LOGINEca terpaku di ambang pintu kamar beberapa detik. Rumah sudah benar-benar sunyi malam itu. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan di ruang tengah, terdengar jauh lebih jelas daripada biasanya.Baru ketika pandangannya bergeser ke arah depan rumah, Eca menyadari ada semburat cahaya tipis yang menyelinap dari sela tirai.Rupanya lampu teras masih menyala. Pintu depan juga tampaknya tidak tertutup rapat.Kening Eca berkerut tipis. Pelan-pelan ia melangkah mendekati jendela depan.Dengan hati-hati, ia menyibakkan sedikit tirai itu. Begitu melihat ke arah luar, tubuhnya seketika membeku. Di kursi kayu teras, ternyata Ihsan sedang duduk sendirian.Tubuhnya sedikit membungkuk dengan kedua siku bertumpu di paha, sementara satu tangannya terus memijat pelipis tanpa henti.Tatapannya lurus ke halaman yang sudah tenggelam dalam gelap.Jemari Eca yang sedari tadi hanya memegang ujung tirai perlahan mencengkeram kain itu lebih kuat.Entah sejak kapan ia ikut menahan napas.Selama ini, setiap k
Beberapa saat kemudian, isak tangis Eca perlahan mulai mereda, meski ia masih bersandar di dada Ihsan. Napasnya belum benar-benar teratur, tetapi setidaknya tidak lagi sesenggukan seperti tadi.Di sudut ruangan, Kang Darma yang sejak tadi memilih diam akhirnya berdiri dari duduknya. Reni pun ikut bangkit di samping suaminya.Pria itu memandang Eca dan Ihsan beberapa detik sebelum mengembuskan napas panjang.“Kalian istirahat dulu,” ujarnya pelan. “Mamah sama Papah mungkin suasana haténa belum baik.”“Besok kalian obrolin lagi kalau semuanya sudah lebih tenang.”Tak ada yang membantah. Ihsan bahkan hanya mengangguk datar.“Iya.”Kang Darma menepuk singkat bahu adiknya sebelum berbalik, diikuti oleh Reni.Kang Darma dan Reni pun berlalu menuju kamar. Tak lama kemudian terdengar bunyi pintu yang ditutup pelan. Setelahnya, rumah kembali tenggelam dalam keheningan, seolah ikut membiarkan semuanya mengendap.Kini, yang tersisa di ruang tengah itu hanya Eca dan Ihsan. Pria itu kembali menata
Tak ada seorang pun yang membuka suara setelah itu.Eca hanya bisa menatap suaminya dari samping. Sejak tadi, Ihsan sama sekali tidak berusaha membela diri lagi. Kepalanya sedikit tertunduk, sementara kedua tangannya saling menggenggam di atas lutut.Melihat itu, rasanya ada sesuatu yang ikut runtuh di dalam diri Eca.Ia tahu. Setiap ucapan Dedi barusan pasti menghantam tepat ke titik yang paling rapuh dalam diri Ihsan.Selama ini, Ihsan hidup memegang idealismenya. Ia rela menghabiskan malam membaca buku-buku tentang pemerintahan desa hingga kebijakan publik. Setiap kali ada persoalan di kampung, kepalanya juga ikut andil memikirkan jalan keluar.Orang yang begitu tulus ingin memajukan desa ... kini justru dianggap sama dengan mereka yang punya niat terselubung di balik sebuah jabatan.Air mata Eca langsung menggenang. Ia merasa tak rela melihat suaminya dipojokkan seperti itu.“Pah ... Mah ...,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Semua mata beralih kepadanya.“Jangan bilang begit
Suasana ruang tengah yang tadi hangat mendadak berubah tegang. Tak seorang pun di antara mereka yang berani membuka suara.Eca hanya bisa menatap selembar kertas yang tergeletak di atas meja itu. Napasnya terasa tercekat. Bahkan, rasanya ia sampai lupa bagaimana caranya berkedip.Perlahan, ia menoleh ke arah suaminya. Tatapan mereka bertemu sesaat. Namun, tak ada kata yang terucap. Meski Eca tetap berharap Ihsan mengerti kegelisahan yang sejak tadi menguasai dirinya.Benar saja. Ihsan segera meraih lembaran kertas itu, lalu membukanya. Sorot matanya bergerak cepat menyusuri setiap baris yang tertulis di sana, seolah memastikan kertas itu yang dicarinya sejak tadi.Rahang pria itu nampak mengeras perlahan“Mah ...,” ucapnya dengan suara berat. “Surat ini ... Mamah dapat dari mana?”Siti tidak langsung menjawab. Tatapannya lebih dulu singgah pada wajah putra bungsunya beberapa saat, seolah sedang mengumpulkan kekuatan untuk mengatakan semuanya.“Dari kamar kalian.”Jawaban singkat itu m
Setelah ayam bakar akhirnya matang, satu per satu hidangan mulai diangkat ke ruang tengah. Tak butuh waktu lama, semua orang pun berkumpul mengelilingi hamparan nasi liwet yang masih mengepul hangat. Makan malam itu berlangsung sederhana, tetapi terasa begitu hangat. Sesekali terdengar suara sendok beradu dengan piring, diselingi obrolan ringan yang berlanjut dari satu pembahasan ke pembahasan lain. Eca makan dengan tenang di sebelah suaminya, meski sejak tadi lebih banyak diam. Kalau diajak bicara, ia tetap menjawab sambil tersenyum. Hanya saja, senyum itu tidak benar-benar sampai ke matanya. Ah, entahlah … ia benar-benar hanya merasa tak bisa tenang malam ini. Begitu makan malam selesai, mereka bersama-sama membereskan piring ke dapur. Tak lama kemudian, semuanya sudah kembali berkumpul di ruang tengah. Siti datang paling akhir sambil membawa sebuah tampah berisi pisang goreng yang masih hangat. Aroma pisang dan mentega seketika memenuhi ruangan itu. “Hayu atuh, tuan
Pulang dari sekolah, Eca hampir tidak membuka suara selama perjalanan. Ia hanya memeluk pinggang Ihsan lebih erat dari biasanya. Pipi kirinya sesekali menyentuh punggung suaminya, sementara pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang bahkan ia sendiri tak berani membayangkan. Barangkali karena pelukannya terasa jauh lebih erat, telapak tangan Ihsan perlahan menepuk punggung tangan Eca yang masih melingkar di pinggangnya. Pria itu tak mengatakan apa-apa. Namun, Eca seperti mengerti maksud sentuhan itu. Seolah tanpa perlu mengucapkan apa pun, Ihsan sedang meyakinkannya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tak lama kemudian, motor mereka pun memasuki halaman rumah. Begitu sampai di teras, Eca segera melepas sepatu, lalu menaruhnya rapi di rak. Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, tubuhnya langsung dijatuhkan ke sofa. “Huuuh ....” Helaan napasnya terdengar berat. Kepalanya disandarkan ke belakang, sementara kedua matanya terpejam rapat. Sesaat kemudian, Ihsan baru i
Tubuh Eca refleks berbalik cepat. Wajahnya jelas-jelas panik. Ia menelan ludah, lalu menggeleng kuat-kuat.“Ng—nggak apa-apa,” ucapnya buru-buru, bahkan sebelum benar-benar memikirkan jawaban.Ihsan berdiri tidak jauh dari sana. Rambutnya masih sedikit basah, celana pendek sudah melekat rapi di pin
Ihsan tak langsung menjawab. Keningnya justru mengerut sejenak. Tatapannya lurus ke arah sang istri. “Pegang tangan lebih baik, daripada pegang ….” Ucapannya langsung terhenti.Namun, entah kenapa Eca tetap bisa langsung menebak ke mana arah kalimat itu. Terlebih, tatapan pria itu sempat turun, se
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Eca masih terduduk dengan kepala tertunduk, napasnya belum juga stabil sejak kejadian tadi. Pelan-pelan ia mengangkat wajah, melirik ke arah pintu yang sudah tertutup rapat, memastikan Arina benar-benar tidak ada di sana. Astaga … kacau sekali hari ini. Tanpa
Eca mematung sejenak, mengingat kembali aktivitasnya sebelum ini. Otaknya seperti mundur beberapa menit ke belakang. Tadi … setelah membersihkan wajahnya, ia memang melepas kebaya. Termasuk … yang di dalamnya. Semua diletakkan di kasur begitu saja, karena pikirnya ia hanya akan sebentar ke kam







