MasukTubuh Eca sempat terpaku sejenak. Rasanya pertanyaan suaminya barusan terus berputar-putar di kepalanya.‘Neng percaya kalau lahan rumah kita ngotot diambil itu demi kepentingan desa?’Apa artinya semua itu? Keningnya mengerut perlahan. Bola matanya bahkan kini bergerak pelan mencari wajah Ihsan, seolah berharap pria itu segera menjelaskan maksud ucapannya.“Memangnya bukan begitu?” tanyanya lirih tanpa melepas pandangan dari wajah sang suami.Angin malam kembali bertiup perlahan, mengibaskan beberapa helai rambut yang terlepas dari ikatannya.Ihsan tidak langsung menanggapi pertanyaan istrinya.Juatru ia meraih kembali surat yang tadi diletakkan di atas meja balkon. Jemarinya mengetuk pelan bagian kop surat itu sebelum mengembuskan napasnya panjang.“Neng tahu,” ujarnya kemudian, “kalau rumah ini benar-benar masuk pembebasan lahan, prosesnya nggak sesederhana ini.”
Menjelang Magrib, suara motor Ihsan akhirnya terdengar berhenti di garasi.Eca yang sejak tadi hanya duduk mematung di ruang tamu refleks mengangkat kepala.Dua lembar kertas itu masih tergeletak di pangkuannya. Sudah entah berapa kali ia lipat, lalu dibuka lagi. Berkali-kali pula ia berniat menyembunyikannya ke dalam kamar.Namun, setiap kali bangkit, niat itu selalu menguap.Menyembunyikannya bukan pilihan yang tepat. Cepat atau lambat, Ihsan tetap harus tahu.Masalahnya, bagaimana ia harus memulai semua ini?Suara mesin motor di luar perlahan mati, tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang berderit pelan saat Ihsan membukanya.“Neng?” panggil Ihsan begitu masuk ke rumah.Refleks Eca melipat kedua lembar kertas itu, lalu menyelipkannya di bawah paha.Saking kalutnya, Eca tetap duduk diam. Biasanya, baru mendengar suara motor Ihsan saja ia sudah bergegas menyambut di depan pintu.Kali ini tidak. Malah Ihsan yang lebih dulu menghampiri dengan alis bertaut.“Neng, kenapa?”Eca buru-
Malam itu, Eca baru benar-benar bisa memejamkan mata saat hari sudah sangat larut.Meski begitu, ada satu hal yang sangat ia syukuri. Ihsan tetap terjaga menemaninya hampir sepanjang malam. Berkali-kali pria itu memastikan kompres di pergelangan kakinya masih dingin, mengecek apakah ia membutuhkan sesuatu, bahkan tak segan membetulkan selimutnya setiap kali tanpa sadar bergeser.Hingga tak terasa, hampir seminggu pun berlalu sejak kecelakaan itu.Bengkak di pergelangan kaki Eca memang belum sepenuhnya hilang, tetapi sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari pertama.Kini ia sudah bisa menapak perlahan tanpa harus terus-menerus bertumpu pada Ihsan.Sesekali masih terasa nyut-nyutan kalau terlalu lama berdiri. Namun, dibanding terus berbaring di tempat tidur, Eca lebih memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan ringan.Besok ia bahkan sudah berniat kembali mengajar.Tok ... tok ... tok ....Suara ketukan pintu itu memecah keheningan sore saat Eca sedang menyiangi sayuran d
Eca menatap lekat Ihsan di sebelahnya. Pria itu masih menggenggam tangannya, sesekali mengusap punggung tangannya dengan ibu jari, seolah ingin memastikan Eca benar-benar baik-baik saja.“Motorku baik-baik saja, Kang,” jawab Eca akhirnya, berusaha setenang mungkin.“Tadi cuma nggak sengaja lewat agak ke pinggir. Di situ ternyata banyak pasir. Pas banget aku juga agak ngebut sedikit, terus motornya oleng.”Kalimat itu diucapkan begitu mantap dan menyakinkan. Padahal, Eca sadar betul dirinya sedang bersandiwara di depan suaminya sendiri.Namun, untuk saat ini, rasanya itu jauh lebih baik daripada mengatakan yang sebenarnya.Ia benar-benar belum sanggup membayangkan apa yang akan dilakukan Ihsan kalau tahu semua itu bukan kecelakaan biasa, melainkan ulah Juragan Dasim.Ihsan tak langsung menanggapi.Tatapannya justru turun ke kedua telapak tangan Eca yang dipenuhi goresan-goresan merah tipis akibat bergesekan dengan kerikil
“Argh ... sakit! Pelan-pelan, Bah!”Jeritan Eca nyaris memenuhi ruang tamu.Jemarinya spontan mencengkeram lengan Ihsan yang duduk tepat di sampingnya. Begitu kuat sampai kuku-kukunya nyaris menancap di kulit pria itu.“Tahan sedikit, Neng,” ujar Abah Zainal dengan nada yang tetap tenang sambil memegang pergelangan kaki Eca.Pria tua itu memang sudah jadi langganan warga Mekarluyu kalau urusannya keseleo atau patah tulang. Maka, begitu melihat Eca nyaris tak bisa menapak setelah kakinya tertimpa motor, Ihsan langsung meminta Maman menjemput Abah Zainal.Sebelumnya, petugas pustu juga sempat datang membersihkan luka di lutut dan siku Eca yang masih terus mengucurkan darah.Kini ruang tamu rumah dipenuhi beberapa tetangga yang datang menjenguk. Dalam keadaan begini, Eca bahkan sudah tak sempat lagi memikirkan rasa malu saat menjerit tak bisa menahan sakit.Belum sempat ia membalas ucapan Abah Zainal tadi, pria tua itu kembali menggerakkan pergelangan kakinya.“Aaaah!”Tubuh Eca refleks
“Aaaah—!”Benturan keras itu membuat tubuh Eca tersungkur ke sisi jalan.Lutut kanannya lebih dulu menghantam jalanan berbatu hingga bergesekan keras dengan kerikil.Tubuhnya kehilangan keseimbangan, lalu roboh bersama motornya yang ikut menimpa sebelah kakinya.“Aduh …. sakit.” Eca meringis sambil berusaha menarik kakinya. Namun, setiap kali dipaksa bergerak, nyeri itu justru menjalar sampai ke pergelangan, membuat matanya sampai berkaca-kaca.Dengan sisa tenaga yang dipunya, ia mendorong body motor itu, tetapi beban motor hanya bergeser sedikit. Kakinya tetap terjepit.Napasnya pun mulai memburu.Kedua telapak tangannya refleks menopang tubuh pasrah. Kerikil-kerikil kecil menempel di kulitnya, sementara lutut yang tadi menghantam batu mulai terasa perih dan panas.Perlahan Eca mengangkat kepala.Di saat yang sama, ia melihat dua pengendara motor yang tadi memepetnya ternyata masih berhenti beberapa meter di depan.Mereka sama sekali tidak panik dengan insiden itu. Salah satunya bah
Eca mematung sejenak, mengingat kembali aktivitasnya sebelum ini. Otaknya seperti mundur beberapa menit ke belakang. Tadi … setelah membersihkan wajahnya, ia memang melepas kebaya. Termasuk … yang di dalamnya. Semua diletakkan di kasur begitu saja, karena pikirnya ia hanya akan sebentar ke kam
Ketiga temannya itu masih tampak kesal, sesekali melirik ke arah ibu-ibu yang belum juga berhenti mengobrol tanpa tahu tempat.Andai tak dihalangi Eca, mereka pasti sudah berdiri dan melabrak ibu-ibu itu. Untungnya, Eca berhasil menenangkan sampai akhirnya mereka pamit pulang.D
Eca menarik napas panjang sebelum mengangkat kepala dengan perlahan. Tatapannya lurus ke arah ibunya, penuh pertimbangan.“Mah, aku percaya Papa orangnya baik banget,” ujarnya pelan. “Tapi tetap aja… aku nggak enak.”Ia menunduk, jemarinya memainkan ujung baju tidurnya.
Eca melotot tajam. Hampir tak percaya kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut Arina.Benar-benar ya … gadis itu kalau bicara, tidak pernah disaring dulu.“Ih, mulut kamu tuh betul-betul ya, Arina,” sahutnya, masih menahan kesal. “Biarin aja, lah. Mereka cuma ambil makanan lebih, bukan ngambil ua







