LOGINDanu benar benar terjaga sampai pagi. Isi kepalanya terasa tak bisa lagi terkendali, dan ia gelisah tak menentu kali ini."Aaah!" Danu bangun dari ranjang dan ia segera keluar saat itu juga.Ia tak cek siapapun saat melangkah. Tapi yang ia tahu, semua anak kost sudah tidur dengan pulas dan pasti ia aman.Kemana lagi jika bukan ke kamar Susan.Danu lirik kanan kiri, lalu dengan cepat kakinya melangkah ke kamar janda cantik itu.Tok! Tok! Tok!Pintu diketuk pelan, dan Danu panggil janda cantik itu dengan suaranya yang lirih."Neng, Neng?"Susan dengan cepat bangun dan ia langsung tahu jika itu adalah Danu.Dengan cepat Susan langkahkan kakinya menuju pintu dan ia buka untuk memastikan. Tapi, Danu yang sudah tidak bisa menahan rasa itu justru langsung menyerang bibirnya dengan begitu brutal."Ehmmph! Eunghhh!" Susan melenguh tanpa henti, tubuhnya terus terdorong ke belakang oleh Danu dan pintu langsung ditutup rapat olehnya."Mas! Aaaah!" Susan mendesah ketika cumbuan Danu turun ke leher
Tarikan napas Daus panjang dan berat, tapi setelahnya ia hembuskan dengan begitu lega. Apa yang dikatakan Susan memang benar, dan ia tak mau semua ada unsur keterpaksaan meski semua terjadi tanpa diduga.“Baiklah, Bu Susan. Saya akan ikuti syarat yang diberikan. Tapi, saya minta, kalian jaga Silvy agar tetap aman di sini. Saya akan bayar semua biaya kost dan semua keperluannya.” Daus kembali memberi pesan.Susan mengangguk, dan mereka sepakat.Di dalam rumah, Silvy sudah kembali ke kamar dan semua orang yang ada di sana menunggu Susan kembali bersama Daus.Saat mereka sudah kembali, Susan berbisik tentang kesepakatan tadi pada Danu. Selanjutnya Danu berbisik pada Danang hingga Danang yang nanti akan sampaikan pada semua orang.“Baiklah, jika semua sudah disepakati. Kami di sini hanya bisa menghormati semua kesepakatan itu dan mengawasi apa yang terjadi ke depannya nanti.” Danang mewakili semua orang untuk pamit dari sana.Daus juga, akhirnya ia pamit meninggalkan amplop coklat itu seb
Suasana menjadi semakin tegang, dan mereka semua saksikan bagaimana Danu mencurahkan perasaan yang sekian lama ia pendam.Sejak Ane memberitahu berapa kisaran dana untuk tes DNA, Danu mulai memikirkan cara untuk mendapatkan uang itu dengan berbagai cara. Ia lembur dan patuh pada pak Bondan demi perhatian, ia berusaha keras untuk segera naik jabaan.“Pakde, Vy nggak mau! Vy cintanya sama Pakde, dan maunya anak ini anak Pakde. Vy janji nggak akan macam macam setelah ini, akan patuh sama semua yang Pakde katakan!” Silvy meraung dan memohon padanya.“Vy, Pak Danu tidak mau menanggung anak yang bukan dari benihnya. Memang kamu mau?” Daus berusaha menasehati Silvy dan meraihnya untuk segera menerima pinangan yang ia berikan.“Enggak! Nggak mau! Biar bagaimanapun, Pakde itu sayang sama Vy, kan? Pakde urusin Vy, bayarin Rumah Sakit Vy dan kasih uang buah Vy. Pakde beliin vitamin yang bagus buat bayi ini dan—”“Vy, itu dari Pak Daus.” Ane menyahutnya dengan suara yang berat. Ia lega akhirnya b
Silvy lari, masuk ke kamar dan ia kunci pintunya rapat rapat dari dalam. Napasnya terengah engah, dadanya naik turun dan keringat menetes membasahi wajah turun ke leher. Lily yang melihat itu langsung takut jika Silvy berbuat macam macam, ia langsung susul dan jaga di depan pintu."Dek, kenapa secepat ini? Katanya tiga hari? Harusnya besok, kan?" tanya Susan yang menghampirinya bersama Amy."Iya, Dek. Kenapa cepet banget? Mana Silvy baru keluar dari Rumah sakit, lagi." Amy juga khawatirkan kondisi Silvy kali ini. Biar bagaimanapun, mereka saudara sekampung.Danu sibuk telepon beberapa perangkat Desa, termasung Danang dan yang lainnya. Kali ini mereka berkumpul di rumah Danu, tak perlu pergi ke balai karena memikirkan Silvy yang pasti dengan kacau."Neng, siapin tempat!" Danu memerintah mereka yang berdiri di tempat itu agar segera bereskan ruang pertemuan.Tiga dara di kost Melati itu dengan sigap pergi dari sana. Mereka rapikan ruang tamu Danu, susun kursi ala tempat pertemuan pen
“Pakde, kenapa lama banget sampainya? Vy udah tungguin daritadi.” Silvy melangkah dengan begitu hati hati, hampiri Danu di tempatnya berdiri.Susan menjauh sedikit. Ia malas cari ribut karena yang penting urusannya dengan Danu sudah tersampaikan dan ia lega meski harus terus berhati hati.“Eh, Vy. Kamu nggak istirahat?” sapa Danu, basa basi.“Daritadi, Vy udah istirahat, juga karena pengaruh obat. Capek tiduran terus, dan efeknya nggak baik buat baby.”Danu duduk dengan tenang sembari menyeruput kopi di tangan. Sore itu mendung, dan sepertinya sebentar lagi akan hujan.Danu menatap pak tukang yang masih bekerja di atas, tapi sepertinya mereka juga sudah akan selesaikan tugas itu cepat cepat lalu tutup dinding semen dengan terpal agar tak basah.“Pakde, boleh Vy tanya?”“Ya, kenapa?” Danu memiliki feeling tak enak kali ini.“Kapan kita nikahnya? Perut makin gede, dan nanti udah nggak memungkinkan untuk Vy pakai gaun pengantin. Setidaknya, meski Cuma kebaya.”Danu menghela napas panjang
"Iya, sekarang aku udah kerja di pabrik semen punya pak Bondan." Danu mau tak mau menjawabnya meski tidak ramah. Tina tersenyum dan terus menatap Danu yang duduk jauh darinya. Ia hampiri, duduk di depan Danu dengan gaya yang menggoda. Ia mengenakan dress dengan bagian dada rendah, sengaja ia lekatkan di atas meja agar semangka mengkalnya terhimpit dan Danu memperhatikannya saat itu. "Mas, kamu makin ganteng dan rapi kalau begini. Kenapa, nggak dari dulu aja balik kerja di sana dan-" "Aku nggak mau bahas masa lalu, terutama jika itu tentang kita!" Danu langsung memberi sikap tegas padanya. "Mas, aku cuma mau agar hubungan kita membaik. Masa, kita yang pernah suami istri ini jadi musuh." Semua orang yang ada di sana dan tahu bagaimana kasus mereka, seketika menahan tawa. Masih mending dianggap musuh. Daripada Danu langsung tinggal atau ludahi Tina bagai sampah yang hina di matanya. "Sudahlah, Tina. Kamu sebenarnya mau apa?" Danu mulai risih padanya. "Aku cuma mau... Kamu
“Apa kamu bilang, Mas? Kamu berani tolak aku, Mas?” tukas Tina pada suaminya itu.Wanita dengan tubuh cukup berisi tapi padat itu tampak meradang mendengar penolakan yang diberikan oleh sang suami. Wajahnya terlihat sangat marah dan tangannya mengepal sejak tadi.Saat tahu Tina akan masuk, Silvy m
Ting!Ting!Suara notifikasi pesan di Hp itu membangunkan Danu yang pada akhirnya bisa tidur jam tiga pagi. Saat dicek, ia terkejut karena banyak sekali isi chat di grup kost Melati.Rupanya kabar kemarin sudah cepat menyebar di antara mereka semua hingga menjadi hot topic sejak semalam. Tampak jug
“Pakde, Lily tahu bahwa ini berat. Pakde sabar, ya? Pasti semua akan menemukan titik terang, dan Pakde lebih tahu bagaimana seharusnya nanti.” Lily terus berusaha menghiburnya agar tetap tenang, walau ia tahu bahwa sebenarnya itu sangatlah sulit.Danu hanya diam, meratapi nasibnya yang malang.Lily
“Selamat pagi, Pakde. Rajin bener, pagi-pagi udah beberes.” Salah satu anak kost Melati menyapa Danu di pagi hari sambil berjalan keluar gerbang.Danu tengah bersenandung sembari menyapu halaman kostnya tempatnya mencari nafkah. Ia sangat rajin saat bekerja, akrab juga dengan para penghuni kost yan







