LOGINEca berkedip beberapa kali. Otaknya seperti mendadak loading, membuatnya hanya bisa menatap Bi Lastri dengan wajah kosong.Bi Lastri mendekat sedikit. Suaranya dipelankan, tetapi senyum di bibirnya justru semakin lebar.“Mun sudah keramas mah, berarti beres atuh urusannya.”Eca masih mengernyit.Sampai akhirnya Bi Lastri berdeham kecil sebelum menambahkan dengan nada yang penuh maksud.“Biasana mah kalau laki bini berantem, beresna di ranjang.”Mata Eca langsung membulat.Oh. Baru sekarang ia menangkap kalau sedari tadi arah pembicaraan tetangganya itu mengarah kesana.Ia buru-buru menggigit bibir, tetapi percuma saja. Sudut bibirnya sudah telanjur terangkat.“Bibi!”Bi Lastri malah terkekeh pelan. “Naon? Bener begitu, nya?”“Bibi ah, nggak usah dibahas.”Hawa panas seketika saja menjalar ke pipi hingga ke telinga Eca. Tangannya bahkan buru-buru menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal, sekadar mengusir sedikit rasa gugupnya.Ia menunduk sebentar, berharap Bi Lastri tidak meliha
“Tapi saya mohon maafkan saya sekali ini, Neng.” Kali ini suara Ihsan benar-benar pecah.Eca hanya mampu terdiam, meski melihat bahu pria itu bergerak kecil sekali atau dua kali, lalu kembali bergetar hebat, lebih jelas dari sebelumnya.Ihsan sempat mengangkat tangan yang satunya ke wajah, tetapi beberapa detik kemudian menurunkannya lagi. Seolah percuma menyembunyikan sesuatu yang sudah telanjur jatuh di hadapan Eca.Tarikan napasnya terdengar patah-patah. Kemudian, satu tetes air jatuh tepat di punggung tangan Eca.Dada Eca seketika terasa sesak melihatnya.Selama ini, Ihsan selalu punya cara untuk membuatnya kesal. Entah lewat senyum menyebalkannya, candaan yang kelewat santai, atau sikapnya yang kadang membuat Eca ingin menjitak kepala pria itu, tetapi Ihsan juga selalu punya cara menenangkannya di saat yang bersamaan.Namun, sekarang, pria itu bahkan seperti tidak sanggup mengangkat wajah di hadapannya.Dahinya just
Ihsan mengangguk cepat. Namun, Eca tak langsung bereaksi. Untuk beberapa detik, ia bahkan seperti lupa caranya berkedip. Matanya masih terpaku pada wajah pria di hadapannya, seolah sedang mencari celah untuk memastikan bahwa ia tidak salah menangkap anggukan itu. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam tangan Ihsan perlahan mengerat. Suaminya itu tidak menarik kembali ucapannya, tetapi pula tersenyum atau mencoba menganggapnya sebagai candaan. Tenggorokan Eca mendadak terasa kering dibuatnya. Benarkah? Pria yang sejak kecil lebih banyak diam di sisinya itu benar-benar menyimpan perasaan seperti ini selama bertahun-tahun? Ihsan menarik napas panjang. Setelah beberapa detik, ia kembali memecah keheningan ruang tamu. “Waktu kecil, saya pikir saya cuma sayang sama Neng seperti adik sendiri. Ada naluri saya yang selalu ingin jagain Neng.” Ia ter
Eca mengernyit semakin dalam. Surat? Ia sama sekali tidak ingat pernah menerima surat dari Fajar. Bahkan setelah mencoba mengingat kejadian sebelum keberangkatannya ke Jakarta, tetap tidak ada apa pun yang muncul di kepalanya. Tapi ia ingat satu hal, pagi itu rumahnya sudah sangat sibuk karena keberangkatannya ke Jakarta dipercepat sehari dari jadwal. Barang-barangnya sudah dimasukkan ke mobil, sementara Eca sendiri sudah duduk di kursi penumpang ketika melihat seseorang datang dari arah jalan. Dia Fajar. Pria itu mengendarai motor bututnya melewati lorong menuju rumahnya. Saat itu, Eca hanya mengira Fajar mungkin hendak ke rumah Ihsan. Mereka teman sejak SMP, jadi keberadaan Fajar di sekitar rumah itu bukan sesuatu yang aneh. Namun, Eca tidak sempat berbicara dengannya karena mobil sudah lebih
Air mata yang sejak tadi mati-matian Eca tahan akhirnya jatuh juga. Bahkan, ia belum sanggup mengatakan apa pun ketika Ihsan kembali bicara.“Saya nggak bermaksud bicara begitu ke Neng,” kata Ihsan sambil terus memeluk Eca dari belakang.Lengannya melingkar erat di pinggang Eca, tetapi kali ini tidak terasa mengekang. Malah seperti seseorang yang sedang berusaha mempertahankan sesuatu yang hampir terlepas dari tangannya.Eca tetap diam.Dada yang sejak tadi sudah terasa penuh justru semakin sesak.Pelukan itu seharusnya membuatnya tenang. Seperti biasa, setiap kali Ihsan memeluknya, Eca selalu merasa ada tempat untuk pulang.Dan bagian paling menyebalkan dari semuanya, Eca ingin sekali berbalik.Ingin menyandarkan wajahnya ke dada suaminya, lalu membiarkan pria itu memeluknya sampai tangisnya mereda.Namun, kedua tangannya tetap menggantung di sisi tubuh, tanpa membalas pelukan Ihsan.Setelah beberapa detik, Eca menarik napas panjang. Ia tidak ingin berlama-lama dalam pelukan yang jus
Eca nyaris melongo, seolah isi kepalanya berhenti bekerja setelah mendengar pertanyaan suaminya.Dalam beberapa detik itu, ia sungguh tak bisa mencerna.Masih berarti?Berarti bagaimana maksud Ihsan?Eca sampai memandangi wajah sang suami sepersekian detik, berharap tadi itu ia hanya salah dengar. Namun, sorot mata Ihsan tak berubah sedikit saja.Karena sikap tenang itu membuat dada Eca terasa sesak.Selama ini, ia tak pernah menganggap Fajar lebih dari seorang teman. Itu pun karena pria itu berteman dengan Ihsan.Kalau bukan karena Ihsan berteman dengannya, mungkin ia dan Fajar tak akan pernah saling mengenal.Lantas, mengapa pertanyaan seperti itu bisa keluar dari mulut suaminya?Ia nyaris sulit mempercayainya.“Masih berarti?” Eca mengulang hampir berbisik. Dahinya mengernyit dalam. “Akang ngomong apa barusan?”Ihsan tak segera menjawab.Matanya yang semula menatap Eca kemb
Kening Ihsan mengernyit singkat. Ia menunduk sedikit, sorot matanya yang tenang itu jatuh tepat ke wajah Eca. Namun, ada sesuatu yang sulit ditebak di dalamnya. “Saya ingat,” jawabnya nyaris tanpa ekspresi. “Tapi kenapa aku merasa lamarannya … terlalu resmi?” bisik E
Tubuh Eca sontak menegang di tempat. Beberapa detik ia hanya berdiam diri, sebelum akhirnya menarik gagang pintu agak kasar sambil mengomel. “Ada apa lagi sih kam—” Ucapannya terhenti. Tadi, ia sempat berpikir yang datang itu Juragan Dasim atau orang-orangnya yang sengaja ingin mengganggunya l
Saat diantar pulang oleh Ihsan pun, Eca masih belum bisa memahami semua pembicaraan hari ini.Bukan apa-apa, tetapi rasanya seperti mimpi yang berjalan terlalu cepat.Baru kemarin ia mati-matian mencari cara mempertahankan rumahnya. Sampai membuang harga diri memaksa Ihsan menikahinya, meski pria i
Eca masih menunduk diam. Detik demi detik terasa begitu berat untuk dilewati. Sunyi di ruang tamu itu seperti menekan dadanya pelan-pelan.Andai bisa, Eca bahkan ingin menghilang saja sekarang juga.Tatapan ibunya Ihsan yang sejak tadi tertuju padanya membuat nyalinya seketika ciut. Dulu, ia begit







