Mag-log inResepsionis itu berbisik, "Itu Joseph Darmana, Kepala Keluarga Darmana di Kota Hambulos."Jadi, ternyata dia orangnya.Meskipun Vanessa jarang berkunjung ke Kota Hambulos, dia cukup familier dengan kalangan keluarga konglomerat di sana ....Walaupun hanya sebatas tahu saja.Vanessa pernah mendengar nama Joseph Darmana sebelumnya, tetapi ini adalah kali pertama dia melihat orangnya secara langsung.Mengingat tatapan dingin dan acuh tak acuh di mata pria itu beberapa saat lalu, Vanessa mengerutkan kening.Namun, dia tidak punya waktu untuk memikirkannya lebih jauh. Setelah mengucapkan terima kasih kepada resepsionis, dia langsung menelepon Rio.Rio masih tidur. Butuh beberapa kali dering sampai dia terbangun. Terkejut melihat panggilan dari Vanessa, dia segera menjawab, "Bu Vanessa? Pagi sekali …. Apakah ada ...."Vanessa memotong perkataannya dan langsung bertanya, "Apa kau yang menemani Edward ke Kota Hambulos?""Bukan," jawab Rio, yang langsung memahami alasan Vanessa menelepon. "Buka
[Aku titip Elsa padamu untuk beberapa hari ini.]Clara membaca pesan itu tetapi tidak membalasnya.Sementara itu, Vanessa baru mengetahui dari berita di internet bahwa Edward pergi ke Kota Hambulos untuk urusan pekerjaan.Gugatan hukum antara perusahaan teknologi keluarga mereka dan Jetwave Labs akan segera disidangkan. Jika Jetwave menang, maka ganti rugi yang harus mereka bayarkan mungkin akan sangat besar, hingga mereka harus mengorbankan seluruh aset X-Tech, hanya untuk melunasi ganti rugi tersebut.Kehilangan X-Tech bukanlah akhir dari segalanya, asalkan ....Setelah membaca pesan itu, Vanessa segera memesan tiket penerbangan ke Kota Hambulos, lalu menelepon Gading.Melihat panggilan masuk darinya, Gading menjawab, "Menelepon larut malam begini. Apa sudah terjadi sesuatu?""Aku akan pergi ke Kota Hambulos untuk menemui Edward. Apa kau tahu dia menginap di hotel mana dan di kamar nomor berapa? Aku ingin memberinya kejutan."Tanpa curiga sedikit pun, Gading menjawab, "Oh, begitu. Bi
Nenek Hermosa tersenyum dan berkata, "Menurut Nenek sih bukannya kurusan ya, tapi Elsa sudah semakin besar dan menjadi seorang gadis, wajahnya juga mulai terlihat semakin mirip dengan Clara."Mereka memutuskan untuk pergi ke daerah selatan guna menikmati pemandangan dan mengunjungi berbagai situs bersejarah.Selama tiga hari, mereka melakukan kegiatan arung jeram, mendaki gunung, berjalan melintasi jembatan kaca, berpartisipasi dalam kegiatan budaya setempat, serta mencicipi banyak hidangan khas daerah yang terkenal. Clara bisa melihat bahwa Elsa benar-benar merasa bahagia.Selain itu, hubungan Elsa dengan anggota Keluarga Hermosa lainnya pun menjadi semakin dekat.Pada malam hari ketiga, tepat saat mereka kembali ke hotel, Dylan mengiriminya pesan. Ketika Clara membukanya, ternyata itu adalah tangkapan layar dari sebuah artikel berita.Isi tangkapan layar tersebut berkaitan dengan Edward.Sebelum Clara sempat selesai membaca teksnya, Dylan sudah mengirim pesan lagi: [Kudengar perjalan
Dylan tidak ingin membahas topik itu lebih jauh lagi. Sebaliknya, dia beralih ke percakapan santai. "Liburan sudah dimulai besok. Apa kau sudah punya rencana?"Clara tersenyum. "Belum ada rencana. Nggak ada tempat khusus yang ingin kukunjungi, jadi mungkin aku hanya akan beristirahat di rumah selama beberapa hari."Dylan mengangguk. "Itu juga bagus."Clara sendiri memang tidak punya rencana, tetapi ....Malam itu, dalam perjalanan pulang, dia menelepon Elsa. Panggilan itu segera dijawab. "Mama.""Iya," sahut Clara lembut sembari menyetir. "Liburan sudah dimulai besok. Apa kau sudah punya rencana?"Elsa berbisik, "Nggak ada.""Mama juga nggak punya rencana. Apa ada tempat yang ingin kau kunjungi? Mama bisa menemanimu ke sana."Elsa ragu sejenak sebelum berkata, "Iya.""Kalau begitu, Mama akan menjemputmu besok pagi, ya?"Mendengar itu, Elsa sempat terdiam sejenak, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu. Clara menyadari keraguan itu dan hendak bertanya ada apa, namun Elsa sudah lebih du
Setelah menutup telepon, Rita bertanya, "Siapa itu? Apa yang terjadi?"Vanessa menjelaskan situasinya secara singkat, Keluarga Sanjaya maupun Keluarga Gori merasa sangat gembira mendengar kabar tersebut.Diana melompat kegirangan, matanya berkaca-kaca karena bahagia. "Aku sudah menduganya! Kak Edward hanya mencintaimu. Clara itu nggak ada apa-apanya dibandingkan dirimu, Kak!"Fani menimpali, "Iya, benar sekali. Sehebat apa pun Clara, Edward nggak pernah mencintainya. Jadi, bagaimana mungkin dia akan mulai menyukai wanita itu sekarang!"Rita pun ikut tersenyum.Sejujurnya, fakta bahwa Clara adalah pemegang saham di Morti Group dan murid Prof. Nian benar-benar mengejutkannya.Dia tidak pernah membayangkan bahwa Clara akan ... meraih kesuksesan sebesar itu.Clara memang menjadi pusat perhatian belakangan ini.Melihat betapa hebat dan suksesnya Clara, Rita sungguh khawatir kalau Edward mungkin akan menaruh perasaan padanya. Lagipula, selama setahun terakhir, sikap Edward terhadap Clara tel
Malam itu, hingga pesta jamuan berakhir, Clara dan Edward sama sekali tidak berinteraksi.Semua orang yang hadir menyaksikan hal tersebut.Di akhir jamuan, Clara dan Dylan pergi terlebih dahulu, diikuti oleh Edward, Gading dan Dani.Malam itu, melihat sosok Clara dan Dylan yang melangkah pergi, Dani menoleh ke arah Edward. "Edward, soal kau dan Vanessa ...."Edward menjawab, "Itu urusanku, aku sendiri yang akan mengurusnya."Gading mengerti bahwa Edward telah mengetahui apa yang ingin dia dan Dani sampaikan.Namun, sikap Edward tersebut jelas menunjukkan bahwa dia tidak ingin mendengarkan nasihat mereka.Gading mengerutkan kening. "Edward, bagaimana kalau kau ...."Edward berkata, "Ini sudah malam, ayo kita pulang saja dan beristirahat."Karena Edward tidak mau mendengarkan, maka Gading mengerti bahwa bicara lebih banyak pun tidak akan berguna, jadi dia hanya bisa berkata, "... Baiklah."Melihat hal tersebut, Dani pun tidak mencoba membujuknya lebih lanjut.…Sementara di saat yang sam







