LOGINDi sisi lain, Laura melangkah menuju ke ruangan CEO setelah memeriksa ulang brief yang disusun Ellena. Soalnya tadi dia asal saja memeriksanya.
Tepat di depan pintu ganda, tangannya terangkat, melonggarkan bagian depan blusnya.Dia mengetuk singkat lalu melangkahkan heels masuk ke dalam. Laura berhenti di sisi kursi CEO, berdiri sedikit terlalu dekat untuk ukuran profesional. Ketika map itu diletakkan di atas meja kerja, perempuan itu mencondongkan badan, sengaja memperlihatkan belahan dadanya."Permisi, Pak Reon, saya membawa brief email dari investor Swiss dan Singapura," kata Laura lembut. Dia tidak akan mau kalah dengan Ellena.Dia harus memenangkan hati Reon."Saya sudah rangkum poin utamanya," sambung Laura.Tapi, sayangnya Reon bahkan tidak melirik sama sekali. Matanya sibuk pada berkas yang dibuka di tangannya. Jemari lelaki itu membalik halaman dengan fokus penuh."Buatkan proposal balasan," ucap Reon singEllena pergi dari ruangan luas itu, menyisakan Reon seorang diri dengan pikirannya yang berkecamuk. Rasa sakit di pusakanya masih terasa karena hantaman lutut Ellena, tapi tidak dipedulikan. Reon justru memikirkan darimana Ellena mendapatkan uang satu miliar dalam waktu singkat? Apakah ada yang meminjamkan uang pada gadis itu? Tapi siapa? Atau apa Ellena… "Gak mungkin—" napas Reon tercekat. Dia cepat-cepat menepis pikiran negatif yang mulai merambat di kepalanya. Lantas Reon meraih hape dan menelepon Vino. Tidak lama, panggilannya segera dijawab. "Halo, Pak Reon," kata Vino di seberang sana."Awasi Ellena, ikuti dia ke mana aja dan cari tahu dia dapat uang satu miliar dari mana," titah Reon. "Kak Ellena dapat uang satu miliar?""Iya, dia mau mengajukan resign besok dan membawa uang penalti.""Saya mengerti, Pak."Setelah telepon itu berakhir, Reon menoleh ke pintu rua
"Karena gak ada yang perlu dibicarakan lagi, Pak Reon." Ellena menarik tangannya tapi cengkraman Reon begitu kuat. Gadis itu akhirnya menyerah dengan perlawanannya. Dia mendongak menatap iris hitam itu. "Oke, kalau begitu saya mau tanya," sahut Ellena, suaranya mulai parau. "Apa malam itu Anda benar-benar mabuk atau hanya memanfaatkan keadaan saya yang dalam pengaruh obat?"Reon tidak melepaskan cengkraman pada pergelangan tangan Ellena. Matanya menunduk tajam. "Saya mabuk dan kamu yang duluan mencium saya, Elle," ujar Reon datar dengan suaranya yang dalam. Ellena terpaku beberapa jenak, menatap Reon. Ya, soal mencium Reon lebih dulu, Ellena mengingatnya dan dia benci dirinya sendiri karena melakukan itu. "Kenapa, Elle? Kamu ingat sesuatu?" Reon memiringkan sedikit kepalanya, menyeringai tipis. Ellena tersentak. Dia mencoba menarik tangannya lagi. Tapi cengkraman jemari Reon tidak mau lepas. Gadis itu mengembuskan napas kasa
Alyssa belum menjawab. Dia masih berusaha mengatur napas. Awalnya dia yakin bisa menjerat Reon dengan pesonanya. Tapi, ternyata berhadapan langsung dengan sang CEO yang dinginnya melebihi kutub utara itu membuat Alyssa membeku tidak berkutik. Dia jadi meragukan kata-kata Ellena kalau Reon itu suka gonta-ganti perempuan meski punya pacar. "Emm, iya, Pak, sa—ya yakin," jawab Alyssa pada Reon yang masih menatapnya tajam. "Saya malam itu mabuk juga, Pak… emm, terus saya gak sengaja dapet akses sekuriti gitu yang jatuh dan saya nyasar ke lantai eksekutif," sambung Alyssa. "Ellena sudah menjelaskan hal itu pada saya, kamu gak perlu repot mengulangi," sela Reon. Alyssa mengulum bibirnya. Reon ternyata semenakutkan ini. Hanya dengan tatapan menusuk, Alyssa rasa buku-bukunya loyo."Ulurkan tangan kamu," titah Reon, dengan tatapan menusuk. Alyssa mengangkat alisnya sekilas, bibirnya terbuka sedikit, melirik ke Ellena, berhar
Di sisi lain, Laura melangkah menuju ke ruangan CEO setelah memeriksa ulang brief yang disusun Ellena. Soalnya tadi dia asal saja memeriksanya. Tepat di depan pintu ganda, tangannya terangkat, melonggarkan bagian depan blusnya. Dia mengetuk singkat lalu melangkahkan heels masuk ke dalam. Laura berhenti di sisi kursi CEO, berdiri sedikit terlalu dekat untuk ukuran profesional. Ketika map itu diletakkan di atas meja kerja, perempuan itu mencondongkan badan, sengaja memperlihatkan belahan dadanya. "Permisi, Pak Reon, saya membawa brief email dari investor Swiss dan Singapura," kata Laura lembut. Dia tidak akan mau kalah dengan Ellena. Dia harus memenangkan hati Reon. "Saya sudah rangkum poin utamanya," sambung Laura. Tapi, sayangnya Reon bahkan tidak melirik sama sekali. Matanya sibuk pada berkas yang dibuka di tangannya. Jemari lelaki itu membalik halaman dengan fokus penuh."Buatkan proposal balasan," ucap Reon sing
Tangan Ellena terangkat untuk menutupi mulutnya yang terbuka sedikit karena menguap. Bagaimana tidak? Semalam, dia pulang larut dan bangun pagi-pagi untuk ke kantor. Untungnya Ellena mengatur alarm banyak dan nyaring serta tidak mengunci pintu kamarnya, agar tidak telat lagi. Di balik meja kerjanya, Ellena berusaha menegakkan bahu sambil berkutat dengan komputer. Matanya dibuka lebar-lebar.Dari meja sebelah, Laura memperhatikan gadis yang mengikat setengah rambutnya di belakang itu. "Akhir-akhir ini kamu selalu kelihatan lemas ya, Ellena," sahut Laura. Ellena menoleh singkat, "aktivitas saya memang lagi padat-padatnya, Kak." Dia tahu Laura ingin memprovokasi tapi Ellena menanggapinya santai. "Oohh…" Laura menumpukan dagu di punggung tangan kanannya. "Yang penting kamu gak telat aja sih kayak kemarin dan kerjaan kamu beres," tekan perempuan itu. "Pasti, Kak.""Oh iya, saya cek ada dua email penti
"Untuk mendapatkan uang tentunya, Tuan Lucien," jawab Ellena setelah mengerjap pelan. "Pekerjaan banyak, Ellena, apa kamu tidak memikirkan perasaan mama papa kamu kalau tahu kamu memilih pekerjaan berisiko seperti ini?" Lucien terus menatap mata Ellena. Bola mata dan lekuk bibir gadis itu sangat familiar baginya. Dia sesekali menyesap cerutunya.Di sisi lain, Ellena berdiri mematung menyesuaikan diri dengan asap cerutu serta bau alkohol yang mendominasi ruangan. Dia menarik napas pelan sebelum menjawab. "Saya tidak punya mama ataupun papa, Tuan Lucien," ujarnya dingin dan tajam. Bukan seperti Ellena yang biasanya. "Mereka ke mana? Jadi kamu tinggal bersama siapa?" tanya Lucien lagi. Dia penasaran dengan gadis itu. Kalau saja putri pertamanya masih hidup, pasti sudah seumuran dan tumbuh cantik seperti Ellena. "Saya tinggal bersama nenek saya dan soal orang tua saya… mereka membuang saya sejak bayi," nada Ellena semakin dingin. Lebih menusuk. Jik







