Share

Bab 2

Author: Nila Lembayung
Sejak keluar dari bar sampai masuk ke mobil, Felix sama sekali nggak kejar Tamara.

Sebaliknya, HP Tamara justru terima sebuah pesan singkat yang ditulis dengan nada seolah sepele, namun samar-samar mengandung tuduhan.

[Aku dan Jolin sama sekali nggak seperti yang kamu pikirkan. Kamu harus minta maaf ke Jolin untuk kejadian hari ini!]

‘Minta maaf ke Jolin?’

Sudut bibir Tamara terangkat bentuk senyum mengejek. Ia lalu dengan asal lempar HP-nya ke kursi penumpang di sampingnya.

Mungkin Felix nggak tahu. Sejak sebulan lalu, di HP-nya sudah berulang kali masuk foto-foto Felix dan Jolin liburan bersama, memotret foto prewedding layaknya pasangan, bahkan foto saat Felix cemburu dan berkelahi dengan orang lain demi Jolin.

Dan setiap kali itu terjadi, Felix selalu alasan sedang dinas luar atau sibuk kerja.

Namun mulai sekarang, ia nggak perlu lagi susah payah cari alasan. Karena Tamara sudah nggak mau dia lagi.

Tamara nyalakan mobil dan kembali ke rumah mereka.

Begitu masuk, ia keluarkan semua hadiah yang dulu pernah diberikan Felix saat mereka pacaran, foto-foto bersama, rekaman video, juga buku harian pasangan mereka.

Tamara bawa semuanya ke taman, tumpuk itu semua dalam sebuah baskom besi, lalu nyalakan api.

Api baru saja membesar, ketika dari belakang terdengar suara teriakan pria marah.

“Kamu ngapain?!”

Lengannya ditarik keras ke belakang. Dalam pandangannya, Felix tanpa ragu ulurkan tangan ke dalam api, ambil kembali foto-foto yang sudah setengah terbakar.

Sedangkan barang lain, karena api semakin besar, justru buat punggung tangannya terkena panas.

Felix tarik napas tajam, refleks tarik kembali tangannya.

Amarahnya akhirnya nggak tertahan lagi. Ia langsung bentak Tamara, “Kamu ini sebenarnya lagi ngapain sih?! Gara-gara kamu, Jolin sudah dituduh seburuk itu, tapi dia masih suruh aku pulang buat tenangkan kamu, jangan marah sama kamu. Eh, kamu malah bakar foto-foto kita di sini? Tamara, sejak kapan kamu jadi kayak anak kecil gini?!”

Tamara angkat matanya, tatapannya dingin. Ia tersenyum sinis.

“Aku memang kayak anak kecil. Felix, kita putus saja.”

Setelah berkata begitu, Tamara langsung berbalik masuk ke rumah.

Begitu dengar kata putus, hati Felix sempat bergetar sesaat. Namun, ia segera ingat dulu Tamara sampai hampir putus hubungan dengan keluarganya demi dia. Tamara cinta dia sedalam itu, mana mungkin hanya karena hal sepele kayak gini langsung minta putus?

Ia yakin Tamara cuma sedang ngancam demi lampiaskan amarah.

Setelah yakin akan hal itu, Felix melangkah cepat kejar dia, hentikan dia di dekat tangga. Alisnya mengerut tajam.

“Sudah, jangan ngambek. Aku memang salah karena lupa hari jadi kita. Tapi besok kan Valentine? Kita rayakan sekalian.”

Tamara sebenarnya ingin nolak, tapi Felix sudah putuskan sendiri.

Di depan Tamara, ia pesan restoran dan bioskop, lalu simpan HP-nya dan hendak peluk dia.

Namun tepat saat ia mendekat, Tamara langsung menghindar.

“Kamu ….”

“Felix, kamu pernah cium bau tubuhmu sendiri nggak?”

Tamara menatapnya dingin. Di hidungnya tercium jelas aroma manis bunga dan buah yang lengket, bau khas milik Jolin.

Felix tertegun.

Ia menunduk dan cium bajunya sendiri. Wajahnya langsung berubah nggak enak.

Ia segera lepas dasinya, ambil baju bersih dari lemari, lalu jalan ke kamar mandi.

“Aku mandi dulu.”

Tamara nggak peduli dengan apa yang ia lakukan.

Ingat Felix akan bermalam di rumah, ia nggak ingin bersentuhan dengan pria itu, apalagi tidur satu ranjang. Ia pun berniat pindahkan barang-barangnya ke kamar tamu.

Namun tepat saat itu, HP di sampingnya berbunyi.

Itu HP Felix.

Tamara melirik ke arah kamar mandi tempat pria itu sedang mandi, lalu buka layar HP-nya. Yang muncul langsung adalah chat antara Felix dan Jolin.

Isinya penuh dengan kata-kata mesra, rayuan dan godaan yang nggak perlu dijelaskan.

Dan pesan terakhir adalah foto Jolin berpakaian minim, tanya apa penampilannya terlihat bagus, Jolin bilang kalau ia tunggu Felix untuk “periksa tubuhnya” seperti sebelumnya.

Nggak hanya itu, ada juga foto tato di pinggang Jolin.

Di dekat perut bagian bawah, tertulis nama Felix, seolah itu adalah tanda kepemilikan.

Dalam sekejap, Tamara lempar HP itu dan lari ke tempat sampah, muntah hebat.

Dengar suara itu, Felix keluar dari kamar mandi dan langsung hampirin dia.

“Kenapa?”

Suara pria itu terdengar penuh kekhawatiran di telinganya.

“Kamu sakit mananya? Aku bawa ke dokter.”

“Pergi!”

Saat Felix hendak angkat dia, Tamara langsung dorong dia keras-keras. Matanya memerah, jari-jarinya gemetar tanpa sadar, seluruh tubuhnya bergetar.

Apa selama ini ia nggak pernah benar-benar paham pria di depannya?

Padahal dulu, Felix nggak seperti ini. Felix pernah secara terang-terangan umumkan kalau dia sudah punya pacar, tolak semua godaan.

Ia juga pernah berjaga semalaman di samping ranjang rumah sakit saat Tamara sakit.

Bahkan ketika asramanya mati listrik, ia rela berdiri semalaman di bawah gedung karena nggak mau Tamara ketakutan.

...

Kenangan hangat itu masih begitu jelas, tetapi kenyataan sekarang terasa seperti dunia lain.

Tamara nggak tahu, sejak kapan pria yang begitu mencintainya berubah jadi seperti ini.

“Kamu buka HP-ku?”

Suara Felix tarik dia kembali ke kenyataan.

Tamara angkat kepalanya, menatap mata pria itu yang dipenuhi amarah. Senyum sinis di matanya semakin dalam.

“Kalau kamu nggak lakukan hal memalukan, kenapa harus takut aku lihat HP-mu?”

“Tamara!”

Felix cengkeram bahunya, tekan dia ke dinding, suaranya dingin menusuk.

“Itu privasiku! Dan tato itu karena Jolin kagum dan hormati aku sebagai kakaknya. Jangan pakai pikiran kotormu buat nilai dia!”

Pikiran kotor?

Tangan Tamara yang terkulai di sisi tubuhnya gemetar hebat.

Mereka lakukan hal seburuk dan sehina itu, tapi nggak merasa jijik sama sekali, bahkan masih berani salahkan dia?

Ternyata, kalau seseorang marah sampai titik ekstrem, ia benar-benar bisa tertawa.

Tamara tertawa sampai air matanya hampir jatuh.

Felix menatapnya beberapa saat, lalu lepaskan bahunya. Sebelum sempat berkata apa-apa, HP-nya tiba-tiba berdering.

Begitu diangkat, terdengar suara panik bercampur nangis Jolin.

“Kak, tolong aku. Ada, ada orang yang kejar aku!”

“Jolin!”

Felix langsung genggam HP-nya erat.

“Kamu di mana? Aku jemput kamu, tunggu .…”

“Jangan! Jangan sobek bajuku, tolong … jangan!”

Setelah teriakan itu, suara Jolin terputus. Layar HP Felix pun langsung gelap.

Setelah beberapa detik tertegun, ia segera telpon asistennya untuk cari Jolin.

“Tamara! Jolin di mana?!”

Setelah tutup telepon, Felix menatap Tamara dengan penuh amarah, seolah ingin cabik dia hidup-hidup.

Dengan gigi terkatup, ia berkata, “Kalau kamu mau marah, luapkan ke aku. Jolin sama sekali nggak lakukan apa pun yang nyakitin kamu. Hati kamu kejam banget sampai bisa lakukan hal seperti ini?”

Tatapan Tamara perlahan jadi dingin oleh kata-kata itu.

Ia tersenyum tipis, penuh ejekan.

“Masalah ini nggak ada hubungannya denganku.”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 50

    Dengan bantuan kakaknya selama dua hari ini, hampir semua urusan Tamara sudah beres.Soal perusahaan, sebenarnya ia sudah nggak perlu datang lagi.Kalau Fiona mau terus buat keributan, silakan saja, toh sekarang semua itu sudah nggak ada hubungannya lagi dengan dirinya.Wajah Fiona memerah karena marah, giginya terkatup rapat.“Kalau gitu aku akan datang ke rumahmu! Mulai sekarang jangan harap kamu bisa hidup tenang!”Tamara tersenyum tipis. Fiona benar-benar kira ancaman seperti itu bisa bikin dia takut?“Terserah.” Nada suaranya datar, lalu ia berbalik hendak pergi.Fiona menghadangnya.“Perempuan nggak tahu malu! Kalau hari ini kamu nggak mau kasih ganti rugi, jangan harap bisa keluar dari pintu ini!”Tiba-tiba ia tekan dadanya, wajahnya berubah pucat dengan ekspresi kesakitan, seolah benar-benar tahan sakit.“Bibi, kenapa? Bibi, apa penyakit jantungmu kambuh lagi?”“Tamara, jangan keterlaluan! Kamu tahu tubuh Bibi nggak sehat, apa kamu harus buat dia sampai seperti ini baru puas?!”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 49

    “Bibi, pagi-pagi sekali aku keluar kamar sudah nggak lihat kamu, ternyata kamu ada di sini. Tolong jangan tengkar dengan Kak Tamara karena masalah ini. Sebelumnya Bibi sampai harus dirawat di rumah sakit, kami semua sangat khawatir. Kak Felix juga bilang, semua urusan ini akan dia urus. Lagian Kak Felix dan Kak Tamara cuma sedang bertengkar, Bibi jangan sampai marah karena hal ini, yah.”Jolin segera hampiri dan topang tubuh Fiona.Nada bicaranya lembut, wajahnya penuh kepedulian, seolah-olah ia benar-benar gadis yang penurut dan bijaksana.Lihat mereka berdua, wajah Tamara tetap dingin tanpa ekspresi.‘Pagi ini? Jadi sekarang mereka sudah tinggal bersama? Cepat sekali pergerakannya.’Tamara hanya merasa geli.“Jolin, nggak perlu bujuk aku. Meskipun hari ini aku mati di sini, aku tetap nggak akan biarkan dia hidup tenang. Dulu aku perlakukan dia dengan sangat baik, tapi sekarang gimana? Dia sama sekali nggak sisakan jalan mundur untuk aku. Pernah nggak dia pikirkan hubungan kami dulu?”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 48

    Jolin sengaja mendekat ke tubuhnya, tempelkan dirinya ke Felix, berusaha salurkan sedikit kehangatan lewat sentuhan.Namun Felix justru refleks menghindar, tetap jaga jarak di antara mereka.Hati Jolin terasa seperti diremas kuat. Di balik matanya, kilatan tajam melintas.Perempuan sialan itu sudah bertindak sedemikian kejam, namun Felix tetap nggak tega lepaskan dia!Apa di hati Felix masih ada tempat untuk dirinya?Setelah tinggalkan tempat itu, keduanya pulang ke rumah Felix.Di dalam benak Jolin, sebuah rencana perlahan terbentuk.Ada banyak hal yang sebenarnya nggak perlu ia lakukan sendiri, cukup buka mulut, akan selalu ada orang yang maju belain dia....Keesokan paginya.Hari ini Tamara datang ke perusahaan sendirian. Kakaknya datang dari jauh untuk bantuin dia, kemarin juga sudah selesaikan begitu banyak urusan untuknya.Mereka tidur sangat malam jadi ia ingin biarkan kakaknya istirahat lebih lama.Selain itu, ia sudah buat janji ketemu dengan Presiden Grup Herlambang.Setelah

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 47

    Jolin terisak, tangisnya terdengar semakin keras.Di dalam hatinya, kebencian terhadap Tamara makin mengakar.Perempuan sialan itu, tega sekali pakai cara sekotor ini untuk jatuhkan dia, paksa dia sampai ke jalan buntu.Kalau sudah gini, nggak ada seorang pun dari mereka yang pantas hidup tenang!“Jolin, sebenarnya semua ini karena aku. ”Felix berkata lirih penuh rasa bersalah.“Aku yang seret kamu ke dalam masalah ini, maafkan aku. Kalau pada akhirnya kamu nggak bisa dapatkan gelar, aku tetap akan jaga kamu seumur hidup. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”Hati Felix dipenuhi penyesalan.Tangannya terus tepuk punggung Jolin dengan lembut, suaranya penuh rasa sayang.Namun Jolin tetap menangis tersedu-sedu. Dengan suara penuh luka, ia berkata,“Kakak tahu sendiri betapa pentingnya gelar itu buat aku. Sejak awal aku tahu kalau aku salah karena pakai paten Kak Tamara, tapi waktu itu aku benar-benar nggak punya pilihan lain.”Saat itu memang Felix yang kasih ide itu, ambil paten mili

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 46

    Felix terkapar di lantai, kesakitan luar biasa, nggak punya kesempatan untuk balas satu pukulan pun.Thomas sebenarnya sudah lama nggak suka dia.Hari ini kebetulan ada kesempatan, jadi sekalian saja ia lampiaskan semuanya.Namun meski lihat Felix dalam keadaan seburuk itu, amarahnya masih belum benar-benar terlampiaskan.Karena yang terluka selama ini adalah adik perempuannya sendiri. Bagi Thomas, rasa sakit sebesar ini, sama sekali belum seberapa.“Masih mau berkelahi?” tanya Thomas dingin.“Nggak … nggak!”“Tol … tolong lepaskan aku ….”Akhirnya Felix menyerah dan memohon.Kalau ini diteruskan, rasanya nyawanya sendiri bisa melayang di tangan Thomas.Barulah Thomas lepaskan. Ia rapikan dasinya sambil berkata dingin, “Pergi. Cepat minggir. Jangan sampai aku lihat kamu lagi!”Begitu dilepas, Felix langsung merangkak bangkit, wajahnya penuh luka, langkahnya terpincang-pincang saat pergi. Ia bahkan nggak berani noleh, takut Thomas tiba-tiba pukul dia lagi.Setelah sosok Felix menghilang

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 45

    Lihat kakaknya yang begitu buru-buru, Tamara pun nggak nolak.Sebenarnya di dalam hati ia juga gelisah, ia pun ingin segera selesaikan semuanya dan terbebas dari kekacauan ini.“Oke, ayo kita ke perusahaan.”Keduanya pun tiba di gedung perusahaan.Begitu Felix lihat mereka, ia langsung seperti orang gila.Ia lari menuju kantor Tamara dan tendang pintu dengan keras hingga terbuka.“Felix, kamu sakit jiwa yah? Datang-datang bikin keributan lagi!” Suara Tamara terdengar dingin.“Tamara, aku tahu kamu nggak puas dengan aku. Tapi kalau memang ada masalah, hadapi aku langsung! Apa maksudmu main kotor di belakang, sampai Jolin kehilangan gelarnya?! Kenapa dulu aku nggak sadar kalau kamu ternyata sejahat ini? Kamu benar-benar wanita berhati gelap! Sungguh aku buta sejak awal!”Mata Felix membelalak penuh amarah. Api kemarahan membakar di tatapannya, tubuhnya gemetar hebat.Tamara justru merasa puas. Ia tersenyum tipis.“Kalian pakai barang milikku untuk nipu demi dapat gelar, sekarang masih be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status