Share

Bab 3

Author: Nila Lembayung
“Tamara, sekalipun kamu mau ngambek, harus ada batasnya.”

Tatapan Felix ke arah Tamara dipenuhi kekecewaan. Ia berkata dengan suara dingin,

“Sekarang cepat kasih tahu aku, Jolin ada di mana. Kalau kamu kasih tahu, semua yang terjadi sebelumnya bisa aku anggap nggak pernah ada.”

“Aku sudah bilang, aku nggak tahu Jolin ada di mana.”

Tamara menatapnya lurus, ucapkan tiap kata dengan jelas, “Kasus penculikan Jolin, sedikit pun nggak ada hubungannya dengan aku.”

Detik berikutnya, telapak tangan Felix cengkeram leher Tamara.

Seiring jari-jari itu mengencang, napas Tamara mulai tercekik, pandangannya menghitam. Di ambang kematian, ia hanya dengar bunyi dering HP.

Felix pun lepaskan Tamara.

Di seberang telepon adalah suara asistennya, mereka sudah temukan Jolin.

Felix nggak lihat Tamara lagi, langsung berbalik dan melangkah tergesa menuju pintu.

Tamara terduduk pucat di lantai. Di leher putihnya sudah muncul bekas lebam jari, tampak mengerikan.

Suara mesin mobil di bawah semakin menjauh.

Setelah beberapa saat tenangkan napas, ia perlahan bangkit dari lantai, berjalan terhuyung ke kamar mandi. Begitu lihat bayangannya yang menyedihkan di cermin, air mata yang ia tahan akhirnya tumpah.

Ia bersama Felix selama tujuh tahun. Tujuh tahun perasaan ternyata masih nggak cukup untuk buat Felix percaya ke dia.

Tarik napas dalam-dalam, Tamara paksa dirinya tenang. Ia bersihkan diri, oleskan salep pada lehernya, lalu seret tubuh lelahnya ke tempat tidur. Nggak lama kemudian, ia tertidur lelap.

Keesokan paginya, Tamara terima pesan dari asistennya.

[Bu Tamara, dari pihak Pak Felix ada pemberitahuan akan adakan rapat direksi. Apa kamu juga terima kabar?]

Perusahaan Felix saat ini adalah hasil kerja keras mereka berdua. Banyak proyek besar yang didapat Tamara dengan hampir rusak lambungnya karena minum dengan klien.

Secara logika, rapat direksi seharusnya libatkan dirinya.

Namun, ia nggak terima satu pun pemberitahuan.

Tamara segera balas pesan asistennya, minta dia awasi gerak-gerik Felix. Ia sendiri akan segera ke kantor.

Setelah bersiap, ia turun ke bawah. Baru saja buka pintu mobil, ia merasa ada yang nggak beres. Saat hendak mundur, seseorang sudah tutup mulut dan hidungnya dengan handuk. Bau menyengat buat kesadarannya langsung menghilang.

Saat terbangun, seluruh tubuhnya berada dalam karung goni. Mulutnya disumpal, tangan dan kaki terikat tali kasar!

Ia meronta dua kali, namun tali itu sama sekali nggak bisa dilepaskan.

Saat ia sedang berpikir siapa sebenarnya yang menculiknya, terdengar suara pria yang sangat ia kenal dari luar.

“Orang ini yang sebelumnya pernah nindas Jolin?”

Seluruh gerakan Tamara terhenti seketika. Dadanya seolah disambar petir.

Itu suara Felix.

Ia berusaha keluarkan suara dari dalam karung, ingin beri tahu kalau orang di dalam ini adalah dirinya. Namun sebuah tendangan keras mendarat di tubuhnya.

“Diam!”

Felix menatap orang di lantai itu dengan jijik, suaranya dingin.

“Berani sentuh orangku, nyalimu besar banget. Dia harus diberi pelajaran yang pantas.”

“Kak, apa ini nggak berlebihan?”

Jolin gandeng lengan Felix, bersandar ke dalam pelukannya, berkata dengan takut-takut, “Sudahlah, aku juga nggak kenapa-kenapa. Bukannya kamu sudah temukan aku tepat waktu? Aku beneran baik-baik saja kok.”

Lihat Jolin yang tampak penurut, hati Felix melunak.

Ia usap wajah Jolin dengan lembut.

“Ini harus dilakukan. Kalau nggak, lain kali mereka bakal berani culik kamu lagi. Jolin, kakak nggak akan biarkan siapa pun sakitin kamu.”

Dengar percakapan mereka, Tamara berhenti meronta.

Lalu tubuhnya tiba-tiba diangkat dan digantung di udara.

Melalui cahaya samar dari dalam karung, ia lihat Felix jalan mendekat.

Brak!

Tongkat baseball menghantam tubuh Tamara dengan keras.

Ia menjerit tertahan, rasa besi penuhi mulutnya, pandangannya mulai kabur.

Namun orang di depannya nggak berhenti.

Satu pukulan, lalu satu lagi.

Sampai tepat sembilan puluh sembilan kali, barulah Felix berhenti.

Ia lempar tongkat itu, lalu berbalik menuju Jolin.

Saat ia balikkan badan, Tamara baru diturunkan ke lantai. Kain putih yang menyumpal mulutnya telah basah oleh darah.

“Kak, Jolin takut .…”

Jolin lari peluk pinggang Felix erat-erat. Pandangannya melirik ke belakang, ke arah Tamara yang sudah dikeluarkan dari karung. Tatapannya penuh tantangan dan kepuasan, seolah berkata, ‘Ini akibatnya berani rebut pria punyaku.’

Darah terus mengalir dari tenggorokan Tamara. Ia menatap Felix dengan putus asa, bersuara lirih, “Fe … Felix ….”

Suara itu buat Felix kerutkan keningnya.

Suara ini seperti suara Tamara.

Ia hendak menoleh ke belakang, namun Jolin tiba-tiba pingsan di pelukannya.

“Jolin!”

Seluruh perhatian Felix langsung tertuju ke dia. Setelah nggak bisa bangunkan dia, Felix langsung gendong Jolin dan bergegas pergi dengan mobil.

Tamara terbaring di lantai, menatap mereka pergi. Hatinya tenggelam sepenuhnya.

Tali di pergelangan tangannya dilepaskan. Tubuhnya diperlakukan seperti sampah, dilempar begitu saja ke dalam mobil van.

Setiap gerakan buat tulang rusuknya nyeri sampai ia sulit bernapas.

Pandangan Tamara menghitam berulang kali.

Di luar, beberapa orang sedang berdiskusi.

“Jolin minta kita cari beberapa pria buat main dengan dia. Dengan kondisi begini, apa dia masih bisa hidup setelahnya?”

“Siapa yang peduli dia hidup atau mati? Yang penting kita ambil fotonya.”

“Jujur aja, tubuhnya bagus banget.”

Tawa mesum terdengar di luar.

Dengar sebutan Jolin, serta rencana mereka, Tamara langsung paham siapa dalang di balik semua ini.

Jolin ingin hancurkan dia sampai tuntas.

Tamara mulai berpikir cara selamatkan diri. Ia perlahan merangkak ke sisi pintu. Baru saja sentuh gagang pintu, rambutnya ditarik keras dari belakang, kulit kepalanya terasa seperti tercabut.

“Perempuan murahan! Masih berani kabur!”

Tamara gigit bibirnya, menatap mereka dengan penuh kebencian. Setelah yakin nggak bisa lari, keputusasaan memenuhi dadanya.

Namun jarinya sentuh benda dingin di belakangnya. Seperti potongan besi.

Dalam sekejap, Tamara ambil keputusan. Saat salah satu dari mereka mendekat dengan tali, ia cengkeram potongan besi itu dan dengan cepat menekannya ke leher pria tersebut.

“K-kamu mau apa?!”

Besi itu masuk lebih dalam. Darah mulai menetes.

“Lepaskan aku!”

Suara Tamara serak, matanya penuh kegilaan.

Pria itu hendak jawab, tetapi tiba-tiba terdengar suara keras di luar mobil, disusul suara perkelahian.

Pintu mobil pun dibuka.

Beberapa pria berbaju jas hitam berdiri di luar. Di depan mereka ada seorang pria berkacamata tanpa bingkai, berwajah lembut.

“Nona Tamara, maaf kami datang terlambat.”

Tamara menatap mereka dengan waspada dan bingung. Dengan suara lemah, ia tanya, “Kalian siapa?”
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 50

    Dengan bantuan kakaknya selama dua hari ini, hampir semua urusan Tamara sudah beres.Soal perusahaan, sebenarnya ia sudah nggak perlu datang lagi.Kalau Fiona mau terus buat keributan, silakan saja, toh sekarang semua itu sudah nggak ada hubungannya lagi dengan dirinya.Wajah Fiona memerah karena marah, giginya terkatup rapat.“Kalau gitu aku akan datang ke rumahmu! Mulai sekarang jangan harap kamu bisa hidup tenang!”Tamara tersenyum tipis. Fiona benar-benar kira ancaman seperti itu bisa bikin dia takut?“Terserah.” Nada suaranya datar, lalu ia berbalik hendak pergi.Fiona menghadangnya.“Perempuan nggak tahu malu! Kalau hari ini kamu nggak mau kasih ganti rugi, jangan harap bisa keluar dari pintu ini!”Tiba-tiba ia tekan dadanya, wajahnya berubah pucat dengan ekspresi kesakitan, seolah benar-benar tahan sakit.“Bibi, kenapa? Bibi, apa penyakit jantungmu kambuh lagi?”“Tamara, jangan keterlaluan! Kamu tahu tubuh Bibi nggak sehat, apa kamu harus buat dia sampai seperti ini baru puas?!”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 49

    “Bibi, pagi-pagi sekali aku keluar kamar sudah nggak lihat kamu, ternyata kamu ada di sini. Tolong jangan tengkar dengan Kak Tamara karena masalah ini. Sebelumnya Bibi sampai harus dirawat di rumah sakit, kami semua sangat khawatir. Kak Felix juga bilang, semua urusan ini akan dia urus. Lagian Kak Felix dan Kak Tamara cuma sedang bertengkar, Bibi jangan sampai marah karena hal ini, yah.”Jolin segera hampiri dan topang tubuh Fiona.Nada bicaranya lembut, wajahnya penuh kepedulian, seolah-olah ia benar-benar gadis yang penurut dan bijaksana.Lihat mereka berdua, wajah Tamara tetap dingin tanpa ekspresi.‘Pagi ini? Jadi sekarang mereka sudah tinggal bersama? Cepat sekali pergerakannya.’Tamara hanya merasa geli.“Jolin, nggak perlu bujuk aku. Meskipun hari ini aku mati di sini, aku tetap nggak akan biarkan dia hidup tenang. Dulu aku perlakukan dia dengan sangat baik, tapi sekarang gimana? Dia sama sekali nggak sisakan jalan mundur untuk aku. Pernah nggak dia pikirkan hubungan kami dulu?”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 48

    Jolin sengaja mendekat ke tubuhnya, tempelkan dirinya ke Felix, berusaha salurkan sedikit kehangatan lewat sentuhan.Namun Felix justru refleks menghindar, tetap jaga jarak di antara mereka.Hati Jolin terasa seperti diremas kuat. Di balik matanya, kilatan tajam melintas.Perempuan sialan itu sudah bertindak sedemikian kejam, namun Felix tetap nggak tega lepaskan dia!Apa di hati Felix masih ada tempat untuk dirinya?Setelah tinggalkan tempat itu, keduanya pulang ke rumah Felix.Di dalam benak Jolin, sebuah rencana perlahan terbentuk.Ada banyak hal yang sebenarnya nggak perlu ia lakukan sendiri, cukup buka mulut, akan selalu ada orang yang maju belain dia....Keesokan paginya.Hari ini Tamara datang ke perusahaan sendirian. Kakaknya datang dari jauh untuk bantuin dia, kemarin juga sudah selesaikan begitu banyak urusan untuknya.Mereka tidur sangat malam jadi ia ingin biarkan kakaknya istirahat lebih lama.Selain itu, ia sudah buat janji ketemu dengan Presiden Grup Herlambang.Setelah

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 47

    Jolin terisak, tangisnya terdengar semakin keras.Di dalam hatinya, kebencian terhadap Tamara makin mengakar.Perempuan sialan itu, tega sekali pakai cara sekotor ini untuk jatuhkan dia, paksa dia sampai ke jalan buntu.Kalau sudah gini, nggak ada seorang pun dari mereka yang pantas hidup tenang!“Jolin, sebenarnya semua ini karena aku. ”Felix berkata lirih penuh rasa bersalah.“Aku yang seret kamu ke dalam masalah ini, maafkan aku. Kalau pada akhirnya kamu nggak bisa dapatkan gelar, aku tetap akan jaga kamu seumur hidup. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”Hati Felix dipenuhi penyesalan.Tangannya terus tepuk punggung Jolin dengan lembut, suaranya penuh rasa sayang.Namun Jolin tetap menangis tersedu-sedu. Dengan suara penuh luka, ia berkata,“Kakak tahu sendiri betapa pentingnya gelar itu buat aku. Sejak awal aku tahu kalau aku salah karena pakai paten Kak Tamara, tapi waktu itu aku benar-benar nggak punya pilihan lain.”Saat itu memang Felix yang kasih ide itu, ambil paten mili

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 46

    Felix terkapar di lantai, kesakitan luar biasa, nggak punya kesempatan untuk balas satu pukulan pun.Thomas sebenarnya sudah lama nggak suka dia.Hari ini kebetulan ada kesempatan, jadi sekalian saja ia lampiaskan semuanya.Namun meski lihat Felix dalam keadaan seburuk itu, amarahnya masih belum benar-benar terlampiaskan.Karena yang terluka selama ini adalah adik perempuannya sendiri. Bagi Thomas, rasa sakit sebesar ini, sama sekali belum seberapa.“Masih mau berkelahi?” tanya Thomas dingin.“Nggak … nggak!”“Tol … tolong lepaskan aku ….”Akhirnya Felix menyerah dan memohon.Kalau ini diteruskan, rasanya nyawanya sendiri bisa melayang di tangan Thomas.Barulah Thomas lepaskan. Ia rapikan dasinya sambil berkata dingin, “Pergi. Cepat minggir. Jangan sampai aku lihat kamu lagi!”Begitu dilepas, Felix langsung merangkak bangkit, wajahnya penuh luka, langkahnya terpincang-pincang saat pergi. Ia bahkan nggak berani noleh, takut Thomas tiba-tiba pukul dia lagi.Setelah sosok Felix menghilang

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 45

    Lihat kakaknya yang begitu buru-buru, Tamara pun nggak nolak.Sebenarnya di dalam hati ia juga gelisah, ia pun ingin segera selesaikan semuanya dan terbebas dari kekacauan ini.“Oke, ayo kita ke perusahaan.”Keduanya pun tiba di gedung perusahaan.Begitu Felix lihat mereka, ia langsung seperti orang gila.Ia lari menuju kantor Tamara dan tendang pintu dengan keras hingga terbuka.“Felix, kamu sakit jiwa yah? Datang-datang bikin keributan lagi!” Suara Tamara terdengar dingin.“Tamara, aku tahu kamu nggak puas dengan aku. Tapi kalau memang ada masalah, hadapi aku langsung! Apa maksudmu main kotor di belakang, sampai Jolin kehilangan gelarnya?! Kenapa dulu aku nggak sadar kalau kamu ternyata sejahat ini? Kamu benar-benar wanita berhati gelap! Sungguh aku buta sejak awal!”Mata Felix membelalak penuh amarah. Api kemarahan membakar di tatapannya, tubuhnya gemetar hebat.Tamara justru merasa puas. Ia tersenyum tipis.“Kalian pakai barang milikku untuk nipu demi dapat gelar, sekarang masih be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status