Share

Bab 3

Penulis: Niu Susanti
Jarum detik berdetak pelan. Di larut malam, asisten David mampir sebentar, mengetuk pintu, dan menyerahkan hadiah ulang tahun dari David sebagai kompensasi untuk putranya.

Itu adalah mainan robot edisi terbatas.

Namun sayang, anak seumur Althaf mungkin masih agak kesulitan memainkannya.

Lagi pula, hadiah itu sudah terlambat tiga bulan penuh dari ulang tahun Althaf. Sebenarnya, Althaf juga sudah lupa soal ini, jadi ada atau tidaknya hadiah ini tidak ada bedanya.

Maudy dengan sopan menawarkannya minum teh dulu sebelum pergi. Robin, asisten David, tampak ragu-ragu untuk waktu yang cukup lama, hingga akhirnya bertanya, "Nyonya, apa ada bagian tubuh Nyonya yang terasa nggak nyaman?"

Maudy sempat terdiam, belum sepenuhnya mencerna maksudnya.

"Nggak ada. Kenapa?"

Raut wajah Robin tampak lega. "Syukurlah. Nyonya 'kan sudah melewati banyak hal hari ini, pasti sangat capek. Kalau begitu, saya nggak akan ganggu Nyonya lebih lama lagi. Kalau badan Nyonya ada yang nggak nyaman, tolong segera kabari saya."

Dia terdiam sejenak, lalu berkata lagi, "Pak David sedang sangat sibuk, jadi mungkin belum lihat berita hari ini. Mohon dimaklumi, Nyonya. Kalau nanti beliau sudah senggang, saya akan segera menyampaikannya."

Robin tidak tahu betapa jelas kebohongannya terlihat.

Matanya gelisah, suaranya terdengar tidak yakin, hampir semua orang bisa melihat bahwa dia sedang berbohong.

Maudy tidak menyinggung soal itu. Dia hanya berterima kasih dengan lembut.

"Terima kasih, ya, Pak Robin. Sudah merepotkanmu."

Melihat Maudy yang jelas-jelas kelelahan, Robin tidak berlama-lama lagi. Dia pamit dan menutup pintu.

Padahal, Robin sudah melapor pada David bahwa istrinya baru saja mengalami kecelakaan pesawat hari ini dan nyaris tidak selamat.

Namun, David sama sekali tidak bereaksi, bahkan tidak mau repot-repot mengangkat kepala.

Setelah melihat berita tentang kecelakaan itu, Robin saja sampai ikut menahan napas dan khawatir sang nyonya kenapa-napa. Namun, atasannya, suami Maudy sendiri, malah tampak begitu acuh tak acuh, bahkan jauh lebih dingin darinya.

Baru tiga tahun menikah, Robin bahkan tidak berani membayangkan bagaimana sang nyonya bisa bertahan melewati semua ini.

Menghadapi suami yang tak acuh, keluarga suami yang terus merendahkan dan menekannya, melangkah satu demi satu hingga kini tanpa pernah mengandalkan sedikit pun bantuan Keluarga Hartono, tetapi di kantor tetap saja dicap sebagai "karyawan titipan" ... Betapa sulitnya semua itu?

Dia menoleh menatap vila megah ini, rasanya sama seperti dengan sang pemilik.

Benar-benar tak memiliki kehangatan.

….

Menjelang dini hari, salju turun makin deras.

Maudy menatap keluar jendela dengan tenang, cukup lama, baru kemudian menundukkan pandangan.

Samar-samar dia ingat, terakhir kali melihat salju sederas ini adalah tujuh tahun lalu.

Tepatnya di hari David pertama kali menyatakan perasaannya.

Saljunya bahkan lebih deras dari hari ini, udaranya jauh lebih dingin. David berdiri di luar kampusnya, menahan terpaan angin dan salju, menunggunya sepanjang sore. Ruas-ruas jarinya kaku karena dingin, ujung telinganya memerah.

Pemuda berusia 18 tahun itu, santai dan penuh pesona, memancarkan aura yang kuat. Hanya dengan berdiri di sana, dia sudah mampu menarik perhatian siapa saja.

Hingga Maudy muncul, David menyuruh teman-temannya menurunkan satu truk penuh bunga matahari yang sudah disiapkan. Di tengah hamparan salju yang membentang luas, bunga matahari keemasan yang melambangkan kehidupan itu tampak begitu memukau, pemandangannya sungguh spektakuler. Karena kejadian itu, mereka berdua sempat jadi buah bibir di kampusnya untuk waktu yang cukup lama.

Padahal saat itu bukan musim mekarnya bunga matahari.

Entah dari mana David mendapatkannya, tak ada alasan lain.

Hanya karena Maudy suka.

Dulu, dia bahkan tak tega menyentuh tangan Maudy. Butuh waktu lama untuk memberanikan diri, baru akhirnya dia bertanya apakah Maudy mau mencoba menjalin hubungan dengannya.

Di tengah badai salju musim dingin itu, disaksikan oleh banyak orang, dia mengucapkan janji.

"Kalau suatu hari nanti kamu merasa menyesal sudah bersamaku, bilang aja, aku bakal lepasin kamu."

"Tapi, hari itu nggak bakal ada."

"Aku nggak bakal bikin kamu nyesel, Maudy. Percaya sama aku."

….

Althaf sepertinya tidur dengan gelisah, menggumam pelan.

Menarik pikiran Maudy kembali dari lamunan.

Maudy berjongkok di tepi ranjang, menepuk-nepuk punggung si kecil dengan lembut untuk menidurkannya kembali.

Butuh waktu setengah jam hingga Althaf kembali tertidur pulas.

Mungkin karena berada di bawah tekanan tinggi dalam waktu yang lama, saat Maudy berdiri, telinganya tiba-tiba berdenging. Kepalanya pening dan pandangannya kabur, membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Dia harus bersandar pada dinding untuk menenangkan diri, barulah dia bisa melihat keadaan di depannya dengan jelas.

Namun, tanpa sengaja, matanya menangkap bayangan wajahnya yang kuyu dan kusam di kaca jendela.

Wajah yang dulu dipuji karena matanya yang jernih dan bersinar, entah sejak kapan berubah menjadi begitu layu dan tak terawat.

Dia terdiam cukup lama, sedikit termangu.

Tepat di saat itu, pergelangan tangannya yang terluka seolah mulai berdenyut sakit.

Pergelangan tangan yang terjepit di sela-sela kursi akibat turbulensi hebat di pesawat itu kini meninggalkan memar yang dalam.

Awalnya rasa sakit itu sudah hilang, tetapi entah kenapa, tepat detik ini, rasa perih itu muncul tiba-tiba bagai ditusuk jarum. Sakitnya sampai membuatnya sulit bernapas, dan rasa sesak yang asing sekaligus begitu akrab itu perlahan menjalar.

Sudah genap tujuh tahun dia mengenal David, tetapi tahun-tahun itu seolah terbuang sia-sia.

Memangnya ada berapa kali tujuh tahun dalam hidup seseorang?

Dia menyesal.

Maudy merasa, dia benar-benar menyesal.

Malam itu, David tidak pulang semalaman.

Keesokan paginya, sejak bangun tidur, Althaf terus menempel pada Maudy dan tak mau lepas.

Sejak lahir, ini adalah pertama kalinya dia berpisah dari Maudy.

Melihat ibunya pulang, dia masih merasa hal itu tidak nyata.

Seandainya kali ini tidak ada anggota tim yang mengalami musibah di Kota Deblin sehingga Maudy wajib berangkat, dia pasti tidak tega meninggalkan anaknya yang masih kecil demi perjalanan dinas.

Saat Maudy membantu Althaf bersiap di pagi hari, si kecil sangat penurut. Dia memeluk leher ibunya dan bertanya pelan, "Ibu, Ibu mau pergi lagi?"

Maudy mengira anaknya tidak tega berpisah dengannya, jadi dia menjelaskan dengan lembut.

"Ibu udah selesai dinas, nggak bakal pergi lagi."

"Wah, asyik! Althaf akhirnya bisa tidur sama Ibu lagi." Althaf mengusap wajahnya dengan handuk sambil berkata, "Althaf takut kalau tidur sama Ayah. Ayah 'kan dingin banget, galak lagi."

Althaf memang takut kalau harus berduaan saja dengan David.

Terutama saat tidur malam, rasa takutnya sampai membuatnya meneteskan air mata dan tidur tidak nyenyak semalaman.

Wajar saja si kecil takut padanya. Sejak lahir sampai sekarang, David pulang ke rumah bisa dihitung dengan jari. Saking jarangnya, Althaf bahkan belum bisa memanggil 'Ayah' sampai usianya dua setengah tahun, karena dalam hidupnya sama sekali tidak ada sosok ayah yang hadir.

Dalam benaknya, David hanyalah sosok dingin yang selalu membuat Ibu sedih, alias orang jahat.

Maudy terdiam sejenak, lalu menyibakkan poni di dahi anaknya dengan lembut.

"Maaf ya, mulai sekarang Ibu nggak bakal suruh kamu tidur berdua sama Ayah lagi."

Saat mengantar si kecil ke sekolah PAUD, Maudy sempat mengobrol sebentar dengan gurunya, sekaligus bertanya detail tentang kondisi Althaf di sana selama beberapa hari ini.

Karena nanti Bibi Ratna, pengasuh dari Keluarga Hartono, akan datang menemani si kecil, Maudy pun merasa tenang.

Setelah berpamitan pada guru, Maudy masuk ke dalam mobil.

Tepat saat pintu ditutup, obrolan beberapa guru samar-samar terdengar olehnya.

"Kamu lihat nggak? Kemarin Ayah sama Ibu Althaf jemput bareng. Ya ampun, tadinya aku kirain Althaf nggak punya Ayah."

"Bener banget. Udah lama banget ikut sekolah di sini, tiap ada acara orang tua selalu Ibu Althaf doang yang dateng. Aku kirain Althaf anak dari orang tua tunggal."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 50

    Kediaman Hartono.Angin malam bertiup dingin, prakiraan cuaca menyebutkan bahwa salju akan segera turun kembali.Para pelayan pun sibuk bekerja, memindahkan tanaman dan bunga-bunga langka milik Rere dari paviliun ke dalam rumah. Mereka bolak-balik mengangkutnya, langkah kaki terdengar tergesa-gesa, saling bersusulan tanpa henti."Tahun ini saljunya kok nggak berhenti turun ya," gumam Rere.Maya duduk di sampingnya, memegang papan kartu kata untuk mengajari Althaf mengenal huruf. Mendengar ucapan itu, dia pun mengangguk. "Nggak tahu Kak David lagi ngapain sekarang. Gimana kalau aku rebuskan jahe hangat buat diantar ke sana?""Ibu tahu kamu perhatian sama Kak David, tapi dia 'kan beda sama Althaf, nggak bakal kedinginan sampai sakit." Rere tersenyum puas. "Kamu ini, jangan terlalu fokus sama dia terus. Namanya juga perempuan, perbanyaklah bergaul dan cari teman, itu lebih baik buat masa depan kamu."Maya tersenyum sambil mengalihkan pembicaraan, "Aku masih mau nemenin Ibu beberapa tahun

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 49

    Namun, sebenarnya, dia paham semuanya.Setelah membantu sopir memapah pemuda itu duduk di kursi belakang, Maudy baru hendak membuka pintu depan untuk masuk, ketika suara klakson yang nyaring terdengar dari tak jauh. Itu mobil David, lampu utamanya menyala terang, menyilaukan mata."Masuk."Maudy tak berkata apa-apa.Pria itu mengulanginya lagi. "Masuk."David memang dikaruniai wajah yang memancarkan aura berwibawa, dengan struktur tulang yang sangat tegas, tajam dan mengintimidasi. Lampu kuning remang di langit-langit kabin menciptakan bayangan di balik bulu matanya. Tatapannya dingin dan kelam, memancarkan aura mendesak yang tak bisa ditolak."Maudy, jangan lupa siapa dirimu."Kalimat itu lagi.Bagaikan kutukan.Mengingatkannya agar tidak lupa pada identitasnya. Istri CEO Grup Hartono yang mempermalukan suaminya di depan umum demi pria lain, kalau sampai tersebar, hanya akan membuat semua orang kehilangan muka.Namun, Maudy tiba-tiba benar-benar tak ingin memedulikan apa pun lagi."Ak

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 48

    Setelah selesai menikmati anggur merah, beberapa bos lain mengeluarkan arak yang mereka simpan di sini.Setelah beberapa ronde minum, suasana di ruang VIP jadi jauh lebih ramai.Saat Maudy kembali, sang kepala stasiun sudah mabuk berat. Wajahnya memerah khas orang paruh baya yang kebanyakan minum. Dia menarik Maudy dan menyuruhnya melanjutkan giliran bersulang dengan para bos.Yoga khawatir perut Maudy tidak kuat, jadi dia dengan sigap maju untuk menggantikannya minum. Satu cangkir demi satu cangkir ditenggaknya. Tenggorokannya terasa perih, dan perutnya terasa terbakar.Namun, arak beda sama anggur merah. Kadarnya tinggi, baru beberapa cangkir masuk, orangnya langsung tumbang mabuk.Maudy merasa agak khawatir.Yoga memberinya tatapan menenangkan, memberi isyarat bahwa dia baik-baik saja.Pelayan membuka pintu. David berjalan masuk dengan santai, pandangannya menyapu mereka berdua. Suaranya tetap tenang, tetapi menyimpan tekanan khas seorang atasan yang terbiasa memegang kendali. "Kala

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 47

    Setiap kali bekerja dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, sakit lambung Maudy mudah kambuh. Beberapa hari ini dia begitu sibuk hingga tak sempat makan lebih dari beberapa suap. Setelah menelan beberapa gelas anggur dingin tadi, perutnya kini terasa sangat tidak nyaman, sebuah pertanda kram lambung akan segera menyerang.Seluruh tubuhnya terasa tidak nyaman.Maudy bersandar di kursi ruang istirahat, memejamkan mata untuk beristirahat sejenak. Tepat pada saat itu, terdengar suara ketukan pintu."Tok, tok"Maudy tidak berpikir panjang, mengira itu Yoga yang datang membawakan obat pereda nyeri, sehingga dia berkata pelan, "Masuklah, Yoga."Tidak ada suara dari luar pintu.Beberapa detik kemudian, pintu baru terbuka dengan suara 'kriet'."Wah, kayaknya kamu bakal kecewa deh. Aku bukan sutradara muda yang mau kasih perhatian ke kamu." Suara pria yang terdengar tepat di atas kepalanya terdengar sangat berat, berat hingga ke dasar, dan auranya pun terasa begitu mencekam.Maudy sudah terla

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 46

    Maudy mengangguk.Yoga belum ikut masuk. Dia berjalan ke dapur untuk mengecek daftar menu.Para tamu di ruang VIP telah lengkap berkumpul. Mereka mengobrol santai berdua atau bertiga. Di saat seperti ini, sebenarnya tidak banyak yang membicarakan bisnis. Kebanyakan justru membicarakan urusan keluarga untuk mempererat hubungan, seperti, "Keponakan Anda tahun ini umurnya berapa?" atau "Lapangan golf Pak Yanto sudah diperluas lagi nih, kalau ada waktu main bareng yuk!"Beberapa direktur utama yang duduk dekat meja utama secara inisiatif mendekati David untuk mengobrol. Pria itu tidak memberikan tanggapan apa pun, raut wajahnya dingin dan angkuh, sesekali hanya mengangkat gelasnya untuk bersulang sebagai balasan.Meskipun David termasuk yang paling muda di antara orang-orang ini, di lingkaran ini di mana kekuasaan dan kedudukan yang berbicara, wajar jika dia menjadi pusat perhatian dan pujian.Tak ada keuntungan, tak ada yang datang. Orang-orang berkerumun hanya demi kepentingan masing-mas

  • Pak David, Cintaku Telah Kedaluwarsa   Bab 45

    Beberapa kali latihan terakhir menjelang Tahun Baru membuat stasiun TV sibuk luar biasa.Maudy hampir dua minggu tidak pulang ke rumah.Seorang penari dari program tari klasik mengalami cedera, sementara penari pengganti tidak bisa segera datang untuk mengikuti latihan. Akibatnya, seluruh program tersebut terancam diganti. Maudy begitu sibuk hingga nyaris tidak punya waktu untuk mengurus hal lain. Ponselnya seharian hanya tergeletak begitu saja, sampai baterainya nyaris tidak berkurang banyak karena dia sama sekali tidak sempat menyentuhnya.Sejak perpisahan terakhir mereka, pertemuan kembali dengan David kali ini benar-benar menjadi sesuatu yang tidak pernah Maudy duga.Untuk jamuan makan bersama para mitra kerja kali ini, Maudy sudah menolaknya tiga atau empat kali dengan alasan sibuk. Namun, dia tetap tidak mampu menolak undangan sang kepala stasiun yang terus-menerus membujuknya, sehingga mau tidak mau dia harus ikut menghadiri perjamuan tersebut.Berbeda dengan Gala Tahun Baru seb

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status