Se connecterWajah Robert Carter merah padam karena amarah, napasnya memburu. Di belakangnya, Nancy muncul dengan ekspresi puas yang berusaha dia sembunyikan di balik topeng kemarahan.
“Anak tidak tahu diuntung!” raung Robert, suaranya menggema. “Kabur tepat setelah hari pernikahan adiknya! Dia sengaja ingin mempermalukan keluarga ini!”
Olivia berbalik menghadap Jordan. Wajahnya terlihat pucat dan matanya berkaca-kaca. “Jordan, apa yang harus kita lakukan? Aku khawatir terjadi sesuatu pada Kak Luna. Bagaimana jika dia …”
Namun, saat Olivia menatap Jordan, di sudut matanya yang tidak tertangkap oleh siapa pun, ada kilatan kepuasan yang dingin. Rencana gegabah ini justru berjalan lebih baik di luar dugaannya.
Jordan tidak menanggapi kekhawatiran istrinya. Matanya yang dingin menatap lurus ke arah Robert Carter.
“Tuan Carter,” kata Jordan, suaranya tenang namun memancarkan otoritas yang tak terbantahkan. “Mulai saat ini, Luna adalah tanggung jawab saya juga. Saya akan mengerahkan orang-orang saya untuk menemukannya.”
Tanpa menunggu persetujuan, Jordan mengeluarkan ponselnya. “Liam,” perintahnya saat panggilan tersambung. Suaranya rendah dan efisien. “Kumpulkan tim pencari. Target: Luna Carter. Sisir semua bandara, stasiun kereta, dan terminal bus di seluruh kota. Hubungi jaringanku di setiap pelabuhan. Aku mau laporan keberadaannya dalam satu jam.”
Kemudian dia menutup telepon dan melirik sekilas ke arah Olivia. “Masuklah ke kamarmu,” katanya, nadanya datar. “Aku yang akan mengurus ini.”
***
Jauh dari kemewahan Carter Estate, di tengah hiruk pikuk terminal bus antarkota, Luna berdiri gemetar dalam antrean tiket. Bau asap solar dan keringat terasa menyesakkan.
Dia menarik tudung jaketnya lebih dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya. Setiap suara keras membuatnya tersentak, setiap tatapan orang asing terasa seperti tuduhan.
Rasa sakit di tubuhnya adalah pengingat nyata dari mimpi buruk yang baru saja dia alami. Ingatan akan sentuhan kasar dan napas berat pria itu terus berputar di kepalanya, membuatnya mual.
Untuk melupakan itu, Luna hanya punya satu tujuan: membeli tiket ke kota kecil terpencil di ujung negeri, tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Tempat di mana dia bisa mencoba memungut kembali kepingan dirinya yang telah hancur.
“Berikutnya!”
Giliran Luna. Dia melangkah maju ke loket yang kotor, jantungnya berdebar kencang. “Satu tiket ke—”
“Luna Carter?”
Sebuah suara pria yang tenang dan dalam memanggil namanya. Suara itu terdengar sangat tidak pada tempatnya di tengah kebisingan terminal.
Seluruh tubuh Luna membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir. Bagaimana mungkin? Secepat ini? Luna memang sudah mengira seseorang penuh kuasa seperti Jordan pasti akan mencarinya, tapi dia tidak menyangka pencariannya akan dimulai dalam hitungan jam.
Luna perlahan-lahan menoleh, mempersiapkan diri untuk melihat wajah dingin Jordan atau salah satu orang suruhannya.
Namun, pria di hadapannya berbeda.
Pria ini sangat tinggi, mengenakan setelan jas hitam yang dibuat khusus, tanpa satu pun kerutan. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas dan mata yang tajam, namun sorot matanya tidak sedingin Jordan. Tatapannya justru terasa ... familier dan penuh perhatian.
Ini bukan orang suruhan Jordan.
“Si-siapa kamu?” bisik Luna, bibirnya gemetar. Rasa takut membuatnya mundur selangkah, tubuhnya secara naluriah bersiap untuk lari.
Pria itu memberikan senyum tipis yang menenangkan, seolah bisa merasakan teror yang menjalari diri Luna. “Jangan takut, Luna. Namaku Harvey. Aku di sini untuk menjemputmu.”
“Menjemputku?” Luna menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengenalmu. Pergi!”
“Kamu tidak mengenalku, tapi aku mengenal ibumu, Liana,” kata pria itu lembut. Menyebut nama ibu kandungnya membuat dunia Luna kembali terguncang. “Aku adalah sepupu tertuamu dari keluarga ibumu. Nenek menyuruhku untuk membawamu pulang.”
“Pulang?” ulang Luna dengan bingung, suaranya serak. “Keluarga ibuku ...? Aku tidak punya keluarga lain.”
“Kamu punya,” kata Harvey, matanya menyiratkan kesedihan yang dalam. “Mari pulang ke rumah kita yang sebenarnya. Sudah waktunya kamu mengetahui siapa dirimu, Luna.”
Setelah percakapan selesai, mereka kembali diam canggung. Luna sudah menunjukkan sedikit perhatian untuk memancing rasa ingin tahu orang-orang, serta berencana menunggu Olivia datang. Di sela waktu itu, dia tidak tahu harus berbuat apa.Sesekali dia mengubah posisi duduknya. Jordan masih memperhatikannya tanpa mengalihkan pandangan, membuat Luna seolah sedang ditelanjangi.“Sebentar lagi wanita itu akan datang. Apa kamu sengaja menunggunya dan membuat keributan?” Jordan berhenti bicara sebelum akhirnya melanjutkan, “Sebaiknya urungkan niatmu itu. Membuat orang-orang curiga sudah cukup untuk saat ini. Jangan memprovokasi wanita itu terlalu jauh.”Kata-kata Jordan benar. Luna menjadi semakin tak sabar setelah mimpi buruknya semalam. Dia pun memutuskan untuk pergi lebih cepat sebelum Olivia datang.Namun, ketika dia bangkit dari kursi yang didudukinya, pintu kamar itu terbuka lebar. Luna menatap ke arah pintu, mendapati Olivia yang berhenti mendadak dengan mulut sedikit terbuka, terkejut
“Asal kamu tahu. Papa sudah mulai merasakan ada sesuatu yang mencurigakan tentang penyakitku. Dia mungkin mempekerjakan beberapa karyawan rumah sakit untuk mengamati keseharianku, mungkin menaruh kamera pengawas di beberapa tempat di luar jendela yang bisa menunjukkan posisi kita saat ini.”“Jangan tanggung-tanggung kalau kamu sedang merencanakan sesuatu,” imbuh Jordan, menatap Luna penuh arti. “Lakukan saja sesuai rencanamu itu agar orang suruhan papa bisa memantau pergerakan kita dengan jelas.”Sulit mengelabui mata tajam Jordan yang mudah membaca niat orang lain. Luna tertegun sejenak ketika Jordan mengatakan tujuannya tepat sasaran. Namun, Luna mengelak tanpa keraguan, “Apa yang kamu bicarakan? Niatku hanya membantu papa dari putraku. Tidak ada maksud lain.”Di saat yang sama, tangan Jordan mendarat di kancing baju rumah sakit yang dikenakannya, melepas satu persatu dengan gerakan pelan. “Jadi, kamu sudah mengakui kalau aku ayah kandung Carl.”Luna berpaling ketika kancing terakh
Jordan tertegun sejenak. Luna Blackwood selalu memberinya kejutan yang tak disangka-sangka.Wanita yang dulu pendiam dan selalu menghindari keramaian itu, tiba-tiba muncul kembali dengan penampilan penuh percaya diri, seperti kucing liar yang sulit dikendalikan. Begitu Jordan memberi sesuatu yang disukainya, Luna pelan-pelan menerima uluran tangannya, namun masih menunjukkan kewaspadaan tinggi.Dan saat ini, dia tiba-tiba muncul dengan sikap yang berbeda lagi. Menantang dan memprovokasi dari sudut yang berbeda, seperti bukan Luna yang dikenalnya.Cara bicara yang menggoda dan lirikan manis itu seperti bukan Luna yang dia kenal. Apa lagi yang Luna inginkan darinya?“Apa kamu tidak mau menjawabku?” tanya Luna lembut, namun dengan bibir sedikit mengerucut seakan tak suka diabaikan Jordan.Setelah semalaman Luna memikirkan kata-kata Rose, dia pun akhirnya meyakinkan diri akan mendapatkan Jordan Reed dengan cara apa pun. Keputusannya semakin bulat ketika dia memimpikan kenangan buruk yang
Jordan merasa ada yang tidak beres dari situasi saat ini. Suasananya terlalu tenang sampai dia mau tidak mau harus curiga.Beberapa menit lalu, Luna datang membesuk sebelum jadwal kunjungan dibuka. Dokter James mengantar Luna ke kamar Jordan secara pribadi, dan hal tersebut membuat dokter lain dan para perawat bertanya-tanya, siapa sosok wanita yang mengunjungi Jordan itu. Begitu pula Jordan yang sedikit penasaran alasan Luna tiba-tiba datang. Setelah dokter James meninggalkan mereka, Luna tidak bicara ataupun menyapa Jordan. Dia menaruh bunga matahari besar pada vas di atas lemari samping ranjang perawatan Jordan. Setelah itu, Luna duduk di samping ranjang Jordan sambil mengupas buah apel merah sambil sesekali melirik padanya. Jordan baru saja bangun tidur dan masih tampak bingung. Sedangkan Luna terlihat santai melakukan sesuatu yang tidak biasa itu, namun ada sedikit reaksi membingungkan yang tidak Jordan pahami.“Permisi, Tuan.” Suara seorang perawat wanita beserta ketukan setel
“Nenek!” seru Harvey. Meski Luna belum mengatakan secara langsung pada Rose jika Jordan adalah pria yang menghamili Luna, tetapi Harvey yakin bahwa Rose telah mengetahuinya. Rose diam hanya untuk menghormati Luna yang enggan mengungkit masa lalu itu.Menyuruh Luna untuk merebut Jordan dari Olivia, putri Nancy, demi sebuah balas dendam bukan pilihan yang tepat di mata Harvey. Luna yang akan terluka dalam prosesnya. Karena itu, Harvey marah pada neneknya yang mengorbankan Luna demi menghancurkan Nancy.“Kita tidak pernah membahas masalah ini dengan benar,” ucap Nancy tenang, mengabaikan tatapan tajam Harvey yang penuh amarah. “Aku tahu bahwa Jordan adalah pria itu, Lun. Kamu tidak perlu menyembunyikannya lagi.”Luna menunduk dengan kedua tangan saling meremas di atas paha. Dia malu sekaligus takut dengan anggapan Rose padanya, tak mau kehilangan kepercayaan neneknya karena telah melakukan kesalahan besar dengan mengandung anak dari adik iparnya.Rose pindah duduk di sebelah Luna, meng
“Kenapa kamu pulang di jam kerja, Lun?” tanya Rose begitu melihat kedatangan Luna.“Harvey menyuruhku menemani Nenek. Kami tidak tahu kalau Nenek akan datang,” cicit Luna.Rose akan mengatakan sesuatu, tetapi Carl justru melompat-lompat kegirangan di antara Rose dan Luna. “Mama pasti libur hari ini! Ayo, kita naik perahu di danau bersama nenek buyut!”Carl sejak tadi ingin bermain di danau, namun pengasuhnya tidak mengizinkan Carl bermain di sana sekarang karena cuaca sedang mendung dan seperti akan hujan. Melihat ibunya pulang, pengasuh itu tidak akan berani melarangnya naik perahu di danau.“Kita temani Carl bermain dulu.” Rose menatap Luna seakan mengatakan jika mereka harus bicara setelahnya.Luna mengangguk, menggandeng Carl dengan senyuman lebar, lalu melirik pada wanita yang selalu mengikuti Carl. “Kenapa kamu tidak bermain dengan bibi pengasuh?”“Maaf, Nona, Tuan Jordan memerintahkan saya untuk mencegah Tuan Muda Carl melakukan apa pun yang berbahaya. Hari ini sepertinya akan







