MasukReon telah menetapkan pilihan pada gaun satin berwarna dusty rose untuk Ellena kenakan. Dia menunggu sekretarisnya itu keluar dari balik tirai.
Lelaki dengan setelan jas gelap itu duduk diam di sofa sambil menyilangkan kaki, punggungnya tegak, satu tangannya bertumpu santai di sandaran. Wajahnya tetap dingin—tatapan datar, rahang tegas dan aura mencekam yang membuat para staf di sekitar berdiri diam seperti patung. Begitu menyadari kemunculan Ellena di hadapannya, mata tajam Reon yang fokus pada layar ponsel teralihkan. Pandangannya naik. Untuk sepersekian detik, Reon lupa berkedip. Gaun yang dipakai Ellena jatuh sempurna di tubuh sekretarisnya itu. Kainnya membingkai siluet ramping yang sulit diabaikan. Iris Reon menyapu cepat, nyaris dingin seperti biasanya, tetapi sukar rasanya tidak berhenti pada lekuk bahu Ellena. Garis halus selangka itu dulu jadi salah satu persinggahan favorit bibir Reon saat memadu kasih dengan mantan kekasihnya. Dada Reon menegang sesaat, tapi tidak ada yang berganti dari ekspresi dingin pria itu. Lantas dia beranjak cepat setelah menghela napas kecil. Tangan Reon kemudian merampas salah satu mantel bulu berwarna putih dari standing rack. "Pakai ini," Reon melemparkan mantel tersebut seenaknya dan berjalan begitu saja menuju pintu keluar. Tidak peduli bagaimana Ellena hampir terjatuh ketika menangkap mantel itu. Suara ketukan sepatu Reon semakin menjauh, samar dan mulai menghilang. Ellena buru-buru menyusul bos galaknya. Selanjutnya, Reon dan Ellena berada di jok belakang sebuah Bentley yang melaju pelan. Duduk bersebelahan dengan kesibukan masing-masing. Reon dengan tabletnya, sementara Ellena dengan ponselnya. Gadis itu menanti update kabar dari Bu Tari mengenai operasi neneknya. "Kamu sudah paham tugas kamu malam ini, kan?" sahut Reon datar. Lelaki itu menyerahkan tabletnya pada Ellena. Sang sekretaris menerima benda pipih itu dan mendekapnya dengan satu tangan. "Iya, Pak, saya sudah paham, saya harus jadi tunangan manis Anda dan menarik perhatian Graciella agar mau merebut Anda dari saya." "Hmm pintar," ujar Reon. Ellena tercekat mendengar kata-kata itu keluar sendiri dari mulut Reon. Dia benar-benar hanya dijadikan mainan oleh mantan kekasihnya itu. Tiba-tiba saja— Di tengah lamunan Ellena, mobil berhenti mendadak, tubuh gadis itu terdorong ke depan. Tablet juga ponsel di tangan Ellena terlepas dari genggamannya, jatuh ke bawah kursi. "Maaf, Tuan Muda," sahut sopir di depan, "ada orang yang tiba-tiba menyeberang." "Ya." Sahutnya datar, sudut mata Reon melirik ke Ellena yang membuka seat belt dengan susah payah. Sebelum Ellena sempat mencondongkan tubuhnya meraih tablet dan ponsel di bawah, Reon sudah lebih dulu menunduk dan mengulurkan lengan panjangnya. Bola mata Ellena membola. Dia bisa merasakan bahu Reon menyentuh pahanya dan pipi bosnya hampir menempel di lutut Ellena. Seberkas masa lalu menghantam tiba-tiba membentur pikiran Ellena. Saat Reon membuatnya menggelinjang dan merasakan sensasi asing yang nikmat kala bibir sang mantan bermain di inti tubuhnya. Ah, Ellena benci pikiran itu. Dia mencengkram kain gaunnya erat lalu memejamkan mata sekilas agar bayangan itu hilang. Dia juga berharap momen ini segera selesai. Sepertinya, Ellena perlu mengingatkan diri sendiri kalau hubungannya dan Reon sudah lama berakhir. Dan, sebentar lagi dia harus jadi alat Reon untuk memancing tambatan hati baru mantan kekasihnya. "Tablet ini berisi data proyek milyaran, Elle," Reon bersuara lagi. Suara beratnya begitu sinis. "Kamu mau nambah pinjaman kalau sampai tabletnya rusak?" Ellena menerima tablet dan ponselnya sendiri dari Reon lalu menunduk sedikit ke arah bosnya. "Maaf, Pak, saya akan lebih berhati-hati lagi," katanya pelan. Reon kembali bersandar setelah memasang seat belt. Tanpa menoleh dia memerintahkan Ellena. "Buka folder saya di tablet." Ellena bengong sepersekian detik. Ternyata Reon sudah mengklaim Graciella itu sebagai istrinya di masa depan. "Hello, Elle?" celetuk Reon. "Kamu dengerin gak?" "O–oh?" Ellena cepat-cepat mengusap layar benda pipih itu. "Iya, Pak, saya dengar kok." "Kamu pahami semua tentang dia dalam 30 menit," tegas Reon. "Foto Graciella ada dalam folder itu juga." "Baik, Pak." Ellena meletakkan ponselnya di pangkuan. Tatapan gadis itu fokus ke layar tablet. Tidak salah Reon jatuh hati pada Graciella. Gadis itu sangat cantik, kulitnya bening, tubuhnya terbentuk sempurna. Dia juga bukan dari kalangan biasa saja. Seorang anak menteri. Punya bisnis fashion dengan brand sendiri. Graciella itu… setara dengan Reon. Tidak seperti Ellena yang bagai kerak bumi dan langit ke tujuh jika bersanding dengan Reon. Oh Tuhan… tapi kenapa rasanya sesak. Genggaman Ellena rasanya mau lepas dari tablet meski mobil tidak berhenti tiba-tiba seperti tadi. Tak lama kemudian, Ellena dan Reon sudah berada di tengah gala yang diadakan Menteri IPM. Lengan mereka bertaut dan sejak tadi bisik-bisik para tamu tertuju pada mereka. Reon tetap tenang, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun selain kepercayaan diri yang dingin. Tanpa disadari siapapun, pandangan Reon terangkat pelan ke lantai atas, ke balkon yang menghadap langsung ke ballroom. Ada Graciella di sana. Tatapan mereka bertemu sekilas. Tidak ada senyum, tidak ada anggukan. Hanya pengertian yang sunyi, singkat dan penuh makna. Reon kembali menatap ke depan, menyesap minuman dalam gelas tinggi di tangannya, seolah momen itu tidak pernah terjadi. Di sisi lengan kekar Reon, mata berbinar Ellena tidak bisa berhenti bergerak. Dia terpukau melihat semua desain perhiasan yang dikenakan para tamu wanita. "Elle?" gumam Reon memanggil sekretarisnya yang tampak tidak fokus. "…" Tangan Reon akhirnya pindah ke pinggang ramping Ellena dan menariknya semakin menempel ke tubuh lelaki itu. Ellena tersentak. Dia mendongak cepat. Tatapan tajam Reon menyambutnya. "O–oh? Iya, Pak?" Ellena menata napasnya. Dia sadar kalau sempat terditraksi. "Kamu bisa fokus gak?" Reon menundukkan pandangannya, menatap Ellena. Bibirnya terangkat sedikit sambil tangan Reon mengelus pipi Ellena, seolah menunjukkan keintiman mereka. "Maaf, Pak Reon." Ellena menghela napas ringan. Bibirnya tersungging, menciptakan senyum manis. Lantas jemari lentiknya naik meraih dasi Reon dan merapikan posisinya, berlagak seperti seorang pasangan yang penuh perhatian. "Kalau begitu lakukan tugas kamu!" titah Reon. "Baik, Pak." "Kamu sudah dapatkan posisi Graciella di mana?" tanya Reon, memandangi Ellena lekat-lekat. Ellena menyapu ballroom dengan hati-hati sambil menjaga jarak intimnya dengan Reon. Setelah itu, dia mengelus kedua bahu bidang Reon di balik jas, sengaja memperlihatkan cincin di jari manisnya. "Dia ada di lantai atas, Pak." Wajah Ellena mendongak sedikit, menahan tatapannya pada Reon yang matanya tidak lepas dari Ellena juga. Seketika, Ellena merasakan ada sirine yang berbunyi di dadanya. Wajah Reon begitu dekat, dia bisa merasakan napas mantan kekasihnya.Setelah belasan jam penerbangan dari Singapura, Ellena dan ketiga manajemen senior RCA Investments akhirnya tiba di bandara Zurich. Pesawat mereka mendarat sekitar pukul enam pagi. Langit masih kelabu kebiruan, matahari baru merangkak naik di balik siluet pegunungan Alpen dan lampu runaway masih menyala kuning pucat, memantul di lapisan salju tipis. Itu pertama kalinya juga bagi Ellena melihat salju. Bukan dari layar ataupun film, tetapi salju asli. Begitu pintu pesawat dibuka, udara musim dingin langsung menyergap tajam, kering dan menggigit. Napas yang keluar dari hidung dan mulut berubah jadi uap putih. Ellena refleks memeluk mantel tebalnya lebih rapat.Tiga manajemen senior di depannya sudah terlihat siap seperti mau pemotretan majalah bisnis.Melinda—Wakil Direktur Keuangan mengenakan mantel wol panjang, turtleneck hitam dan boots kulit ramping. Rambutnya rapi dengan makeup tipis profesional. Kiandra—Wakil CIO memakai coat abu-abu gelap tailored fit, syal kasmir, koper kecil
Awalnya, Ellena masih belum percaya kalau namanya masuk list untuk ikut perjalanan dinas. Bahkan saat Laura sudah mengirimkan detailnya via email, Ellena juga belum yakin. Bisa saja namanya tiba-tiba diganti untuk beberapa hari ke depan. Tapi, hari itu… saat dia berdiri di lantai bandara, Ellena merasa jantungnya berpacu kuat menyadari bahwa dia benar-benar akan keluar negeri. Ellena bahkan belum pernah naik pesawat sekali pun. Baginya, bandara cuma tempat yang selama ini dilihat dari drama Korea atau vlog orang lain. Tapi sekarang, dia berada di tengah suara pengumuman penerbangan yang bersahut-sahutan, koper berderak dan orang-orang yang berlalu-lalang dengan jas mahal dan paspor di tangan.Ellena menelan saliva sembari menguatkan genggaman pada tiket pesawatnya. Udara dingin AC menyapu wajahnya yang sedikit… pucat—mungkin karena ini akan jadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Berbagai pikiran negatif perlahan menyusup di pikiran
Ellena terlihat sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak meraup bibir Reon. Bagaimana tidak? Jarak mereka hanya terpisah beberapa inci dan Reon tidak berhenti menggodanya tipis-tipis. Untung, pertahanan Ellena tidak rapuh. Keraguan masih jadi benteng tertinggi untuk menerima ajakan balikan dengan Reon meski semua kesalahpahaman mereka telah usai. "Pak Reon… saya harus antarkan dokumen ini ke Kak Laura," Ellena menatap Reon serius. Lelaki itu mengangkat alisnya sekilas. "Kamu boleh pergi, kalau kamu gak bicara formal sama aku saat lagi berduaan begini."Ellena menghela napas panjang. Ya, Dareon Sankara harus dituruti kemauannya. "Reon… tolong minggir, aku mau keluar dan bawa dokumen ini ke Kak Laura," kata Ellena dengan tegas. Reon menyeringai lembut, sementara itu Ellena segera keluar dari dominasi tubuh Reon.Setelah Ellena melewati pintu, gadis itu akhirnya bisa bernapas lega. Dia lanjut melangkah menuju lift, membawa dokumen di tangannya. Saat jam makan siang, Ellena dan
Malam semakin larut, semua tamu sudah pulang, menyisakan kesunyian seperti biasa di unit apartemen itu. Mata Ellena tidak kunjung tertutup dan kesadarannya masih masih melingkupi. Gadis itu akhirnya bangun, turun dari ranjang dan melangkah ke meja kerja di sisi kamar. Selanjutnya, dia meraih buku sketsa serta kotak pensil warna yang merupakan kado dari Reon. Lampu nakas menyala hangat dengan memantulkan cahaya kekuningan di dinding krem. Ellena kemudian duduk bersandar di sisi kasur dengan lutut ditekuk di depan dada sambil meletakkan buku sketsa di atasnya. Sampul buku sketsa itu tebal, warna biru muda, teksturnya seperti kulit asli. Saat dibuka, kertasnya halus dan berat—bukan kertas biasa. Jenis yang membuat orang takut salah coret.Jemari Ellena mengusap halaman pertama pelan, hampir seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.Senyum kecil terbit di bibirnya sebelum dia mulai menggerakkan pensil di tangannya. Perlahan
Ellena menelan saliva, pupilnya agak bergetar saat memandang Reon tepat di bola mata hitam lelaki itu. Dia kemudian melangkah melewati Reon. "Bukan begitu… Reon, aku sekarang… mau jalanin aja apa yang ada."Reon menoleh sebentar dari balik bahu lalu akhirnya berbalik. Ellena lalu merendahkan badan untuk menyimpan barang belanjaannya di dekat lemari. "Soal ajakan kamu untuk balikan…," dia meluruskan punggung, "aku gak nolak, tapi aku juga belum bisa bilang iya, Reon.""Kenapa?" Reon mendekat, mengiris jarak di antara mereka saat Ellena memutar tubuh menghadap Reon. "Aku sudah mengakui kesalahan aku di fun day dan Highmark, Elle," sambung lelaki itu. "Karena aku masih butuh waktu, Reon. Bukannya kamu bilang kamu mau nunggu."Reon menunduk kala jarak mereka sisa satu jengkal, sementara Ellena harus mendongak karena perbedaan tinggi mereka. "Tapi kamu kasih kesempatan untuk laki-laki lain dekat sama kamu, contohnya sama
Tatapan Ellena terpaku pada Reon, kemudian dia menggeleng, "aku bisa sendiri.""Go on, then," kata Reon dengan nada dalamnya. Jemari Ellena menekan salah satu bagian kotak hingga kertas yang melapisi bagian atasnya tersobek. Gadis itu meraih sebuah gulungan kertas dari dalam sana. "Nomor… delapan," ucap Ellena. "Nomor delapan! Kado nomor delapan mana?!" teriak Vino semangat.Astra langsung lari ke troli, mengambil kado besar berpita. "Ini, Kak," ujar gadis remaja itu, menyerahkan kotak pada Ellena. "Uwwww, itu kado dari aku," kata Graciella tersenyum lebar. Semuanya bertepuk tangan lagi, sementara Ellena mulai melepaskan bungkus kado kemudian membuka penutup kotak. Mata Ellena melebar ketika mengeluarkan sebuah tas limited edition yang dia kisar seharga ratusan juta dari kotak. "Gracy… ini…""Eitsss… gak boleh ditolak ya, Ellena, aku tahu isi pikiran kamu apa sekarang."Ellena t







