Masuk"Memesan kue bulan itu mudah," kata Kepala pelayan. "Elsa mau pesan untuk siapa? Mau rasa apa?"Elsa langsung menjawab, "Untuk Mama! Tapi rasanya ...."Dia tidak mengetahui rasa apa yang disukai ibunya."Oh, jadi untuk Bu Clara, ya?" Kepala pelayan merasa senang saat mendengar bahwa kue itu untuk Clara. "Kakek tahu seleranya Bu Clara. Kakek akan minta mereka mengirimkan katalognya. Nanti Elsa bisa pilih sendiri."Elsa mengangguk. "Oke. Terima kasih ya, Kek."Kepala pelayan langsung pergi untuk mengurusnya.Ada terlalu banyak pilihan, jadi kepala pelayan menyarankan agar memesan beberapa rasa sekaligus untuk memenuhi selera seluruh anggota Keluarga Hermosa lainnya.Elsa berpikir saran itu masuk akal, dia juga menyukai setiap model dan rasa. Jadi, dia ingin memesan satu kotak untuk setiap rasa, tetapi kepala pelayan segera mencegahnya. "Itu terlalu banyak untuk mereka. Pesan lima atau enam kotak saja sudah cukup."Elsa menjawab, "... Baiklah."Setelah selesai memilih, dia mengembalikan g
Elsa refleks mundur selangkah lagi yang semakin memperlebar jarak antara dirinya dan Vanessa. "Aku nggak mau. Aku mau pulang dan makan di rumah."Vanessa tersenyum. "Ya sudah. Kalau begitu, Tante ikut ....""Aku mau pulang sendiri." Khawatir Vanessa tidak mengerti, Elsa menatapnya dan mengulangi ucapannya, "Aku mau pulang sendiri."Ekspresi Vanessa berubah menjadi suram, dia lalu melangkah maju. "Elsa ...."Namun, sebelum dia selesai berbicara, sopir Elsa sudah menghentikannya. "Bu Vanessa, tolong berhenti."Vanessa menatap Elsa dan berbicara, "Elsa ...."Elsa tidak menjawabnya. Dia berbalik, langsung membuka pintu mobil dan masuk.Melihat Elsa yang sudah masuk ke mobil, maka sopirnya juga ikut berbalik.Menatap mobil Elsa menghilang di tengah arus lalu lintas, bibir Vanessa terkatup rapat.Meskipun Elsa tidak pernah menjawab telepon atau pun membalas pesannya sejak pesta jamuan di Dr. Luwana, tetapi Vanessa tidak terlalu memikirkannya.Dia percaya bahwa ketika waktunya tepat nanti, di
Karena jika menyerah sekarang, mereka bukan hanya akan kehilangan segalanya tetapi juga dibebani oleh hutang.Oleh karena itu, mereka harus bisa menarik Edward ke sisi mereka kembali.Rita menatap Vanessa. "Vanessa, soal Edward ...."Vanessa mengulangi jawaban yang sama, "Iya, aku tahu. Aku akan menghubunginya."Rita mengangguk dan tidak berkata apa-apa lagi.Dia selalu berpikir bahwa dirinya cukup mahir dalam berurusan dengan pria dan memahami jalan pikiran mereka, namun ... dia harus mengakui bahwa seluruh sikap Edward sejak pesta jamuan Dr. Luwana hingga sekarang berada di luar perhitungannya.Bahkan, dia sendiri pun ikut kebingungan.Vanessa menyelesaikan sarapannya dan langsung pergi ke kantor.Kemajuan pekerjaan di X-Tech sering kali terhambat, dan hal tersebut membuatnya sangat sibuk. Dia baru saja berbicara dengan seseorang ketika Diana menelepon. "Kak, Kak Edward sudah kembali! Dia baru saja menghadiri konferensi pers peluncuran produk Anggasta Group, aku melihat video siaran
Edward berkata, "Apa kau yakin? Apa kau nggak kangen sama mamamu?"Elsa memalingkan wajahnya. "Kalau aku kangen, aku akan hubungi mama sendiri, nggak perlu dibantu."Edward mendengarkan, dia memandang ke arah putrinya. Saat hendak berbicara, ponsel Elsa berdering.Itu panggilan telepon dari Clara.Elsa melihat ke layar dan menjawab panggilan itu setelah dua detik. "Mama.""Iya, ini Mama," jawab Clara di sisi lain telepon. "Apa kau mau merayakan Festival Musim Gugur besok bersama Mama?"Elsa masih enggan dekat dengannya sekarang. Clara tidak tahu apakah putrinya itu akan bersedia untuk datang dan merayakan festival di rumah Keluarga Hermosa bersama dengannya, tetapi dia tetap harus bertanya.Elsa merasa ragu-ragu sejenak dan kemudian berkata, "Aku masih belum tahu. Aku tanya ayah dulu. Kalau sudah, aku akan kabari Mama nanti.""Oke." Clara berkata, "Jangan lupa kabari Mama, ya.""Iya, Ma." Elsa berkata, "Sampai jumpa, Mama.""... Sampai jumpa."Setelah Clara selesai berbicara, Elsa lang
Dalam benak Gading, sosok Elsa itu selalu ceria dan bahagia. Jika dia mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, dia pasti akan segera memberi tahu Edward. Jadi, apa yang mungkin bisa membuat anak itu tidak bahagia?Elsa menggulir layar gawai-nya tanpa mendongak dan berkata, "Aku nggak sedih." Biasanya ketika mereka bertemu, Elsa akan selalu tersenyum dan jelas terlihat bahwa dia sedang bahagia.Jika digoda, dia pasti akan langsung membalas dengan penuh semangat. Fakta bahwa sikapnya yang tetap diam dan acuh tak acuh setelah digoda seolah-olah tidak ingin berbicara dengan siapa pun, membuat Gading yakin bahwa Elsa memang benar-benar sedang kesal.Gading baru saja hendak menggoda Elsa dan bertanya apa yang sudah membuatnya tidak bahagia, namun tiba-tiba Dani terbatuk ringan. "Sekarang giliranmu memesan.""Aku sudah pesan.""Pesan dua lagi."Gading terkejut. "Nafsu makanmu besar sekali hari ini?"Dani tidak menanggapi.Selama perjalanan mereka liburan ke laut terakhir kali, Dani memperh
Selama beberapa hari berikutnya, Clara disibukkan dengan urusan perusahaan.Hari itu, Dylan tiba-tiba berkata kepadanya, "X-Tech baru-baru ini sudah kehilangan beberapa teknisi ahli mereka.""Iya," kata Clara. "Aku juga sudah mendengarnya.""Beberapa investor mereka juga sudah menarik diri, tapi masih ada beberapa yang belum menarik investasi mereka. Mereka mungkin masih menunggu dan ingin melihat apakah Edward akan bertindak atau nggak." Dylan tersenyum dan menambahkan, "Kabarnya, Panora juga ikut menarik investasinya."Panora adalah perusahaannya Doni Wijaya.Clara mengangguk.Dylan tidak bisa menahan diri untuk berkata, "Padahal kalau dilihat-lihat, dulu Doni tampak benar-benar terpesona pada Vanessa. Aku cukup terkejut saat tahu dia menarik investasinya dengan tegas."Clara tidak peduli dengan urusan Doni, sehingga tidak menanggapi.Dylan kemudian bertanya, "Apa Edward belum kembali?"Clara menggelengkan kepala. "Aku nggak tahu."Clara sama sekali belum menghubungi Elsa selama empa







