FAZER LOGINTangan Luna terasa lebih sakit dibanding orang yang menerima tamparan. Dia masih ingin memukul Jordan, namun tidak kuasa menahan gemetar oleh kemarahannya.“Buka pintunya. Sekarang.”Dari nada bicaranya yang penuh kebencian itu, jelas sekali jika Luna sudah tidak bisa berkompromi. Jangankan hanya membicarakan masalah pekerjaan, dia tidak sudi lagi bertemu Jordan.Jordan tidak memberi penjelasan apa pun, lalu membukakan pintu untuknya. Dengan perasaan campur aduk yang didominasi oleh amarah itu, Luna berlari kecil mencari-cari ruangan yang digunakan untuk pesta. Akhirnya, dia bertemu seseorang yang membawanya kembali ke tempat yang semestinya.Luna sudah tidak bisa menikmati acara, bahkan tidak memedulikan keramahan orang-orang di sekelilingnya. Dia hanya ingin segera pergi dari tempat itu, di mana ada Jordan Reed yang seperti membawa kutukan baginya.Setelah pesta di yacht milik Reed Group berakhir, Luna dan karyawan Aura Tech langsung berkendara ke Veridian City. Dua wanita lain tidu
Suara mekanik pintu digital terbuka. Luna sontak menoleh ke belakang. Jordan tidak berniat melakukan apa pun padanya, hanya membuka pintu di belakangnya.“Apa kamu sengaja mengikutiku sampai ke ruangan pribadiku?” Jordan sengaja terus melangkah masuk ke kamar biarpun tahu Luna berada di depannya. “Aku tidak keberatan meluangkan satu hari lagi untukmu di tempat ini.”Di tempat yang lebih terang, Luna bisa dengan jelas melihat ekspresi Jordan. Sambil mundur mengikuti gerakan kaki Jordan yang terus maju, Luna terpaku pada wajah pria yang dulu sempat menjadi tunangannya itu.Jordan bukan pria yang suka bermain kata-kata seperti sekarang. Luna seakan tidak mengenali pria di depannya itu.Ketika terdengar suara pintu ditutup, Luna akhirnya benar-benar tersadar di mana dirinya berada. Dia ternyata salah paham, mengira Jordan mengikutinya. Rupanya, Jordan hanya kembali ke ruangan pribadinya.“Aku tidak tahu jalan kembali ke ruangan pesta,” lirih Luna sambil membuang muka. “Maaf, Tuan Reed, ak
Untung saja mereka sekarang sedang berada di tempat gelap. Luna tidak perlu menyembunyikan raut wajah panik ketika mencerna kata-kata Jordan.‘Mustahil … dia baru sekali bertemu Carl. Dia mungkin hanya menebak-nebak setelah mencari tahu usia Carl.’ Luna masih belum memercayai ucapan Jordan.Setelah menemukan ketenangannya kembali, Luna berkata, “Imajinasimu terlalu liar, Tuan Reed.” Kemudian dia terkekeh kecil, mencoba bersikap lebih santai agar tidak mencurigakan, seakan-akan menunjukkan bahwa ucapan Jordan sangat menggelikan.“Sebenarnya apa yang merasukimu sampai kamu berusaha keras meyakinkan dirimu sendiri kalau Carl itu darah dagingmu?”Seperti sebelumnya, Jordan hanya diam ketika Luna merangkai kebohongan dengan kata-kata sinis yang tidak begitu memengaruhinya. Mereka masih punya banyak waktu malam ini untuk membicarakan masalah Carl sampai selesai.“Apa kamu tidak kasihan pada darah dagingmu sendiri yang masih ada dalam kandungan istrimu? Dia bisa menangis kalau mendengar ayah
“Tidak aku duga. Wanita yang terus mengelak telah melahirkan darah dagingku, menggunakan situasi ini untuk menggodaku,” lirih Jordan.Luna menggeleng dengan cepat. Dia bersumpah tidak pernah sedikit pun berpikir akan menggoda Jordan.Rasa panik melanda, sampai tangannya hampir membuka pintu untuk melarikan diri. Tetapi, sepasang kekasih itu masih di luar. Suara mereka masih terdengar meski agak jauh.Luna mencoba berpikir jernih. Setelah memejamkan mata selama beberapa detik, dia menemukan ketenangannya lagi.Di saat yang sama, bibir Jordan semakin dekat di telinga Luna, sampai embusan hangat napasnya terasa menggelitik indranya, kemudian membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri.“Apa kamu sungguh melupakan malam itu? Atau ingin mengulanginya lagi?” Suara rendah Jordan seperti udara yang menyayat di gendang telinganya. Luna menelan ludah bulat-bulat dan meyakinkan diri bahwa dia bisa menghadapi pria itu.Dia akan melayangka
“Apa kamu mendengar sesuatu?” Suara wanita di luar sangat dekat dengan pintu. Jordan tidak mempedulikan gangguan dari luar. Dia menatap bibir Luna semakin dalam, berkonsentrasi mengartikan gerakan bibir Luna yang masih mencoba mengatakan sesuatu di dalam kegelapan.Luna semakin meradang karena Jordan terlalu lambat mengerti. Bagaimanapun, mereka harus segera keluar dari tempat itu tanpa terlihat siapa pun.Dalam sekejap, Luna menemukan ide untuk membuat pasangan kekasih itu pergi dari sana. Dia mengepalkan tangan, lalu memukul pintu dengan keras.Jordan sontak memeloloti Luna. Kemudian menunduk sampai ke dekat telinga Luna, berbisik untuk menghindari kesalahan yang sama, “Apa yang kamu lakukan?”“Ngh ….” Di dekat wajah Jordan, Luna malah mengerang cukup keras agar bisa terdengar sampai luar. Dia fokus membuat-buat suaranya agar terdengar berbeda sampai tidak sadar dengan wajah Jordan yang berdekatan dengannya.Jordan mematung ta
Jangan pikir, Luna bisa dengan mudah menghancurkan ketenangan Jordan. Pria itu pun lebih dari mampu mengobrak-abrik emosi lawan bicaranya.“Tidak perlu, Tuan. Pendengaran saya baik-baik saja. Hanya saja, ada beberapa suara yang tidak bisa saya dengar karena mereka terbiasa mengatakan omong kosong saja.” Luna memberikan senyuman termanisnya untuk menghina Jordan.Mereka sama-sama menyinggung dengan tenang. Namun, suasana semakin menegang.“Jadi, kamu mau bilang kalau aku cuma bicara omong kosong?”Jordan kembali menarik tangan Luna. Dengan kekuatannya, dia menyeret Luna ke samping, di mana tidak ada seorang pun di sana. Namun, mendadak kaki mereka membeku. Mendengar suara decapan basah dari sepasang pria dan wanita, yang merupakan karyawan pabrik Reed Group, sedang bercumbu mesra di tempat gelap itu.Wajah Luna sontak merona ketika akhirnya melihat pria dan wanita itu sedang berpelukan sambil berciuman panas. Jordan pun mencengkeram pergelangan tangannya lebih kencang, juga terkejut m







