LOGINSemua itu bermula dari ayah Johan, lelaki yang menikahi ibu Johan semata-mata demi harta Keluarga Gunawan.Sejak Johan lahir, sang ayah sudah menanamkan satu obsesi ke dalam benaknya: kuasai seluruh warisan Keluarga Gunawan, lalu kembalikan marga ke nama aslinya, Sunjaya. Dengan begitu, Keluarga Sunjaya akan bangkit dari keterpurukan!Dua generasi berkorban, dua generasi bersiasat. Kalau hasilnya bisa mendongkrak Keluarga Sunjaya ke puncak dalam sekali lompatan, semua itu sepadan!Berbagai bisikan itu sama sekali tidak menggoyahkan Johan.Yang membuatnya gelisah hingga bolak-balik tidak bisa tidur adalah hal lain. Rendy baru saja menggelar rapat dewan keluarga untuk membahas pembagian warisan. Rapat resminya tinggal 3 hari lagi.Johan sudah menyelidiki. Sebagian besar anggota Keluarga Gunawan berpihak pada Rendy, karena Rendy berhasil menemukan putrinya yang hilang bertahun-tahun lamanya.Artinya, warisan itu pada akhirnya akan jatuh ke tangan Saryna.Itu tidak akan pernah dia izinkan
"Ayo makan," kata Jeffry.Dia melepaskan pegangan kereta bayi Jery, mengambil sendok, lalu menyendok beberapa lauk ke piring Shelly.Ruang makan sunyi senyap. Sinar matahari sore menyeruak hangat ke dalam ruangan, sementara Jery di dalam kereta bayinya tidur dengan nyenyak.Namun hati Shelly yang tadinya tenang seperti permukaan danau. kini seperti dilempar batu. Riak demi riak mengembang dari dadanya, menjalar ke mana-mana, tidak mau berhenti."Aku ingat," ucapnya pelan. "Kamu bilang setelah urusan Keluarga Gunawan beres, ada yang mau kamu sampaikan padaku. Ini yang kamu maksud?"Jari-jarinya mencengkeram sendok lebih erat.Dia selalu merasa ada lapisan tipis yang memisahkan mereka, seperti selembar kertas jendela yang sudah Jeffry robek dari sisinya, tapi dari sisinya sendiri, dia masih buta sama sekali.Dia melirik Jery. Hatinya bergetar kecil."Ah, aku cuma ngomong sembarangan. Kalau aku mau ketemu kamu, memangnya ada urusan apa lagi."Nada Jeffry terdengar aneh, sedikit dipaksakan
Lima menit kemudian, Shelly turun dengan berganti setelan rumahan berwarna krem muda. Rambut panjangnya digulung asal ke atas.Meja makan sudah penuh dengan empat lauk dan satu sup.Jery terbaring di dalam kereta bayi. Mungkin kelelahan karena berenang, dia sudah tertidur sepanjang perjalanan pulang.Jeffry duduk di samping kereta bayi itu. Pergelangan tangannya bertumpu santai di pegangan kereta. Sikapnya agak santai."Di mana Kak Ratih?"Shelly duduk di seberang Jeffry, bermaksud menarik kereta bayi sedikit ke sisinya.Akan tetapi, tangan Jeffry menahan di sana. Kereta itu tak bergerak sedikit pun."Aku kasih dia setengah hari libur." Jeffry berkata pelan, lalu mengisyaratkan Shelly untuk duduk. "Bagaimana pertimbanganmu?"Maksudnya soal kontrak kerja Shelly dengan Grup Vantara.Apakah Shelly masih mau mempertahankan pekerjaan itu.Jeffry sudah bisa membaca polanya. Kalau tidak ditanya, Shelly tidak akan pernah memberi jawaban dengan sendirinya."Nggak ada salahnya aku bekerja di Gru
Jangan-jangan Kak Ratih yang tidak sengaja menusuk jari Jery?Shelly bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Kak Ratih. Mereka sudah bersama cukup lama, jadi dia pun tahu betul bahwa Kak Ratih benar-benar menyayangi Jery dengan sepenuh hati. Kalau pun itu benar-benar kecelakaan, Shelly tentu tidak akan mempermasalahkannya.Belum sempat dia berkata apa-apa, petugas itu sudah bersuara dengan nada santai, "Kalau memang nggak sengaja tertusuk, Ibu tetap harus lebih berhati-hati. Kulit anak kecil masih sensitif. Untung hanya kena jari. Kalau bagian lain, itu pasti lebih sakit."Kak Ratih tersenyum canggung. Senyumnya tampak dipaksakan dan terasa hampa."Tapi berdasarkan pengalaman saya bertahun-tahun di bidang perawatan bayi dan anak, ukuran dan kedalaman bekas tusukan ini mirip sekali dengan jarum pengambil darah di rumah sakit."Dia mengingatkan dengan nada hati-hati, "Coba Ibu ingat-ingat lagi, apakah baru-baru ini si kecil sempat menjalani pemeriksaan kesehatan, meski nggak sedang
Marina panik bukan main. "Aku sudah bilang berkali-kali, kamu harus bisa memanfaatkan Keluarga Gunawan, tapi jangan sekali-kali mengusik Melly ataupun Jeffry!"Keluarga Gunawan justru jauh lebih bernafsu untuk merebut Jery daripada Elora sendiri. Elora seharusnya cukup duduk manis di belakang layar, menyusun strategi, lalu membiarkan orang-orang Keluarga Gunawan yang berhadapan langsung dengan Jeffry atau Melly. Tapi kenyataannya ….Elora menceritakan semuanya, dari awal sampai akhir, tanpa ada yang disembunyikan."Kamu bisa bikin aku mati kecemasan! Berani-beraninya kamu menargetkan Melly! Wajar dia langsung berbalik memusuhi kamu!"Marina melirik papan penunjuk arah ruang gawat darurat, lalu berkata dengan nada yang lebih rendah namun tak kalah tegas, "Ayahmu jatuh sakit. Keluarga Laurent segera hancur. Pulanglah dulu. Kita sama-sama pikirkan jalan keluarnya.""Aku nggak mau pulang!" Elora bahkan tak ingin menginjakkan kaki di Tavira lagi, satu langkah pun tidak."Ayahmu sakit sampai
Tamparan itu dilayangkan Melly sekuat tenaga.Elora sampai tersungkur ke tanah akibat hantaman keras itu. Dia memegangi pipinya yang terasa panas membakar. Rasa sakitnya begitu menyengat hingga hidungnya perih dan air matanya langsung mengucur deras."Elora, bertahun-tahun ini aku memperlakukanmu sepenuh hati, menganggapmu seperti anak kandungku sendiri, tapi begini caramu membalas kebaikanku?" Melly menudingnya dengan suara bergetar penuh kemurkaan.Elora menoleh dengan mata basah oleh air mata. "Tante, apakah maksud Tante soal pernikahanku dan Kak Jeffry? Herman benar-benar memfitnahku! Tubuhku sama sekali nggak bermasalah ....""Tutup mulutmu!" Melly merasa muak melihat tampang memelas Elora. "Aku tanya kamu, kamu sengaja menghasutku supaya meragukan asal-usul Jery, apa kamu sudah bersekongkol dengan Keluarga Gunawan biar mereka merebut Jery?""Nggak!" Elora bersikeras membantah mati-matian. "Tante, mana mungkin aku melakukan hal sekeji itu? Aku benar-benar melakukan ini demi Tante,
Shelly tanpa sadar menarik jaket tebalnya sedikit ke depan, menutupi perutnya yang masih rata.“Aku masuk kerja. Mungkin karena umurku sudah bertambah, tahun ini aku jadi lebih gampang kedinginan.”Dia berjalan mendekat lalu duduk, sengaja mengalihkan topik.“Perlu pakai laptopku? Kalau iya, aku amb
Di dalam aula.Ke mana pun Jeffry pergi, selalu ada orang-orang yang mengerumuninya.Dia sedang berbincang dengan beberapa senior di dunia bisnis, sementara orang lain terus datang silih berganti untuk menyapanya.“Kak Jeffry.”Elora berjalan mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengannya.Lengan
Langkah Shelly tiba-tiba terhenti. Napasnya tertahan, wajahnya perlahan menjadi serius.“Ada apa?” Maxwell bingung. “Bukannya kamu yang minta Pak Jeffry memindahkanmu kembali?”Shelly menggeleng.“Bukan. Aku datang untuk mengundurkan diri.”Maxwell langsung menarik napas tajam.“Mengundurkan diri? K
Joycelin memang mengiyakan dengan mulutnya, tapi begitu Melly pergi, dia langsung memonyongkan bibir ke arah punggung wanita itu....Elora menarik Jeffry untuk duduk di kursi makan. Pemandangan mereka duduk berdampingan terus terbayang di benak Shelly.Seharusnya dia tidak melihat adegan itu.Dalam







