分享

Bab 6

作者: Kharamiza
last update publish date: 2026-04-02 17:56:40

Eca mundur satu langkah, namun pria itu tetap saja maju, seakan tak peduli penolakan yang jelas dari gadis itu.

Tanpa pikir panjang, kaki Eca langsung terangkat.

Bugh!

“AAARGH! Sialan!”

Tubuh Juragan Dasim seketika membungkuk. Kedua tangannya refleks menutup selangkangan, wajahnya memerah menahan nyeri.

Napas Eca memburu. Dadanya naik turun cepat, tetapi ia tak berhenti di situ saja.

Dengan tenaga yang masih tersisa, ia mendorong bahu Juragan Dasim kuat-kuat.

“Keluar!” bentak Eca.

Dasim terhuyung beberapa langkah ke belakang, nyaris jatuh andai tak sempat berpegangan pada pintu.

“Kamu ….” Napasnya tersendat, matanya melotot penuh amarah. “Berani-beraninya kamu melakukan ini pada saya!”

“Keluar dari rumah saya!” potong Eca. Suaranya bergetar, tetapi tatapannya tajam, tak sedikit pun gentar.

Beberapa detik, hanya suara napas berat yang saling bersahutan di antara mereka.

Juragan Dasim akhirnya berdiri tegak, meski wajahnya masih tampak menahan sakit. Ia merapikan bajunya dengan gerakan kasar.

“Awas kamu, ya,” ancamnya, suaranya pelan, namun menusuk. “Kamu bakal menyesal.”

Eca tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di tempat, menatap lurus, sampai pria itu benar-benar keluar dari halaman rumahnya.

Dengan tangan gemetar, ia menutup pintu lalu bersandar di belakangnya. Napasnya masih berantakan.

“Juragan sinting …,” gumamnya.

Jantungnya berdetak kencang, antara marah, jijik, juga rasa takut yang baru muncul sekarang.

Eca tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan ada dalam posisi yang sungguh rumit. Setelah gagal atas pernikahannya dan dicap sebagai pembawa sial, ia harus menghadapi kenyataan bahwa rumahnya akan digusur dan … seorang juragan mesum!?

‘Apa aku memang pembawa sial …?’ gumam Eca dalam hati.

Bagaimana pun, tekad Eca untuk menyelamatkan rumah peninggalan orang tuanya lebih besar dari rasa lelahnya. Namun, ia tak sangka jalannya akan sesulit ini.

Dalam kegelisahannya, udara di dalam terasa begitu sesak. Hal ini membuat Eca memutuskan untuk mencari udara segar ke luar untuk menenangkan pikirannya.

Eca memastikan bahwa Juragan Dasim sudah tidak ada dari pandangannya melalui celah jendela. Pria tua itu nampaknya sudah pergi dari tadi, namun hati Eca tetap tidak tenang dibuatnya.

Ia perlahan membuka pintu rumah dan mengendap-endap, takut jika Juragan Dasim muncul lagi dan mengusiknya. Pada akhirnya, Eca memutuskan untuk berjalan menjauhi arah rumah Juragan Dasim.

Mata Eca menyusuri sekitarnya. Hijau sejauh mata memandang, tidak seperti di kota dulu yang penuh gedung menjulang. Meski begitu, pikirannya tetap tak tenang. Ia betul-betul frustasi dibuat keadaan ini, tetapi ia juga tidak ingin menyerahkan dirinya kepada seorang pria mesum seperti Juragan Dasim.

Eca pun berakhir duduk pada sebuah pohon tua yang rindang. Ia menghela napas panjang sambil terus berusaha mencari jalan keluar.

‘Rumah itu harus tetap jadi milikku!’ batin Eca.

Tepat setelah hatinya bergejolak lagi, Eca mendapati seseorang berjalan melalui ekor matanya. Ia pun menoleh.

Itu Ihsan!

Pria itu mengenakan kemeja putih polos, memperlihatkan bahu-bahunya yang lebar. Rambutnya rapi disisir namun sedikit berantakan tertiup angin sepoi. Ihsan nampak menjinjing sebuah tas, selagi tangannya sibuk membuka tutup kertas-kertas. Sepertinya dokumen penting.

Tanpa berpikir dua kali, Eca langsung beranjak dari duduknya. Ia menghiraukan agenda utama untuk menenangkan pikiran.

Eca berlari menghampiri Ihsan dengan langkah yang ceroboh.

“Ihsan!” pekik Eca.

Suara yang keras mampu membuat pria itu menoleh. Raut wajahnya nampak kebingungan dengan kedua alis yang bertautan.

Ihsan tidak menghampiri Eca, namun tidak juga beranjak pergi. Eca pikir, pria ini pada akhirnya mau diajak bicara. Eca sudah tersenyum sumringah dalam langkah cepatnya.

Tapi tiba-tiba …

Kakinya terpeleset bagian licin di pematang sawah. Eca bersumpah jantungnya hampir lepas. Ia sudah mengira bahwa ia akan jatuh dan ia akan mempermalukan dirinya sendiri di depan Ihsan.

Namun, yang ia dapatkan adalah sebuah tarikan tangan kekar yang menghalangnya agar tidak jatuh ke dalam sawah.

“Ah!” seru Eca ketika Ihsan menarik tangannya. “Tu-tunggu …!”

Ada rasa sakit karena tarikan paksa itu. Belum lagi kakinya yang masih menggantung canggung di antara pematang sawah.

“Selalu ceroboh, ya? Tidak berubah,” bisik Ihsan dengan wajah jengkel. Ia nampak terganggu dengan agenda yang harus menolong Eca, namun tangannya tetap berusaha menarik Eca agar naik kembali ke jalanan.

“Duh,” Eca mengusap-usap kakinya ketika ia berhasil kembali ditarik. Eca terduduk sambil berusaha mengatur napasnya yang tersenggal. “Terima kasih, Ihsan.”

Eca menengadah sambil memperhatikan raut wajah pria itu. Matahari yang bersinar tepat di belakang kepala membuat Eca sulit melihat ekspresinya.

“Jangan berlari di sekitar sawah. Apa tidak tahu kalau bahaya?” tukas Ihsan langsung.

Eca hanya bisa menghela napasnya. Pria ini rupanya masih begitu dingin. Tetapi, Eca sudah kepalang. Tidak ada waktu untuk bersikap jengkel.

“Aku mau bicara sama kamu, Ihsan. Seperti yang aku bilang, ini penting!”

“Saya tidak ada waktu,” balas Ihsan. Nadanya begitu dingin, membuat Eca kewalahan menanggapinya.

Belum sempat Eca membalasnya, pria itu sudah lebih dahulu berjalan menjauh.

“Tunggu, Ihsan!” seru Eca. “Kamu butuh suara untuk pencalonan itu, bukan!?”

Ihsan masih melanjutkan langkahnya. “Urusan apa bertanya seperti itu?”

“Aku bisa membantu kamu,” Eca menawarkan. Napasnya masih terengah karena ia benar-benar lelah rasanya. “Dan sebaliknya.”

Ihsan berbalik, ada tatapan jengkel yang terulang di wajahnya. “Saya tidak mengerti ucapanmu. Sudah saya bilang, saya tidak ada waktu.”

Eca mendengus. Pria ini benar-benar keras kepala!

“Dengarkan aku dulu, Ihsan,” Eca susah payah mengikuti langkah Ihsan yang nampak semakin cepat.

Ada dua mobil yang lewat tiba-tiba di hadapan mereka. Ihsan terpaksa menghentikan langkahnya sesaat untuk membiarkan mobil-mobil itu lewat. Eca pun mengejar langkahnya.

“Ihsan,” panggil Eca lagi. “Bagaimana kalau kita menikah kontrak?”

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 149

    Ihsan terkekeh kecil sambil menggaruk tengkuknya mendengar pertanyaan istrinya itu. Gelagat sang suami justru membuat Eca semakin yakin bahwa dugaannya tidak sepenuhnya salah.Tetapi, istri mana yang nggak senang kalau suaminya sampai berinisiatif memberinya sesuatu seperti ini?“Harusnya Akang nggak usah sampai repot-repot,” ujar Eca. “Tanpa dikasi ini pun aku udah maafin Akang, kok.”“Nggak repot, Neng.” Senyum Ihsan melebar. “Saya memang sudah niat mau ngasih Neng.”“Benar begitu?” Eca masih kurang yakin.Sebuah anggukan diberikan Ihsan sebagai jawaban. “Neng terima, ya,” lanjutnya seraya meraih gelang tersebut dari dalam kotaknya.Tangannya menggenggam pergelangan Eca dengan hati-hati sebelum memasangkan gelang itu. Setelah pengaitnya terpasang, Eca langsung mengangkat tangannya, memandangi gelang yang kini melingkar di pergelangan tangannya.“Neng suka?”Eca mengangguk berkali-kali. “Suka banget.”Ia memiringkan pergelangan tangannya ke kanan dan kiri, memperhatikan bagaimana cah

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 148

    Selesai makan malam dan membereskan dapur, keduanya pindah ke ruang tengah. Televisi di depan mereka menyala, tetapi hanya menjadi pengisi suara di ruangan itu.Eca duduk menyandar di dada Ihsan sambil menggulir layar ponselnya. Sesekali, tangannya meraih potongan rengginang yang dibawa mertuanya kemarin. Kedua kakinya selonjor di atas sofa, sementara Ihsan tetap membaca buku dengan tenang. Sesekali, pria itu menunduk hanya untuk mengecup pucuk kepala istrinya.Meski terlihat sibuk dengan ponselnya, Eca bisa merasakan dada Ihsan yang naik turun dengan tenang di belakang tubuhnya. Detak jantung pria itu juga terdengar samar di telinganya.Jauh berbeda dengan siang tadi.Keheningan yang justru terasa nyaman itu bertahan beberapa saat, sampai akhirnya suara Ihsan terdengar pelan di atas kepala Eca.“Neng ….”“Hm.” Eca mendongak sebentar. “Apa, Kang?”“Jangan marah lagi sama saya, ya.”Gerakan jempol Eca di layar ponsel langsung berhenti.“Tadi sudah dibilang aku udah maafin Akang,” balas

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 147

    Eca berkedip beberapa kali. Otaknya seperti mendadak loading, membuatnya hanya bisa menatap Bi Lastri dengan wajah kosong.Bi Lastri mendekat sedikit. Suaranya dipelankan, tetapi senyum di bibirnya justru semakin lebar.“Mun sudah keramas mah, berarti beres atuh urusannya.”Eca masih mengernyit.Sampai akhirnya Bi Lastri berdeham kecil sebelum menambahkan dengan nada yang penuh maksud.“Biasana mah kalau laki bini berantem, beresna di ranjang.”Mata Eca langsung membulat.Oh. Baru sekarang ia menangkap kalau sedari tadi arah pembicaraan tetangganya itu mengarah kesana.Ia buru-buru menggigit bibir, tetapi percuma saja. Sudut bibirnya sudah telanjur terangkat.“Bibi!”Bi Lastri malah terkekeh pelan. “Naon? Bener begitu, nya?”“Bibi ah, nggak usah dibahas.”Hawa panas seketika saja menjalar ke pipi hingga ke telinga Eca. Tangannya bahkan buru-buru menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal, sekadar mengusir sedikit rasa gugupnya.Ia menunduk sebentar, berharap Bi Lastri tidak meliha

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 146

    “Tapi saya mohon maafkan saya sekali ini, Neng.” Kali ini suara Ihsan benar-benar pecah.Eca hanya mampu terdiam, meski melihat bahu pria itu bergerak kecil sekali atau dua kali, lalu kembali bergetar hebat, lebih jelas dari sebelumnya.Ihsan sempat mengangkat tangan yang satunya ke wajah, tetapi beberapa detik kemudian menurunkannya lagi. Seolah percuma menyembunyikan sesuatu yang sudah telanjur jatuh di hadapan Eca.Tarikan napasnya terdengar patah-patah. Kemudian, satu tetes air jatuh tepat di punggung tangan Eca.Dada Eca seketika terasa sesak melihatnya.Selama ini, Ihsan selalu punya cara untuk membuatnya kesal. Entah lewat senyum menyebalkannya, candaan yang kelewat santai, atau sikapnya yang kadang membuat Eca ingin menjitak kepala pria itu, tetapi Ihsan juga selalu punya cara menenangkannya di saat yang bersamaan.Namun, sekarang, pria itu bahkan seperti tidak sanggup mengangkat wajah di hadapannya.Dahinya just

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 145

    Ihsan mengangguk cepat. Namun, Eca tak langsung bereaksi. Untuk beberapa detik, ia bahkan seperti lupa caranya berkedip. Matanya masih terpaku pada wajah pria di hadapannya, seolah sedang mencari celah untuk memastikan bahwa ia tidak salah menangkap anggukan itu. Jemarinya yang sejak tadi menggenggam tangan Ihsan perlahan mengerat. Suaminya itu tidak menarik kembali ucapannya, tetapi pula tersenyum atau mencoba menganggapnya sebagai candaan. Tenggorokan Eca mendadak terasa kering dibuatnya. Benarkah? Pria yang sejak kecil lebih banyak diam di sisinya itu benar-benar menyimpan perasaan seperti ini selama bertahun-tahun? Ihsan menarik napas panjang. Setelah beberapa detik, ia kembali memecah keheningan ruang tamu. “Waktu kecil, saya pikir saya cuma sayang sama Neng seperti adik sendiri. Ada naluri saya yang selalu ingin jagain Neng.” Ia ter

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 144

    Eca mengernyit semakin dalam. Surat? Ia sama sekali tidak ingat pernah menerima surat dari Fajar. Bahkan setelah mencoba mengingat kejadian sebelum keberangkatannya ke Jakarta, tetap tidak ada apa pun yang muncul di kepalanya. Tapi ia ingat satu hal, pagi itu rumahnya sudah sangat sibuk karena keberangkatannya ke Jakarta dipercepat sehari dari jadwal. Barang-barangnya sudah dimasukkan ke mobil, sementara Eca sendiri sudah duduk di kursi penumpang ketika melihat seseorang datang dari arah jalan. Dia Fajar. Pria itu mengendarai motor bututnya melewati lorong menuju rumahnya. Saat itu, Eca hanya mengira Fajar mungkin hendak ke rumah Ihsan. Mereka teman sejak SMP, jadi keberadaan Fajar di sekitar rumah itu bukan sesuatu yang aneh. Namun, Eca tidak sempat berbicara dengannya karena mobil sudah lebih

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 57

    Melihat dua siswi berantem sampai jambak-jambakan begitu malah membuat kepala Eca ikut pening.Terkadang perempuan memang sangat aneh. Sama-sama disakiti, tetapi yang adu jotos sampai saling menjatuhkan malah sesama perempuan.Eca menatap dua siswi itu bergantian. Kerudung

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 54

    Saat Eca masih sibuk mencari alasan, Ihsan mendadak menyahut lebih dulu.“Harus aktif ikut kegiatan-kegiatan desa yang melibatkan warga juga, Pah,” ujarnya tenang.Eca spontan menoleh dengan napas yang masih tertahan.Untung saja pria itu cepat tanggap.

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 52

    Kini giliran Eca yang benar-benar menatap Ihsan dengan penuh keheranan.Pertanyaan macam apa itu?Bukankah sejak awal memang itu salah satu alasan mereka memutuskan menikah?Selain mempertahankan rumah, juga untuk memperbaiki citra Ihsan saat pencalonan kepala desa. Kesepakatan mereka jelas berhubu

  • Pak Kades, Nikah, Yuk!   Bab 49

    “Aa Ican?” panggil suara itu lagi. “Mana atuh kunci motorna? Katanya baju Teh Eca rek dijemput.”Eca langsung melotot ke arah Ihsan yang tampak hendak bangkit.“Jangan buka pintu!” bisiknya galak sambil masih berusaha menutupi tubuh seadanya.Ihsan menahan napas sejenak, lalu mengangguk kecil tanpa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status