تسجيل الدخولSetelah Melly menelepon Herman waktu itu, Jeffry sempat menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengirim pesan kepada Maxwell untuk terus mengawasi gerak-gerik ibunya.Siapa sangka, malam itu juga langsung terjadi kekacauan.Tatapannya menggelap muram. "Untuk apa dia bawa Jery ke rumah sakit?"Wajah Maxwell sudah sepucat mayat. "Bibi Sari bilang, Bu Melly mau tes DNA."Suhu di dalam mobil mendadak merosot drastis hingga ke titik beku.Jeffry menggertakkan gigi dengan rahang mengeras rapat, seolah ingin meremukkan giginya sendiri sampai hancur.Sambil memijat pergelangan tangannya, sorot matanya berubah makin bengis. "Telepon Johan. Suruh dia pergi ke rumah sakit untuk jemput orang-orangnya.""Baik!"Setengah jam kemudian, di ruang rawat VIP rumah sakit.Di dahi Melly tertempel perban kasa yang mulai merembeskan noda darah. Wajahnya pucat pasi. Dia terus-menerus bertanya untuk memastikan kepada Bibi Sari, "Jery benaran nggak apa-apa?""Nggak apa-apa, Nyonya. Untung Pak Maxwell datang dan men
Shelly menoleh ke Jeffry, kebetulan melihat kerutan samar melintas di kening pria itu yang lenyap dalam sekejap.Seolah hanya halusinasi saja. Begitu Shelly melihat lebih saksama, kerutan di kening Jeffry sudah sirna."Nggak apa-apa. Aku antar kamu pulang."Jeffry melangkah menuju area pintu depan."Biar aku yang menyetir saja," sahut Shelly.Dia berpamitan singkat pada Herman, lalu bergegas pergi.Dalam perjalanan pulang, ponsel Jeffry berdering 2 kali. Dua-duanya langsung ditolak.Setelah itu, jemarinya tak berhenti mengetik pesan, membuat kabin mobil dipenuhi deru getaran ponsel yang tiada henti.Dengung getaran itu membuat perasaan Shelly kian gelisah."Ada masalah di kantor?" tanyanya pada Jeffry.Jeffry menyahut, "Cuma masalah kecil. Semuanya sudah hampir beres."Sorot wajahnya yang rupawan sempat diselimuti ketegangan berat, tetapi perlahan melembut saat pandangannya beralih menatap Shelly."Ibuku sedang kurang enak badan, jadi beberapa hari ini Bibi Sari pergi ke sana untuk mer
Melly menghindari mereka, melangkah cepat menuju loket dokter jaga. "Aku sudah bilang akan mengantarnya pulang! Aku nggak akan menyerahkan anak ini pada kalian, juga nggak akan ikut dengan kalian!"Terdengar derap langkah kaki tergesa-gesa di belakang. Beberapa pengawal langsung merangsek maju dan mengepung Melly rapat-rapat."Kalau Anda terus menolak begini, jangan salahkan kami kalau harus bertindak tegas."Salah seorang pengawal memberi peringatan dengan suara rendah, lalu mereka serempak menerjang maju.Seerat apa pun Melly memeluk Jery, kekuatannya tetap tak sebanding dengan tenaga beberapa pria dewasa. Pelukannya mendadak terlepas hampa, membuat hatinya serasa dicabut paksa hingga kosong melompong."Lepaskan aku! Tolong, tolong!"Melly mencengkeram erat lengan pengawal itu tanpa melepaskannya sedikit pun sambil berteriak histeris meminta pertolongan.Jeritannya menggema hingga lampu-lampu di sekeliling gedung menyala, memicu sahutan samar dari kejauhan.Pengawal terdepan mengibas
Para petugas medis sudah bersiap di tempat.Melly langsung memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk utama, lalu membuka pintu dan bergegas masuk sambil menggendong Jery.Bayi mungil di dalam kantung tidur itu memiliki pipi putih bersih yang kenyal dan bibir mungil semerah delima. Kedua tangannya yang mungil meringkuk di depan dada, tidur begitu lelap.Melly mengambil sampel darah lebih dulu, baru kemudian mengambil Jery dari pelukan Bibi Sari dan menggenggam jemari kecil bocah itu.Dokter mensterilkan ujung jari Jery, lalu menusukkan jarum untuk mengambil sampel darah.Si kecil tiba-tiba melenguh pelan. Matanya bahkan belum sempat terbuka, tetapi tangisnya sudah meledak."Uwaaa ...."Tangisan melengkingnya menggema ke seluruh penjuru lantai, membuat siapa pun yang mendengar mendadak merasa gelisah dan cemas.Melly melihat wajah si kecil sampai membiru kehabisan napas karena menangis, membuatnya merasa sangat tak tega."Emosinya besar banget."Bibi Sari yang sudah merawat Jery sekia
Saat awal mulai bekerja, mereka sudah dihajar kenyataan bertubi-tubi, lalu berakhir meringkuk berdua di ranjang sempit, menangis sambil memaki orang-orang di luar sana yang berhati dingin.Saryna menangis sesenggukan. Shelly pun merasa terpukul, tetapi dia tak pernah meneteskan air mata setetes pun.Malam begitu panjang, lampu kamar terus menyala terang benderang hingga larut.…Di Royal Haven Residence.Sebelum Shelly pergi, Bibi Sari sudah menerima pesan singkat dari Melly.[Kalau Jeffry dan Shelly sama-sama nggak ada di rumah, segera beri tahu aku.]Belum sempat Bibi Sari membalas pesan itu, Shelly sudah bergegas pergi menjemput Jeffry.Satu jam kemudian, Shelly mengirim pesan pada Bibi Sari, mengabarkan bahwa Jeffry minum terlalu banyak dan mungkin malam ini mereka tidak bisa pulang.Pada saat yang sama, Melly yang tak kunjung mendapat balasan langsung menelepon Bibi Sari."Walau kamu yang rawat Jeffry dari kecil, hubunganku dan kamu jauh lebih dekat dibanding kamu dan dia. Sekaran
"Bukannya ada Kak Ratih sama Bibi Sari?"Saryna berusaha keras membujuk. "Nana udah lama tinggal bareng orang tuaku, tapi malam-malam tetap nggak mau tidur sama mereka. Pas aku berangkat tadi dia masih nangis, padahal susah payah aku bisa keluar dari rumah Keluarga Gunawan."Dia memohon kepada Shelly, "Lagipula kalau kamu bawa dia pulang, malam-malam harus ngurus dia sekaligus ngurus Jery, kamu bakal kewalahan!"Bibi Sari sebenarnya bisa merawat Jeffry.Namun saat Shelly menatap sorot mata memohon dari Saryna, hatinya melunak."Bener juga. Ya udah, kita cari orang dulu buat bantu bawa mereka naik ke atas. Nanti kalau mereka udah tidur dan dipastiin nggak apa-apa, baru kita pergi."Sewaktu Shelly pergi tadi, Jery sudah tertidur lelap. Anak kecil itu hampir tidak pernah terbangun di tengah malam.Dia hanya perlu kembali sebelum fajar menyingsing.Saryna pergi memanggil petugas keamanan untuk meminta bantuan. Sekitar 15 menit kemudian, mereka semua kembali ke apartemen Herman.Herman terg
Begitu Elora masuk ke kantor, dia melihat Maxwell sedang memesan tiket.Dia langsung bertanya, “Kak Jeffry di mana? Kenapa kamu pesan tiket?”“Di ruang istirahat. Ada masalah mendadak di cabang, Pak Jeffry harus ke sana.”Belum sempat Maxwell selesai bicara, Elora sudah mengeluarkan kartu identitas
Shelly adalah anak paling berprestasi di panti asuhan. Karena nilai akademisnya sangat baik, dia diterima di universitas top dalam negeri dengan beasiswa penuh.Di sanalah dia bertemu Jeffry.Di antara begitu banyak pria dari kalangan elit, Jeffry begitu menonjol, langsung menarik pandangannya.Awal
Tengah malam, Shelly Malvis mengunggah sebuah foto bayi yang baru lahir, lengkap dengan keterangan: [Naik pangkat jadi Ibu! Putra sulungku!]Belum satu jam, pintu rumahnya sudah diketuk oleh mantan suami yang telah bercerai dengannya selama setengah tahun.Begitu pintu dibuka, wajah muram Jeffry lan
Sebelum orang-orang di ruang tamu sempat bereaksi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.Ibu Jeffry, Melly Luwiana buru-buru turun.Meski hampir berusia lima puluh tahun, tubuhnya masih terawat seperti wanita usia tiga puluhan.Dia hanya mengenakan selendang merah, sama sekali tidak takut pada su







