Masuk"Perusahaan ini baru saja berdiri, fondasinya masih sangat bersih," jawab Bagas sembari mengetuk permukaan dokumen audit bagian ketiga dengan ujung telunjuknya. "Namun, justru karena perusahaan ini baru, saya harus memastikan tidak ada penyusupan aset atau manipulasi data dari luar sejak awal. Dan kamu adalah orang kepercayaan yang akan membantu saya menjaga gerbang itu tetap aman."Anya terdiam, merasakan tanggung jawab yang mendadak terasa teramat berat di pundaknya yang mungil. Ia datang ke kantor ini hanya untuk melarikan diri dari rasa sakit hatinya akibat pengkhianatan Gusti di Surabaya, namun kini ia justru terjebak di tengah pusaran taktik kekuasaan keluarga yang jauh lebih besar."Saya tidak ingin terlibat dalam urusan pribadi Anda dengan keluarga Mas Gusti, Pak Bagas," tegas Anya, mencoba menarik batasan yang jelas agar tidak kian terseret ke dalam bahaya. "Tugas saya di sini hanya sebatas profesionalitas kerja sebagai asisten audit sementara."Bagas tersenyum tipis, sebuah
Anya menatap pintu kayu jati yang kembali tertutup rapat itu dengan perasaan campur aduk. Kata-kata Bagas barusan terdengar biasa bagi staf lain. Namun ada nada protektif yang terselip di sana. Segera setelah merapikan beberapa map dokumen yang akan dibahas, ia mengetuk pintu ruangan CEO dengan perlahan sebelum melangkah masuk ke dalam. Aroma kopi hitam yang pekat langsung menyambut indra penciuman Anya begitu ia melangkah melewati ambang pintu ruangan Bagas yang luas."Duduklah, Anya," ujar Bagas lembut sembari berjalan mendekat dan mengambil posisi duduk di kursi kebesarannya, tepat di seberang meja kaca."Ini data vendor utama bagian ketiga yang Anda minta kemarin sore, Pak. Semua angka sudah saya sinkronisasikan dengan laporan dari divisi keuangan." Anya meletakkan map dokumen di hadapan Bagas sembari mencoba mempertahankan sikap profesionalnya."Bagaimana tidurmu semalam? Apakah kamu beristirahat dengan baik seperti yang saya sarankan?" Anya meletakkan map dokumen audit di hadapa
Anya membeku di tempatnya berdiri, mencengkeram erat tali tas kerjanya demi menyembunyikan getaran hebat yang mulai menjalar ke ujung-ujung jarinya. Tatapan tajam Mama Anggun seolah menguliti ekspresi wajahnya, mencari tahu apakah sang menantu sudah mencium bau busuk yang disembunyikan oleh putra kesayangannya."Kenapa Mama tiba-tiba bertanya tentang wanita itu?" tanya Anya balik, suaranya mengalun sedikit serak meskipun ia sudah berusaha mati-matian untuk terdengar biasa saja.Mama Anggun tidak langsung menjawab; ia melepaskan cekalan tangannya di pergelangan tangan Anya, lalu melipat kedua tangannya di depan dada dengan wibawa seorang nyonya besar yang angkuh."Gusti sempat memanggil nama itu saat menelepon Mama tadi subuh dengan suara frustrasi. Mama hanya ingin memastikan bahwa perempuan itu tidak sedang mengganggu ketenangan rumah tangga anak Mama," ucap Anggun dengan cemas."Saya tidak kenal, Ma. Mungkin dia hanya salah satu rekan bisnis atau klien Mas Gusti selama di Surabaya,"
“Paman Bagas?” tanya Anya. Berusaha menyembunyikan rasa penasarannya."Apakah setelah Reni menemanimu, Bagas datang lagi ke sini?" Anggun menghela napas sejenak sebelum melanjutkan pertanyaannya dengan selidik yang amat kentara."Tidak Ma, paman Bagas tidak pernah datang lagi ke sini," jawab Anya berusaha setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang mendengar nama itu disebut kembali oleh sang ibu mertua."Bagas susah Mama hubungi belakangan ini. Baiklah, saatnya kita istirahat," keluhnya sembari mengakhiri pembicaraan.Anya dan Anggun kemudian bangkit berdiri, lalu melangkah beriringan memasuki kamar masing-masing di lantai atas untuk mengakhiri malam yang melelahkan itu. Namun, keheningan rumah tersebut ternyata tidak bertahan lama setelah mereka menyelesaikan makan malam darurat yang canggung beberapa saat sebelumnya.Drrrt ... Drrrt ...Ponsel milik Anggun yang tergeletak di atas meja makan mendadak berdering nyaring, memecah kesunyian malam dengan getaran yang panjang. Ang
Anya tersentak pelan, berjalan menuju dapur bersih untuk mengambilkan segelas air putih hangat tanpa berniat menunjukkan kepatuhan yang berlebihan."Aku baik-baik saja, seperti yang Mama lihat. Gusti tidak perlu seberlebihan itu sampai harus merepotkan Mamanya yang baru saja menempuh perjalanan jauh dari luar negeri."Anggun menerima gelas yang disodorkan Anya, meminumnya sedikit lalu meletakkannya kembali di atas meja kaca dengan gerakan yang teramat pelan dan penuh wibawa seorang nyonya besar."Hubungan kalian sedang tidak baik, ya? Mama perhatikan kamu ketus sekali sejak tadi," ucap Anggun memancing reaksi, matanya terus mempelajari setiap perubahan ekspresi di wajah pucat asisten CEO tersebut. "Sifat Gusti memang kadang terlalu pencemas, tapi itu karena dia peduli pada istrinya."Anya mengepalkan kedua tangan di balik saku blazer kerja, mencoba sekuat tenaga menahan diri agar tidak meledak di hadapan ibu mertuanya ini. Kehadiran Anggun di rumahnya malam ini benar-benar menjadi uji
Anya membungkuk untuk mengambil foto tersebut, berniat mengembalikannya ke dalam map agar tidak hilang atau tercecer. Namun, pandangannya terkunci pada objek di dalam foto. Sebuah potret lama yang menampilkan seorang wanita."Sudah ketemu berkasnya, Anya?" tanya Bagas, suaranya tiba-tiba terdengar lebih dekat karena ia sudah berdiri beberapa langkah di belakang Anya."Ini berkasnya, Pak. Dan maaf, foto ini tadi tidak sengaja terjatuh dari dalam map." Anya sedikit tersentak, buru-buru membalikkan tubuhnya menghadap Bagas sambil menyodorkan map beserta foto kecil yang tadi terjatuh.Bagas menerima map tersebut, lalu pandangannya beralih pada selembar foto kecil yang berada di atas jemari Anya yang ramping. Gurat wajah pria itu melembut, menyiratkan kerinduan sekaligus ketegasan yang mendalam saat jemarinya mengambil alih foto tersebut dengan sangat hati-hati."Terima kasih sudah mengamankannya, Anya. Ini adalah salah satu motivasi terbesar saya untuk berada di posisi sekarang," ucap Bag
Anya meringkuk di sudut kursi taksi. Membiarkan air matanya mengalir deras seiring dengan menjauhnya gedung kantor dari pandangan. Di hotel bintang empat yang letaknya cukup tersembunyi, ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk terdiam di dalam kamar, mencoba mencuci bersih sisa-sisa aroma Bagas yang
"Sama-sama, Sayang, kita sampai bersama-sama!" geram Bagas. Ia memberikan beberapa sentakan terakhir yang paling kuat dan paling dalam, seolah ingin menyentuh dasar jiwa Anya. Dalam satu ledakan gairah yang dahsyat, Anya melepaskan longlongan yang sangat panjang, tubuhnya melenting hebat sebelum ak
Bagas menyadari bahwa paksaan hanya akan membuat Anya semakin terkunci. Ia meletakkan kedua tangannya di pipi Anya. Memaksa wanita itu untuk menatap dalam ke matanya yang berkilat lapar namun penuh dengan pemujaan."Lihat aku, Anya. Fokus hanya padaku. Jangan pikirkan yang lain. Hanya ada kita di s
"Bagas, kumohon. Segera keluar dari kamar ini. Aku tidak mau Mbak Reni curiga," bisik Anya dengan napas tersengal, meskipun jemarinya justru meremas bahu kokoh Bagas, seolah tak rela melepaskannya.Bagas tidak menjawab. Ia justru menatap lekat piyama yang membungkus tubuh Anya. Dengan gerakan yang







