Share

Bab 5

Author: Nila Lembayung
“Bu Tamara, besok aku datang bantu kamu pindahan.”

Di perjalanan antar Tamara pulang, Lina sudah berkali-kali pastikan kalau Tamara benar-benar ingin putus dengan Felix. Bahkan seluruh bagian perusahaan yang jadi milik Tamara pun akan ia ambil kembali.

Dan karena ia adalah orangnya Tamara, tentu saja Lina akan ikut pergi bersamanya.

Tamara mengangguk pelan.

Setelah lihat mobil Lina menghilang dari pandangannya, Tamara berbalik menuju vila. Baru melangkah dua langkah, HP-nya tiba-tiba berdering.

Nama yang tertera adalah nomor dari pihak panti asuhan.

Begitu sambungan tersambung, suara panik kepala panti langsung terdengar dari seberang,

“Tamara, orang-orang dari Grup Darsuki bilang mereka akan hentikan bantuan untuk panti. Sekarang mereka minta kami bawa anak-anak di rumah sakit untuk pulang. Ini sebenarnya kenapa?”

Panti asuhan. Grup Darsuki.

Hanya dengan dengar dua hal itu berdampingan, Tamara sudah tahu apa yang sedang direncanakan Felix.

Wajahnya langsung mendingin. Ia tahan emosinya lalu berkata, “Bu Direktur, tenang dulu. Aku akan segera urus masalah ini. Nggak usah khawatir.”

Dengar kalimat itu, barulah kepala panti asuhan sedikit merasa lega.

Anak-anak yang dibiayai oleh Grup Darsuki semuanya menderita penyakit genetik bawaan. Alat-alat medis penunjang hidup mereka nggak boleh mati sedetik pun, kalau nggak, nyawa mereka bisa langsung terancam. Dan Felix tahu semua itu.

Setelah tutup telepon, Tamara tanpa ragu langsung tekan nomor yang sudah lama nggak pernah ia hubungi.

“Halo, Kak Thomas.”

Telepon segera tersambung, suara pria yang sangat dikenalnya terdengar.

Tangan Tamara yang genggam HP tiba-tiba mengencang, matanya terasa panas, suaranya bergetar, “Kak ….”

Di seberang sana terdiam dua detik. Lalu suara sinis itu kembali terdengar, “Wah, bukannya ini Nona Besar kita yang pergi kejar kebebasan dan kebahagiaan? Kok tiba-tiba ingat telepon aku? Mana pacarmu yang paling lembut, paling perhatian, dan yang paling kamu cinta itu, Si Felix?”

Tamara menahan sekuat tenaga perasaan sesak di dadanya, tapi suaranya tetap terdengar tercekat, “Aku sudah putus dengan dia. Aku butuh bantuanmu.”

Ia jelaskan singkat soal panti asuhan, sekaligus tegaskan kalau panti asuhan itu adalah tempat ia dulu ditampung setelah diculik saat kecil.

“Aku ngerti. Biar aku yang urus itu.”

Nada bicara Thomas melunak. Meski masih marah atas keputusan Tamara di masa lalu, gimanapun juga Tamara itu tetap adik perempuan yang ia sayangi sejak kecil. Dengar suara tangisnya, mustahil hati Thomas nggak tergerak.

Setelah terdiam sejenak, Thomas lanjut bicara, “Aku tahu kamu rencana mau nikah dengan Paul. Kalau sekarang kamu belum siap, aku bisa bicara dengan Ayah dan Ibu. Tapi kalau dengan Felix, jelas aku nggak setuju. Tamara, kakak nggak akan celakakan kamu.”

Dengar itu, mata Tamara kembali memerah.

“Aku tahu.”

Setelah perasaan perih di dadanya sedikit mereda, ia berusaha bicara dengan tenang,

“Setelah urusan di sini selesai, aku akan pulang. Aku seharusnya sejak awal dengarkan kalian. Felix memang bukan orang yang pantas aku cintai.”

Setelah itu, mereka tutup telepon.

Dua menit kemudian, pesan dari Thomas masuk. Selain kasih tahu bahwa masalah panti asuhan sudah beres, ia juga minta besok Tamara datang ke rumah Keluarga Herlambang mewakili Keluarga Sentosa untuk hadiri acara ulang tahun ke-70 Kakek Keluarga Herlambang. Sekalian jenguk Nona Keluarga Herlambang, yang katanya setelah didorong jatuh ke laut, ia masih belum sadar.

Keluarga Sentosa dan Keluarga Herlambang adalah teman lama, jadi sudah seharusnya datang untuk tunjukkan diri.

Tamara setuju dengan hal itu.

Malam itu, Felix nggak pulang. Tamara malah terima pesan provokatif dari Jolin, lalu tanpa ragu langsung blokir nomornya.

Keesokan harinya, saat Lina datang jemput, Tamara minta diantar dulu ke rumah lama Keluarga Herlambang.

Setelah itu baru Lina bantu pindahkan barang-barang ke rumah barunya.

Begitu turun dari mobil dan hendak masuk ke halaman rumah Keluarga Herlambang, tiba-tiba lengannya ditarik keras dari belakang hingga ia hampir terjatuh.

“Apa-apaan ini?!”

Tamara menoleh, dan begitu lihat Felix, sorot matanya langsung membeku.

Felix menatap wajah Tamara yang begitu familiar namun terasa asing. Di dadanya muncul perasaan panik, seolah sesuatu yang sangat penting sedang perlahan lolos dari genggamannya.

“Sepertinya kamu sudah sadar kalau kamu salah.”

Tamara meliriknya dengan tatapan aneh.

Ia malas buang waktu, langsung melangkah masuk. Hari ini ia datang sebagai perwakilan Keluarga Sentosa.

“Kak Tamara.”

Jolin tiba-tiba menghadang di depannya, tersenyum manis dengan wajah polos.

“Terima kasih yah sudah mau datang gantikan aku untuk minta maaf. Lagipula secara nama kamu masih pacarnya Kak Felix, Keluarga Herlambang pasti nggak akan berani macam-macam dengan kamu.”

Hati Tamara tiba-tiba merasa ada yang nggak beres.

Pandangan matanya berpindah dari Jolin ke Felix, dan akhirnya ia ngerti, mereka salah paham.

“Aku datang ke sini bukan karena kalian. Urusan kalian nggak ada hubungannya denganku.”

Senyumnya semakin dingin.

Jolin jelas nggak percaya. Ia turunkan suara, mendekat ke telinga Tamara dengan nada pamer, “Aku bilang yah, kamu nggak akan pernah bisa kalahkan aku. Lihat saja, meski aku yang dorong Yesika ke laut, Kak Felix tetap akan lindungi aku dan suruh kamu gantikan aku. Di hatinya, kamu itu nggak ada artinya sama sekali.”

Wajah Tamara langsung menggelap. Tatapannya berubah sedingin es.

“Kamu yang dorong Yesika?”

Mata Jolin justru pancarkan kesombongan.

“Jelas saja. Salah dia sendiri berani rebut sesuatu dari aku. Dia pantas!”

Detik berikutnya, rambut Jolin tiba-tiba dijambak keras.

Dua tamparan mendarat dengan brutal.

Rasa perih menyengat menyebar. Begitu sadar apa yang terjadi, Jolin menjerit kaget.

“Tamara!”

Felix segera tahan pergelangan tangan Tamara, wajahnya muram.

“Kamu sudah gila yah?! Lepaskan Jolin!”

Jolin yang masih tertegun langsung nangis sambil tutup wajahnya.

“Kak Felix, aku cuma ingin tunjukkan rasa peduli ke Kak Tamara, tapi dia malah pukul aku. Gimana bisa dia bisa pukul aku kayak gitu?!”

Tamara tarik tangannya, menatap Felix sambil tersenyum tipis.

“Kenapa? Kamu mau balas pukul aku demi dia?”

Felix menatapnya dengan perasaan asing. Dulu Tamara nggak pernah bicara seperti ini. Siapa yang kasih dia keberanian sebesar ini?

Felix hendak bicara lagi, tapi Tamara potong lebih dulu. “Aku nggak pernah cari masalah dengan kalian. Jadi tolong jauhi aku. Soal kamu ingin aku gantikan dia untuk minta maaf, nggak usah mimpi!”

Senyumnya lenyap, sorot matanya sedingin pisau.

“Kita sudah putus, Felix. Mantan yang baik itu seharusnya seperti orang mati, nggak pernah muncul lagi.”

Setelah itu, Tamara tinggalkan mereka berdua dan langsung masuk ke dalam rumah Keluarga Herlambang.

Wajah Felix menghitam. Jolin gemetar menahan marah, tapi tetap berpura-pura lembut.

“Kak Felix, ini semua salahku. Kalau bukan karena aku, Kak Tamara nggak akan marah begini. Aku akan langsung pergi minta maaf ke Keluarga Herlambang, aku nggak ingin ngerepotin kamu.”

“Nggak usah bicara omong kosong.”

Felix genggam pergelangan tangan Jolin, suaranya melunak.

“Biar aku yang urus.”

Ia menatap ke arah pintu tempat Tamara menghilang, alisnya berkerut tanpa sadar.

‘Sejak kapan dia punya sifat keras kepala seperti ini?’

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 50

    Dengan bantuan kakaknya selama dua hari ini, hampir semua urusan Tamara sudah beres.Soal perusahaan, sebenarnya ia sudah nggak perlu datang lagi.Kalau Fiona mau terus buat keributan, silakan saja, toh sekarang semua itu sudah nggak ada hubungannya lagi dengan dirinya.Wajah Fiona memerah karena marah, giginya terkatup rapat.“Kalau gitu aku akan datang ke rumahmu! Mulai sekarang jangan harap kamu bisa hidup tenang!”Tamara tersenyum tipis. Fiona benar-benar kira ancaman seperti itu bisa bikin dia takut?“Terserah.” Nada suaranya datar, lalu ia berbalik hendak pergi.Fiona menghadangnya.“Perempuan nggak tahu malu! Kalau hari ini kamu nggak mau kasih ganti rugi, jangan harap bisa keluar dari pintu ini!”Tiba-tiba ia tekan dadanya, wajahnya berubah pucat dengan ekspresi kesakitan, seolah benar-benar tahan sakit.“Bibi, kenapa? Bibi, apa penyakit jantungmu kambuh lagi?”“Tamara, jangan keterlaluan! Kamu tahu tubuh Bibi nggak sehat, apa kamu harus buat dia sampai seperti ini baru puas?!”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 49

    “Bibi, pagi-pagi sekali aku keluar kamar sudah nggak lihat kamu, ternyata kamu ada di sini. Tolong jangan tengkar dengan Kak Tamara karena masalah ini. Sebelumnya Bibi sampai harus dirawat di rumah sakit, kami semua sangat khawatir. Kak Felix juga bilang, semua urusan ini akan dia urus. Lagian Kak Felix dan Kak Tamara cuma sedang bertengkar, Bibi jangan sampai marah karena hal ini, yah.”Jolin segera hampiri dan topang tubuh Fiona.Nada bicaranya lembut, wajahnya penuh kepedulian, seolah-olah ia benar-benar gadis yang penurut dan bijaksana.Lihat mereka berdua, wajah Tamara tetap dingin tanpa ekspresi.‘Pagi ini? Jadi sekarang mereka sudah tinggal bersama? Cepat sekali pergerakannya.’Tamara hanya merasa geli.“Jolin, nggak perlu bujuk aku. Meskipun hari ini aku mati di sini, aku tetap nggak akan biarkan dia hidup tenang. Dulu aku perlakukan dia dengan sangat baik, tapi sekarang gimana? Dia sama sekali nggak sisakan jalan mundur untuk aku. Pernah nggak dia pikirkan hubungan kami dulu?”

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 48

    Jolin sengaja mendekat ke tubuhnya, tempelkan dirinya ke Felix, berusaha salurkan sedikit kehangatan lewat sentuhan.Namun Felix justru refleks menghindar, tetap jaga jarak di antara mereka.Hati Jolin terasa seperti diremas kuat. Di balik matanya, kilatan tajam melintas.Perempuan sialan itu sudah bertindak sedemikian kejam, namun Felix tetap nggak tega lepaskan dia!Apa di hati Felix masih ada tempat untuk dirinya?Setelah tinggalkan tempat itu, keduanya pulang ke rumah Felix.Di dalam benak Jolin, sebuah rencana perlahan terbentuk.Ada banyak hal yang sebenarnya nggak perlu ia lakukan sendiri, cukup buka mulut, akan selalu ada orang yang maju belain dia....Keesokan paginya.Hari ini Tamara datang ke perusahaan sendirian. Kakaknya datang dari jauh untuk bantuin dia, kemarin juga sudah selesaikan begitu banyak urusan untuknya.Mereka tidur sangat malam jadi ia ingin biarkan kakaknya istirahat lebih lama.Selain itu, ia sudah buat janji ketemu dengan Presiden Grup Herlambang.Setelah

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 47

    Jolin terisak, tangisnya terdengar semakin keras.Di dalam hatinya, kebencian terhadap Tamara makin mengakar.Perempuan sialan itu, tega sekali pakai cara sekotor ini untuk jatuhkan dia, paksa dia sampai ke jalan buntu.Kalau sudah gini, nggak ada seorang pun dari mereka yang pantas hidup tenang!“Jolin, sebenarnya semua ini karena aku. ”Felix berkata lirih penuh rasa bersalah.“Aku yang seret kamu ke dalam masalah ini, maafkan aku. Kalau pada akhirnya kamu nggak bisa dapatkan gelar, aku tetap akan jaga kamu seumur hidup. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali.”Hati Felix dipenuhi penyesalan.Tangannya terus tepuk punggung Jolin dengan lembut, suaranya penuh rasa sayang.Namun Jolin tetap menangis tersedu-sedu. Dengan suara penuh luka, ia berkata,“Kakak tahu sendiri betapa pentingnya gelar itu buat aku. Sejak awal aku tahu kalau aku salah karena pakai paten Kak Tamara, tapi waktu itu aku benar-benar nggak punya pilihan lain.”Saat itu memang Felix yang kasih ide itu, ambil paten mili

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 46

    Felix terkapar di lantai, kesakitan luar biasa, nggak punya kesempatan untuk balas satu pukulan pun.Thomas sebenarnya sudah lama nggak suka dia.Hari ini kebetulan ada kesempatan, jadi sekalian saja ia lampiaskan semuanya.Namun meski lihat Felix dalam keadaan seburuk itu, amarahnya masih belum benar-benar terlampiaskan.Karena yang terluka selama ini adalah adik perempuannya sendiri. Bagi Thomas, rasa sakit sebesar ini, sama sekali belum seberapa.“Masih mau berkelahi?” tanya Thomas dingin.“Nggak … nggak!”“Tol … tolong lepaskan aku ….”Akhirnya Felix menyerah dan memohon.Kalau ini diteruskan, rasanya nyawanya sendiri bisa melayang di tangan Thomas.Barulah Thomas lepaskan. Ia rapikan dasinya sambil berkata dingin, “Pergi. Cepat minggir. Jangan sampai aku lihat kamu lagi!”Begitu dilepas, Felix langsung merangkak bangkit, wajahnya penuh luka, langkahnya terpincang-pincang saat pergi. Ia bahkan nggak berani noleh, takut Thomas tiba-tiba pukul dia lagi.Setelah sosok Felix menghilang

  • Pak Paul, Menikahlah Denganku!   Bab 45

    Lihat kakaknya yang begitu buru-buru, Tamara pun nggak nolak.Sebenarnya di dalam hati ia juga gelisah, ia pun ingin segera selesaikan semuanya dan terbebas dari kekacauan ini.“Oke, ayo kita ke perusahaan.”Keduanya pun tiba di gedung perusahaan.Begitu Felix lihat mereka, ia langsung seperti orang gila.Ia lari menuju kantor Tamara dan tendang pintu dengan keras hingga terbuka.“Felix, kamu sakit jiwa yah? Datang-datang bikin keributan lagi!” Suara Tamara terdengar dingin.“Tamara, aku tahu kamu nggak puas dengan aku. Tapi kalau memang ada masalah, hadapi aku langsung! Apa maksudmu main kotor di belakang, sampai Jolin kehilangan gelarnya?! Kenapa dulu aku nggak sadar kalau kamu ternyata sejahat ini? Kamu benar-benar wanita berhati gelap! Sungguh aku buta sejak awal!”Mata Felix membelalak penuh amarah. Api kemarahan membakar di tatapannya, tubuhnya gemetar hebat.Tamara justru merasa puas. Ia tersenyum tipis.“Kalian pakai barang milikku untuk nipu demi dapat gelar, sekarang masih be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status