Home / Romansa / Paman, Bawa Aku Pergi / 48. Tapi Ada Syaratnya

Share

48. Tapi Ada Syaratnya

Author: Bunga
last update publish date: 2026-04-13 23:57:01

"Gusti," ucap Anggun singkat. Ia menggeser layar dan menjawab panggilan itu. "Ya, Gusti? Anya ada di sini, kami sedang makan malam.Ya, sebentar."

"Gusti ingin bicara. Katanya dia menghubungimu berkali-kali tapi tidak kamu angkat." Anggun memberikan ponselnya kepada Anya.

Anya menarik napas panjang. Mencoba menahan gemetar di tangannya saat menerima ponsel ibu mertuanya. Ia menempelkan benda itu ke telinganya. Namun tetap diam, menunggu suara dari seberang sana.

"Anya? Sayang? Tolong dengarkan a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Paman, Bawa Aku Pergi   55: Susah Berlari

    "Sama-sama, Sayang, kita sampai bersama-sama!" geram Bagas. Ia memberikan beberapa sentakan terakhir yang paling kuat dan paling dalam, seolah ingin menyentuh dasar jiwa Anya. Dalam satu ledakan gairah yang dahsyat, Anya melepaskan longlongan yang sangat panjang, tubuhnya melenting hebat sebelum akhirnya terkulai lemas di pelukan Bagas. Di saat yang sama, Bagas mengerang rendah, menyemburkan seluruh gairahnya.Keheningan yang pekat menyusul setelah badai gairah itu mereda di atas sofa beludru. Bagas masih memeluk tubuh Anya yang terkulai lemas, mencoba mengatur napasnya yang masih menderu kasar. Kesunyian itu pecah oleh getaran ponsel Anya di atas meja rias yang menampilkan nama Mama Anggun."Halo, Ma?" suara Anya terdengar sedikit parau dan gemetar saat ia menjauh dari Bagas untuk menerima panggilan itu."Anya, mohon maaf Mama baru bisa memberi kabar sekarang. Mama baru saja sampai di Malaysia, tadi perjalanannya cukup melelahkan," suara Anggun terdengar dari seberang sana dengan lat

  • Paman, Bawa Aku Pergi   BAB 54: Mulai Menerima

    Bagas menyadari bahwa paksaan hanya akan membuat Anya semakin terkunci. Ia meletakkan kedua tangannya di pipi Anya. Memaksa wanita itu untuk menatap dalam ke matanya yang berkilat lapar namun penuh dengan pemujaan."Lihat aku, Anya. Fokus hanya padaku. Jangan pikirkan yang lain. Hanya ada kita di sini," bisik Bagas dengan suara rendah yang menggetarkan sukma Anya.Ia mulai memberikan ciuman-ciuman kecil di sudut bibir Anya, lalu turun ke rahang, dan memberikan sesapan dalam di leher yang meninggalkan tanda kemerahan. Sementara itu, jemari Bagas kembali bekerja di bawah sana. Ia tidak membiarkan area itu kering; ia kembali memberikan rangsangan telaten Memutar dan menekan pusat gairah Anya hingga wanita itu melenguh pasrah."Nngghh. Bagas, Rasanya sangat sesak. Aku takut," rintih Anya, tubuhnya bergetar hebat di pangkuan Bagas."Sstt. Jangan takut. Tubuhmu diciptakan untuk menerima ini. Lepaskan semuanya," potong Bagas sambil terus memberikan pijatan lembut yang membuat pertahanan Any

  • Paman, Bawa Aku Pergi   53. Memulai di Atas Sofa

    "Bagas, kumohon. Segera keluar dari kamar ini. Aku tidak mau Mbak Reni curiga," bisik Anya dengan napas tersengal, meskipun jemarinya justru meremas bahu kokoh Bagas, seolah tak rela melepaskannya.Bagas tidak menjawab. Ia justru menatap lekat piyama yang membungkus tubuh Anya. Dengan gerakan yang sangat lambat. Seolah ingin memberikan Anya kenimatan dengan penantian. Ia membuka kancing pertama. Matanya tidak lepas dari mata Anya yang mulai berkaca-kaca oleh gairah."Setiap inci darimu adalah milikku, Anya. Dan pakaian ini mengganggu pemandanganku," geram Bagas rendah saat kancing terakhir terlepas.Bagas menyisihkan kain piyama itu. Lalu dengan satu gerakan halus, ia melepaskan kain penutup mahkota kembar Anya. Ia membiarkannya jatuh ke lantai keramik, menyusul piyama yang sudah lebih dulu. Lalu, Bagas berlutut di hadapan Anya. Ia tidak menggunakan tangan, melainkan memajukan wajahnya dan menarik pinggiran kain penutup organ intim Anya menggunakan giginya.Anya terkesiap, jemarinya

  • Paman, Bawa Aku Pergi   52. Lampu Darurat

    Anya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa memberikan anggukan lemah sambil mencengkeram bahu kemeja Bagas yang masih rapi. Kontras yang tercipta begitu nyata. Kulit Anya yang polos bersentuhan langsung dengan kain kemeja Bagas yang dingin, menciptakan gesekan yang justru memacu adrenalinnya lebih cepat."Kenapa diam, Anya?" bisik Bagas lagi. Suaranya yang rendah kini bergetar tepat di permukaan bibir Anya. "Katakan padaku apa yang kamu rasakan sekarang. Jangan disembunyikan.""Aku tidak tahu, Bagas," rintih Anya. Ia mencoba memalingkan wajah, namun jemari Bagas dengan lembut namun tegas memutar dagunya kembali agar mereka saling menatap.Bagas mulai bergerak, menekan tubuhnya yang terbungkus pakaian itu lebih rapat ke atas tubuh Anya. Tanpa melepas satu pun kancing kemejanya, tangan Bagas merayap turun kembali menuju pusat gairah Anya yang sudah tak terlindungi."Kita nikmati, Sayang. Perlahan ...," gumam Bagas.Ia memasukkan satu jarinya dengan gerakan memutar yang sangat l

  • Paman, Bawa Aku Pergi   51. Mati Lampu

    "Urusanmu adalah urusanku selama kamu masih berada di bawah atap ini, Anya," desis Bagas. Suaranya yang rendah justru terasa lebih mengancam daripada teriakan kemarahan Gusti."Paman lupa? Aku punya suami. Jika ada yang berhak mengatur jam pulangku, itu Mas Gusti, bukan Paman!" ucap Anya. Menantang tatapan tajam Bagas meski jantungnya bertalu hebat.Bagas tertawa sinis. Ia maju satu langkah lagi. Memaksa Anya mundur hingga tumitnya membentur anak tangga pertama. "Suamimu sekarang tidak ada di sini," ujar Bagas, semakin berani mendekat.Anya segera menyentakkan tubuhnya, bergeser dari kuncian lengan Bagas dan berlari menaiki tangga. Ia masuk ke kamar dan menutup pintu dengan napas memburu. Tak lama, ponselnya berdering. Nama Mas Gusti muncul di layar."Halo, Mas?""Anya, Mas baru saja bicara dengan Mama. Papa mendadak harus ke Malaysia besok pagi untuk urusan kesehatan, jadi Mama terpaksa batal menginap di sana. Mas sudah minta tolong Mbak Reni, istri Pak Sopir, untuk menginap menema

  • Paman, Bawa Aku Pergi   50. Tatapan Baru

    50. Tatapan Baru"Anjani!" panggil seorang pria, langkahnya mendekat dengan santai."Pak Anton?" seru Anjani, suaranya berubah dari tegang menjadi penuh kejutan yang menyenangkan. "Ya ampun, Pak Anton! Saya pikir siapa tadi yang memanggil di tempat sepi begini."Anya mengerutkan kening, menatap pria bernama Anton itu dengan bingung. Pria itu berdiri tepat di hadapan mereka. Namun matanya sama sekali tidak menoleh ke arah Anjani. Tatapannya terkunci rapat pada wajah Anya, seolah sedang melihat sesuatu yang luar biasa hingga ia lupa untuk menyapa rekan bisnisnya."Maaf kalau saya mengejutkan kalian berdua," ujar Anton, suaranya terdengar berat dan penuh wibawa namun ramah. Ia kembali menatap Anjani, tapi hanya sedetik, sebelum matanya kembali beralih ke Anya. "Siapa wanita cantik ini, Anjani? Aku baru tahu kamu punya teman yang luar biasa seperti dia."Anjani tertawa renyah, menyadari ketertarikan terang-terangan dari investor utamanya itu. "Ah, kenalkan Pak Anton, ini asisten baru saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status