Share

Bab 2

Author: Sasa
Aku membuka kantong itu, tapi ternyata semua pakaian di dalamnya sudah pernah dibuka.

Label harganya sudah dilepas. Bahkan ada bekas kue ketan yang menempel di celana kasual warna krem dan tidak dibersihkan.

Meski sudah mengering, noda itu masih terlihat jelas.

Sudah tidak bisa dikembalikan.

Aku menatap noda tersebut, seolah sedang melihat pernikahanku selama tiga tahun yang sudah berantakan.

“Siapa yang membuka pakaian ini?”

Johan terdiam sejenak, lalu menjelaskan dengan nada yang lebih lunak, “Nana yang membukanya. Dia menerima paketnya dan mengira itu dibelikan untuknya, jadi langsung dibuka...”

Aku bertanya dengan tenang, “Dia yang membukanya, lalu mengotorinya dan kamu membawanya kembali untuk diberikan kepada orang tuaku?”

Johan langsung terlihat kesal.

“Sudah terlanjur dibuka! Emangnya mau bagaimana lagi? Labelnya sudah dipotong, sudah nggak bisa dikembalikan lagi.”

“Ini ukuran orang tuamu, orang lain juga nggak bisa memakainya.”

“Kalau nggak mau kasih ke orang tuamu, ya sudah, dibuang saja.”

Orang lain tak bisa memakainya.

Siapa ‘orang lain’ yang dimaksud, aku tak perlu bertanya lagi.

Kebenarannya memang konyol, tapi nyata.

Karena orang tua Erna tak bisa memakai kedua pakaian ini, makanya Johan membawanya kembali untuk diberikan pada orang tuaku.

Jika tidak, kedua pakaian ini pasti akan bernasib sama seperti banyak paket yang salah kirim sebelumnya, ditinggalkan untuk Erna.

Aku memasukkan kembali pakaian itu ke dalam kantong.

“Kamu saja yang urus.”

Aku berbalik hendak pergi ke ruang kerja.

Namun, Johan memanggilku, “Bisa nggak jangan cari keributan terus? Aku sengaja memesan restoran prancis mewah untuk minta maaf denganmu.”

“Ini masih hari raya, jangan bertengkar lagi hanya gara-gara masalah sepele, ya?”

Aku ditarik keluar oleh Johan.

Namun, ketika tiba di tempat yang sudah dipesan, ternyata sudah ada orang yang duduk di sana.

Orang itu memakai gaun pendek yang elegan dan sandal kulit domba bertali dengan hak ramping. Wajahnya dirias sempurna, bahkan setiap helai rambutnya tertata begitu rapi.

Sementara aku yang ditarik keluar oleh Johan hanya memakai kaus lengan panjang longgar dan celana panjang yang sederhana. Rambut panjangku pun asal kujepit dengan jepitan capit.

Aku terlihat tak cocok dengan restoran prancis mewah ini.

Johan yang memakai kemeja dan jas terlihat seperti sepasang kekasih yang serasi dengan Erna.

Sedangkan aku tampak seperti orang tak tahu malu yang menupang makan gratis.

Aku tak bertanya pada Johan kenapa Erna sudah datang lebih dulu ke restoran yang dia pesan untuk meminta maaf padaku.

Sambil menarikku untuk duduk, dia menjelaskan, “Erna nggak bisa pulang ke rumah untuk merayakan hari raya. Dia juga sudah lama ingin makan di restoran ini, makanya aku sekalian mengajaknya.”

“Nana masih muda dan belum begitu mengerti, maklumi saja.”

Aku menatap Johan.

Sebelum kami menikah, dia pernah bilang bahwa mantan pacarnya itu enam bulan lebih tua dariku.

Sekarang di depanku, dia malah bilang Erna masih muda dan menyuruhku memakluminya.

Entah lupa atau memang terang-terangan berat sebelah, aku sudah tak ingin membedakannya lagi.

Dia tak ingat kalau aku tak suka makanan prancis.

Namun, dia ingat bahwa Erna sudah lama ingin makan di restoran ini.

Saat memesan restoran ini, sebenarnya siapa yang ada di pikirannya?

Aku tak menanyakan itu.

Karena tak ada gunanya.

Aku duduk berhadapan dengan Johan, memandangi mereka yang duduk berdampingan. Mereka menerima menu dari pelayan, lalu mulai memesan makanan dengan begitu akrab, seolah aku tidak ada di sana.

“Kamu suka macaron, kan? Pesan satu.”

“Aku ingat kamu juga suka. Kita pesan dua saja.”

“Escargot panggang ini kelihatannya enak.”

“Aku sudah tahu kamu pasti suka! Escargot panggang khas prancis di restoran ini paling autentik. Kamu pasti puas setelah mencobanya.”

......

Setelah selesai memesan, mereka menyerahkan menu kepada pelayan. Seolah baru menyadari keberadaanku, Johan berdeham.

“Makanannya cukup untuk tiga orang.”

Erna tersenyum manis, “Kak, maaf ya, aku dan Kak Johan kalau sudah membicarakan makanan memang suka lupa semuanya.”

‘Kak Johan.’

Aku mengulang panggilan itu dalam hati.

Kami berpacaran selama dua tahun, ditambah menikah selama tiga tahun. Artinya sudah hampir enam tahun Erna dan Johan putus.

Namun, masih memanggilnya dengan begitu akrab dan Johan pun sudah terbiasa.

Sementara aku, yang sesekali bercanda memanggilnya ‘Han’.

Dia akan menganggapnya terlalu geli, menyuruhku bicara yang normal karena katanya dia sampai merinding.

Makanan mulai disajikan.

Escargot panggang klasik, foie gras, tiram, kerang hijau.

Ada juga salmon rebus.

Aku menatap hidangan di atas meja tanpa menyentuh pisau dan garpu.

Erna yang duduk di seberangku terlihat sangat bersemangat sejak makanan mulai disajikan.

Setiap kali satu hidangan datang, dia selalu mengeluarkan seruan kecil. Pisau dan garpu sudah digenggamnya, wajahnya menunjukkan rasa tidak sabar untuk mencicipi.

Johan dengan cekatan memotongkan foie gras untuknya dan meletakkannya di piring Erna.

Erna tampak terkejut sekaligus senang, lalu mengucapkan terima kasih kepadanya.

Kemudian Johan menatapku dan mengernyit, “Salmon yang kamu suka juga sudah datang. Kenapa nggak dimakan?”

Aku menjawab dengan tenang, “Aku alergi seafood. Aku tidak pernah makan salmon.”

Johan terdiam sesaat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 8

    Sesekali, Ibu menelepon atau mengirim pesan, memberi tahu bahwa Johan kembali datang ke rumah.Dia berusaha mencari keberadaanku melalui Ayah dan Ibu.Akhirnya, mereka mengatakan kepadanya bahwa aku sedang pergi berlibur.Setelah itu, dia tidak pernah lagi datang ke depan rumah pagi-pagi sekali atau malam-malam saat hari sudah gelap, membuat orang kaget setengah mati.Aku mendengarkan suara Ibu yang lembut, bercerita tentang keadaan di rumah, juga tentang Johan.Setelah mendengar nama itu lagi, hatiku sudah tidak bergejolak sedikit pun.Bagiku, Johan benar-benar sudah menjadi masa lalu.Notifikasi pesan dari Johan sudah kumatikan, jadi hampir tidak pernah kulihat pesan darinya.Sejak awal, aku memang sudah merencanakan perjalanan selama sebulan. Tiket juga sudah kubeli jauh-jauh hari, jadi ketika waktunya tiba, aku langsung naik pesawat pulang.Selama bepergian, setiap kali melihat sesuatu yang menarik atau bermakna, aku langsung membelinya dan meminta jasa kurir mengirimkannya ke ruma

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 7

    Pada hari ketiga perjalanan, aku menerima telepon dari Ibu.“Johan datang ke rumah. Ayah nggak membiarkannya masuk.”“Sikapnya malah cukup baik. Dia datang membawa banyak barang, katanya mau meminta maaf dan menebus kesalahannya kepadamu.”“Sama sekali nggak kelihatan seperti orang yang bisa melakukan begitu banyak kesalahan!”“Kalau sebelum berangkat kamu nggak menjelaskan semua yang terjadi selama tiga tahun pernikahanmu dengannya kepada kami, Ibu dan Ayah benar-benar nggak akan menyangka.”“Mungkin saja kami malah membiarkannya masuk.”Memang benar.Kalau orang lain yang berada di posisiku, mungkin karena ingin menjaga harga diri, menutupi kesalahan sendiri atau takut menjadi bahan pembicaraan orang, mereka akan memilih menyembunyikan semuanya dan hanya mengatakan bahwa hubungan mereka sudah tidak harmonis dan tidak bisa dilanjutkan.Tapi aku bukan orang seperti itu.Kalau memang bukan salahku, kenapa aku harus menyembunyikannya seolah-olah ada sesuatu yang memalukan?Kenapa aku har

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 6

    Dengan bantuan Ayah dan Ibu, aku segera membongkar dan menata semua barang yang sudah kukemas.Aku kembali ke kamar yang kutempati sejak kecil.Kamar kecil itu hanya berisi lemari pakaian dan sebuah meja belajar. Tidak luas, tetapi penuh dengan jejak kehidupanku.Malamnya, Ayah dan Ibu memasak satu meja penuh makanan kesukaanku.Kemarin saat hari raya, aku sudah lebih dulu memberi tahu mereka bahwa Johan akan pulang bersamaku untuk merayakan hari raya.Ayah dan Ibu sengaja memasak banyak makanan yang disukai Johan. Tapi, dia tidak datang.Selera makannya juga berbeda dengan kami, sehingga akhirnya masih banyak makanan tersisa di atas meja.Sekarang, keluarga kami akhirnya tidak perlu lagi menyesuaikan diri dengan Johan.Setelah makan, Ayah dan Ibu sengaja mengajakku keluar untuk berjalan-jalan.Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok-kelok.Ayah dan Ibu menghiburku, “Dalam hidup, kita nggak perlu takut menghadapi masalah. Yang perlu ditakutkan adalah ketika masalah datang,

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 5

    Johan menatap surat cerai di hadapannya dengan wajah tak percaya.Suasana di dalam ruang VIP seketika menjadi hening.Erna adalah orang pertama yang berdiri. Dengan wajah panik, dia menatap Johan, “Kak Johan, Kak Devi salah paham, ya? Cepat jelaskan padanya!”Kemudian dia menoleh kepadaku, “Kak, maaf, tadi semua orang cuma sedikit mabuk dan bercanda. Kak jangan terlalu memikirkannya...”Aku menatap dingin ekspresi Johan yang awalnya dipenuhi keterkejutan dan kegugupan. Tapi, setelah mendengar perkataan Erna, ekspresinya perlahan berubah menjadi kesal dan jengkel.Dia menahan amarah dan berkata kepadaku, “Devi, hari ini ada begitu banyak rekan kerja dan teman-temanku. Orang tuaku juga ada di sini. Mereka cuma bercanda. Kalau kamu nggak suka, bilang saja. Jangan membuat keributan seperti ini sampai membuat semua orang melihat lelucon.”Ayah dan ibu Johan juga memasang senyum canggung sambil berusaha membujukku.“Devi, tadi David dan yang lainnya memang agak keterlaluan saat bercanda, tap

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 4

    Johan memesan sebuah ruang VIP besar. Ada dua meja yang hampir penuh, dengan total hampir tiga puluh orang.Di meja tempat Ayah dan Ibu Johan duduk, Erna juga ada di sana.Dia duduk di samping Ayah dan Ibu Johan, sementara Johan duduk di sebelah kanannya.Saat pelayan mengantarku masuk ke dalam ruang VIP, aku tepat melihat Johan memiringkan wajah dan mengatakan sesuatu kepada Erna.Jarak mereka begitu dekat dan senyum terlihat jelas di mata keduanya.Begitu melihatku masuk, suasana di dalam ruangan mendadak hening selama sesaat.Johan langsung menarik tubuhnya ke belakang dan menjauh dari Erna.Seolah ingin menutupi sesuatu, dia berdiri dan berjalan menghampiriku.“Kamu sudah datang.”Dia melambaikan tangan memanggil pelayan, lalu berkata kepadaku, “Kami tinggal menunggumu. Ayo, duduk.”Aku mengangguk, lalu berjalan menghampiri Ayah dan Ibu Johan untuk menyapa mereka.Johan menjelaskan kepadaku, “Ibu kangen Nana, jadi sengaja menyuruhku mengundangnya.”Dia mendekatiku dan berbisik, “Ha

  • Paket Yang Tak Pernah Sampai   Bab 3

    Namun, detik berikutnya, tatapan yang diarahkan kepadaku justru penuh teguran.“Aku nggak ingat. Kok kamu tidak bilang?”“Lagipula, kalau kamu nggak bisa makan seafood, bukannya masih ada irisan daging sapi mentah di meja?”Padahal aku tak pernah makan makanan mentah.Johan selalu mengingatnya dulu. Entah sejak kapan, semua itu sudah dia lupakan.Tiba-tiba, aku tak tahu apa arti keberadaanku di sini.Aku berdiri dan pergi.Di belakangku, Erna bertanya dengan nada khawatir, “Kakak marah, ya?”Suara Johan terdengar rendah, tetapi kemarahannya sama sekali tidak disembunyikan.“Di mana pun tempatnya, dia selalu paling pandai merusak suasana! Jangan pedulikan dia. Kita makan saja.”Aku berjalan keluar dari restoran seorang diri, lalu naik taksi pulang.Kali ini, tidak ada lagi alasan untuk berharap.Hal pertama yang kulakukan adalah mengirim email pengunduran diri kepada perusahaan, lalu mulai membereskan barang-barangku.Tempat pertama yang kubereskan adalah ruang kerja.Pekerjaan Johan cu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status