LOGINMalam mulai larut, Leo turun ke bawah untuk mengambil minum. Ternyata wanita gatal itu duduk di sofa ruang tengah. Leo apatis, apalagi dia mengenakan lingerie.“Leo!” Wanita gatal itu meraih tangan pria itu. “Apa.” Leo menoleh sambil melirik seseorang berdiri di anak tangga. “Kamu mau ngapain?” tanya Friska sambil membelai wajah Leo. “Haus.” Leo diam dengan sengaja menikmati apa yang dilakukan oleh Friska.Friska makin berani menyentuh anggota tubuh Leo. Pria itu sebenarnya muak. Namun, demi rencana Venya ia mau tidak mau harus melakukan itu.Tangan Friska akan menarik celana pendek Leo. Namun, tangan Leo menahan tangan wanita gatal itu. “Jangan.” Leo menatap Friska. “Apa ada kamar lain? Kita bisa melakukan di sana,” bisik Friska dengan suara yang menggoda.“Nanti Papa tahu gimana?” tanya Leo.“Aku mencintaimu Leo! Papamu hanya penggantimu saja.” Friska memeluk Leo.“Cih! Aku tidak sudi Suamiku dipegang-pegang seperti itu!” batin Venya yang masih merekam mereka berdua dari anak t
“Makasih.” Venya duduk dengan tenang. Andri melihat Venya yang terlihat tidak suka dengan Friska. Pria itu pun duduk di hadapan Venya. Leo pun memanggil pelayan untuk menyiapkan pesanan mereka.“Tunggu sebentar Tuan! Kami akan siapkan!” Pelayan pria yang mengucapkan menggunakan bahasa Perancis.Zaki yang masih bersama teman-temannya. Sesekali mencuri pandang kepada Venya. Dan, itu diperhatikan oleh Friska.“Pria-pria di sana melihat ke sini terus?” batin Friska yang curiga.Tidak lama makanan datang, suasana canggung di antara mereka. Venya tanpa berkata-kata ia tetap makan. Wanita itu jujur merasa muak dengan adanya Zaki makin sesak di dada. “Sayang, aku mau ke toilet.” Venya berdiri lalu pergi. Leo hanya menganggukan kepala saja. Tanpa Leo tahu Zaki telah menyusul wanitanya. Dan, Friska makin curiga ketika Zaki pergi ke arah yang sama dengan Venya. “Aku mau ke toilet juga.” Friska hanya berpura-pura ia ingin membuktikan filling-nya.Benar saja, saat Venya keluar dari kamar mandi
“Dia calon ibu tirimu hormati.” Andri tidak terima.“Terserah. Di ujung ada kamar, istirahatlah. Aku mau ke atas.” Leo acuh tak acuh.Leo masuk ke dalam kamar, Venya masih berendam di bathtub. Aroma terapi membuat Venya tenang.Ceklek …Venya langsung membuka mata karena terkejut. Mereka berdua saling pandang. Leo malah berjongkok di samping sang istri.“Maaf,” lirih Leo.“Kenapa minta maaf?” tanya Venya.“Dua manusia nggak penting itu datang kemari.” Leo merasa malu.“Sudahlah, mau main seru-seruan sama aku?” Venya menggoda Leo.“Mau!” Leo melepaskan pakaiannya.“Kamu kenapa?” Venya sudah menyelesaikan berendam.“Berendam bareng, apa lagi?” tanya Leo excited.“Mesum! Aku capek! Besok saja ya, Sayang,” rayu Venya memohon.“Katanya mau main seru-seruan!” Leo merajuk lalu pergi dari kamar mandi.Venya yang hanya mengenakan handuk kimono lalu memeluk Leo yang duduk di ranjang. Venya berpura-pura manis agar Leo menyudahi kemarahan ini.“Sayang, aku itu mau bantu kamu mengusir Friska loh!”
“Ini Tumbler Tuku, warna biru! Lucu ‘kan?” ucap Sesil.“Wah! Kami dapat satu per satu?” tanya salah satu dari mereka.“Tentu saja, kecuali Risa! Kamu dapat Tumbler Lion Star! Nggak cocok dapat tumbler ini.” Sesil menyilangkan kedua tangannya di dada.Reno mengajak Sesil untuk masuk ke dalam ruangannya. Kini Yasmine hanya menahan tawa saja. Risa terlihat emosi sekali. Teman-teman lain juga menahan tawa.“Apa yang lucu! Diam kalian!” Risa pergi ke tempat duduknya.Kubikel kantor modelnya memanjang saja. Di ujung adalah tempat duduk Risa. Risa mampu melihat Yasmine sedang mengerjakan tugas.“Sayang, ini untukmu.” Reno memberikan buah-buahan untuk Yasmine makan.“Makasih, Kak.” Yasmine tersenyum.Reno pun pergi dari sana. Para wanita yang melihat pun iri.“Beruntung ya, kamu!” ucap Nina—teman kerja.“Semoga kamu dapat lebih dari Kak Reno,” jawab Yasmine yang kembali bekerja.“Alah, gitu aja bangga,” gumam Risa dengan suara yang keras, mampu didengar beberapa orang.Yasmine seringai sambil
Ceklek …Saat pintu terbuka, tubuh Risa membeku sesaat. Leo masuk dengan wajah yang garang. Risa langsung berdiri lalu menghampiri Leo.“T-tuan!” Suara Risa yang bergetar.“Duduk.” Leo duduk di kursi.Risa pun duduk di singgasananya. Leo pun menyampaikan apa yang diinginkan oleh Yasmine. Wajah Risa langsung berubah.“Kamu maunya gimana?” tanya Leo.“Saya akan meminta maaf di depan karya, Pak.” Risa menundukkan kepalanya.“Akh! Satu lagi. Kamu akan turun jabatan.” Leo berdiri. “Tunggu sekretarisku ke sini membuat surat perjanjian.” Leo pergi.Risa mengepalkan tangannya. Wanita itu terbakar emosi. Sampai-sampai tidak sadar di tangan satunya menggenggam pulpen.Pletak …Pulpen itu patah sampai tangan Risa berdarah. Dendam telah merasuki wanita itu.“Lihat saja nanti.” Risa seringai.***Keesokan harinya, di pagi itu Leo dan Venya akan kembali ke Prancis. Satu bulan lagi di sana, tugas Venya selesai menjadi peracik parfum.“Hati-hati di jalan, ya!” ucap Yasmine sambil memeluk Venya di ban
“Tante sakit ya,” ucap Lino merasa bersalah.“Nggak pa-pa kok Sayang.” Yasmine tersenyum.Risa tidak merasa bersalah di hadapan Reno. Ia malah mengadu ke pria itu soal kelancangan Yasmine.“Tuan! Lihat dia itu! Tidak sopan.” Risa berakting seolah Yasmine salah.“Bohong!” Lino dengan berani.Plak …Reno menampar pipi Risa. Ia berjalan menghampiri Yasmine.“Tuan!” Risa bingung sambil menahan sakit.“Diam kamu!” bentak Reno.“Sayang, kita ke rumah sakit ya!” Reno langsung membopong tubuh Yasmine.Deg …Semua karyawan termasuk Risa dan Farel tercengang. Ucapan Reno begitu jelas membuat mereka tidak percaya.“Nggak usah, ini diobatin salep aja sembuh,” tolak Yasmine yang menenangkan hati Reno.“Ya, sudah. Ayo, ke ruanganku.” Reno meninggalkan departemen itu.Risa membeku, Leo dan Farel meninggalkan ruangan itu juga. Namun, sampai di lift ternyata Reno dan Yasmine sudah pergi terlebih dahulu.“Astaga! Dari tadi yang urus Anakmu ini si Yasmine.” Leo menggelengkan kepala.“Aku tidak tahu Yasm







