Share

Bab 285

Penulis: Ratih Larasati
Maxwell bukan tipe orang yang suka bercanda dengan Shelly.

Kalau dia bilang akan dipromosikan … setidaknya itu bukan kabar buruk.

Namun, selama menunggu kepastian itu, hati Shelly tetap dipenuhi kegelisahan.

Dua hari kemudian, dia menerima email dari Departemen HRD yang memintanya datang ke perusahaan untuk mengurus administrasi jabatan barunya.

Pagi-pagi sekali, Shelly mengenakan setelan kerja, lalu berangkat ke kantor.

Di perjalanan, dia sempat mengirim pesan kepada Jeniati untuk menanyakan ja
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 299

    Sama-sama sebagai pekerja lembur, Maxwell juga belum tidur. Dia langsung membalas pesan Shelly. [Pak Jeffry meminta Anda melapor langsung kepadanya.]Shelly yang semula menopang siku di atas meja sambil memegang ponsel, kini menundukkan kepala.Jarinya mengetik di layar beberapa kali sebelum akhirnya mengirim pesan kepada Jeffry.Dia lebih dulu mengirim beberapa kartu nama.Saat sedang mengetik pesan kedua agar Jeffry menyelidiki orang-orang tersebut, telepon dari Jeffry langsung masuk.Shelly terkejut hingga ponselnya jatuh ke pangkuannya.Dia segera mengambilnya kembali, lalu memberi isyarat diam kepada Saryna yang baru keluar dari dapur.Setelah itu, dia menegakkan tubuh dan mengangkat telepon. “Pak Jeffry.”“Kalau ada urusan, telepon saja. Pesan susah dimengerti.”Di tengah malam, suara Jeffry terdengar rendah dan berat.“Pak Jeffry, tolong minta Maxwell selidiki beberapa orang ini. Mereka mungkin punya hubungan dengan Keluarga Antonius.”Di seberang sana sangat hening.Kalau tidak

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 298

    Karena ini adalah pertemuan pertama mereka, apalagi di depan begitu banyak orang, Shelly tidak ingin mengungkapkan latar belakang keluarganya.Walaupun cepat atau lambat orang pasti bisa menyelidikinya, dia tetap tidak ingin membicarakannya langsung di depan umum.“Maaf, Bu Shelly. Istri saya hanya merasa Anda terlalu muda. Usia Anda bahkan nggak jauh berbeda dengan putra kami, jadi dia sedikit terlalu perhatian.”Johan kembali menyenggol pelan lengan istrinya.Agnes tampak sangat terawat. Sekilas usianya terlihat baru 30-an tahun.Namun sorot matanya menyimpan begitu banyak jejak kehidupan, seolah-olah telah melewati usia 50 tahun.Shelly tanpa sadar menatapnya beberapa saat lebih lama. Entah mengapa, muncul perasaan aneh di dalam hatinya.Dia menekan perasaan itu, lalu tersenyum tipis. “Saya mengerti. Sebuah kehormatan bagi saya bisa diundang menghadiri jamuan Pak Johan hari ini. Mohon dukungannya selama saya berada di Kota Sentara.”“Anda terlalu sungkan. Silakan, Bu Shelly.”Johan

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 297

    Ujung gaun menyapu pergelangan kaki Shelly. Setiap langkah memperlihatkan sekilas kulitnya yang putih.Saat menaiki tangga, dia tak sengaja menginjak ujung gaunnya.“Perlu saya bantu?”Ryan membungkuk, berniat mengangkat sedikit bagian bawah gaunnya.Shelly meraih gaunnya sendiri. “Nggak perlu. Nggak apa-apa.”Dia mempercepat langkahnya menaiki tangga, lalu melepaskan ujung gaunnya dan berjalan mantap menuju aula perjamuan.Padahal Ryan lebih tinggi satu kepala dari Shelly, tetapi langkah Shelly yang cepat dan tegas membuatnya harus berjalan lebar agar bisa mengimbangi.Di lantai tiga, aula perjamuan yang luas memancarkan kemewahan dan keanggunan.Pintu kayu ukir bermotif yang terbuka ke dua sisi, lengkap dengan karpet mewah, perlahan dibuka oleh pelayan.Pemandangan di dalam pun langsung terlihat.Beberapa tokoh besar dunia bisnis berkumpul dalam kelompok kecil dengan setelan jas yang rapi, sementara para wanita mengenakan gaun mahal dan berdandan begitu mencolok.Aroma alkohol bercam

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 296

    Sebelum telepon ditutup, Elora mengejar Herman hingga ke luar ruangan. Dia menarik-narik lengannya, tetapi tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun.Baru setelah mengakhiri panggilan, Herman meletakkan ponselnya ke dalam saku dan menatap Elora yang berdiri menghalangi jalannya dengan wajah panik.“Kamu … apa untungnya kita sama-sama hancur? Herman, kamu pasti akan menyesal melakukan ini!”“Aku nggak akan menyesal. Paling-paling, aku hanya akan bertengkar dengan Jeffry. Lagi pula, reputasiku sudah lama nggak berarti apa-apa.” Herman menjawab dengan wajah dingin.Mendengar itu, sikap Elora langsung melunak.“Tadi aku terlalu impulsif. Aku mengaku memang aku yang ….”Herman memotong ucapannya, “Elora Laurent, aku memang nggak memukul wanita, tapi itu bukan berarti aku bisa diperlakukan sesuka hati. Dua tamparan yang kamu berikan hari ini harus dibayar sekarang. Kalau nggak, tanggung sendiri akibatnya.”Bayar? Bagaimana caranya?Herman tidak memukul wanita. Apa maksudnya Elora harus mena

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 295

    Namun, persahabatan Jeffry dan Herman sejak kecil tidak pernah berubah.“Ada hal lain?”Elora berkata, “Ayahku sudah bersusah payah menekan berita itu.”“Sekali lagi terjadi, tidak usah ditutupi. Aku, Jeffry Anderson, tidak pernah takut pada fitnah selama aku tidak melakukan kesalahan.”Jeffry sama sekali tidak menghargai bantuan itu.Elora berkata dengan nada cemas, “Apa kamu tidak khawatir kalau Herman .…”“Elora.” Suara Jeffry tiba-tiba menjadi dingin. “Ucapan seperti itu seharusnya tidak keluar dari mulutmu.”Elora, Jeffry, dan Herman tumbuh bersama sejak kecil.Mendengar itu, Elora langsung terdiam.Beberapa detik kemudian, Jeffry mematikan telepon.Nada sambung yang terputus-putus terdengar di telinga Elora. Dengan wajah muram, dia melempar ponselnya ke atas tempat tidur.“Ada apa?” Marina yang berdiri di depan pintu segera masuk ketika melihat putrinya melempar ponsel.“Dia menolak?”“Katanya dia sibuk bekerja.”Entah sudah berapa kali Elora mendengar alasan itu.Marina ingin me

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 294

    “Baik.”Maxwell menjawab sambil diam-diam mengamati ekspresi Jeffry.Melihat Jeffry tidak berniat berbicara, dia pun berkata lagi, “Bu Shelly, jaga diri baik-baik di Kota Sentara. Kalau ada apa-apa, silakan hubungi saya.”“Baik. Sampai jumpa, Pak Maxwell.”Shelly merasa ada yang aneh.Maxwell hanya bersikap seperti robot ketika berada di depan Jeffry.Di luar itu, dia sebenarnya cukup ramah.Shelly mengatupkan bibirnya pelan....Di sisi lain, baru saja Maxwell mengangkat ponselnya, dia langsung menerima tatapan tajam dari Jeffry.Ekspresinya langsung membeku.“P-Pak Jeffry … apakah masih ada yang ingin Bapak sampaikan?”Jeffry menatapnya. “Kamu yang masih ada urusan?”“Tidak .…” Maxwell buru-buru menggeleng. Namun ketika kembali bertemu tatapan dingin Jeffry, dia langsung gugup.“Ada … atau tidak ya?”“Pergi.”Jeffry hanya mengucapkan satu kata.Dia mematikan rokok yang abu puntungnya sudah memanjang, lalu berdiri, mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi, dan melangkah keluar

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 154

    “Aduh!”Melihat situasi genting ini, Harrison langsung berdiri dan menangkap tubuh Shelly dengan kedua tangannya.Shelly sangat terkejut. Tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Harrison dan Harrison menopang pinggangnya erat-erat dengan kedua tangan.Shelly menahan napas, bahkan tidak berani bernapas terla

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 152

    Di lorong yang remang-remang, bara rokok di bibir Jeffry menyala dan meredup silih berganti.Cahaya samar itu menerangi garis wajahnya, tapi ekspresinya tetap sulit terbaca.Keberadaannya begitu kuat hingga Shelly hampir langsung menyadari dia ada di sana.Begitu mata tertuju padanya, sulit untuk me

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 141

    Orang-orang di divisi sekretaris mulai berdatangan satu per satu. Hampir semuanya melirik ke arah Shelly.Begitu melihatnya, Wulan langsung meletakkan tas dan berlari menghampirinya.“Lyly, untuk apa kamu di sini?”“Menunggu Pak Jeffry masuk kerja.” Setelah menjawab, Shelly sempat ragu sejenak sebel

  • Pak Jeffry, Ini Bukan Anakmu!   Bab 138

    Keesokan harinya, Shelly menerima telepon dari Bibi Yanti.Rumah sakit meminta pembayaran biaya pengobatan awal sebesar 400 juta.Shelly segera pergi ke bank untuk mencairkan deposito miliknya, lalu mentransfer uang itu ke rekening Bibi Yanti.Karena jatah cutinya masih tersisa dua hari dan dia belu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status