Share

Bab 62

Author: Kharamiza
last update publish date: 2026-05-17 16:07:15

Berkebalikan dengan Eca yang hatinya mulai meradang sendiri, Ihsan justru tampak tenang seperti biasa.

“Terima kasih, Asih, tapi lain kali saja,” jawabnya santai.

“Yaelah, sekali-sekali atuh main ke rumah.” Wanita itu tersenyum sambil menatap Ihsan penuh harap. “Mamah juga pasti senang kalau tahu kamu datang.”

Eca diam seribu bahasa. Namun, tanpa sadar jemarinya mulai meremas ujung cardigan rajut di pangkuannya.

Mereka terlihat sudah cukup dekat sampai Ihsan dikenal orang tua wanita itu. Setida
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
gengsian kamu mah Eca..mau Ihsan disambar asih?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Last Part

    Jemarinya bahkan tanpa sadar mengetuk-ngetuk lengannya sendiri. Mulai gelisah, terlebih melihat kertas suara makin menipis. Selang beberapa saat, suara ketua panita kembali terdengar. “Ihsan.” Satu suarat berikutnya dibuja lagi. “Ihsan.” Eca mengangkat kepala, seperti melihat ada sebuah harapan di sana. Beberapa warga juga mulai saling pandang. Ketua panita terus membuka surat suara di hadapannya. Ia melihatnya beberapa detik sebelum membacakan hasilnya. “Ihsan.” “Ihsan.” “Ihsan.” “Ihsan.” Setelah perhitungan suara, Eca sudah bisa merasa sedikit lebih tenang. Ketua panitia juga kini sudah berdiri lebih tegak. Ia melihat lembar rekapitulasi di hadapannya. “Baik. Setelah seluruh surat suara dihitung dan direkapitulasi, perolehan suara untuk calon nomor satu, Saudara Dadan, adalah—” Beberapa orang terlihat sedanf menahan napas. “Dua ratus empat puluh sembilan suara.” Sorakan terdengar dari sisi pendukung Dadan. Eca menatap ketua paniti dengan dada berde

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 167

    “Can, dia teh udah bikin rusuh kampung kita!” Suara warga itu meninggi. “Dia harus terima akibatnya.”“Biar pihak berwajib yang urus.” Ihsan berbicara tegas. “Jangan sampai ada yang malah kena masalah gara-gara mukul dia.Beberapa warga yang semula hendak maju pun akhirnya berhenti.Juragan Dasim yang sejak tadi menunduk juga perlahan mengangkat wajahnya. Matanya langsung tertuju lurus kepada Ihsan.“Can ....”Ihsan menatapnya.“Kamu tega mau penjarain Ua?” Suara Juragan Dasim terdengar lemah.Ihsan membuang napas sedikit berar. “Ini kesalahan Ua sendiri.”“Can, Ua keluarga kamu.”“Saya tahu.”“Terus kamu mau diam wae ngeliat Ua mendekam di penjara?”“Saya nggak bisa banyak melakukan apa pun, Ua.” Ihsan menggeleng pelan. “Yang terjadi hari ini bukan karena saya. Ua sendiri yang memilih melakukan semua ini, ‘kan?”Juragan Dasim kembali menunduk, seperti langsung kehilangan kata-katanya. Salah seorang warga tiba-tiba tertawa sinis. “Giliran kieu ngaku-ngaku Ican keluarga! Kamari-kamari

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 166

    Rasa penasaran akhirnya mengalahkan keinginan Eca untuk tetap duduk manis di rumah.Apalagi setelah mendengar kabar dari Bi Lastri tadi, rasanya sulit bagi Eca untuk tidak memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi di sana.Arina pun rupanya memiliki perasaan yang sama.Beberapa menit kemudian, keduanya sudah melaju meninggalkan rumah dengan sepeda motor. Arina yang mengendarai motor, sementara Eca duduk di belakang sambil berpegangan pada pinggang saudara tirinya itu.Semakin mendekati rumah Juragan Dasim, suara riuh warga semakin terdengar.Begitu tiba, Eca langsung melihat warga sudah memenuhi halaman rumah sederhana itu.Arina mematikan mesin motor.Eca segera turun, seketika itu juga ia melihat suaminya di antara kerumunan, tak jauh dari teras, bersama Dedi dan Siti.“Kang Ican.”Ihsan menoleh.Begitu melihat Eca, alisnya langsung berkerut. “Kok ke sini?”Eca tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sisi suaminya. “Aku penasaran,” bisiknya melirik ke arah Juragan Dasim dan Ratna.

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 165

    Eca sempat diam beberapa detik saat mendengar pertanyaan dari saudara tirinya itu. Bukan tak bisa menjawab, ia hanya tidak tahu kenapa Arina tiba-tiba membahas soal mantan kekasihnya itu.“Soal dia gagal nikah?” tanya Eca akhirnya.Arina mengangguk.Sebetulnya, Eca memang sudah mendengar kabar itu dari teman-temannya yang suka bergosip di grup. Katanya, Reno gagal nikah tepat tiga hari sebelum pernikahan. Calonnya tiba-tiba membatalkan pernikahan karena tidak bisa menerima keadaan Reno yang masih cacat, bekas kecelakaan sebelum rencana pernikahan dengan Eca digelar.Namun, Eca sungguh tak ada kepentingan untuk mengetahui lebih jauh. Lagipula, ia sudah melupakan pria itu.“Kamu nggak berpikir kalau itu karma buat dia, nggak, sih?” tanya Arina.“Kenapa aku harus berpikir begitu?”“Soalnya dulu dia batalin pernikahan kalian gitu aja, padahal kamu mau nerima keadaan dia,” ujar Arina. “Sekarang, nikahannya dibatalin sama calonnya karena calonnya nggak mau nerima dia. Kalau bukan karma, it

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 164

    Eca masih memandangi saudara tirinya itu dengan tatapan heran ketika Arina berbalik dan membuka pintu belakang mobil.Adit langsung melompat turun dari sana.Di saat yang sama, raut heran Eca seketika berubah berbinar saat melihat Nani berjalan memutari bagian depan mobil.“Mamah.”Eca segera berlari kecil menghampiri wanita itu, lalu memeluknya erat.Meskipun hampir setiap hari mereka masih sempat menelepon, bertemu langsung seperti ini tetap terasa berbeda. Ada perasaan lega yang entah kenapa baru terasa setelah kedua lengannya melingkar di tubuh mamahnya.“Mamah kok datang nggak bilang Neng dulu?”“Tadi pagi ditelepon suamimu. Katanya kamu pingsan. Mamah langsung berangkat.”Eca sontak melepaskan pelukannya.“Jadi Kang Ican tahu Mamah ke sini?” tanyanya. “Kok dia nggak bilang?”Nani mengangkat bahu santai. “Lupa kali.”Eca mendengus kecil. “Papa nggak ikut, Mah?”“Nanti nyusul. Masih ada kerjaan.”“Aih, kamu kelihatan udah sehat,” celetuk Arina yang entah sejak kapan sudah duduk di

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 163

    Mobil Ihsan akhirnya berhenti tepat di depan rumah. Eca yang sejak tadi duduk bersandar di kursi penumpang depan langsung hendak membuka pintu.Tetapi baru saja tangannya menyentuh gagangnya, Ihsan sudah lebih dulu turun dari sisi pengemudi.“Diam dulu, Neng.”Eca menoleh. “Kenapa?”Tak ada jawaban, Ihsan sudah lebih dulu berjalan mengitari mobil dan berhenti di sisi tempat Eca duduk. Begitu pintunya dibuka, pria itu langsung membungkuk sedikit.Eca sampai mengerjapkan mata nelihat apa yang dilakukan suaminya itu. “Akang ngapain?”“Gendong Neng,” balas Ihsan santai.Eca sontak memutar bola matanya.“Kang, aku cuma lagi hamil, bukan lumpuh.”Ihsan tetap tenang. Tangannya bahkan sudah bersiap hendak mengangkat tubuh istrinya.“Tapi, tadi Neng pingsan.”“Itu tadi.”“Ya, makanya sekarang saya nggak mau itu kejadian lagi.”Eca mendengus. Ia beruntung punya suami perhatian dan peduli seperti Ihsan. Masalahnya, sekarang ia malah merasa suaminya itu terlalu berlebihan mengkhawatirkannya.“S

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 41

    Eca mematung sejenak, mengingat kembali aktivitasnya sebelum ini. Otaknya seperti mundur beberapa menit ke belakang. Tadi … setelah membersihkan wajahnya, ia memang melepas kebaya. Termasuk … yang di dalamnya. Semua diletakkan di kasur begitu saja, karena pikirnya ia hanya akan sebentar ke kam

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 57

    Melihat dua siswi berantem sampai jambak-jambakan begitu malah membuat kepala Eca ikut pening.Terkadang perempuan memang sangat aneh. Sama-sama disakiti, tetapi yang adu jotos sampai saling menjatuhkan malah sesama perempuan.Eca menatap dua siswi itu bergantian. Kerudung

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 54

    Saat Eca masih sibuk mencari alasan, Ihsan mendadak menyahut lebih dulu.“Harus aktif ikut kegiatan-kegiatan desa yang melibatkan warga juga, Pah,” ujarnya tenang.Eca spontan menoleh dengan napas yang masih tertahan.Untung saja pria itu cepat tanggap.

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 52

    Kini giliran Eca yang benar-benar menatap Ihsan dengan penuh keheranan.Pertanyaan macam apa itu?Bukankah sejak awal memang itu salah satu alasan mereka memutuskan menikah?Selain mempertahankan rumah, juga untuk memperbaiki citra Ihsan saat pencalonan kepala desa. Kesepakatan mereka jelas berhubu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status