LOGINSetelah Jeffry mengutarakan semua kata-kata itu kepadanya, Shelly merasa seperti terlempar ke dalam gelembung mimpi yang fana.Masa depan yang begitu indah dan cerah justru membuatnya merasa segalanya tidak nyata.Sama seperti saat pertama kali menikah dengan Jeffry dulu, dia butuh waktu sangat lama untuk benar-benar percaya bahwa dirinya bisa menikah dengan pria yang sudah lama dipendam di dalam hati.Saat itu dia merasa menjadi pengecualian yang paling diberkati Tuhan di antara jutaan manusia di dunia.Namun, 2 tahun pernikahan tanpa cinta itu memaksanya kembali berpijak pada kenyataan.Kali ini, hal yang sama terulang lagi. Dia tersandung dan jatuh untuk kedua kalinya pada pria yang sama.Menggantungkan harapan, lalu melihat harapan itu hancur berkeping-keping."Aku sudah memikirkannya baik-baik. Aku mau membatalkan perjanjian ini secepat mungkin dan pergi dari Tavira."Shelly mengucapkannya kata demi kata dengan nada suara yang mantap.Saryna menarik napas dingin di ujung telepon,
Bicara jujur? Jeffry menyembunyikan sesuatu darinya.Tangan Shelly yang hendak mengetuk pintu membeku di udara. Perkataan Johan terngiang kembali di kepalanya."Bagus! Kalau kamu nggak mau dengar omonganku dan semuanya berantakan, kamu yang harus tanggung jawab!"Melly yang melihat Jeffry bersikeras pada keputusannya langsung keluar kamar dengan emosi meluap-luap.Pintu terbuka seketika. Tatapannya beradu dengan Shelly. Ekspresi marahnya perlahan berubah menjadi terkejut, sebelum keningnya berkerut rapat."Siapa yang izinkan kamu nguping pembicaraan kami?"Perlahan Shelly menurunkan tangannya. Pandangannya melewati Melly, langsung tertuju pada pria yang duduk di balik meja kerja di dalam ruangan.Mata Jeffry yang gelap menatap ke arahnya, dan sekilas melintas kilatan aneh di dasar matanya.Shelly menangkap kilatan itu dengan sangat tajam. Seketika hatinya jatuh ke dasar jurang, dingin membeku.Melihat raut wajah Shelly yang tidak beres, Melly merasa agak gelisah. Dia memilih langsung p
Sebagai orang yang sudah pernah melewatinya, Nenek Mina paham betul betapa menguras tenaga dan pikiran dalam mengurus anak kecil.Shelly yang ditanya bertubi-tubi itu tertegun, pikirannya justru dipenuhi bayangan Jeffry.Jeffry yang rela bangun tengah malam menemani Jery. Jeffry yang selalu menyuruhnya makan duluan setiap kali Jery rewel di meja makan, sementara dia sendiri menggendong si kecil dan berusaha menenangkannya.Tanpa terasa, momen-momen Jeffry bersama Jery sudah terlalu banyak untuk dihitung."Lumayan baik." Kakek Yanto memberi isyarat agar Shelly mengulurkan tangan satunya lagi. "Kondisi dasar tubuh Shelly cukup bagus, tapi nadi jantungnya agak lemah. Ada yang sedang dipikirkan?"Kekhawatiran terbesar Shelly adalah soal asal-usul Jery.Sejak pertama kali mengandungnya, kekhawatiran itu tak pernah benar-benar berhenti.Shelly mengatupkan bibirnya sejenak."Apakah soal Keluarga Gunawan?"Nenek Mina, dari sudut yang tak terlihat Shelly, diam-diam menendang ringan kaki sang su
"Hais."Nenek Mina menghela napas panjang. "Kalau mau menikah, silakan. Tapi, apa boleh jangan menikah terlalu jauh? Nanti coba kamu cari tahu, tanya apakah pacarnya berasal dari Kota Sentara?"Bagaimana latar belakang pria itu? Kalau kondisinya kurang mampu, apa bisa tinggal bersama Keluarga Anderson saja?Dia tidak rela Joycelin menikah sejauh itu."Kalau ada kesempatan, saya bantu Anda tanyakan," sahut Shelly. Tadi dia sempat berpikir sejenak, di kantor cabang Dominion rasanya tidak ada pria yang benar-benar menonjol.Selera Joycelin seharusnya tidak buruk, mungkinkah dia bertemu sosok mapan dari perusahaan lain saat jamuan bisnis?"Orang-orang bilang pria dari wilayah selatan tampan dan rupawan, sementara pria dari bagian utara lebih kasar. Aku cuma takut Joycelin dibutakan oleh pria rupawan, bagaimana kalau dia ditipu ...."Memang benar bahwa punya anak perempuan selalu serbasalah seperti ini, selalu cemas anaknya salah memilih orang saat menikah.Dulu saat Shelly memutuskan berta
Namun, gerakannya begitu terampil seolah memang sudah seharusnya begitu.Dia melangkah dengan kaki panjangnya, menggendong Jery masuk ke dalam vila.Shelly ditahan oleh Kakek Yanto dan Nenek Mina untuk mengobrol. Mereka menanyakan apakah segalanya berjalan lancar setelah dia pindah ke Kota Sentara. Pembicaraan akhirnya menyinggung soal Keluarga Gunawan. Nada Nenek Mina pun terdengar penuh belas kasih."Nak, percayalah bahwa semua ini sudah diatur dengan cara terbaik. Kehidupan di panti asuhan memang berat dan perjalananmu sampai di sini juga nggak mudah. Tapi kalau kamu tumbuh besar bersama mereka sejak kecil, hidupmu justru akan jauh lebih susah."Kebaikan hati dan kejujuran Shelly adalah sesuatu yang sudah tertanam dalam dirinya sejak lahir. Kalau dia tumbuh di tengah Keluarga Gunawan, benturan nilai-nilai hidup yang bertolak belakang hanya akan membuatnya habis didera cercaan dan luka di tangan pasangan suami istri itu."Aku memang pernah punya keinginan untuk mencari keluarga kandu
"Baik." Bibi Sari mengeluarkan ponselnya dan menyampaikan pesan dari Nenek Mina kepada Jeffry, kata per kata, tanpa ada yang diubah.Semua anggota Keluarga Anderson tahu betul watak Nenek Mina. Apa yang diucapkannya pasti dilakukannya.Makanya Jeffry bersikeras meminta Shelly untuk datang.Dia tahu bahwa hak asuh Jery belum sepenuhnya selesai diputuskan. Hubungannya dengan Shelly baru saja mencair sedikit dan Shelly belum siap untuk jujur sepenuhnya.Jery terlalu penting bagi Shelly.Bahkan lebih penting dari sebelum dia tahu asal-usul dirinya sendiri.Sebab, Jery adalah satu-satunya keluarga kandung yang benar-benar dimiliki Shelly di dunia ini.Sepanjang perjalanan, Shelly terus diam. Keheningan di dalam mobil terasa begitu berat hingga dada Jeffry serasa tersumbat.Sesampainya di depan rumah Keluarga Anderson, Shelly menarik napas panjang. Seperti seorang prajurit yang bergerak menuju medan perang dan sudah siap mati, dia melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil."Tunggu dulu."J
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas







