Share

Pak Paul, Menikahlah Denganku!
Pak Paul, Menikahlah Denganku!
Author: Nila Lembayung

Bab 1

Author: Nila Lembayung
“Paul, setengah bulan lagi aku akan kembali ke Kota Beswona dan nikah dengan kamu.”

Di balkon kecil sebuah bar, Tamara Sentosa meringkuk di sofa berwarna gelap, bicara dengan tenang ke orang di seberang telepon.

Suara pria yang bernada dingin segera terdengar, “Tamara, kalau aku nggak salah ingat, dua bulan lalu bukannya kamu sudah batalkan pertunangan kita demi pacarmu itu.”

Tamara mengatupkan bibirnya.

Dua bulan lalu, ia berniat bawa pacarnya, Felix Darsuki, pria yang telah ia cintai selama tujuh tahun untuk pulang temui orang tuanya.

Siapa sangka, baru saja ia sampaikan kabar itu, ia malah diberi tahu kalau Keluarga Sentosa dan Keluarga Kurniawan telah rencanakan pernikahan antar keluarga, dan Paul Kurniawan adalah tunangan resminya.

Demi Felix, ia bertengkar hebat dengan keluarganya, buat Bambang Sentosa, ayah Tamara sampai masuk rumah sakit. Bahkan ia buat taruhan bersikeras kalau dia dan Felix pasti akan bahagia seumur hidup, agar ayahnya tahu kalau pilihannya nggak salah.

Namun baru dua bulan berlalu, cintanya ke Felix terkikis habis oleh sikapnya yang terus-menerus belain Jolin Zalora, adik angkatnya.

Terutama hari ini. Hari ini seharusnya adalah hari peringatan pacaran mereka, tetapi Felix malah lupa dengan hari itu, dan malah mesra-mesraan dengan Jolin di bar.

Tangan Tamara yang genggam HP langsung mengencang. Suaranya sangat pelan, tetapi tegas.

“Aku akan putus dengan dia.”

“Perlu aku bantuin?”

Suara pria itu terdengar dingin, mengandung rasa dominasi yang kuat.

“Nggak perlu. Aku akan bereskan sendiri urusanku dengannya. Aku nggak akan ngerepotin kamu. Selama beberapa tahun ini aku juga sudah kerja keras di perusahaannya. Aku butuh waktu untuk ambil kembali apa yang jadi punyaku. Aku harap kamu bisa tungguin aku,” jawab Tamara lembut.

“Oke. Kita ketemu di bandara setengah bulan lagi.”

Setelah itu, pria tersebut langsung tutup teleponnya.

Tamara simpan HP-nya, menatap kosong ke satu titik sejenak, lalu bangkit dari sofa dan berjalan menuju salah satu ruang VIP di lantai dua bar.

Begitu mendekat, terdengar sorakan riuh dari dalam.

Felix dan Jolin dikelilingi banyak orang di tengah ruangan.

Saat tangan Tamara sentuh dan dorong gagang pintu, ia dengar suara ejekan bercampur tawa.

“Gigit! Gigit! Astaga, Kak Felix sampai pakai lidah! Di ronde ini nggak ada yang bisa ngalahin dia!”

“Cuma segelas minuman doang, perlu segitunya?”

“Kamu nggak ngerti. Yang penting itu bukan minumannya, tapi Jolin! Kalau Jolin sampai kalah, dia harus turun ke bawah cari orang sembarangan buat nari. Menurutmu Kak Felix bakal biarin dia sedekat itu sama orang lain?”

“Tapi bukannya Kak Felix sudah punya pacar?”

Sampai pintu benar-benar terbuka lebar, orang-orang di tengah ruangan masih belum sadar kehadiran Tamara.

Justru beberapa orang di dekat pintu saling tarik ujung baju satu sama lain.

Tamara berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat dan tatapan dingin. Ia menatap Felix yang lagi peluk Jolin dengan erat. Tangannya Felix tanpa sadar remas pinggang Jolin, gerakannya penuh nafsu dan posesif.

Kalau ada ranjang di situ, mungkin Felix sudah langsung naik.

“Tam … Tamara?!”

Seseorang tiba-tiba berseru seperti lihat hantu.

Felix langsung buka mata, bertemu dengan tatapan Tamara yang seolah tersenyum tapi nggak benar-benar tersenyum. Ekspresinya langsung jadi kaku.

Ia lepaskan Jolin, dorong kerumunan, lalu jalan ke depan Tamara, dengan suara datar,

“Kamu ngapain di sini?”

Lihat sikapnya yang begitu wajar, ejekan di mata Tamara semakin dalam. Pandangannya lewati bahu Felix, bertemu dengan tatapan provokatif Jolin. Ia angkat sudut bibirnya.

“Kamu lupa hari ini hari apa?”

Hari ini ....

Hari jadi hubungan mereka.

Felix baru sadar alasan Tamara muncul di sini. Di antara alisnya terbit sedikit penyesalan, dan ia berkata tanpa sadar, “Hari ini suasana hati Jolin lagi jelek, makanya aku temani dia di sini. Tadi juga cuma ikut-ikutan main game karena semua orang heboh, jadi aku ….”

“Aku tahu, cuma permainan, aku nggak masalah kok,” potong Tamara lembut.

Kata-kata Felix langsung tersangkut di tenggorokan.

Nggak bisa ditelan, nggak bisa dimuntahkan.

Ia mengerutkan kening, hendak ajak Tamara pulang lebih dulu, tetapi seseorang mendahuluinya.

“Kak Tamara, maaf banget. Hari ini aku baru putus, jadi aku tarik Kak Felix ke sini buat temenin aku. Tolong jangan salahkan dia, semua salahku.”

Jolin jalan mendekat sambil bawa segelas minuman.

“Karena sudah datang, kenapa Kak Tamara nggak sekalian ikut gabung saja? Minuman ini khusus dibuat bartender atas permintaan Kak Felix, coba deh.”

Dari belahan kerah Jolin yang sengaja terbuka, Tamara lihat beberapa bekas merah.

Lebih ke atas, lipstik Jolin sudah berantakan.

Begitu terang-terangan menantangnya di depan semua orang.

Apa Jolin kira dia mudah ditindas?

Senyum di bibir Tamara semakin dalam.

“Beneran?”

Dengar nada Tamara, Jolin hendak bicara lagi, tapi Tamara sudah lanjutkan,

“Kalau dibandingkan dengan air liur pacar orang lain, mana yang lebih enak, Dik?”

Ia sengaja tekankan kata Dik.

Sekaligus ingatkan semua orang tentang hubungan antara Jolin dan Felix: saudara angkat.

Walau ada kata “angkat”, Jolin tetaplah adik resmi Felix. Namun barusan mereka berciuman tanpa ragu di depan semua orang.

Dalam sekejap, tatapan semua orang terhadap Jolin berubah.

“Kak Tamara, apa maksudmu?”

Mata Jolin langsung memerah, suaranya bergetar.

“Kak Felix cuma bantuin aku keluar dari masalah. Aku tahu posisiku, mana mungkin aku sama dia .…”

Ia menoleh ke arah Felix, seolah sangat tersakiti, lalu terdiam.

“Sudahlah .…”

Beberapa detik kemudian, Jolin lanjutkan dengan nada nahan tangis, “Kalau bukan karena ayahku meninggal saat selamatkan Kak Felix, aku juga nggak akan masuk ke Keluarga Darsuki, dan kakak nggak perlu ngerawat aku selama ini. Pada akhirnya, ini semua karena aku nggak tahu diri, karena hidupku memang sial. Kak Tamara, nggak usah khawatir, mulai sekarang aku akan menjauh dari Kak Felix. Apa pun yang terjadi, aku nggak akan minta dia temani aku lagi.”

Ujung suaranya bergetar hebat.

Orang-orang di ruangan itu pun teringat alasan Jolin jadi saudara Felix, ayah kandungnya tewas dibunuh penculik saat berusaha selamatkan Felix.

Sebagai anak dari penyelamat nyawanya, wajar kalau Felix lebih perhatikan dia.

Lagian, tadi mereka cuma main game saja. Justru Tamara yang terlihat berlebihan.

Tamara tangkap semua ekspresi itu. Tatapan matanya semakin dingin. Ia tertawa kecil penuh ejekan.

“Hidupmu memang .…”

“Cukup!”

Felix cengkeram pergelangan tangan Tamara erat-erat, menatapnya tajam.

“Aku cuma temani Jolin main game. Emang kamu perlu permasalahkan itu sampai segitunya? Lagian, cuma hari jadi doang, bukannya aku sudah sering temani kamu? Tamara, sejak kapan kamu jadi kayak anak kecil seperti ini?”

Jari-jari Tamara di sisi tubuhnya mengepal kuat.

Ia kayak anak kecil?

Sebagai pacarnya, Felix hampir saja beradegan panas dengan adik angkatnya di depan umum. Ia bahkan nggak boleh tanya satu kalimat pun?

Jantungnya terasa diremas kuat. Napasnya jadi berat. Tatapannya pada Felix penuh kekecewaan.

Sudahlah, emang apa lagi yang bisa dia harapkan?

Tamara paksa dirinya untuk tenang. Di bawah tatapan marah Felix, ia paksakan senyum formal.

“Kamu benar. Aku nggak akan ganggu acara kalian,” ucapnya pelan.

Setelah itu, Tamara berbalik dan pergi.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 50

    Dengan bantuan kakaknya selama dua hari ini, hampir semua urusan Tamara sudah beres.Soal perusahaan, sebenarnya ia sudah nggak perlu datang lagi.Kalau Fiona mau terus buat keributan, silakan saja, toh sekarang semua itu sudah nggak ada hubungannya lagi dengan dirinya.Wajah Fiona memerah karena marah, giginya terkatup rapat.“Kalau gitu aku akan datang ke rumahmu! Mulai sekarang jangan harap kamu bisa hidup tenang!”Tamara tersenyum tipis. Fiona benar-benar kira ancaman seperti itu bisa bikin dia takut?“Terserah.” Nada suaranya datar, lalu ia berbalik hendak pergi.Fiona menghadangnya.“Perempuan nggak tahu malu! Kalau hari ini kamu nggak mau kasih ganti rugi, jangan harap bisa keluar dari pintu ini!”Tiba-tiba ia tekan dadanya, wajahnya berubah pucat dengan ekspresi kesakitan, seolah benar-benar tahan sakit.“Bibi, kenapa? Bibi, apa penyakit jantungmu kambuh lagi?”“Tamara, jangan keterlaluan! Kamu tahu tubuh Bibi nggak sehat, apa kamu harus buat dia sampai seperti ini baru puas?!”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 49

    “Bibi, pagi-pagi sekali aku keluar kamar sudah nggak lihat kamu, ternyata kamu ada di sini. Tolong jangan tengkar dengan Kak Tamara karena masalah ini. Sebelumnya Bibi sampai harus dirawat di rumah sakit, kami semua sangat khawatir. Kak Felix juga bilang, semua urusan ini akan dia urus. Lagian Kak Felix dan Kak Tamara cuma sedang bertengkar, Bibi jangan sampai marah karena hal ini, yah.”Jolin segera hampiri dan topang tubuh Fiona.Nada bicaranya lembut, wajahnya penuh kepedulian, seolah-olah ia benar-benar gadis yang penurut dan bijaksana.Lihat mereka berdua, wajah Tamara tetap dingin tanpa ekspresi.‘Pagi ini? Jadi sekarang mereka sudah tinggal bersama? Cepat sekali pergerakannya.’Tamara hanya merasa geli.“Jolin, nggak perlu bujuk aku. Meskipun hari ini aku mati di sini, aku tetap nggak akan biarkan dia hidup tenang. Dulu aku perlakukan dia dengan sangat baik, tapi sekarang gimana? Dia sama sekali nggak sisakan jalan mundur untuk aku. Pernah nggak dia pikirkan hubungan kami dulu?”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 48

    Jolin sengaja mendekat ke tubuhnya, tempelkan dirinya ke Felix, berusaha salurkan sedikit kehangatan lewat sentuhan.Namun Felix justru refleks menghindar, tetap jaga jarak di antara mereka.Hati Jolin terasa seperti diremas kuat. Di balik matanya, kilatan tajam melintas.Perempuan sialan itu sudah bertindak sedemikian kejam, namun Felix tetap nggak tega lepaskan dia!Apa di hati Felix masih ada tempat untuk dirinya?Setelah tinggalkan tempat itu, keduanya pulang ke rumah Felix.Di dalam benak Jolin, sebuah rencana perlahan terbentuk.Ada banyak hal yang sebenarnya nggak perlu ia lakukan sendiri, cukup buka mulut, akan selalu ada orang yang maju belain dia....Keesokan paginya.Hari ini Tamara datang ke perusahaan sendirian. Kakaknya datang dari jauh untuk bantuin dia, kemarin juga sudah selesaikan begitu banyak urusan untuknya.Mereka tidur sangat malam jadi ia ingin biarkan kakaknya istirahat lebih lama.Selain itu, ia sudah buat janji ketemu dengan Presiden Grup Herlambang.Setelah

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 47

    Jolin terisak, tangisnya terdengar semakin keras.Di dalam hatinya, kebencian terhadap Tamara makin mengakar.Perempuan sialan itu, tega sekali pakai cara sekotor ini untuk jatuhkan dia, paksa dia sampai ke jalan buntu.Kalau sudah gini, nggak ada seorang pun dari mereka yang pantas hidup tenang!“Jolin, sebenarnya semua ini karena aku. ”Felix berkata lirih penuh rasa bersalah.“Aku yang seret kamu ke dalam masalah ini, maafkan aku. Kalau pada akhirnya kamu nggak bisa dapatkan gelar, aku tetap akan jaga kamu seumur hidup. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”Hati Felix dipenuhi penyesalan.Tangannya terus tepuk punggung Jolin dengan lembut, suaranya penuh rasa sayang.Namun Jolin tetap menangis tersedu-sedu. Dengan suara penuh luka, ia berkata,“Kakak tahu sendiri betapa pentingnya gelar itu buat aku. Sejak awal aku tahu kalau aku salah karena pakai paten Kak Tamara, tapi waktu itu aku benar-benar nggak punya pilihan lain.”Saat itu memang Felix yang kasih ide itu, ambil paten mili

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 46

    Felix terkapar di lantai, kesakitan luar biasa, nggak punya kesempatan untuk balas satu pukulan pun.Thomas sebenarnya sudah lama nggak suka dia.Hari ini kebetulan ada kesempatan, jadi sekalian saja ia lampiaskan semuanya.Namun meski lihat Felix dalam keadaan seburuk itu, amarahnya masih belum benar-benar terlampiaskan.Karena yang terluka selama ini adalah adik perempuannya sendiri. Bagi Thomas, rasa sakit sebesar ini, sama sekali belum seberapa.“Masih mau berkelahi?” tanya Thomas dingin.“Nggak … nggak!”“Tol … tolong lepaskan aku ….”Akhirnya Felix menyerah dan memohon.Kalau ini diteruskan, rasanya nyawanya sendiri bisa melayang di tangan Thomas.Barulah Thomas lepaskan. Ia rapikan dasinya sambil berkata dingin, “Pergi. Cepat minggir. Jangan sampai aku lihat kamu lagi!”Begitu dilepas, Felix langsung merangkak bangkit, wajahnya penuh luka, langkahnya terpincang-pincang saat pergi. Ia bahkan nggak berani noleh, takut Thomas tiba-tiba pukul dia lagi.Setelah sosok Felix menghilang

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 45

    Lihat kakaknya yang begitu buru-buru, Tamara pun nggak nolak.Sebenarnya di dalam hati ia juga gelisah, ia pun ingin segera selesaikan semuanya dan terbebas dari kekacauan ini.“Oke, ayo kita ke perusahaan.”Keduanya pun tiba di gedung perusahaan.Begitu Felix lihat mereka, ia langsung seperti orang gila.Ia lari menuju kantor Tamara dan tendang pintu dengan keras hingga terbuka.“Felix, kamu sakit jiwa yah? Datang-datang bikin keributan lagi!” Suara Tamara terdengar dingin.“Tamara, aku tahu kamu nggak puas dengan aku. Tapi kalau memang ada masalah, hadapi aku langsung! Apa maksudmu main kotor di belakang, sampai Jolin kehilangan gelarnya?! Kenapa dulu aku nggak sadar kalau kamu ternyata sejahat ini? Kamu benar-benar wanita berhati gelap! Sungguh aku buta sejak awal!”Mata Felix membelalak penuh amarah. Api kemarahan membakar di tatapannya, tubuhnya gemetar hebat.Tamara justru merasa puas. Ia tersenyum tipis.“Kalian pakai barang milikku untuk nipu demi dapat gelar, sekarang masih be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status