Share

Bab 3

Author: Sasa
Namun, detik berikutnya, tatapan yang diarahkan kepadaku justru penuh teguran.

“Aku nggak ingat. Kok kamu tidak bilang?”

“Lagipula, kalau kamu nggak bisa makan seafood, bukannya masih ada irisan daging sapi mentah di meja?”

Padahal aku tak pernah makan makanan mentah.

Johan selalu mengingatnya dulu. Entah sejak kapan, semua itu sudah dia lupakan.

Tiba-tiba, aku tak tahu apa arti keberadaanku di sini.

Aku berdiri dan pergi.

Di belakangku, Erna bertanya dengan nada khawatir, “Kakak marah, ya?”

Suara Johan terdengar rendah, tetapi kemarahannya sama sekali tidak disembunyikan.

“Di mana pun tempatnya, dia selalu paling pandai merusak suasana! Jangan pedulikan dia. Kita makan saja.”

Aku berjalan keluar dari restoran seorang diri, lalu naik taksi pulang.

Kali ini, tidak ada lagi alasan untuk berharap.

Hal pertama yang kulakukan adalah mengirim email pengunduran diri kepada perusahaan, lalu mulai membereskan barang-barangku.

Tempat pertama yang kubereskan adalah ruang kerja.

Pekerjaan Johan cukup khusus sehingga hanya bisa diselesaikan di kantornya. Jadi, ruang kerja ini lebih sering kugunakan.

Semua buku, lukisan dan catatan di dalamnya adalah milikku.

Aku baru selesai membereskan setengahnya ketika Johan pulang.

Senyum di wajahnya menghilang begitu melihatku.

Tatapannya dipenuhi kekecewaan.

“Devi, sejak kapan kamu jadi seperti ini? Hari raya yang seharusnya menyenangkan malah kamu habiskan dengan membuat keributan dari pagi sampai malam.”

“Apa kamu baru puas kalau semua orang ikut nggak senang?”

Konyol sekali.

Sampai sekarang dia masih menuduhku membuat keributan dan sengaja membuat semua orang tidak senang.

Aku tidak ingin berbicara lebih banyak dengannya.

“Johan, kita cerai saja…”

Baru saja kata-kata itu keluar, ponselnya sudah berdering.

Itu nada dering khusus untuk Erna.

Sebuah melodi ringan yang ceria.

Nada dering ponsel Johan selalu menggunakan nada bawaan sistem. Katanya, dia malas repot menggantinya.

Namun, Erna adalah pengecualian.

Selama tiga tahun pernikahan kami, dia sudah tiga kali mengganti ponsel. Dan setiap kali mendapatkan ponsel baru, hal pertama yang dia lakukan adalah memasang melodi ringan itu sebagai nada dering.

Aku pernah bertanya karena penasaran.

Dia menjelaskan bahwa melodi itu sudah menemaninya sejak masa kuliah dan dia sudah terbiasa mendengarnya.

Belakangan baru kuketahui bahwa melodi itu khusus untuk Erna.

Aku melihatnya menerima telepon itu tanpa ragu sedikit pun.

Entah apa yang dikatakan orang di seberang sana, Johan langsung berbalik dan berjalan keluar.

“Jangan takut. Aku akan segera sampai!”

Pintu dibanting menutup.

Dia sama sekali tidak mendengar perkataanku tentang perceraian.

Atau mungkin dia mendengarnya, tetapi memang tidak peduli.

Aku menatap ruang tengah yang kini kosong dan tiba-tiba merasa...

Mungkin, pernikahanku dengan Johan memang sudah merupakan sebuah kesalahan sejak awal.

Nada dering ponsel yang khusus untuk Erna.

Alamat pengiriman bawaan yang selalu enggan dia hapus.

Semua barang yang seharusnya diberikan kepadaku, termasuk hadiah untuk orang tuaku, semuanya malah diberikan kepada Erna...

Johan sudah menunjukkan semuanya dengan begitu jelas.

Namun, aku selalu menyimpan sedikit harapan.

Berharap suatu hari nanti dia akan melihat keberadaanku, sadar, lalu berubah.

Pada akhirnya, tidak ada yang berubah.

Hanya aku yang telah menyia-nyiakan tiga tahun hidupku, seperti orang bodoh.

Setelah semua barang di ruang kerja selesai dikemas, aku pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat.

Ketika keluar, waktu sudah hampir pukul satu dini hari. Johan baru mengirimiku sebuah pesan.

[Erna ada sedikit masalah, aku nggak pulang malam ini.]

Aku tak membalasnya, lalu menutup layar, berbaring dan segera tertidur.

Keesokan harinya, aku kembali membereskan pakaian dan barang-barang pribadiku.

Sebelumnya aku tidak pernah menyadarinya.

Namun, ketika mulai mengemas barang, barulah aku sadar bahwa selama tiga tahun ini, karena Johan selalu mengirim barang-barangku ke rumah Erna, aku pun perlahan memiliki rasa keras kepala dan kecewa yang sulit dijelaskan.

Barang-barang yang salah dia kirim, tidak pernah kubeli lagi.

Seperti sandal rumah pasangan, pakaian rumahan pasangan, juga beberapa hiasan kecil dan tanaman mini yang kusukai...

Di wastafel kamar utama, ada dua sikat gigi elektrik yang modelnya sama persis.

Jelek dan tidak nyaman digunakan.

Setelah kami menikah, aku pernah menghabiskan banyak waktu mencari sikat gigi elektrik yang fiturnya lengkap dan desainnya cantik. Saat aku hendak memesannya, Johan bilang biar dia saja yang membelinya.

Dan seperti yang sudah kuduga, sikat gigi itu kembali salah dikirim kepada Erna.

Aku memintanya mengambil kembali, tetapi dia menolak.

Karena kesal, aku akhirnya membeli dua sikat gigi elektrik seadanya di supermarket dekat rumah.

Aku menempelkan tanda tahan air pada sikat gigiku agar tidak tertukar.

Dan aku bersikeras tidak mau membeli yang baru.

Kupikir, setiap hari melihat dua sikat gigi itu akan membuatnya merasa bersalah, gelisah, lalu memesan kembali sikat gigi yang dulu kupilih.

Namun, sikat gigi model itu sekarang bahkan sudah diperbarui hingga generasi ketiga.

Dia tetap tidak peduli.

Kami masih menggunakan dua sikat gigi elektrik yang tidak nyaman itu.

Aku menatap kedua sikat gigi itu dalam diam selama beberapa saat. Lalu mengangkat tangan dan membuang keduanya ke tempat sampah.

Ketika semua barang sudah selesai dikemas, Johan meneleponku.

“Bonus dari kantor yang pernah kuceritakan itu sudah masuk hari ini. Rekan-rekan kerja terus menyuruhku mentraktir mereka.”

“Kamu juga datang, ya. Nanti kukirim lokasi hotelnya.”

Awalnya aku hendak menolak.

Namun, kemudian dia berkata,

“Orang tuaku juga datang. Jangan sampai terlambat.”

Aku terdiam sejenak. Kata-kata penolakan yang sudah berada di ujung lidah akhirnya tidak jadi keluar. Kubiarkan dia menutup telepon.

Kalau aku sudah memutuskan untuk bercerai, setidaknya aku harus menyampaikannya secara langsung kepada kedua orang tuanya.

Aku menunggu petugas jasa pengiriman datang, lalu mengirim semua barangku.

Setelah itu, aku menelepon Ibu dan memintanya menerima barang-barangku. Nanti malam, aku akan pulang dan menjelaskan semuanya.

Terakhir kali, aku menatap rumah yang telah kutinggali bersama Johan selama tiga tahun sejak kami menikah.

Lalu aku pergi tanpa sedikit pun rasa berat hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 8

    Sesekali, Ibu menelepon atau mengirim pesan, memberi tahu bahwa Johan kembali datang ke rumah.Dia berusaha mencari keberadaanku melalui Ayah dan Ibu.Akhirnya, mereka mengatakan kepadanya bahwa aku sedang pergi berlibur.Setelah itu, dia tidak pernah lagi datang ke depan rumah pagi-pagi sekali atau malam-malam saat hari sudah gelap, membuat orang kaget setengah mati.Aku mendengarkan suara Ibu yang lembut, bercerita tentang keadaan di rumah, juga tentang Johan.Setelah mendengar nama itu lagi, hatiku sudah tidak bergejolak sedikit pun.Bagiku, Johan benar-benar sudah menjadi masa lalu.Notifikasi pesan dari Johan sudah kumatikan, jadi hampir tidak pernah kulihat pesan darinya.Sejak awal, aku memang sudah merencanakan perjalanan selama sebulan. Tiket juga sudah kubeli jauh-jauh hari, jadi ketika waktunya tiba, aku langsung naik pesawat pulang.Selama bepergian, setiap kali melihat sesuatu yang menarik atau bermakna, aku langsung membelinya dan meminta jasa kurir mengirimkannya ke ruma

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 7

    Pada hari ketiga perjalanan, aku menerima telepon dari Ibu.“Johan datang ke rumah. Ayah nggak membiarkannya masuk.”“Sikapnya malah cukup baik. Dia datang membawa banyak barang, katanya mau meminta maaf dan menebus kesalahannya kepadamu.”“Sama sekali nggak kelihatan seperti orang yang bisa melakukan begitu banyak kesalahan!”“Kalau sebelum berangkat kamu nggak menjelaskan semua yang terjadi selama tiga tahun pernikahanmu dengannya kepada kami, Ibu dan Ayah benar-benar nggak akan menyangka.”“Mungkin saja kami malah membiarkannya masuk.”Memang benar.Kalau orang lain yang berada di posisiku, mungkin karena ingin menjaga harga diri, menutupi kesalahan sendiri atau takut menjadi bahan pembicaraan orang, mereka akan memilih menyembunyikan semuanya dan hanya mengatakan bahwa hubungan mereka sudah tidak harmonis dan tidak bisa dilanjutkan.Tapi aku bukan orang seperti itu.Kalau memang bukan salahku, kenapa aku harus menyembunyikannya seolah-olah ada sesuatu yang memalukan?Kenapa aku har

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 6

    Dengan bantuan Ayah dan Ibu, aku segera membongkar dan menata semua barang yang sudah kukemas.Aku kembali ke kamar yang kutempati sejak kecil.Kamar kecil itu hanya berisi lemari pakaian dan sebuah meja belajar. Tidak luas, tetapi penuh dengan jejak kehidupanku.Malamnya, Ayah dan Ibu memasak satu meja penuh makanan kesukaanku.Kemarin saat hari raya, aku sudah lebih dulu memberi tahu mereka bahwa Johan akan pulang bersamaku untuk merayakan hari raya.Ayah dan Ibu sengaja memasak banyak makanan yang disukai Johan. Tapi, dia tidak datang.Selera makannya juga berbeda dengan kami, sehingga akhirnya masih banyak makanan tersisa di atas meja.Sekarang, keluarga kami akhirnya tidak perlu lagi menyesuaikan diri dengan Johan.Setelah makan, Ayah dan Ibu sengaja mengajakku keluar untuk berjalan-jalan.Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok.Ayah dan Ibu menghiburku, “Dalam hidup, kita nggak perlu takut menghadapi masalah. Yang perlu ditakutkan adalah ketika masalah datang,

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 5

    Johan menatap surat cerai di hadapannya dengan wajah tak percaya.Suasana di dalam ruang VIP seketika menjadi hening.Erna adalah orang pertama yang berdiri. Dengan wajah panik, dia menatap Johan, “Kak Johan, Kak Devi salah paham, ya? Cepat jelaskan padanya!”Kemudian dia menoleh kepadaku, “Kak, maaf, tadi semua orang cuma sedikit mabuk dan bercanda. Kak jangan terlalu memikirkannya...”Aku menatap dingin ekspresi Johan yang awalnya dipenuhi keterkejutan dan kegugupan. Tapi, setelah mendengar perkataan Erna, ekspresinya perlahan berubah menjadi kesal dan jengkel.Dia menahan amarah dan berkata kepadaku, “Devi, hari ini ada begitu banyak rekan kerja dan teman-temanku. Orang tuaku juga ada di sini. Mereka cuma bercanda. Kalau kamu nggak suka, bilang saja. Jangan membuat keributan seperti ini sampai membuat semua orang melihat lelucon.”Ayah dan ibu Johan juga memasang senyum canggung sambil berusaha membujukku.“Devi, tadi David dan yang lainnya memang agak keterlaluan saat bercanda, tap

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 4

    Johan memesan sebuah ruang VIP besar. Ada dua meja yang hampir penuh, dengan total hampir tiga puluh orang.Di meja tempat Ayah dan Ibu Johan duduk, Erna juga ada di sana.Dia duduk di samping Ayah dan Ibu Johan, sementara Johan duduk di sebelah kanannya.Saat pelayan mengantarku masuk ke dalam ruang VIP, aku tepat melihat Johan memiringkan wajah dan mengatakan sesuatu kepada Erna.Jarak mereka begitu dekat dan senyum terlihat jelas di mata keduanya.Begitu melihatku masuk, suasana di dalam ruangan mendadak hening selama sesaat.Johan langsung menarik tubuhnya ke belakang dan menjauh dari Erna.Seolah ingin menutupi sesuatu, dia berdiri dan berjalan menghampiriku.“Kamu sudah datang.”Dia melambaikan tangan memanggil pelayan, lalu berkata kepadaku, “Kami tinggal menunggumu. Ayo, duduk.”Aku mengangguk, lalu berjalan menghampiri Ayah dan Ibu Johan untuk menyapa mereka.Johan menjelaskan kepadaku, “Ibu kangen Nana, jadi sengaja menyuruhku mengundangnya.”Dia mendekatiku dan berbisik, “Ha

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 3

    Namun, detik berikutnya, tatapan yang diarahkan kepadaku justru penuh teguran.“Aku nggak ingat. Kok kamu tidak bilang?”“Lagipula, kalau kamu nggak bisa makan seafood, bukannya masih ada irisan daging sapi mentah di meja?”Padahal aku tak pernah makan makanan mentah.Johan selalu mengingatnya dulu. Entah sejak kapan, semua itu sudah dia lupakan.Tiba-tiba, aku tak tahu apa arti keberadaanku di sini.Aku berdiri dan pergi.Di belakangku, Erna bertanya dengan nada khawatir, “Kakak marah, ya?”Suara Johan terdengar rendah, tetapi kemarahannya sama sekali tidak disembunyikan.“Di mana pun tempatnya, dia selalu paling pandai merusak suasana! Jangan pedulikan dia. Kita makan saja.”Aku berjalan keluar dari restoran seorang diri, lalu naik taksi pulang.Kali ini, tidak ada lagi alasan untuk berharap.Hal pertama yang kulakukan adalah mengirim email pengunduran diri kepada perusahaan, lalu mulai membereskan barang-barangku.Tempat pertama yang kubereskan adalah ruang kerja.Pekerjaan Johan cu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status