Home / Romansa / Pak Direktur, Saya Butuh Kerja! / CHAPTER 9: Kedatangan Mendadak

Share

CHAPTER 9: Kedatangan Mendadak

Author: Heiho
last update Last Updated: 2025-08-25 12:37:44

“Kenapa semalam pulang larut?”

Hana tersenyum canggung ke Alex yang menatapnya tajam. Mata adiknya itu menatap penuh selidik. 

“Maaf, ternyata acaranya selesai larut sekali,”

“Acara apa, sih?” Alex mengernyitkan alisnya dalam, “Kakak dari kemarin hanya menyebutkan ‘acara’, tapi tidak memberitahu lebih spesifik,”

“Oh, itu,” Hana gelagapan. Ia buru-buru memutar otaknya untuk mencari alasan. 

“Acara … acara amal saja,” Hana tertawa canggung, “Kau ingat David, kan? Temanku yang kaya raya itu?”

Alex mengangguk. 

“Nah, keluarganya sering membuat acara amal dan aku diundang. Jadi, aku harus datang kesana.”

Maaf, David! Izinkan aku menggunakan namamu sekarang! Batin Hana sambil menatap Alex penuh harap. 

Adiknya masih menatapnya penuh kecurigaan, tapi akhirnya mengangguk pelan membuat Hana menghembuskan napas lega. 

Tidak, ia belum bisa sepenuhnya lega. 

Hana menggigit bibir. Ia berpindah dari sofa menuju kursi di dekat Alex. Ia berusaha memasang wajah sesantai mungkin meskipun jantungnya berdegup kencang saat ini. 

Sekarang, waktunya ia memberitahu perpindahan kerjanya!

“Ngomong-ngomong Lex, kakak dapat pekerjaan baru,” ucap Hana. Ia menelan ludah ketika satu alis Alex kembali terangkat tinggi. 

“Tiba-tiba?”

“Tidak, sebenarnya,” Hana menghembuskan napas sejenak. Ia menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal. 

“Kamu ingat tidak, kemarin kakak bilang ingin memberitahu sesuatu kepadamu?”

“Oh, iya, tapi dokter Watson keburu datang,” balas Alex dengan gestur mengingat-ingat, “Oh! Apa kakak mau memberitahu dapat pekerjaan baru saat itu?”

Adiknya memang cepat tanggap. 

“Iya, benar,” Hana menganggukkan kepala, “Maaf baru bisa memberitahu sekarang,”

“Tapi, kenapa mendadak begitu?”

Mata Alex kembali menatapnya penuh selidik. 

“Bukankah kakak dapat promosi jabatan di kantor lama?”

“Iya, itu,” 

Hana menimbang-nimbang sejenak apakah ia perlu memberitahu yang sebenarnya ke adiknya. Jika ia jujur, Hana takut Alex jadi khawatir berlebihan dan berpengaruh pada jantungnya,

Tapi, ia kan juga sudah mendapatkan pekerjaan baru, jadi harusnya adiknya tidak sekhawatir itu!

“Kakak tiba-tiba dipecat sebelum promosi,”

Mata Alex membesar. Ia menatap tidak percaya sosok kakaknya

“Kenapa?”

“Tidak tahu,” Hana menggeleng pelan, “Mereka hanya bilang karena kinerja kakak kurang,”

“Tapi, kakak kan selalu mendapat proyek bagus! Masa yang seperti itu dibilang kurang?”

Hana tertawa. Ternyata rasanya cukup melegakan melihat adiknya marah seperti ini. 

“Politik kantor itu memang menyeramkan,” Hana menyeringai pedih sebelum buru-buru tersenyum sumringah ke Alex, “Tapi, kakak kan sudah dapat pekerjaan baru sekarang! Jadi, tidak perlu khawatir lagi!”

“Tetap saja,” gerutu Alex. Ia lalu mendesah kencang dan menggaruk-garuk rambutnya frustasi. Hana tersenyum geli melihatnya. 

Sejak dulu, Alex memang selalu jadi pembela nomor satunya. Ia ingat ketika bibi Lia memarahinya saat ibu Hana tiba-tiba sakit parah setelah bertahun-tahun hidup. 

Bibi Lia memakinya, bilang ia anak yang tak bisa diandalkan karena membuat ibunya sakit. Terlebih lagi, sampai merepotkan bibi Lia sehingga urusan bibi Lia terhambat. 

Dan Alex lah yang melawan balik bibi Lia demi dirinya. Membuat adiknya itu harus dibenci bibi Lia. 

Maka tak heran jika bibinya memang tidak sepeduli itu dengan kondisi Alex sekarang. 

“Kau tenang saja, gaji pekerjaan baru kakak sekarang lebih besar!’ Ucap Hana bangga sambil membusungkan dada. 

“Memang pekerjaannya apa?”

“Sekretaris direktur,” Hana menyengir lebar, “Keren, kan?”

“Di perusahaan apa?”

“Oh,” sebulir keringat muncul di pelipis Hana, “Perusahaan kesehatan.”

“Namanya?”

Gawat! Ia lupa adiknya sangat kritis!

Hana menelan ludah. Kepalanya berpikir dengan cepat untuk mencari jawaban. 

“Nama .. Apakah nama penting?” Ringis Hana, “Intinya itu perusahaan besar,”

“Kakak suka tertipu,” dengus Alex, “Kakak lupa dulu sering kena tipu loker saat masa nganggur? Sampai aku harus mengeceknya dulu sebelum kakak daftar.”

“Kakak sudah besar jadi tahu kalau perusahaan sekarang bukan tipuan,”

“Oke, kalau begitu namanya apa?”

Dasar adik keras kepala!

Hana meremas celananya. Ia menimbang-nimbang apakah perlu jujur bahwa ia bekerja di bawah Mahendra, direktur dari rumah sakit Alex berada sekarang!

Tapi, setelah memikirkannya semalam suntuk, Hana berpikir bahwa lingkungan rumah sakit ini dipenuhi oleh kolega Mahendra dan bisa saja beberapa di antaranya menghadiri acara pesta kemarin sehingga mengetahui hubungan rahasia Mahendra dan Hana!

Ada kemungkinan Alex bisa tiba-tiba mengetahuinya dan ia tidak ingin itu terjadi!

“Kak, kau mencurigakan,”

“Sebentar! Aku sedang mengingatnya!” Seru Hana panik. 

Bagaimana ini?!

Tiba-tiba, pintu kamar Alex dibuka lebar membuat Hana secara tidak sadar menghela napas lega. Ia mengalihkan pandangan ke pintu dengan mata berbinar. 

“Dokter Wat–”

Hana seketika tercekat. Matanya melotot ketika melihat sosok di belakang dokter Watson. 

“Apa yang bapak lakukan di sini?!”

Ya, Mahendra dengan jas hitam andalannya, masuk ke dalam kamar Alex beriringan dengan dokter Watson. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Direktur, Saya Butuh Kerja!   CHAPTER 33: Fakta yang Terungkap

    Tubuh Hana menegang. Sangat, sangat tegang. Lebih tegang daripada saat ia menghadiri acara-acara pesta Mahendra. Meski jantungnya kini berdebar-debar kencang, ia berusaha memasang wajah setenang mungkin. Gadis itu hanya mengerjapkan mata dan mengerutkan alis untuk bereaksi atas pertanyaan Rendry. “Saya tidak paham maksud tuan,” jawabnya tenang, “Pernikahan kontrak? Saya rasa hal itu sudah tidak ada di dunia modern ini,”“Maafkan kelancangan saya,”Rendry melepas genggamannya yang membuat Hana seketika menarik napas lega. Pasalnya, ia bisa merasakan tangannya mulai berkeringat karena perasaan tegangnya sekarang. “Saya hanya tidak percaya kalau Hendra benar-benar sudah menikah sekarang,”Kali ini, kebingungan benar-benar membanjiri pikiran Hana. Alisnya semakin tertekuk dalam. Mengapa pria itu berbicara seolah hubungannya dengan Mahendra sangat dekat?“Apa hubungan kalian sangat dekat, tuan?” tanya Hana. “Oh, dia tidak cerita?” balas Rendry retoris. Seringainya tertarik semakin leba

  • Pak Direktur, Saya Butuh Kerja!   CHAPTER 32: Ketahuan?

    “Kamu sedang menjauhi saya ya akhir-akhir ini?”Tubuh Hana menegang seketika. Ia menelan ludah melihat tatapan tajam Mahendra kemudian menggeleng kaku. “Mana ada saya menjauhi bapak. Kan saya masih suka ikut ke acara bapak,” bantah Hana dengan nada senormal mungkin. Perkataan Mahendra tak salah. Hana memang benar-benar menjauhi pria itu! Walaupun tentu saja ia tak melakukannya terang-terangan, hanya mengurangi frekuensi pembicaraan mereka dengan tidak menanggapi ejekan Mahendra. Meski sebenarnya itu langkah yang cukup terlihat karena selama ini Hana suka menanggapi ejekan bosnya, tapi tetap saja hanya sebatas itu! Ia pun juga tidak berusaha menolak tiap Mahendra menyentuhnya saat mereka berada di sebuah acara, meski dia sangat enggan melakukannya karena teringat dengan waktu itu. Lagipula, sudah sebulan berlalu dari family gathering itu. Ia tidak menyangka Mahendra tiba-tiba akan bertanya seperti itu karena pria itu selalu terlihat biasa saja selama ini. Mahendra masih menatapnya

  • Pak Direktur, Saya Butuh Kerja!   CHAPTER 31: Yang Patah dan Tumbuh

    “Kemarin seru perjalanannya, kak?”“Seru, kok,” Hana tersenyum kecil, “Kita main di pantai. Sayang banget kemarin kamu nggak ikut,”Alex menggerutu kecewa sementara Annette dan David saling bertatapan. Entah kenapa, raut wajah sahabatnya terlihat ganjil. Seolah ada yang sedang ditutupi oleh gadis itu. Hari ini, keduanya datang untuk membantu membawakan barang-barang Alex di rumah sakit karena ini hari terakhirnya. Hana yang meminta keduanya dan mumpung sedang weekend, mereka menyanggupi untuk membantu. “Nggak ada kejadian apa gitu, Han?” tanya Annette berusaha memancing. Walaupun ia tahu hal itu tak akan segera memancing Hana untuk bercerita karena gadis itu lebih suka memendam. “Nggak ada kejadian yang spesial, sih,” balas Hana berbohong yang membuat Annette memicingkan matanya. Hana yang menyadari pandangan sahabatnya tersenyum semakin lebar. “Emang kejadian kayak gimana?”“Apa gitu. Orang kaya kan banyak gosipnya!”David mendelik kepada Annette yang cengengesan. Ia mendengus pe

  • Pak Direktur, Saya Butuh Kerja!   CHAPTER 30: Orang Lain di Matanya

    Hana berusaha mendorong tubuh besar Mahendra. Tapi, tentu saja tenaganya kalah kuat sehingga alih-alih Mahendra yang mundur, ia malah terdorong ke belakang dan berakhir di atas kasur.Mahendra tak henti-hentinya menyatukan bibir mereka hingga Hana tak sempat berbicara lagi. Ia tersentak ketika Mahendra mulai menaruh bibirnya di leher Hana.“Pak Mahendra! Sadar!” seru Hana sambil mendorong bahu Mahendra.Ciuman Mahendra terlepas. Pria itu menggeram kesal. Tangannya terangkat dan menyingkap kerah piyama Hana hingga bahunya terekspos.PLAK!Gerakan Mahendra seketika terhenti. Hana terengah-engah. Ia buru-buru mendorong tubuh

  • Pak Direktur, Saya Butuh Kerja!   CHAPTER 29: Harapan yang Tumbuh Sebentar

    Hana pikir, acara family gathering yang dia hadiri sekarang akan berbeda dengan family gathering yang ia datangi sebelumnya ketika di kantor lama. Berbeda yang dia maksud adalah family gathering tersebut akan lebih kaku dan tidak seseru sebelumnya.Tapi, pemikirannya ternyata salah.Ia tidak menyangka orang-orang akan sangat ‘lepas’ di acara ini. Mereka saling berguyon ketika berkompetisi, menyanyikan yel-yel, dan keseruan lainnya yang sama seperti family gathering di kantor lama Hana.Bahkan, Mahendra yang terkenal dengan ekspresi datarnya, juga terlihat lepas meski sedikit saja. Dia hanya tersenyum kecil dan tertawa pelan saja setiap ada melihat tingkah para koleganya. Tapi, hal itu sudah cukup bagi Hana untuk memotret ekspresi berbeda itu dal

  • Pak Direktur, Saya Butuh Kerja!   CHAPTER 28: Berubah

    “Pak Mahendra, bangun. Sudah sampai,”Mata hitam itu terbuka pelan. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Hana yang begitu dekat. Mahendra segera bangkit dari posisinya. Ia menoleh keluar dan melihat bis sudah berhenti di depan villa. Ia kembali menoleh ke Hana.“Apa tadi saya–?”Hana mengangguk pelan. Mahendra menghela napas. Ia merapihkan rambutnya yang berantakan dan berkata, “Maaf yang tadi,”Hana menggeleng. Ia tidak merasa keberatan sama sekali. Malah itu menjadi kesempatan yang sangat langka untuknya karena mereka jarang berada sedekat itu. Atau bisa dibilang memang hanya sekali saat mereka memakai masker bersama.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status