MasukLuna tidak pingsan, namun dia berharap dirinya pingsan. Setiap detik kesadaran yang kembali terasa seperti pisau yang menyayat.
Terbaring kaku di atas ranjang yang terasa dingin dan lengket, Luna menatap langit-langit kamarnya yang perlahan mulai diterangi oleh cahaya fajar yang keabu-abuan. Setiap senti tubuhnya terasa sakit, memar, dan kotor. Di sampingnya, dengkuran pelan dan berat dari pria asing itu terdengar stabil.
Air mata sudah mengering di pipinya, meninggalkan jejak perih. Kehampaan yang dingin adalah satu-satunya hal yang tersisa. Rencananya untuk pergi, untuk memulai hidup baru, terasa seperti lelucon yang kejam. Bagaimana dia bisa memulai hidup baru dengan jiwa dan raga yang sudah hancur seperti ini?
Namun, dia tidak bisa hanya diam meratapi ini, dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut membangunkan monster di sebelahnya, Luna menoleh. Dia harus melihat wajah pria yang telah menghancurkannya.
Sinar fajar yang menyelinap melalui celah tirai jatuh tepat di wajah pria itu.
Dan seketika, napas Luna berhenti.
Rahang yang tegas, hidung yang lurus, bibir yang semalam terasa begitu buas kini terlihat tenang dalam tidurnya. Wajah itu adalah wajah yang sama yang dia lihat di altar beberapa jam yang lalu saat menyematkan cincin di jari adiknya.
Jordan Reed.
Suami Olivia.
“Tidak …,” bisikan itu keluar dari bibirnya tanpa suara. Jantungnya yang tadinya mati rasa kini mulai berdebar kencang.
Ini seratus kali lebih buruk daripada diserang oleh orang asing. Pria ini … pria ini telah menjadi bagian dari keluarganya. Pria ini akan tinggal di bawah atap yang sama dengan adiknya.
Wajah Olivia yang tersenyum bahagia terlintas di benaknya. Olivia, satu-satunya orang yang menurutnya peduli padanya. Kebahagiaan adiknya … bagaimana dia bisa membiarkan kebenaran mengerikan ini menghancurkan hari pertama pernikahan Olivia?
Kepanikan yang dingin dan menusuk terasa dalam aliran darah.
Luna harus pergi sekarang juga.
Olivia tidak boleh tahu tentang hal ini. Tidak akan pernah.
Dengan tubuh yang bergetar hebat dan rasa sakit yang menyengat di antara kedua pahanya, Luna memaksa dirinya turun dari ranjang. Dia menyambar pakaian dari lemari tanpa memilih, tangannya gemetar hebat hingga dia kesulitan mengenakan pakaiannya. Dia tidak berani melihat pantulan dirinya di cermin.
Kemudian Luna meraih koper yang sudah dia siapkan, memasukkan beberapa barang penting yang tersisa dengan tergesa-gesa. Dia harus pergi sebelum pria itu bangun. Sebelum orang lain di rumah ini bangun.
Sebelum dia pergi, matanya tanpa sengaja melirik ke arah ranjang sekali lagi. Ke arah bukti nyata dari mimpi buruknya. Noda darah di atas seprai putih. Sebuah bukti kesuciannya yang telah direnggut.
Sambil menahan isak tangis yang mengancam akan meledak, Luna berbalik dan membuka pintu kamarnya sepelan mungkin, lalu menghilang ke dalam koridor yang masih sepi.
***
Pagi harinya, Jordan Reed membuka mata. Tidak ada keraguan dalam gerakannya saat dia langsung duduk tegak. Matanya yang tajam memindai ruangan.
Ini bukan kamarnya.
Tetapi, tatapannya langsung jatuh pada sisi ranjang yang kosong, lalu berhenti pada noda darah di seprai. Wajah tampannya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dingin dan kaku.
Dan dia ingat segalanya. Ingatan seorang Jordan Reed selalu jelas. Dia ingat rasa wiski yang aneh, panas yang membakar tubuhnya, dan koridor yang salah. Dia juga ingat wajah wanita di bawahnya, basah oleh air mata di bawah cahaya bulan yang menyelinap masuk.
Luna Carter.
Dia telah dijebak. Dan kakak iparnya adalah korbannya.
Tanpa suara, Jordan turun dari ranjang. Gerakannya mantap saat mengambil pakaiannya yang tergeletak di lantai dan memakainya dengan cepat. Sambil mengancingkan kemejanya, otaknya sudah bekerja, memproses informasi dan merencanakan langkah selanjutnya.
Ini adalah sebuah serangan yang terencana. Pelakunya adalah orang dalam yang tahu denah rumah ini dan tahu jadwalnya. Kemarahan yang dingin mulai terbentuk di dalam dirinya, bukan karena perasaannya, tetapi karena seseorang berani mempermainkannya.
Tanggung jawab adalah segalanya baginya. Semalam, dia telah menciptakan masalah yang sangat besar. Masalah yang harus dia selesaikan sebelum menyebar.
Jordan mengeluarkan ponselnya. Dia tidak menelepon, melainkan mengetik sebuah pesan terenkripsi kepada asisten kepercayaannya.
“Liam. Atur tes toksikologi untukku. Segera. Selidiki semua rekaman CCTV di Carter Estate dari jam 11 malam. Cari tahu siapa saja yang berinteraksi denganku setelah jamuan makan malam. Diam-diam.”
Dia mengirim pesan itu dan memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Setelah rapi, dia berjalan ke pintu dan membukanya. Koridor sudah terang. Tujuannya adalah menemukan Luna dan berbicara dengannya. Dia harus mengendalikan situasi ini.
“Jordan?”
Suara Olivia menghentikan langkahnya. Di puncak tangga, Jordan melihat istrinya berdiri di bawah tangga, kerutan samar muncul di kening Jordan saat melihat tatapan kecewa Olivia terhadapnya.
“Aku menunggumu semalaman,” kata Olivia.
Jordan tidak menjawab. Dia menuruni tangga dengan pelan sambil menatap Olivia, tatapannya tajam dan menilai.
Tiba-tiba, seorang pelayan berlari di sebelah Jordan dari arah belakang dengan wajah panik.
“Tuan! Nyonya!” teriak pelayan itu, sambil menggedor pintu kamar Robert Carter. “Nona Luna hilang! Kamarnya kosong dan kopernya juga tidak ada!”
Olivia tersentak kaget, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Jordan, sebaliknya, tidak bergerak berdiam diri di samping Olivia menatap Robert Carter dan istrinya dengan pandangan dalam. Berita itu tidak mengejutkannya. Itu adalah langkah masuk akal yang akan diambil wanita itu. Tapi kepergian Luna membuat segalanya menjadi lebih rumit.
Ponselnya bergetar di saku. Sebuah pesan balasan dari Liam.
“CCTV koridor lantai dua dihapus. Investigasi awal menunjukkan minuman terakhir Anda diberikan oleh sepupu Anda, Mark.”
Mark.
Jordan memproses informasi itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya. Dia melihat ke arah Olivia yang tampak syok, lalu ke lantai dua arah koridor kamar Luna.
Wanita itu … harus dia temukan.
“Anda tahu, aku bukan orang yang akan membela kejahatan meskipun orang itu adalah keluargaku sendiri,” tegas Jordan.Benar, seperti itulah cara keluarga Reed bertindak dan mempertahankan takhta mereka di Veridian City sesuai yang diketahui Marilyn dan orang lain. Dia harus segera mengumpulkan bukti atas semua kecurigaannya tentang keluarga Carter, terutama pada Nancy dan Olivia, lalu memikirkan rencana agar bisa terlepas dari situasi buruk yang mungkin terjadi.Selama ini, Marilyn selalu menjaga hubungan baik dengan para istri pengusaha besar di Veridian City. Ada beberapa teman yang dekat dengannya, namun hubungan Marilyn dan Nancy hanya sebatas saling memberi dukungan.Tidak dapat dipungkiri, dia dulu sempat hampir menjodohkan George dengan Olivia. Ketika dia melontarkan candaan tentang rencana itu, Nancy menolak dengan halus seolah telah memiliki rencana masa depan yang sudah pasti untuk putrinya. Saat itu, Luna masih jadi tunangan Jordan. Dan setelahnya, banyak rangkaian kejadian
Jordan beruntung ada di tempat itu sekarang. Bukan hanya Luna yang akan berurusan dengan keluarga Carter, namun juga dirinya. Luna membuka jalan yang lebih lebar untuk membalas kejahatan Olivia. Dan dia menemukan cara yang lebih efektif untuk menarik Luna ke pihaknya.“Olivia dan ibunya punya hubungan yang sangat dekat. Aku tidak mau mencurigai istriku, tetapi aku tidak bisa membiarkannya kalau dia berbuat buruk pada orang lain, apalagi pada kakaknya sendiri.” Dengan tegas menjawab Marilyn, Jordan sekaligus memancing Luna meskipun dia sudah tahu kebenarannya.Luna dan Jordan seperti sedang bicara dengan tatapan mereka meski hanya sekilas. Luna mengerti apa yang diinginkan Jordan darinya, mengingat Olivia tega memberikan racun pada pria itu.Dia pun merasa diuntungkan. Tadinya dia hanya bisa menanamkan benih kecurigaan pada Marilyn agar tidak terkesan menjatuhkan nama baik Olivia. Jordan membuka peluang agar Luna bisa membicarakan tentang Olivia lebih banyak.“Ti
“Dengan satu syarat.” Mata Jordan mengilat oleh cahaya petir yang menyambar. Seringai pria itu membuatnya tampak lebih berbahaya.Luna mendadak sedikit ragu ketika Jordan memberi sebuah syarat. Namun, dia tidak mau mundur jika memang dia bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan dari tawaran Jordan.“Katakan,” tantang Luna.Sebelum Jordan mengatakan syarat itu, suara derapan langkah kaki terdengar. Luna buru-buru mendorong Jordan. Kali ini, Jordan melepaskan Luna dengan mudah.Mereka langsung duduk di kursi yang berjauhan, tepat ketika Marilyn muncul ke ruangan itu. Marilyn terkejut sejenak melihat Jordan ada di dalam, namun segera melangkah hingga duduk di samping Luna.“Jordan, kupikir kamu sedang bersama William.”“Tuan William sedang menelepon seseorang. Kupikir, tidak ada salahnya menemui kakak iparku sebentar untuk menanyakan kabarnya.”Ekspresi Jordan sudah kembali seperti semula. Tenang, datar, dan tidak terbaca, seakan-akan dia dan Luna tidak pernah membicarakan hal rumit yang
“Aku juga tidak pernah menyangka seorang Jordan Reed ternyata punya kebiasaan menguping pembicaraan orang,” balas Luna sinis.Luna tiba-tiba menelan ludah susah payah. Petir menyambar berulang kali saat Jordan mendekat, seolah-olah langit mengiringi setiap langkahnya.Kaki Luna bereaksi terlambat. Ketika dia beranjak pergi untuk menghindari pembicaraan yang tidak perlu dengan Jordan, pria itu sudah mencengkeram pergelangan tangannya.“Luna … Blackwood …” Jordan menekan kata Blackwood, masih tak terbiasa mengucapkannya setelah nama Luna. “Jangan bermain-main denganku. Kesabaranku ada batasnya.” Nada bicaranya terdengar rendah dan mengancam.Namun, Luna tetap menatap Jordan dengan sorot mata menantang. “Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Lepaskan aku sebelum Nyonya Marilyn kembali dan salah paham.” Dia membalas dengan nada mengancam.Jordan bergeming, menatap Luna secara intens. Rahangnya tampak mengeras, seperti sedang menahan amarah.“Apa kamu sengaja mendekatkan putraku dengan G
Marilyn ternganga, lalu sontak menutup mulutnya. Dia tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Semua yang pernah dikatakan Nancy hanyalah keluarga dan kediaman Carter yang sempurna, kecuali Luna yang seperti duri yang menodai nama baik keluarga. “Yah, tapi itu semua sudah jadi masa lalu.” Dengan mata berkaca-kaca, Luna memandang Marilyn dengan sedih. “Yang menjadi penyesalanku hanya satu. Aku seharusnya keluar dari rumah itu sejak mama kandungku meninggal dan mengetahui bahwa mereka tidak menginginkan aku.” Luna tidak malu menjual kesedihan di masa lalu. Lagi pula, memang itulah yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, dia dulu tidak punya keberanian bicara seperti sekarang. Mata Marilyn ikut berkaca-kaca. Dia mengulurkan tangan untuk menaruh cangkir teh yang digenggam Luna ke atas meja, kemudian menggenggam tangannya. “Aku minta maaf, Luna. Aku benar-benar tidak tahu ada kejadian seperti itu.” Marilyn bukan wanita yang mudah percaya dengan omongan orang. Namun, semua yang dikatak
George masuk bersama seorang pria yang tidak asing bagi mereka. Tuan Muda Kennedy itu tampak tidak nyaman, melirik-lirik pria di sebelahnya.“Jordan, aku tidak tahu kamu mau datang ke sini.” Bahkan, William tidak tahu dan juga terkejut melihat Jordan tiba-tiba muncul bersama putranya.George menjawab dengan canggung, “Tadi sewaktu aku keluar, kami tidak sengaja bertemu dan membicarakan proyek sampai lupa waktu. Aku sampai lupa Nona Blackwood datang ke sini dan malah mengajak Tuan Jordan makan malam bersama kita.”Luna menatap Marilyn sekilas. Ibu George itu memicingkan mata pada putranya, terlihat tak memercayai alasan putranya membawa Jordan secara tiba-tiba.“Duduk dan makan malam bersama kami, Jordan,” perintah William.William memelototi George setelahnya. Demi bisa makan malam bersama Luna hari ini, dia sampai mendatangi Harvey dan minta maaf atas perkataan kasar putranya di pesta kehamilan Olivia. Dari informasi yang dia dengar dari asistennya yang juga ikut hadir di pesta itu,







