Share

Paket Yang Tak Pernah Sampai
Paket Yang Tak Pernah Sampai
Author: Sasa

Bab 1

Author: Sasa
Aku membeli beberapa hadiah dan pulang sendirian ke rumah orang tuaku untuk merayakan hari raya.

Ayah dan Ibu sama-sama merasa heran.

“Johan mana? Bukannya kalian datang bersama hari ini?”

“Jangan-jangan kalian sedang ada masalah?”

Aku tersenyum dan berkata, “Ayah, Ibu, maaf. Tadi kantor Johan tiba-tiba menyuruhnya lembur.”

Ayah dan Ibu pun memakluminya, “Pekerjaan memang lebih penting.”

Namun, mataku malah tertuju pada unggahan Erna, mantan pacar suamiku di media sosial.

Ada caption dan sembilan foto.

Captionnya, [Kejutan hari raya yang dia persiapkan dengan sepenuh hati. Sungguh baik sekali.]

Kotak kue yang sudah lama kucari dan kupilih sedemikian rupa, ternyata sudah dibuka dan dikukus semuanya.

Kue-kue itu ditata di atas piring cantik.

Tangan yang sedang membuka bungkusan itu, jari-jarinya panjang dan ruasnya tampak tegas. Di ibu jari tangan kanannya terdapat bekas luka.

Aku langsung mengenalinya, itu tangan Johan.

Aku juga menyadari bahwa cincin pernikahan di jari manis tangan kirinya sudah tidak ada.

Tak meninggalkan bekas sedikit pun.

Teman-teman yang sama-sama mengenal kami ikut like dan berkomentar.

[Sudah kubilang sejak awal, kalian seharusnya menikah!]

Aku ikut menyukai unggahan itu.

Tak lama kemudian, pesan dari Johan masuk.

[Devi, kamu mengusirku di hari raya begini, masa aku harus makan di tepi jalan?]

[Nggak masalah kalau mau marah-marah di depanku, tapi jangan buat malu di depan Nana. Kamu nggak malu?!]

Setiap katanya berisi tuduhan.

Aku tak mengerti bagaimana sekadar memberikan like bisa dianggap mencari keributan.

Apalagi…

Nana.

Dia selalu memanggil mantan pacarnya dengan panggilan ‘Nana’ yang begitu akrab.

Sedangkan aku selalu dipanggil nama lengkap.

Aku pernah menyatakan ketidaknyamananku. Tapi, Johan tak peduli, “Aku sudah terbiasa, hanya panggilan saja!”

“Kamu bisa jangan begitu sensitif?”

Aku menggulir ke atas dan membaca kembali riwayat pesanku dengan Johan.

[Milk teanya belum sampai? Sudah dua jam lebih. Coba lihat, jangan-jangan terjadi masalah dengan kurirnya?]

[Aku lupa ganti alamat, kurirnya malah mengantar ke tempat Nana.]

[Kamu bisa nggak ganti alamatnya jadi alamat rumah kita? Bisa nggak alamatnya dihapus dari ponselmu?]

[Hanya segelas milk tea saja, bisa nggak jangan lebay begitu? Sangat memalukan. Emangnya kamu nggak bisa pesan sendiri?]

Padahal, Johan sendiri yang bilang ingin membelikan milk tea pertama di musim semi.

Aku menunggu dua jam lebih dan hanya berakhir kecewa.

Dan masih harus disalahkan olehnya.

Aku menggulir ke atas lagi.

[Sayang, sebentar lagi jam dua belas. Hari valentine bahkan sudah mau berakhir, katanya kamu sudah menyiapkan kejutan untukku, ‘kan?”

[Aku lupa ganti alamat, jadinya terkirim ke Nana. Kugantikan lain kali.]

......

Entah sejak kapan, isi pesanku dengan Johan hanya dipenuhi hal-hal seperti ini.

Paket yang salah kirim, pesanan makanan juga bisa salah.

Padahal, sejak tahun lalu kami sudah sepakat untuk merayakan hari raya tahun ini bersama di rumah orang tuaku.

Namun, hadiah untuk orang tuaku pun salah dikirimkan ke Nana. Dan pada akhirnya, Johan sendiri juga salah alamat, pergi ke rumah Nana dan merayakannya bersama Nana.

Aku terdiam menatap foto Johan yang melepas cincin pernikahannya.

Aku merasa diriku benar-benar konyol.

Mungkin, semua paket yang salah kirim dan pesanan yang salah antar itu sebenarnya bukan karena dia lupa atau tidak sengaja.

Melainkan karena sejak awal, orang yang memang ingin dia kirimi semua itu hanyalah mantan pacarnya.

Akulah kesalahan yang perlu diperbaiki.

Ponselku bergetar dua kali. Aku keluar dari ruang pesan Johan.

Pesan itu berasal dari pengacara yang kuhubungi.

[Halo, Bu Devi. Selamat hari raya. Surat cerainya sudah kami susun.]

Setelah berpamitan kepada Ayah dan Ibu, aku pulang ke rumah dan mencetak surat cerai yang dikirim pengacara kepadaku.

Aku baru saja hendak menandatanganinya.

Johan pulang dan menyerahkan dua kantong kepadaku.

“Kue itu bisa dibeli di mana saja, ya sudahlah kalau sudah dimakan. Aku sengaja pergi mengambil pakaian yang kubeli untuk orang tuamu.”

“Ini salahku. Aku akan mengajakmu makan makanan prancis hari ini. Anggap saja sebagai permintaan maaf, ya?”

Aku tak membantah. Ayah dan ibuku memiliki beberapa penyakit, jadi kotak kue itu kupilih dengan sangat teliti. Hanya toko itu yang menjualnya.

Bukan sesuatu yang bisa dibeli di mana saja.

Namun, aku juga tak mengingatkannya.

Aku tak suka makanan prancis.

Aku sudah bilang itu berkali-kali.

Jika memang tidak peduli, ya sudahlah.

Mau diulang berapa kali pun, dia tetap tidak akan mengingatnya. Dia hanya akan menganggapku terlalu banyak tingkah dan suka mempermasalahkan hal-hal kecil.

Aku tak peduli lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 8

    Sesekali, Ibu menelepon atau mengirim pesan, memberi tahu bahwa Johan kembali datang ke rumah.Dia berusaha mencari keberadaanku melalui Ayah dan Ibu.Akhirnya, mereka mengatakan kepadanya bahwa aku sedang pergi berlibur.Setelah itu, dia tidak pernah lagi datang ke depan rumah pagi-pagi sekali atau malam-malam saat hari sudah gelap, membuat orang kaget setengah mati.Aku mendengarkan suara Ibu yang lembut, bercerita tentang keadaan di rumah, juga tentang Johan.Setelah mendengar nama itu lagi, hatiku sudah tidak bergejolak sedikit pun.Bagiku, Johan benar-benar sudah menjadi masa lalu.Notifikasi pesan dari Johan sudah kumatikan, jadi hampir tidak pernah kulihat pesan darinya.Sejak awal, aku memang sudah merencanakan perjalanan selama sebulan. Tiket juga sudah kubeli jauh-jauh hari, jadi ketika waktunya tiba, aku langsung naik pesawat pulang.Selama bepergian, setiap kali melihat sesuatu yang menarik atau bermakna, aku langsung membelinya dan meminta jasa kurir mengirimkannya ke ruma

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 7

    Pada hari ketiga perjalanan, aku menerima telepon dari Ibu.“Johan datang ke rumah. Ayah nggak membiarkannya masuk.”“Sikapnya malah cukup baik. Dia datang membawa banyak barang, katanya mau meminta maaf dan menebus kesalahannya kepadamu.”“Sama sekali nggak kelihatan seperti orang yang bisa melakukan begitu banyak kesalahan!”“Kalau sebelum berangkat kamu nggak menjelaskan semua yang terjadi selama tiga tahun pernikahanmu dengannya kepada kami, Ibu dan Ayah benar-benar nggak akan menyangka.”“Mungkin saja kami malah membiarkannya masuk.”Memang benar.Kalau orang lain yang berada di posisiku, mungkin karena ingin menjaga harga diri, menutupi kesalahan sendiri atau takut menjadi bahan pembicaraan orang, mereka akan memilih menyembunyikan semuanya dan hanya mengatakan bahwa hubungan mereka sudah tidak harmonis dan tidak bisa dilanjutkan.Tapi aku bukan orang seperti itu.Kalau memang bukan salahku, kenapa aku harus menyembunyikannya seolah-olah ada sesuatu yang memalukan?Kenapa aku har

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 6

    Dengan bantuan Ayah dan Ibu, aku segera membongkar dan menata semua barang yang sudah kukemas.Aku kembali ke kamar yang kutempati sejak kecil.Kamar kecil itu hanya berisi lemari pakaian dan sebuah meja belajar. Tidak luas, tetapi penuh dengan jejak kehidupanku.Malamnya, Ayah dan Ibu memasak satu meja penuh makanan kesukaanku.Kemarin saat hari raya, aku sudah lebih dulu memberi tahu mereka bahwa Johan akan pulang bersamaku untuk merayakan hari raya.Ayah dan Ibu sengaja memasak banyak makanan yang disukai Johan. Tapi, dia tidak datang.Selera makannya juga berbeda dengan kami, sehingga akhirnya masih banyak makanan tersisa di atas meja.Sekarang, keluarga kami akhirnya tidak perlu lagi menyesuaikan diri dengan Johan.Setelah makan, Ayah dan Ibu sengaja mengajakku keluar untuk berjalan-jalan.Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok.Ayah dan Ibu menghiburku, “Dalam hidup, kita nggak perlu takut menghadapi masalah. Yang perlu ditakutkan adalah ketika masalah datang,

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 5

    Johan menatap surat cerai di hadapannya dengan wajah tak percaya.Suasana di dalam ruang VIP seketika menjadi hening.Erna adalah orang pertama yang berdiri. Dengan wajah panik, dia menatap Johan, “Kak Johan, Kak Devi salah paham, ya? Cepat jelaskan padanya!”Kemudian dia menoleh kepadaku, “Kak, maaf, tadi semua orang cuma sedikit mabuk dan bercanda. Kak jangan terlalu memikirkannya...”Aku menatap dingin ekspresi Johan yang awalnya dipenuhi keterkejutan dan kegugupan. Tapi, setelah mendengar perkataan Erna, ekspresinya perlahan berubah menjadi kesal dan jengkel.Dia menahan amarah dan berkata kepadaku, “Devi, hari ini ada begitu banyak rekan kerja dan teman-temanku. Orang tuaku juga ada di sini. Mereka cuma bercanda. Kalau kamu nggak suka, bilang saja. Jangan membuat keributan seperti ini sampai membuat semua orang melihat lelucon.”Ayah dan ibu Johan juga memasang senyum canggung sambil berusaha membujukku.“Devi, tadi David dan yang lainnya memang agak keterlaluan saat bercanda, tap

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 4

    Johan memesan sebuah ruang VIP besar. Ada dua meja yang hampir penuh, dengan total hampir tiga puluh orang.Di meja tempat Ayah dan Ibu Johan duduk, Erna juga ada di sana.Dia duduk di samping Ayah dan Ibu Johan, sementara Johan duduk di sebelah kanannya.Saat pelayan mengantarku masuk ke dalam ruang VIP, aku tepat melihat Johan memiringkan wajah dan mengatakan sesuatu kepada Erna.Jarak mereka begitu dekat dan senyum terlihat jelas di mata keduanya.Begitu melihatku masuk, suasana di dalam ruangan mendadak hening selama sesaat.Johan langsung menarik tubuhnya ke belakang dan menjauh dari Erna.Seolah ingin menutupi sesuatu, dia berdiri dan berjalan menghampiriku.“Kamu sudah datang.”Dia melambaikan tangan memanggil pelayan, lalu berkata kepadaku, “Kami tinggal menunggumu. Ayo, duduk.”Aku mengangguk, lalu berjalan menghampiri Ayah dan Ibu Johan untuk menyapa mereka.Johan menjelaskan kepadaku, “Ibu kangen Nana, jadi sengaja menyuruhku mengundangnya.”Dia mendekatiku dan berbisik, “Ha

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 3

    Namun, detik berikutnya, tatapan yang diarahkan kepadaku justru penuh teguran.“Aku nggak ingat. Kok kamu tidak bilang?”“Lagipula, kalau kamu nggak bisa makan seafood, bukannya masih ada irisan daging sapi mentah di meja?”Padahal aku tak pernah makan makanan mentah.Johan selalu mengingatnya dulu. Entah sejak kapan, semua itu sudah dia lupakan.Tiba-tiba, aku tak tahu apa arti keberadaanku di sini.Aku berdiri dan pergi.Di belakangku, Erna bertanya dengan nada khawatir, “Kakak marah, ya?”Suara Johan terdengar rendah, tetapi kemarahannya sama sekali tidak disembunyikan.“Di mana pun tempatnya, dia selalu paling pandai merusak suasana! Jangan pedulikan dia. Kita makan saja.”Aku berjalan keluar dari restoran seorang diri, lalu naik taksi pulang.Kali ini, tidak ada lagi alasan untuk berharap.Hal pertama yang kulakukan adalah mengirim email pengunduran diri kepada perusahaan, lalu mulai membereskan barang-barangku.Tempat pertama yang kubereskan adalah ruang kerja.Pekerjaan Johan cu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status