Share

Bab 4

Author: Nila Lembayung
“Aku asisten Pak Paul Kurniawan. Namaku Doni Akbar.”

Pria yang berdiri di depan keluarkan kartu nama dari sakunya dan serahkan itu ke Tamara, lalu beri isyarat ke belakang.

“Serahkan saja orang ini ke kami.”

Para pengawal maju seret pria itu dan lemparkan dia keluar.

Setelah terdengar suara benturan keras, Tamara baru benar-benar sadar kalau semua ini nyata.

Orang-orangnya Paul telah selamatkan dia.

Saraf yang dari tadi terasa tegang akhirnya mengendur. Tamara buka mulut, ingin katakan sesuatu, namun pandangannya tiba-tiba menghitam. Sebelum pingsan, yang terakhir ia dengar adalah suara Doni suruh orang-orang bawa dia ke rumah sakit.

Saat terbangun, Tamara dapati orang yang berjaga di samping ranjangnya adalah asistennya sendiri.

“Bu Tamara, akhirnya kamu sadar juga.”

Lina Cempaka adalah mahasiswa yang dulu kuliahnya dibiayai Tamara. Karena kemampuannya luar biasa, sejak lulus kuliah ia tetap kerja di sisi Tamara. Dalam hatinya, ia sudah anggap Tamara seperti kakak kandung. Saat dengar Tamara alami kecelakaan, ia panik sekali sampai hampir alami kecelakaan.

Tamara menatap mata Lina, sorot matanya sedikit melunak.

“Aku nggak apa-apa kok.”

Gimana mungkin nggak apa-apa?

Lina teringat kata-kata dokter saat ia tiba di rumah sakit, tulang rusuk patah, jantung dan paru-paru terluka. Sedikit saja terlambat, nyawanya bisa melayang.

Tatapan Lina penuh rasa sakit hati.

Tamara terbatuk ringan, minum dua teguk air, baru lanjutkan, “Soal rapat direksi yang kamu bilang kemarin, gimana kabarnya sekarang?”

“Bu Tamara, kamu harus benar-benar nasehati Pak Felix.”

Lina nggak bisa tahan rasa nggak adil, suaranya pun terdengar kesal.

“Pak Felix ingin pindahkan tiga puluh persen saham perusahaan ke Jolin. Padahal perusahaan ini kalian berdua yang bangun bersama. Saham Bu Tamara sendiri saja nggak sebanyak itu.”

Tamara terdiam sesaat, lalu tersenyum sinis.

Saat perusahaan baru berdiri, Felix katakan risikonya terlalu besar, sehingga tekan porsi saham Tamara serendah mungkin.

Tapi sekarang, dia malah sebegitu gampangnya kasih tiga puluh persen saham ke orang lain.

Seolah ada tangan nggak kasat mata yang cengkeram jantungnya erat. Rasa sakit buat napasnya sesak, bau besi penuhi rongga hidungnya.

“Hubungi semua anggota dewan. Katakan aku nggak setuju.”

Jari-jari Tamara tekan telapak tangannya sendiri. Ia paksa dirinya tetap tenang, lalu jelaskan satu per satu rencana lanjutannya ke Lina, minta dia lakukan sesuai instruksi.

Sebelum pergi, Lina sampaikan pesan yang ditinggalkan Doni.

“Bu Tamara, orang itu bilang mereka akan tetap tinggal di sini untuk sementara waktu. Kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa kabarin dia kapan saja.”

Tamara tertegun, baru ingat kalau Paul yang selamatkan dia.

Ia pun mengangguk.

Setelah Lina pergi, ia baru keluarkan HP-nya dan kirim pesan terima kasih ke Paul.

Selama sebulan Tamara dirawat di rumah sakit. Dengan Lina yang urus perusahaan, rencana Felix untuk pindahkan saham ke atas nama Jolin nggak disetujui.

Bahkan beberapa rekan proyek lama putuskan kontrak, buat Felix kewalahan.

Saat Tamara keluar dari rumah sakit, ia abaikan Felix yang berdiri di depan pintu dengan wajah muram, dan langsung jalan bersama Lina menuju mobilnya.

“Tamara!”

Lengannya ditarik keras dari belakang. Luka tulang rusuk yang baru pulih hampir robek lagi.

Tamara nggak bisa tahan erangan sakit.

Lihat ekspresinya yang jelas bukan pura-pura, Felix langsung kerutkan keningnya. Ia hendak tanya bagian mana yang sakit, namun Lina sudah lebih dulu menerjang ke depan, berdiri lindungi Tamara, menatap Felix dengan marah.

“Siapa yang suruh kamu sentuh dia?!”

Lina sama sekali nggak peduli status Felix.

“Bu Tamara sedang terluka. Kalau lukanya sampai terbuka gara-gara kamu, kamu ….”

“Tamara, kamu masih mau pura-pura di depanku?”

Felix potong perkataan Lina. Tatapannya penuh rasa kecewa dan jijik.

“Nggak usah pakai trik pura-pura lemah ini. Kamu pura-pura sakit di rumah sakit selama ini, bukannya cuma karena nggak mau aku pindahkan saham ke Jolin? Apa kamu sebegitu bencinya ke dia? Kamu pacarku, ayahnya Jolin adalah penyelamat nyawaku. Apa kamu nggak bisa lebih toleransi sedikit ke dia? Lagian, dulu waktu kamu tahu Jolin yatim piatu, bukannya kamu sendiri yang suruh aku lebih jagain dia?”

Dengar itu semua, Tamara justru tertawa.

Saat pertama tahu Jolin sebatang kara, kehilangan ayah sejak kecil dan diasuh Keluarga Darsuki, ia memang pernah merasa simpati dan minta Felix lebih perhatikan dia.

Tapi lihat apa yang mereka lakukan sekarang, apa pantas dapat belas kasihan?

Tamara menatap Felix dengan semakin dingin.

“Aku nggak pernah suruh kamu jagain dia sampai ke atas ranjang.”

“Aku dan Jolin itu tak bersalah!”

Felix bentak dengan nada marah.

“Kamu kenapa sih selalu curiga seperti ini?! Sejak kapan kamu jadi begitu ….”

Plak!

Suara tamparan terdengar nyaring.

Kepala Felix terlempar ke samping. Di mata hitamnya terpancar keterkejutan.

Dia ditampar Tamara?

Tamara tarik kembali tangannya. Wajah cantiknya dingin tanpa ekspresi.

“Felix, kalau kamu begitu ingin jagain Jolin, pergi saja dengan dia. Mulai sekarang, urusan kalian nggak ada hubungannya denganku!”

“Apa maksudmu?!”

Felix mengerutkan keningnya, perasaannya tiba-tiba gelisah.

“Kamu mau putus dengan aku?”

“Iya!”

Tamara sibakkan rambut di sisi telinganya, suaranya tegas.

“Aku akan segera pindahkan barang-barangku dari vila. Dan jangan pernah muncul lagi di depanku. Lihat kamu saja sudah buat aku muak.”

Setelah itu, ia tarik Lina dan langsung pergi.

Beberapa detik kemudian, Felix baru tersadar. Dengan wajah gelap ia hendak mengejar, namun mobil Tamara sudah melaju kencang di depan matanya.

Suasana hatinya semakin buruk.

Ia yakin Tamara hanya sedang marah. Mereka sudah bersama bertahun-tahun. Tamara sangat cinta dia, mana mungkin benar-benar ingin putus?

Tiba-tiba HP-nya berdering, tarik seluruh perhatiannya kembali.

Lihat nama yang tertera di layar, sorot matanya langsung melembut. Ia angkat telepon dengan suara lembut.

“Jolin, kenapa?”

“Kak Felix, Kak Tamara mau pergi ke pesta itu nggak?”

Suara Jolin terdengar ragu-ragu dari seberang.

“Kalau Kak Tamara nggak mau gantikan aku minta maaf, Keluarga Herlambang pasti nggak akan lepaskan aku.”

Setengah bulan lalu, Jolin terlibat konflik di sebuah pesta. Dalam amarah, ia dorong seseorang ke kolam. Baru setelah itu ia tahu kalau orang itu adalah Yesika Herlambang, putri Keluarga Herlambang yang sejak kecil dijaga ketat karena tubuhnya lemah.

Untungnya, nggak ada yang tahu kalau Jolin-lah pelakunya. Ia masih bisa pakai Tamara sebagai kambing hitam.

Sorot mata Felix menggelap sejenak.

Rasa panas di pipinya ingatkan Felix akan tamparan yang barusan dia dapat.

Ia bahkan belum sempat bicarakan soal pesta itu dengan Tamara, tapi tetap tenangkan Jolin.

“Nggak usah khawatir. Aku akan urus itu. Aku nggak akan biarkan kamu celaka.”

“Kak Felix memang yang terbaik.”

Jolin langsung terdengar gembira.

“Kalau gitu aku mau ikut datang dengan kamu. Aku harus pilih gaun yang bagus.”

Felix mengiyakan semuanya.

Setelah tutup telepon, matanya langsung berubah dingin. Ia telepon asistennya.

“Hentikan semua bantuan untuk panti asuhan.”

Asisten terkejut.

“Pak Felix, panti itu bukannya tempat kamu dan Nona Tamara pertama kali bersama. Bukannya dulu kamu pernah bilang apa pun yang terjadi, bantuan itu nggak boleh dihentikan? Kenapa sekarang ….”

“Lakukan saja sesuai perintahku.”

Felix mengusap pipi yang baru ditampar, sorot matanya semakin gelap. Karena tahu Tamara berasal dari panti asuhan itulah, ia selama ini rela mendanai mereka tiap tahun.

Tapi sekarang, Tamara berani tampar dia. Jelas sekali kalau selama ini dia terlalu manjakan Tamara.

Sudah saatnya Tamara diberi pelajaran. Dia harus tahu, gimana caranya bersikap yang benar!
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 50

    Dengan bantuan kakaknya selama dua hari ini, hampir semua urusan Tamara sudah beres.Soal perusahaan, sebenarnya ia sudah nggak perlu datang lagi.Kalau Fiona mau terus buat keributan, silakan saja, toh sekarang semua itu sudah nggak ada hubungannya lagi dengan dirinya.Wajah Fiona memerah karena marah, giginya terkatup rapat.“Kalau gitu aku akan datang ke rumahmu! Mulai sekarang jangan harap kamu bisa hidup tenang!”Tamara tersenyum tipis. Fiona benar-benar kira ancaman seperti itu bisa bikin dia takut?“Terserah.” Nada suaranya datar, lalu ia berbalik hendak pergi.Fiona menghadangnya.“Perempuan nggak tahu malu! Kalau hari ini kamu nggak mau kasih ganti rugi, jangan harap bisa keluar dari pintu ini!”Tiba-tiba ia tekan dadanya, wajahnya berubah pucat dengan ekspresi kesakitan, seolah benar-benar tahan sakit.“Bibi, kenapa? Bibi, apa penyakit jantungmu kambuh lagi?”“Tamara, jangan keterlaluan! Kamu tahu tubuh Bibi nggak sehat, apa kamu harus buat dia sampai seperti ini baru puas?!”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 49

    “Bibi, pagi-pagi sekali aku keluar kamar sudah nggak lihat kamu, ternyata kamu ada di sini. Tolong jangan tengkar dengan Kak Tamara karena masalah ini. Sebelumnya Bibi sampai harus dirawat di rumah sakit, kami semua sangat khawatir. Kak Felix juga bilang, semua urusan ini akan dia urus. Lagian Kak Felix dan Kak Tamara cuma sedang bertengkar, Bibi jangan sampai marah karena hal ini, yah.”Jolin segera hampiri dan topang tubuh Fiona.Nada bicaranya lembut, wajahnya penuh kepedulian, seolah-olah ia benar-benar gadis yang penurut dan bijaksana.Lihat mereka berdua, wajah Tamara tetap dingin tanpa ekspresi.‘Pagi ini? Jadi sekarang mereka sudah tinggal bersama? Cepat sekali pergerakannya.’Tamara hanya merasa geli.“Jolin, nggak perlu bujuk aku. Meskipun hari ini aku mati di sini, aku tetap nggak akan biarkan dia hidup tenang. Dulu aku perlakukan dia dengan sangat baik, tapi sekarang gimana? Dia sama sekali nggak sisakan jalan mundur untuk aku. Pernah nggak dia pikirkan hubungan kami dulu?”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 48

    Jolin sengaja mendekat ke tubuhnya, tempelkan dirinya ke Felix, berusaha salurkan sedikit kehangatan lewat sentuhan.Namun Felix justru refleks menghindar, tetap jaga jarak di antara mereka.Hati Jolin terasa seperti diremas kuat. Di balik matanya, kilatan tajam melintas.Perempuan sialan itu sudah bertindak sedemikian kejam, namun Felix tetap nggak tega lepaskan dia!Apa di hati Felix masih ada tempat untuk dirinya?Setelah tinggalkan tempat itu, keduanya pulang ke rumah Felix.Di dalam benak Jolin, sebuah rencana perlahan terbentuk.Ada banyak hal yang sebenarnya nggak perlu ia lakukan sendiri, cukup buka mulut, akan selalu ada orang yang maju belain dia....Keesokan paginya.Hari ini Tamara datang ke perusahaan sendirian. Kakaknya datang dari jauh untuk bantuin dia, kemarin juga sudah selesaikan begitu banyak urusan untuknya.Mereka tidur sangat malam jadi ia ingin biarkan kakaknya istirahat lebih lama.Selain itu, ia sudah buat janji ketemu dengan Presiden Grup Herlambang.Setelah

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 47

    Jolin terisak, tangisnya terdengar semakin keras.Di dalam hatinya, kebencian terhadap Tamara makin mengakar.Perempuan sialan itu, tega sekali pakai cara sekotor ini untuk jatuhkan dia, paksa dia sampai ke jalan buntu.Kalau sudah gini, nggak ada seorang pun dari mereka yang pantas hidup tenang!“Jolin, sebenarnya semua ini karena aku. ”Felix berkata lirih penuh rasa bersalah.“Aku yang seret kamu ke dalam masalah ini, maafkan aku. Kalau pada akhirnya kamu nggak bisa dapatkan gelar, aku tetap akan jaga kamu seumur hidup. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”Hati Felix dipenuhi penyesalan.Tangannya terus tepuk punggung Jolin dengan lembut, suaranya penuh rasa sayang.Namun Jolin tetap menangis tersedu-sedu. Dengan suara penuh luka, ia berkata,“Kakak tahu sendiri betapa pentingnya gelar itu buat aku. Sejak awal aku tahu kalau aku salah karena pakai paten Kak Tamara, tapi waktu itu aku benar-benar nggak punya pilihan lain.”Saat itu memang Felix yang kasih ide itu, ambil paten mili

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 46

    Felix terkapar di lantai, kesakitan luar biasa, nggak punya kesempatan untuk balas satu pukulan pun.Thomas sebenarnya sudah lama nggak suka dia.Hari ini kebetulan ada kesempatan, jadi sekalian saja ia lampiaskan semuanya.Namun meski lihat Felix dalam keadaan seburuk itu, amarahnya masih belum benar-benar terlampiaskan.Karena yang terluka selama ini adalah adik perempuannya sendiri. Bagi Thomas, rasa sakit sebesar ini, sama sekali belum seberapa.“Masih mau berkelahi?” tanya Thomas dingin.“Nggak … nggak!”“Tol … tolong lepaskan aku ….”Akhirnya Felix menyerah dan memohon.Kalau ini diteruskan, rasanya nyawanya sendiri bisa melayang di tangan Thomas.Barulah Thomas lepaskan. Ia rapikan dasinya sambil berkata dingin, “Pergi. Cepat minggir. Jangan sampai aku lihat kamu lagi!”Begitu dilepas, Felix langsung merangkak bangkit, wajahnya penuh luka, langkahnya terpincang-pincang saat pergi. Ia bahkan nggak berani noleh, takut Thomas tiba-tiba pukul dia lagi.Setelah sosok Felix menghilang

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 45

    Lihat kakaknya yang begitu buru-buru, Tamara pun nggak nolak.Sebenarnya di dalam hati ia juga gelisah, ia pun ingin segera selesaikan semuanya dan terbebas dari kekacauan ini.“Oke, ayo kita ke perusahaan.”Keduanya pun tiba di gedung perusahaan.Begitu Felix lihat mereka, ia langsung seperti orang gila.Ia lari menuju kantor Tamara dan tendang pintu dengan keras hingga terbuka.“Felix, kamu sakit jiwa yah? Datang-datang bikin keributan lagi!” Suara Tamara terdengar dingin.“Tamara, aku tahu kamu nggak puas dengan aku. Tapi kalau memang ada masalah, hadapi aku langsung! Apa maksudmu main kotor di belakang, sampai Jolin kehilangan gelarnya?! Kenapa dulu aku nggak sadar kalau kamu ternyata sejahat ini? Kamu benar-benar wanita berhati gelap! Sungguh aku buta sejak awal!”Mata Felix membelalak penuh amarah. Api kemarahan membakar di tatapannya, tubuhnya gemetar hebat.Tamara justru merasa puas. Ia tersenyum tipis.“Kalian pakai barang milikku untuk nipu demi dapat gelar, sekarang masih be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status