalan hanya memulangkanmu,” potong Ranu.

Pani menggenggam tasnya erat. Pikirannya kacau

“Maksud Pak Ranu... Saya dipilah... Saya…”

Ranu menatap ke depan.

“Sudah saya bilang, kita tidak bisa tunda.”

Pani semakin gelisah. Ia takut, pikiran buruk mulai mengisi kepalanya. Bagaimana jika dipecat? Dipulangkan artinya tidak bekerja. Jika tidak bekerja, siapa yang akan membiayai hidup ketiga anaknya?

"Pak... Saya mohon..."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 37

    Pani masih menggenggam tangan Ranu ketika mereka berjalan menuju kamar.Langkahnya terasa sedikit kaku.Bukan karena takut.Hanya saja, semuanya terasa begitu baru.Rumah baru.Status baru.Dan sekarang, ia harus berbagi kamar dengan laki-laki yang beberapa waktu lalu masih ia panggil atasannya.Begitu pintu kamar terbuka, Pani berhenti di ambang pintu.Kamar itu luas dan nyaman. Tempat tidur besar berada di tengah ruangan dengan seprai putih bersih. Di sampingnya terdapat dua nakas, sofa kecil, lemari pakaian besar, serta jendela lebar yang menghadap ke taman belakang.Pani menelan ludah."Pak..."Ranu yang sedang meletakkan koper langsung berhenti.Ia menoleh perlahan."Pak?"Pani berkedip."Iya."Ranu berjalan mendekat."Siapa yang kamu panggil?"Pani menunjuk Ranu."Pak Ranu."Ranu menghela napas, lalu tersenyum geli."Sepertinya kamu lupa sesuatu.""Apa?""Kita sudah menikah."Wajah Pani langsung memerah."Aku tahu.""Kalau tahu, kenapa masih panggil Pak?"Pani menunduk."Sudah t

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 36

    Mobil yang membawa mereka akhirnya memasuki kawasan perumahan elite. Desi yang duduk di samping jendela langsung menempelkan telapak tangannya ke kaca. "Waaah..." Matanya membulat melihat deretan rumah-rumah besar yang berdiri megah di kanan dan kiri jalan. "Bibi... rumahnya bagus-bagus." Pani tersenyum kecil, meski dadanya sendiri dipenuhi rasa gugup. "Iya." Aji ikut menjulurkan leher. "Pohonnya banyak." "Jalannya juga bersih." Sasa yang sejak tadi diam hanya memandangi pemandangan di luar. Sesekali ia melirik Ranu yang sedang menyetir. Sampai sekarang pun ia masih sulit percaya. Laki-laki yang dulu hanya dikenal sebagai atasan kakaknya... Sekarang sudah menjadi suami kakaknya. Sekaligus kepala keluarga mereka. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 35

    Beberapa minggu kemudian... Ruang sidang itu dipenuhi suasana tegang. Pani duduk berdampingan dengan Ranu. Jemarinya sejak tadi saling menggenggam erat di atas pangkuan. Meski berusaha terlihat tenang, napasnya masih terasa berat. Ranu menoleh pelan. "Gugup?" Pani tersenyum tipis. "Sedikit." "Percaya sama prosesnya." Pani mengangguk. "Aku percaya." Di seberang mereka, keluarga Farhan duduk dengan wajah tegang. Ayah dan ibu mendiang suami kakak Pani beberapa kali berbisik dengan kuasa hukumnya. Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. "Sidang dibuka." Semua orang berdiri sebelum akhirnya kembali duduk. Hakim ketua membuka berkas yang cukup tebal. "Setelah memeriksa seluruh alat bukti, mendengar keterangan para saksi, serta mempertimbangkan kepentin

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 34

    Beberapa jam setelah akad selesai, suasana haru di rumah Pani belum benar-benar reda. Buku nikah itu masih berada di atas meja, sementara ucapan selamat dari tetangga yang berdatangan silih berganti baru saja usai. Namun, bagi Ranu dan Pani, hari itu belum selesai. Masih ada dua anak yang harus mereka bawa pulang. Ranu menatap jam tangannya. "Hampir jam sebelas." Pani yang masih mengenakan kebaya sederhana langsung mengangkat kepala. "Kita berangkat sekarang?" "Iya." Anggun yang sedang membereskan kotak hantaran langsung menoleh. "Baru juga selesai akad, Ran." "Justru karena sudah selesai." Ranu mengambil map hitam yang sejak tadi dibawanya. "Sekarang status kami sudah jelas." Deni mengangguk pelan. "Papa ikut." "Aku juga," sahut Anggun cepat. Ran

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 33

    Ruang tamu itu masih dipenuhi suasana yang sesak. Tak ada seorang pun yang benar-benar bisa bernapas lega setelah ucapan Ranu barusan. Pani masih menatap laki-laki itu tanpa berkedip, seolah takut semua yang baru saja didengarnya hanyalah khayalan. Sementara di seberang telepon, suara Mama Anggun terdengar semakin meninggi. "Hah? Apa? Menikah? Besok?" serunya tidak percaya. "Iya, Ma," jawab Ranu tenang. "Ranu, kamu sadar nggak sih sama yang kamu omongin? Besok itu besok! Bukan bulan depan, bukan minggu depan!" "Aku sadar." "Kamu lagi bercanda?" "Nggak." "Terus... calon istrinya siapa?" Ranu menoleh sebentar ke arah Pani yang masih duduk mematung. "Pani." Hening. Beberapa saat tidak ada suara sama sekali dari ujung telepon. Ranu sampai melihat layar ponselnya.

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 32

    Bab 32 Ranu sigap memeluk pinggang Pani yang hampir ambruk, lalu membimbingnya pelan-pelan menuju sofa di ruang tengah. Tubuh Pani terasa lemas seketika, seolah semua tenaga yang tadi ada di dadanya tiba-tiba disedot habis. Ia jatuh duduk di sana, matanya masih melotot kosong ke arah pintu depan, seolah berharap dalam sekejap mata Desi dan Aji akan berlari masuk sambil tertawa riang seperti biasa. Sasa yang sedari tadi diam terpaku di sudut ruangan—yang baru saja pulang dari tempat kerja dan mendengar keributan—langsung berlari ke dapur. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas, tangannya gemetar hebat hingga sebagian air tumpah membasahi meja. "Ibu... minum dulu, Bu..." Sasa menyodorkan gelas itu ke tangan ibunya yang masih tersedu-sedu hebat. Tubuh wanita tua itu berguncang tiada henti, air matanya mengalir deras membasahi pipi keriputnya. "Mereka... mereka bawa paksa... padahal Desi berteriak manggil aku..." isak ibunya, m

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 5 - serasa liburan keluarga

    Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 2 - anaknya tiga?

    Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 1 - Sekertaris Pani

    "Papa!"Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?"Aji!"Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu."Maaf, Pak.""Dia an

  • Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak   bab 4 - angkut semua

    “Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status