Share

Bab 8

Author: Sweety
last update Last Updated: 2025-12-16 14:43:15

"Dia melihat ke arah kita, Pak" bisiknya. "Sepertinya… Nona Graciella sudah mulai tertarik."

"Bagus," Reon semakin menunduk. Menahan jarak wajah mereka lama. Lantas dia semakin kokoh melingkarkan lengannya pinggang sekretarisnya. 

Sementara itu, penciuman Ellena semakin penuh dengan aroma parfum maskulin Reon. Dia juga sesekali merasakan ibu jari bosnya menekan dengan elusan samar. 

Melihat bibir Reon menciptakan gejolak dalam dada Ellena yang sudah lama terpendam. Dia menggigit bibir dalamnya sambil menata napas, lalu menunduk. 

Oh, Ellena sadar. Reon sudah punya tambatan hati lain dan Ellena sedang menjalankan peran untuk menarik perhatian perempuan itu. 

Tatapannya kini tertuju pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Ya, Ellena tidak boleh terbawa perasaan. Cincin itu hanya sekadar aksesoris untuk sandiwara mereka. 

Lalu, dari arah samping, Graciella muncul. Perempuan itu mendekat dengan langkah anggun yang pelan. 

"Saya tidak menyangka ternyata seorang Dareon Sankara Adinata akhirnya bertunangan," ucap Graciella.

Reon menoleh sedikit, lalu mengarahkan tubuh tingginya ke arah Graciella. Ellena otomatis ikut mengikuti.

"Ya, begitulah yang terjadi, Nona Graciella," sahut Reon, menunduk pada Ellena. Gadis itu spontan tersenyum. Dia menatap Reon lalu Graciella. 

"Perkenalkan, saya Ellena, tunangan Reon," kata Ellena, mengulurkan tangan. 

Graciella mengulas senyum tipis. "Cincin yang bagus, Nona Ellena." Wanita itu meraih uluran tangan Ellena. "Salam kenal, saya Graciella."

Detik berikutnya, mata Graciella memicing. "Tapi saya heran, kenapa belum ada satupun berita mengenai pertunangan kalian?"

Ellena mendadak panik. Mau jawab apa dia? Reon tidak briefing soal itu. Untung saja bosnya yang mengambil alih pertanyaan itu. "Kami memang baru tunangan secara privat, saya melamar Ellena satu minggu yang lalu di Adinata Samudra," jawab Reon.

"Wow, yatch… sunsweet… and ring…" tangan lembut Graciella menyentuh lengan Ellena. "Kamu sangat beruntung Ellena."

Ellena hanya bisa tersenyum manis seolah membenarkan semua perkataan Reon. "Terima kasih, Nona Graciella."

"Hmm… saya sedikit penasaran…" Graciella mendekat, "apa kamu bisa cerita bagaimana Tuan Muda Reon melamar kamu, Nona Ellena?"

Ellena ingin kabur saja rasanya. Hatinya menjerit minta tolong. Tatapan Graciella penuh selidik. Mungkinkah wanita ini tahu kalau Ellena dan Reon hanya pura-pura tunangan? 

Namun, sebelum sempat menjawab apa-apa, bibir Ellena sudah dibungkam oleh bibir Reon. Bahu gadis itu menegang, pupilnya membesar. 

Sementara itu, kedua alis Graciella menukik. Dia terkejut. Sama halnya dengan tamu-tamu lain. Tapi, satu sudut bibirnya terangkat tipis, samar-samar sampai tidak ada yang menyadari. 

Di sisi lain, Reon melumat bibir Ellena pelan seperti mengabsen kembali benda kenyal yang dulu tiap hari dia kerjai. 

Ellena yang paham ini bentuk tugasnya sebagai tunangan pura-pura Reon, akhirnya mengalihkan rasa terkejutnya dan segera memejamkan mata dan ikut melumat bibir bosnya dengan ritme yang sama. 

"Emphh…" Ellena mendongak begitu tangan Reon menyentuh rahangnya. Tangan gadis itu naik melingkar di leher Reon. Sementara Reon menarik pinggang ramping Ellena untuk merapatkan tubuh mereka. 

Ciuman lambat itu berangsur-angsur jadi penuh tuntutan. Tidak peduli dengan semua mata yang tertuju pada mereka, Reon mengisap bibir Ellena atas bawah dengan rakus, seperti ingin menyerap semua rasanya. Dia begitu merindukan sensasi ini. 

Ellena yang sejak tadi memang goyah pelan-pelan membuka bibir hingga lidah Reon bisa menyelusup masuk ke dalam rongga mulutnya. 

"Emphh… Reon… ini… em… di tempat umum," ujar Ellena di sela ciuman itu. 

"Mmph… Nona Graciella mau tahu cara aku melamar kamu, sayang…" Reon terus melumat bibir Ellena seolah binatang rakus yang kelaparan. Tangan lelaki itu juga tidak diam saja. Reon mengusap pinggang Ellena, lalu naik ke panggung sekretarisnya. 

Ellena bahkan sudah tidak tahu ini masih bagian dari sandiwara atau bukan. Ciuman mereka terlalu… menggairahkan. Sama seperti saat mereka masih menjalin kasih di SMA. 

Begitu ciuman Reon dan Ellena lepas, wajah mereka masih berjarak sepersekian inci. Napas keduanya memburu. 

Tatapan Ellena tidak lepas dari mata sayu Reon. Ada kilatan di iris mereka yang masih ingin melanjutkan ciuman itu. Ke sesuatu yang lebih. 

Untuk menuntaskan gejolak rindu dalam dada. Tapi, mereka akhirnya sadar dengan situasi. Para tamu mulai berbisik-bisik. 

Ellena berdeham, lalu mengangkat tangannya mengusap sisa lipstik yang blepotan di bibirnya. 

"Maaf, Nona Graciella… kami terbawa suasana…" Ellena merangkul lengan Reon. "Sebelum melamar saya, kami berciuman seperti tadi." Gadis itu menyunggingkan senyum tipis.

"Hmmm, kalian pasangan yang manis dan penuh gairah." Senyuman Graciella semakin mengembang, bibir bawahnya tergigit tipis. Tatapannya yang penuh selidik sedikit berubah. Diisi sensasi yang bagi Ellena aneh. 

Apakah Graciella membayangkan dirinya yang dicium oleh Reon? 

Ah, ternyata Graciella benar-benar punya ketertarikan pada tunangan orang. 

Sementara itu, Reon mengusap bibir bawahnya yang bengkak dan merah karena sisa lipstik Ellena. Dadanya masih bergejolak. 

Tidak bisa. Reon masih ingin. 

Lelaki itu meraih tangan Ellena, lalu menatap Graciella tanpa ekspresi. "Kami permisi."

Reon menarik tangan Ellena menjauh dari pusat gala. Gadis itu mendelik heran. 

Suara gala meredup seketika. Mereka berhenti di samping koridor seni yang sepi dan gelap. 

Tanpa mengatakan apa-apa, Reon mengurung Ellena di dinding dan menunduk tajam untuk meraup bibir Ellena. Benda favoritnya itu dilumat lagi. Kali ini lebih buas. Ellena bahkan tidak diberi kesempatan untuk menghirup oksigen dengan bebas. 

Tidak ada Graciella lagi ataupun penonton. Tapi kenapa Reon masih terus mengerjai bibir Ellena? 

"Emphh…"

"Pak Reon… Berhenti…" lirih Ellena di sela hantaman bibir Reon yang semakin rakus melahap segala sisi bibirnya. Tangannya menepuk-nepuk dada Reon. 

Reon menarik bibirnya sesaat. Mata gelapnya terpaku pada Ellena beberapa jenak. Dia kemudian mendekatkan bibir ke daun telinga Ellena. "Orang-orang Graciella pasti mengawasi kita," bisiknya. 

Ellena mengerjap pelan, wajahnya menoleh sedikit. Jadi ini masih bagian dari sandiwara mereka? 

"Ahh…" Gadis itu mendesah pelan saat merasakan telinganya di gigit oleh Reon. Sesuatu dalam diri Ellena berdesir hebat dari ujung kepala sampai kakinya. 

Dia memejamkan mata setengah sambil memiringkan kepala saat bibir Reon pelan-pelan menyapu leher jenjang Ellena. 

Awalnya lembut, tapi lama-lama Reon menghisapnya kuat, seolah dia vampir yang haus darah. 

"Pak Reon… emphh—"

Bibir Ellena kembali dibungkam oleh bibir Reon yang melumatnya penuh tuntutan. Ellena membalas ciuman itu sama rakusnya. 

Entah sadar atau tidak, gadis itu sudah mengalungkan lengannya di leher Reon, jemarinya meremas rambut bosnya. 

Reon merasakan sesuatu dalam dadanya memantik untuk dituntaskan. Napasnya semakin memburu, tangannya mulai mengabsen tiap lekuk tubuh Ellena yang dia sukai. 

Mata mereka terpejam rapat dengan bibir mereka yang terus memagut liar sambil menjalin lidah dan bertukar saliva. 

"Mmph…"

"Elle…"

"Reon…"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Cynta
eh reon keterusan.. 🫣
goodnovel comment avatar
Uing21
lanjut dong ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 118. Manis dan Menggoda

    Setelah belasan jam penerbangan dari Singapura, Ellena dan ketiga manajemen senior RCA Investments akhirnya tiba di bandara Zurich. Pesawat mereka mendarat sekitar pukul enam pagi. Langit masih kelabu kebiruan, matahari baru merangkak naik di balik siluet pegunungan Alpen dan lampu runaway masih menyala kuning pucat, memantul di lapisan salju tipis. Itu pertama kalinya juga bagi Ellena melihat salju. Bukan dari layar ataupun film, tetapi salju asli. Begitu pintu pesawat dibuka, udara musim dingin langsung menyergap tajam, kering dan menggigit. Napas yang keluar dari hidung dan mulut berubah jadi uap putih. Ellena refleks memeluk mantel tebalnya lebih rapat.Tiga manajemen senior di depannya sudah terlihat siap seperti mau pemotretan majalah bisnis.Melinda—Wakil Direktur Keuangan mengenakan mantel wol panjang, turtleneck hitam dan boots kulit ramping. Rambutnya rapi dengan makeup tipis profesional. Kiandra—Wakil CIO memakai coat abu-abu gelap tailored fit, syal kasmir, koper kecil

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 117. Pertama Kali Naik Pesawat

    Awalnya, Ellena masih belum percaya kalau namanya masuk list untuk ikut perjalanan dinas. Bahkan saat Laura sudah mengirimkan detailnya via email, Ellena juga belum yakin. Bisa saja namanya tiba-tiba diganti untuk beberapa hari ke depan. Tapi, hari itu… saat dia berdiri di lantai bandara, Ellena merasa jantungnya berpacu kuat menyadari bahwa dia benar-benar akan keluar negeri. Ellena bahkan belum pernah naik pesawat sekali pun. Baginya, bandara cuma tempat yang selama ini dilihat dari drama Korea atau vlog orang lain. Tapi sekarang, dia berada di tengah suara pengumuman penerbangan yang bersahut-sahutan, koper berderak dan orang-orang yang berlalu-lalang dengan jas mahal dan paspor di tangan.Ellena menelan saliva sembari menguatkan genggaman pada tiket pesawatnya. Udara dingin AC menyapu wajahnya yang sedikit… pucat—mungkin karena ini akan jadi pengalaman pertamanya naik pesawat. Berbagai pikiran negatif perlahan menyusup di pikiran

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 116. Yang Membuat Ellena Ragu Balikan

    Ellena terlihat sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak meraup bibir Reon. Bagaimana tidak? Jarak mereka hanya terpisah beberapa inci dan Reon tidak berhenti menggodanya tipis-tipis. Untung, pertahanan Ellena tidak rapuh. Keraguan masih jadi benteng tertinggi untuk menerima ajakan balikan dengan Reon meski semua kesalahpahaman mereka telah usai. "Pak Reon… saya harus antarkan dokumen ini ke Kak Laura," Ellena menatap Reon serius. Lelaki itu mengangkat alisnya sekilas. "Kamu boleh pergi, kalau kamu gak bicara formal sama aku saat lagi berduaan begini."Ellena menghela napas panjang. Ya, Dareon Sankara harus dituruti kemauannya. "Reon… tolong minggir, aku mau keluar dan bawa dokumen ini ke Kak Laura," kata Ellena dengan tegas. Reon menyeringai lembut, sementara itu Ellena segera keluar dari dominasi tubuh Reon.Setelah Ellena melewati pintu, gadis itu akhirnya bisa bernapas lega. Dia lanjut melangkah menuju lift, membawa dokumen di tangannya. Saat jam makan siang, Ellena dan

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 115. Ruangan Arsip yang Terasa Sempit

    Malam semakin larut, semua tamu sudah pulang, menyisakan kesunyian seperti biasa di unit apartemen itu. Mata Ellena tidak kunjung tertutup dan kesadarannya masih masih melingkupi. Gadis itu akhirnya bangun, turun dari ranjang dan melangkah ke meja kerja di sisi kamar. Selanjutnya, dia meraih buku sketsa serta kotak pensil warna yang merupakan kado dari Reon. Lampu nakas menyala hangat dengan memantulkan cahaya kekuningan di dinding krem. Ellena kemudian duduk bersandar di sisi kasur dengan lutut ditekuk di depan dada sambil meletakkan buku sketsa di atasnya. Sampul buku sketsa itu tebal, warna biru muda, teksturnya seperti kulit asli. Saat dibuka, kertasnya halus dan berat—bukan kertas biasa. Jenis yang membuat orang takut salah coret.Jemari Ellena mengusap halaman pertama pelan, hampir seperti menyentuh sesuatu yang rapuh.Senyum kecil terbit di bibirnya sebelum dia mulai menggerakkan pensil di tangannya. Perlahan

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 114. Kalau Begini Kamu Suka?

    Ellena menelan saliva, pupilnya agak bergetar saat memandang Reon tepat di bola mata hitam lelaki itu. Dia kemudian melangkah melewati Reon. "Bukan begitu… Reon, aku sekarang… mau jalanin aja apa yang ada."Reon menoleh sebentar dari balik bahu lalu akhirnya berbalik. Ellena lalu merendahkan badan untuk menyimpan barang belanjaannya di dekat lemari. "Soal ajakan kamu untuk balikan…," dia meluruskan punggung, "aku gak nolak, tapi aku juga belum bisa bilang iya, Reon.""Kenapa?" Reon mendekat, mengiris jarak di antara mereka saat Ellena memutar tubuh menghadap Reon. "Aku sudah mengakui kesalahan aku di fun day dan Highmark, Elle," sambung lelaki itu. "Karena aku masih butuh waktu, Reon. Bukannya kamu bilang kamu mau nunggu."Reon menunduk kala jarak mereka sisa satu jengkal, sementara Ellena harus mendongak karena perbedaan tinggi mereka. "Tapi kamu kasih kesempatan untuk laki-laki lain dekat sama kamu, contohnya sama

  • Pak Reon Berhenti! Aku Bukan Kekasihmu Lagi   Bab 113. Menolak Balikan?

    Tatapan Ellena terpaku pada Reon, kemudian dia menggeleng, "aku bisa sendiri.""Go on, then," kata Reon dengan nada dalamnya. Jemari Ellena menekan salah satu bagian kotak hingga kertas yang melapisi bagian atasnya tersobek. Gadis itu meraih sebuah gulungan kertas dari dalam sana. "Nomor… delapan," ucap Ellena. "Nomor delapan! Kado nomor delapan mana?!" teriak Vino semangat.Astra langsung lari ke troli, mengambil kado besar berpita. "Ini, Kak," ujar gadis remaja itu, menyerahkan kotak pada Ellena. "Uwwww, itu kado dari aku," kata Graciella tersenyum lebar. Semuanya bertepuk tangan lagi, sementara Ellena mulai melepaskan bungkus kado kemudian membuka penutup kotak. Mata Ellena melebar ketika mengeluarkan sebuah tas limited edition yang dia kisar seharga ratusan juta dari kotak. "Gracy… ini…""Eitsss… gak boleh ditolak ya, Ellena, aku tahu isi pikiran kamu apa sekarang."Ellena t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status