เข้าสู่ระบบEca mundur satu langkah, namun pria itu tetap saja maju, seakan tak peduli penolakan yang jelas dari gadis itu.
Tanpa pikir panjang, kaki Eca langsung terangkat. Bugh! “AAARGH! Sialan!” Tubuh Juragan Dasim seketika membungkuk. Kedua tangannya refleks menutup selangkangan, wajahnya memerah menahan nyeri. Napas Eca memburu. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tak berhenti di situ saja. Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mendorong bahu Juragan Dasim kuat-kuat. “Keluar!” bentak Eca. Dasim terhuyung beberapa langkah ke belakang, nyaris jatuh andai tak sempat berpegangan pada pintu. “Kamu ….” Napasnya tersendat, matanya melotot penuh amarah. “Berani-beraninya kamu melakukan ini pada saya!” “Keluar dari rumah saya!” potong Eca. Suaranya bergetar, tetapi tatapannya tajam, tak sedikit pun gentar. Beberapa detik, hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara mereka. Juragan Dasim akhirnya berdiri tegak, meski wajahnya masih tampak menahan sakit. Ia merapikan bajunya dengan gerakan kasar. “Awas kamu, ya,” ancamnya, suaranya pelan, namun menusuk. “Kamu bakal menyesal.” Eca tidak menjawab. Ia hanya berdiri di tempat, menatap lurus, sampai pria itu benar-benar keluar dari halaman rumahnya. Dengan tangan gemetar, ia menutup pintu lalu bersandar di belakangnya. Napasnya masih berantakan. “Juragan sinting …,” gumamnya. Jantungnya berdetak kencang, antara marah, jijik, juga rasa takut yang baru muncul sekarang. Eca tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan ada dalam posisi yang sungguh rumit. Setelah gagal atas pernikahannya dan dicap sebagai pembawa sial, ia harus menghadapi kenyataan bahwa rumahnya akan digusur dan … seorang juragan mesum!? ‘Apa aku memang pembawa sial …?’ gumam Eca dalam hati. Bagaimana pun, tekad Eca untuk menyelamatkan rumah peninggalan orang tuanya lebih besar dari rasa lelahnya. Namun, ia tak sangka jalannya akan sesulit ini. Dalam kegelisahannya, udara di dalam terasa begitu sesak. Hal ini membuat Eca memutuskan untuk mencari udara segar ke luar untuk menenangkan pikirannya. Eca memastikan bahwa Juragan Dasim sudah tidak ada dari pandangannya melalui celah jendela. Pria tua itu nampaknya sudah pergi dari tadi, namun hati Eca tetap tidak tenang dibuatnya. Ia perlahan membuka pintu rumah dan mengendap-endap, takut jika Juragan Dasim muncul lagi dan mengusiknya. Pada akhirnya, Eca memutuskan untuk berjalan menjauhi arah rumah Juragan Dasim. Mata Eca menyusuri sekitarnya. Hijau sejauh mata memandang, tidak seperti di kota dulu yang penuh gedung menjulang. Meski begitu, pikirannya tetap tak tenang. Ia betul-betul frustasi dibuat keadaan ini, tetapi ia juga tidak ingin menyerahkan dirinya kepada seorang pria mesum seperti Juragan Dasim. Eca pun berakhir duduk pada sebuah pohon tua yang rindang. Ia menghela napas panjang sambil terus berusaha mencari jalan keluar. ‘Rumah itu harus tetap jadi milikku!’ batin Eca. Tepat setelah hatinya bergejolak lagi, Eca mendapati seseorang berjalan melalui ekor matanya. Ia pun menoleh. Itu Ihsan! Pria itu mengenakan kemeja putih polos, memperlihatkan bahu-bahunya yang lebar. Rambutnya rapi disisir namun sedikit berantakan tertiup angin sepoi. Ihsan nampak menjinjing sebuah tas, selagi tangannya sibuk membuka tutup kertas-kertas. Sepertinya dokumen penting. Tanpa berpikir dua kali, Eca langsung beranjak dari duduknya. Ia menghiraukan agenda utama untuk menenangkan pikiran. Eca berlari menghampiri Ihsan dengan langkah yang ceroboh. “Ihsan!” pekik Eca. Suara yang keras mampu membuat pria itu menoleh. Raut wajahnya nampak kebingungan dengan kedua alis yang bertautan. Ihsan tidak menghampiri Eca, namun tidak juga beranjak pergi. Eca pikir, pria ini pada akhirnya mau diajak bicara. Eca sudah tersenyum sumringah dalam langkah cepatnya. Tapi tiba-tiba … Kakinya terpeleset bagian licin di pematang sawah. Eca bersumpah jantungnya hampir lepas. Ia sudah mengira bahwa ia akan jatuh dan ia akan mempermalukan dirinya sendiri di depan Ihsan. Namun, yang ia dapatkan adalah sebuah tarikan tangan kekar yang menghalangnya agar tidak jatuh ke dalam sawah. “Ah!” seru Eca ketika Ihsan menarik tangannya. “Tu-tunggu …!” Ada rasa sakit karena tarikan paksa itu. Belum lagi kakinya yang masih menggantung canggung di antara pematang sawah. “Selalu ceroboh, ya? Tidak berubah,” bisik Ihsan dengan wajah jengkel. Ia nampak terganggu dengan agenda yang harus menolong Eca, namun tangannya tetap berusaha menarik Eca agar naik kembali ke jalanan. “Duh,” Eca mengusap-usap kakinya ketika ia berhasil kembali ditarik. Eca terduduk sambil berusaha mengatur napasnya yang tersenggal. “Terima kasih, Ihsan.” Eca menengadah sambil memperhatikan raut wajah pria itu. Matahari yang bersinar tepat di belakang kepala membuat Eca sulit melihat ekspresinya. “Jangan berlari di sekitar sawah. Apa tidak tahu kalau bahaya?” tukas Ihsan langsung. Eca hanya bisa menghela napasnya. Pria ini rupanya masih begitu dingin. Tetapi, Eca sudah kepalang. Tidak ada waktu untuk bersikap jengkel. “Aku mau bicara sama kamu, Ihsan. Seperti yang aku bilang, ini penting!” “Saya tidak ada waktu,” balas Ihsan. Nadanya begitu dingin, membuat Eca kewalahan menanggapinya. Belum sempat Eca membalasnya, pria itu sudah lebih dahulu berjalan menjauh. “Tunggu, Ihsan!” seru Eca. “Kamu butuh suara untuk pencalonan itu, bukan!?” Ihsan masih melanjutkan langkahnya. “Urusan apa bertanya seperti itu?” “Aku bisa membantu kamu,” Eca menawarkan. Napasnya masih terengah karena ia benar-benar lelah rasanya. “Dan sebaliknya.” Ihsan berbalik, ada tatapan jengkel yang terulang di wajahnya. “Saya tidak mengerti ucapanmu. Sudah saya bilang, saya tidak ada waktu.” Eca mendengus. Pria ini benar-benar keras kepala! “Dengarkan aku dulu, Ihsan,” Eca susah payah mengikuti langkah Ihsan yang nampak semakin cepat. Ada dua mobil yang lewat tiba-tiba di hadapan mereka. Ihsan terpaksa menghentikan langkahnya sesaat untuk membiarkan mobil-mobil itu lewat. Eca pun mengejar langkahnya. “Ihsan,” panggil Eca lagi. “Bagaimana kalau kita menikah kontrak?”Hening sempat mengisi ruang tamu itu beberapa detik setelah obrolan mereka soal pencalonan kepala desa.Eca sendiri masih sibuk dengan pikirannya, sementara Ihsan terlihat santai menyandarkan tubuh di sofa.“Oh, ya … Neng mulai ngajar lagi kapan?” tanya Ihsan, memecah sunyi di antara mereka lagi.“Besok udah mulai.” Eca memijat dahinya pelan. “Masih baru pindah juga, jadi nggak enak kalau cuti lama-lama.”“Hm. Berarti nanti Akang anterin.”Eca langsung menoleh cepat. “Nggak perlu. Nanti Akang capek bolak-balik.”“Nggak capek,” ucap Ihsan ringan sekali, seperti tak ada beban. “Anggap saja tugas pertama Akang nganter jemput istri kerja.”Eca langsung meringis geli. “Ya ampun … merdu sekali suara buaya,” cibirnya.“Kok jadi buaya?” Ihsan akhirnya ikut mengernyit bingung.Belum sempat Eca menanggapi lagu, suara ribut mendadak terdengar dari arah kamar. Otomatis membuat mereka terdiam dan menoleh ke sumber kegaduhan.“Adit! Sini! Pakai baju dulu! Susah banget, sih!”Arina muncul mengejar
Kini giliran Eca yang benar-benar menatap Ihsan dengan penuh keheranan.Pertanyaan macam apa itu?Bukankah sejak awal memang itu salah satu alasan mereka memutuskan menikah?Selain mempertahankan rumah, juga untuk memperbaiki citra Ihsan saat pencalonan kepala desa. Kesepakatan mereka jelas berhubungan dengan dua hal itu. Ihsan juga sudah menandatangani kontraknya.Namun, kenapa sekarang malah balik bertanya padanya?“Kenapa atuh Akang malah tanya aku lagi?” tanyanya spontan.Ihsan diam sebentar sebelum menjawab dengan nada tenang, “Karena sekarang Neng udah jadi istri Akang.”Deg.Eca langsung salah tingkah sendiri mendengar kata istri itu. Padahal, sudah dua hari menikah, tetapi setiap mendengarnya, tetap saja terasa aneh di telinga. Mungkin, ia hanya benar-benar belum terbiasa saja.Ihsan menoleh pelan ke arahnya. Eca merasa tatapan pria itu begitu lembut hingga membuat dadanya sedikit gelisah.“Suami istri itu tim,” lanjut Ihsan santai. “Apa pun ya harus diobrolin dulu.”Pipi Eca
Tatapannya menancap lurus ke arah Ihsan, seperti menunggu penjelasan atas kalimat ambigu barusan. Jantungnya langsung berdetak tidak jelas, seolah ingin keluar dari dadanya, bahkan telinganya ikut memanas dalam hitungan detik. Sangat berkebalikan drngan pria di sebelahnya yang justru terlihat tenang sekali. Ihsan kembali membuka bukunya seakan tidak sadar baru saja melempar ucapan yang bisa bikin orang berpikir yang tidak-tidak. Eca akhirnya menarik selimut lebih tinggi sampai nyaris menutupi dagu. “Ish, siapa juga yang mau maksa begituan?” gerutunya pelan, nyaris terdengar seperti omelan untuk dirinya sendiri. “Hm?” Ihsan menoleh. Binar matanya yang selalu tenang malah membuat Eca makin salah tingkah. “Nggak ada!” jawabnya cepat sambil membuang muka. Suasana kamar mendadak terasa canggung. Lebih tepatnya, Eca yang canggung sendirian. Pikirannya malah sibuk memutar ulang semua kejadian hari ini. Dari resleting gaun yang bermasalah, handuk melorot, sampai sekarang salah paham
Tentu saja otak Eca langsung berpikir macam-macam. Jangan-jangan Ihsan masih kepikiran kejadian dirinya bugil tadi.Dasar pria. Isi kepalanya memang suka aneh-aneh.Alhasil, pipi dan telinganya kembali memanas. Coba saja jarak rumahnya cuma lima langkah dari sini, mungkin ia sudah pulang sekarang juga.Lihat saja itu, suaminya malah menatapnya dari atas sampai bawah beberapa detik.“Neng seperti orang-orangan sawah,” ujar Ihsan akhirnya.Bara yang tadi sempat menyala di dada Eca langsung padam seketika.“Ck!”Ia spontan menghentak kaki ke lantai sebelum berbalik melihat dirinya sendiri di cermin.Dan … ya, Ihsan memang benar. Tubuhnya benar-benar nampak tenggelam di dalam pakaian itu, sudah seperti orang-orangan sawah.Kaosnya agak kedodoran, belum lagi celana training itu terus melorot setiap beberapa langkah.“Badanmu mah kayak gapura kabupaten, makanya bajumu kegedean di aku.”Ihsan hanya tersenyum tipis. Matanya masih memperhatikan Eca yang kini duduk di depan cermin, sebelum akhi
“Aa Ican?” panggil suara itu lagi. “Mana atuh kunci motorna? Katanya baju Teh Eca rek dijemput.”Eca langsung melotot ke arah Ihsan yang tampak hendak bangkit.“Jangan buka pintu!” bisiknya galak sambil masih berusaha menutupi tubuh seadanya.Ihsan menahan napas sejenak, lalu mengangguk kecil tanpa menoleh. “Sebentar, Maman,” sahutnya ke arah luar. “Kuncinya belum ketemu.”Eca buru-buru jongkok mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya, tetapi karena terlalu panik, kaos putih di tangannya malah ikut jatuh.Rasa paniknya semakin menjadi saat melihat Ihsan nyaris saja menoleh ke arahnya. “Jangan noleh ke sini juga, dong!” geramnya setengah frustrasi.Tangannya langsung bergerak makin tak karuan. Begitu handuk itu berhasil dijangkau, Eca buru-buru melilitkannya seadanya ke tubuh. Ia sontak hendak berlari ke kamar mandi, tetapi tak sengaja menginjak ujung handuknya sendiri.“Uh!”Tubuhnya nyaris saja terhuyung ke depan. Untung saja keseimbangannya cepat terjaga, kalau tidak mungkin ia aka
Eca masih membeku sepersekian detik, seolah otaknya belum selesai mencerna kejadian barusan. Wajahnya memanas, entah karena panik atau karena hal lain yang tidak ingin ia pikirkan sekarang.Sumpah, ini sangat memalukan.Tanpa berani menoleh lagi ke belakang, Eca langsung berbalik cepat.“Aku mandi dulu,” ucapnya buru-buru, nyaris seperti orang menghindar.Ia menyambar handuk yang terlipat di kasur dan berjalan cepat ke arah kamar mandi. Satu tangannya sibuk menahan gaun agar tidak melorot lagi, sementara tangan satunya mendorong pintu.Ceklek.Begitu pintu kamar mandi tertutup, Eca langsung menyandarkan tubuh di sana.“Ya ampun … hari ieu kacau pisan,” gerutunya sambil menutup wajah.Sudah dikerjain Arina, sekarang gaunnya hampir melorot pula.Debaran di dadanya masih terasa jelas, bahkan bayangan tadi masih berputar-putar di kepala.Perkara resleting saja sudah bisa bikin harinya seberantakan







