Share

Bab 133. Menagih Janji

Penulis: Sweety
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-07 17:00:35

Setelah menyelesaikan aktivitas yang tersisa di St. Moritz, akhirnya rombongan RCA Investments tiba di bandara untuk penerbangan kembali ke tanah air.

Vino berjalan paling depan, memimpin mereka… tapi bukan ke arah tempat check-in.

Melainkan ke lorong samping bertanda Private Aviation yang lebih sepi.

Karpetnya lebih tebal. Kacanya lebih bersih. Bahkan aromanya beda—lebih eksklusif.

David berhenti. "Eh… kita mau ke mana ya?"

Yang lain ikut melam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 186. Meredam Kecemburuan Reon

    Tanpa protes lagi, tangan Ellena akhirnya naik ke tengkuk Reon, jemarinya menyelip di antara rambut lurus Reon sebelum dia menariknya mendekat. Ellena lebih dulu meraup bibir Reon, lalu melumatnya dengan dalam. Reon merespons ciuman istrinya tanpa ragu. Tangannya bergerak di pinggang Ellena, menahannya agar tetap dekat.Di dalam mobil yang terparkir itu, cahaya senja menyelinap melalui kaca jendela, memantul lembut di jok kulit dan bayangan tubuh mereka yang saling merapat."Mhmmm… Elle…""Reon…"Mata mereka sama-sama terpejam, menikmati setiap hisapan kuat di bibir mereka yang saling bertaut. Beberapa saat kemudian, Ellena melepaskan ciumannya. Dahi mereka tidak bersentuhan, tapi ujung hidung keduanya yang memerah menyatu. Di sela-sela napas mereka yang memburu, Ellena menggeser tubuhnya. Dengan luwes dia bertukar posisi dengan Reon sambil menanggalkan jas suaminya. Dalam beberapa detik, Ellena berada di atas Reon, k

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 185. Urusan Mendadak

    Langit perlahan dikuasai oleh warga oranye dan ungu, lampu-lampu gedung mulai menyala, pembahasan antara Ellena dan Areksa juga sudah mendekati ujung. Meeting mereka sebenarnya berjalan cukup lancar. Namun suasananya tidak pernah benar-benar santai. Karena beberapa meter dari sana… ada sepasang mata yang sesekali memperhatikan. Siapa lagi kalau bukan Reon. Kalau saja suami Ellena tidak ada di restoran itu, Areksa sudah pasti menawarkan diri mengantar Ellena pulang. Setidaknya itu rencananya sejak awal.Tapi kehadiran Reon mengacaukan segalanya.Ketika pembicaraan mereka akhirnya selesai, Areksa mengangkat tangan hendak meminta bill. Seorang pelayan pun mendekat dengan senyum sopan."Maaf, Pak. Tagihan meja ini sudah dibayarkan," ucap pelayan itu. Areksa mengernyit. "Sudah dibayar?"Pelayan itu menoleh sekilas ke arah meja Reon. "Bapak di meja sana yang membayarnya, Pak."Tatapan Areksa langsung mengikuti arah

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 184. Kehadiran Reon

    Mengajak suaminya ke meeting yang berkaitan dengan pekerjaan mungkin terdengar tidak profesional. Tapi, Ellena punya alasan tersendiri. Saat masih kuliah desain, Areksa kerap kali merencanakan sesuatu yang bisa membuat Ellena dan laki-laki itu berduaan. Hanya saja, Ellena juga punya cara untuk menghindar. Saat dihubungi Areksa untuk meeting di luar dengan iming-iming membahas konsep kolaborasi bersama tim dari Star Games, Ellena sudah punya firasat kalau hanya Areksa yang akan datang. Dan, dugaan Ellena benar. Di meja sebuah restoran, terlihat Areksa yang duduk sendirian sambil berkutat dengan hapenya. Ketika melihat Ellena, dia melambaikan tangan sambil tersenyum tipis. Ellena mendekat dengan senyum kaku sambil tetap menjaga ekspresi profesionalnya. Dia kemudian duduk di seberang Areksa. "Akhirnya kamu datang, Ellena," kata Areksa. "Iya, Pak Areksa," balas Ellena. "Oh iya, yang lain belum datang ya, Pak?" tanyany

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 183. Memberi Pelajaran

    Bugh! Pukulan keras Reon mendarat di wajah seorang laki-laki bernama Erlangga. Kemeja putihnya yang selalu rapi kini kusut di bagian lengan. Mansetnya tergulung sampai siku. Salah satu buku jari Reon memerah setelah beberapa pukulan terakhir. Erlangga kini tergeletak setengah bersandar pada tumpukan kardus dalam gudang yang sunyi. Lampu neon redup yang menggantung di langit-langit tinggi memantul di wajahnya yang sudah babak belur—bibir pecah dan sudut matanya menghitam. Napas laki-laki itu terengah-engah.Tak jauh dari mereka, Vino berdiri di sudut ruangan dengan punggung lurus dan wajah tetap datar seperti patung. Dia tidak berusaha menghentikan apa pun.Sementara itu, Reon mencengkeram kerah Erlangga di lantai dan menariknya sedikit lebih tegak."Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Reon dengan suaranya yang tajam. Erlangga terbatuk. Darah tipis menetes dari sudut bibirnya. "Maksud Ba—pak apa? Sa—ya gak ngerti kenapa Bapak tiba

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 182. Ulah Sherine?

    Cahaya fajar mulai menyelinap lewat celah tirai, menyapa lembut lantai kamar. Udara terasa lebih tenang setelah malam panjang yang membara oleh gairah. Di atas ranjang yang seprainya sedikit kusut, Ellena dan Reon masih terdiam, napas mereka perlahan kembali teratur.Ellena berbaring menyamping dalam selimut, rambutnya terurai di atas bantal. Wajahnya terlihat lelah, tapi sudah tidak tegang. Ada sisa kemerahan di sudut matanya, namun ekspresinya jauh lebih lembut.Reon bangkit dari kasur, lalu mengenakan celananya. Tanpa banyak kata, dia merapikan apa yang perlu dirapikan. Setelah memastikan semuanya beres, lelaki itu berjalan ke meja kecil dan menuangkan segelas air.Reon kembali ke sisi ranjang dan menyerahkan gelas itu pada Ellena"Minum dulu, sayang," ujarnya pelan sembari mengulas senyum tipis. "Kamu pasti haus."Ellena menerima gelas tersebut, jari-jarinya sempat bersentuhan dengan tangan suaminya. "Makasih, sayang." Dia m

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 181. Sampai Matahari Muncul

    Reon menarik pinggang istrinya seraya menundukkan kepala untuk melihat lebih dekat wajah cantik Ellena. "Jadi kamu cemburu?"Ellena memalingkan wajah sedikit, bibirnya merapat.Reon semakin  mendekatkan wajahnya. Tangan laki-laki juga tidak diam saja, melainkan bergerak lembut meniti pinggang ramping Ellena. "Kejadian itu ada baiknya juga, akhirnya aku bisa lihat kamu cemburu secara terang-terangan."Ellena memukul dada bidang Reon. "Please, Elle, lain kali jangan abaikan chat atau telepon aku, aku khawatir, sayang," ujar Reon. "Iya, sayang.""Pokoknya kalau ada sesuatu kita harus langsung ngomong, jangan kayak kemarin sampai kita salah paham dan bertengkar kayak tadi."Ellena mengangguk. Mata mereka kemudian bertemu dengan dalam, napas mereka pun bercampur. Dan jantung mereka bersahutan. Lantas bibir mereka sama-sama mendekat hingga akhirnya menyatu dalam ritme yang lambat tapi penuh perasaan.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status