Share

Paman, Berhenti Mengejar Mama!
Paman, Berhenti Mengejar Mama!
Author: VERARI

1. Malam Terakhir

Author: VERARI
last update Last Updated: 2025-10-27 17:11:14

“Selamat, Nona Olivia. Semoga pernikahan Anda langgeng dan membawa keberuntungan bagi keluarga Carter maupun keluarga Reed!”

Ucapan itu terdengar berulang kali dari para tamu, disertai jabat tangan hangat dan senyum penuh hormat kepada dua pengantin di tengah ruangan.

Dari pojok aula utama kediaman keluarga Carter yang mewah itu, Luna Carter menatap pemandangan itu dengan senyum tipis. Merasa bahagia melihat adiknya, Olivia Carter, begitu bersinar di hari besarnya.

Hanya saja, walau pesta pernikahan itu adalah hari bahagia Olivia, tapi bagi Luna, pesta itu terasa seperti panggung penghakiman.

“Lihat, itu kakak tiri Nona Olivia,” bisik seorang wanita dengan nada mengejek.

“Kudengar dia membuat ulah di kamar pengantin. Cemburu karena sang adik menggantikannya dalam pernikahan hari ini, katanya.”

“Tidak heran. Wajahnya memang cantik, tapi auranya suram. Mana mungkin Presdir Reed mau memilih dia?”

Setiap kata menusuk lebih tajam daripada pisau, tapi Luna hanya bisa menunduk diam, tahu dan terbiasa dijadikan bahan pembicaraan semua orang. 

Sejak kecil, keberadaan Luna dianggap noda di keluarga Carter. Ibunya meninggal saat dia masih balita, meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar pulih. Orang-orang menyebut sang ibu jatuh dalam depresi, dan stigma itu diwariskan begitu saja padanya. Setiap kali dia berbuat salah, sekecil apa pun, selalu ada yang melabeli: “Dia gila, sama seperti ibunya.”

Ayahnya, Robert Carter, jarang menganggapnya ada. Tatapan dingin dan sikap acuh lelaki itu seolah mengukuhkan bahwa Luna hanyalah beban. Sementara Nancy, ibu tiri yang masuk dalam hidup mereka tak lama setelah kepergian ibunya, menjadikan Luna pelampiasan setiap amarah dan kekecewaannya. Tamparan, bentakan, tuduhan—semuanya sudah jadi bagian kesehariannya.

Satu-satunya yang pernah memberinya sedikit cahaya hanyalah Olivia, adik tirinya. Gadis itu selalu lembut dan baik. Dia sering membelanya di hadapan sang ibu. Karena itu, Luna tak pernah menyimpan iri hati terhadapnya. Jika Olivia bahagia, maka itu sudah cukup untuknya.

Namun malam ini, di hadapan begitu banyak tamu penting, dia kembali disudutkan atas sebuah kesalahan yang benar-benar tidak disengaja.

Tadi sebelum pesta dimulai, Olivia menitipkan tudung pengantinnya kepada Luna karena akan berganti gaun. Lalu, di saat itu seseorang memanggilnya, jadi Luna meninggalkan tudung tersebut di kamar pengantin sesaat. Saat kembali, tudung itu sudah terkoyak. Namun, tanpa sempat menjelaskan apa pun, semua orang menuding dialah pelakunya.

“Dia pasti iri, karena Olivia akan menikah dan masuk ke keluarga Reed, sementara dia hanya putri keluarga Carter yang tidak berguna,” begitu tuduhan yang terus dilontarkan. Seakan-akan Luna ingin merebut kebahagiaan adiknya, padahal sedikit pun hal itu tak pernah terlintas di benaknya.

Memang benar, awalnya bukan Olivia yang ditakdirkan masuk ke dalam keluarga Reed. Perjodohan itu sejak lama diatur antara keluarga Carter dan Reed, dua nama besar yang punya kepentingan bisnis bersama. Namun, calon pengantin perempuan yang pertama kali ditentukan adalah Luna. Dia dipandang sebagai pewaris sah darah Carter dari istri pertama Robert, dan penyatuan dengan pewaris keluarga Reed—Jordan Reed—akan menjadi simbol perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak.

Namun, takdir berputar pahit. Luna dianggap tidak stabil, bayang-bayang depresi almarhum ibunya selalu menempel padanya, dan nama baik keluarga Carter dipertaruhkan bila dia benar-benar menjadi pengantin. Pada akhirnya, keputusan berubah: posisi Luna digantikan oleh Olivia, putri dari Nancy, istri kedua Robert.

Olivia, dengan senyum manis dan sikap lembutnya, jauh lebih diterima keluarga Reed. Semua orang setuju dia lebih pantas berdiri di samping Jordan Reed sebagai mempelai. Sejak saat itu, Luna hanya jadi bayangan yang memalukan, sementara Olivia dipuja-puja sebagai lambang keberuntungan keluarga Carter.

Maka tak heran, ketika tudung pengantin tiba-tiba rusak, semua tudingan langsung diarahkan kepadanya. Tidak ada yang peduli pada kebenaran. Bagi para tamu, skandal itu hanya memperkuat keyakinan mereka, bahwa Luna memang tak pernah rela digantikan.

Di saat ini, bisikan lain terdengar, kali ini lebih kejam.

“Katanya, ibunya dulu meninggal karena depresi. Jangan-jangan dia pun akan bernasib sama.”

“Ya ampun … darah yang buruk memang susah dihapus.”

Telinga Luna panas, seolah ruangan itu semakin menyempit, dinding megah berlapis emas berubah jadi jeruji besi yang mencekiknya. Tidak sanggup lagi berdiri di tengah sorotan mata yang menusuk, Luna akhirnya memutuskan untuk mundur.

Dengan langkah hati-hati, dia mencari sosok ayahnya di kerumunan. Robert Carter berdiri gagah dengan jas hitamnya, tertawa bersama beberapa pebisnis besar. Senyumnya penuh wibawa, berbeda jauh dengan tatapan dingin yang biasa dia tunjukkan pada putri sulungnya itu.

“Papa …” suara Luna lirih, hampir tenggelam oleh riuh pesta. Dia merapat sedikit, menatap sang ayah dengan mata yang memohon. “Kepalaku pusing … bolehkah aku kembali ke kamar lebih dulu?”

Robert menoleh sekilas, senyum bisnisnya memudar. Tatapan matanya sejenak menampilkan kilatan jengkel, seolah kehadiran Luna di depannya adalah gangguan yang memalukan. “Pergilah,” jawabnya singkat, tanpa intonasi, sebelum kembali menghadapkan diri pada para tamu yang jauh lebih penting baginya.

Merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, Luna pun membungkuk singkat sebelum berbalik meninggalkan ruang pesta. Tidak ada yang memanggil atau menahannya, menekankan kenyataan yang sudah lama dia ketahui, yakni di mata keluarga Carter, dirinya bukan siapa-siapa.

Setibanya di kamar, Luna melangkah lurus menuju lemari, lalu menarik pintunya.

Di sana, koper hitam sudah terisi separuh. Dia menatapnya lama, lalu menarik napas panjang. Keputusannya sudah bulat, malam ini dia akan pergi meninggalkan kota ini, meninggalkan keluarga yang sedari awal menganggap keberadaannya noda tak diinginkan. Namun, karena Olivia, adiknya yang baik hati itu, tidak pernah berhenti menekankan betapa dia menantikan hari di mana Luna akan melihatnya mengenakan gaun pengantin, Luna pun bertahan.

Dan sekarang, setelah melihat Olivia berdiri di pelaminan dengan senyum manisnya, tugas itu sudah selesai. Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan.

Dengan gerakan tenang, Luna mulai melipat pakaian-pakaiannya yang tersisa, lalu memasukkannya ke dalam koper. Hingga akhirnya, koper itu penuh dan Luna menutup resletingnya dalam sekali tarik, seakan tindakan itu adalah penegasan terakhir, bahwa sudah saatnya dia meninggalkan semua ini.

Namun, baru saja selesai membereskan koper, tiba-tiba suara pelan pintu yang terbuka terdengar.

Terkejut, Luna menoleh. Apa itu Olivia? Apa pestanya sudah selesai?

“Olie?” panggilnya ragu.

Tidak ada jawaban. 

Penasaran, Luna pun berbalik dan berjalan ke arah pintu, tapi baru saja dia berbelok untuk melihat area pintu, Luna terkejut saat mendapati sesosok bayangan tinggi dan besar hadir di hadapannya!

“Siapa—”

Sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya, tangan besar itu sudah menutup rapat mulutnya. Luna menjerit tertahan, matanya membelalak panik. Tubuh asing yang jauh lebih besar langsung menekannya ke belakang, membuatnya kehilangan keseimbangan.

Brak!

Pundak lebar pria itu tak sengaja menabrak dinding, tepat di sisi saklar lampu. Dalam sekejap, cahaya kamar padam. Kegelapan pekat menyelimuti ruangan, menelan semua bentuk dan warna menjadi hanya bayangan samar.

Aroma alkohol yang tajam, bercampur dengan aroma maskulin yang asing, menyeruak di udara. 

“Mmmph!”

Luna meronta sekuat tenaga, tapi pria itu jauh lebih kuat. Tubuhnya didorong ke belakang hingga jatuh ke atas ranjang, dan pria itu langsung menindihnya. Berat tubuhnya terasa menyesakkan. Kepanikan murni menjalari setiap sel tubuh Luna.

“Lepaskan …,” isaknya di balik bekapan tangan pria itu.

Pria itu menunduk, napasnya yang panas dan beraroma alkohol menerpa wajah Luna. Dia menyingkirkan tangannya dari mulut Luna, hanya untuk melumat bibir Luna dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Ciuman itu tidak mengandung gairah, hanya ada kebutuhan yang buta dan putus asa.

Air mata mengalir deras dari sudut mata Luna. Dia memalingkan wajah, tapi pria itu mencengkeram rahangnya, memaksanya untuk menghadap ke arahnya lagi. Dalam kegelapan, Luna tidak bisa melihat wajahnya, hanya merasakan kekuatan dan keputusasaan yang menguar dari pria itu.

Dengan satu gerakan kasar, pria itu merobek gaun tidur tipis yang dikenakannya. Suara kain yang terkoyak terdengar seperti jeritan di tengah keheningan kamar. Udara dingin langsung menusuk kulitnya yang telanjang, membuatnya gemetar hebat.

“Jangan … kumohon, jangan lakukan ini …,” bisiknya putus asa, suaranya serak karena tangis.

Pria itu seolah tidak mendengarnya. Tangannya yang kasar mulai menjelajahi tubuhnya tanpa izin, tanpa kelembutan. Setiap sentuhannya terasa seperti api yang membakar, meninggalkan jejak penghinaan di kulitnya. Luna terus meronta, mencakar dan memukul, tapi perlawanannya sia-sia.

Hingga akhirnya, dia merasakan sakit yang merobek. Jeritan tertahan keluar dari bibirnya saat pria itu merenggut satu-satunya hal yang masih menjadi miliknya. Pria itu bergerak di atasnya dengan ritme yang buas dan tanpa ampun, mendorongnya semakin dalam ke jurang keputusasaan.

Pandangan Luna mengabur. Dia menatap langit-langit kamarnya yang gelap, merasakan jiwanya perlahan terlepas dari raganya. Tubuhnya masih di sana, menerima setiap hujaman yang menyakitkan, tapi pikirannya sudah melayang jauh. Dia tidak merasakan apa-apa lagi selain kehampaan yang dingin.

Setelah waktu yang terasa seperti selamanya, pria itu mengerang panjang sebelum tubuhnya ambruk di samping Luna. Napasnya yang berat perlahan berubah menjadi dengkuran pelan. Dia tertidur.

Luna terbaring kaku, tidak berani bergerak dengan air mata yang terus mengalir tanpa suara. Dunianya, harapannya untuk memulai hidup baru, semuanya hancur dalam sekejap.

Di dalam kegelapan kamarnya sendiri, dia telah dinodai oleh seorang pria asing.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   86. Membalas Nanti

    “Anda tahu, aku bukan orang yang akan membela kejahatan meskipun orang itu adalah keluargaku sendiri,” tegas Jordan.Benar, seperti itulah cara keluarga Reed bertindak dan mempertahankan takhta mereka di Veridian City sesuai yang diketahui Marilyn dan orang lain. Dia harus segera mengumpulkan bukti atas semua kecurigaannya tentang keluarga Carter, terutama pada Nancy dan Olivia, lalu memikirkan rencana agar bisa terlepas dari situasi buruk yang mungkin terjadi.Selama ini, Marilyn selalu menjaga hubungan baik dengan para istri pengusaha besar di Veridian City. Ada beberapa teman yang dekat dengannya, namun hubungan Marilyn dan Nancy hanya sebatas saling memberi dukungan.Tidak dapat dipungkiri, dia dulu sempat hampir menjodohkan George dengan Olivia. Ketika dia melontarkan candaan tentang rencana itu, Nancy menolak dengan halus seolah telah memiliki rencana masa depan yang sudah pasti untuk putrinya. Saat itu, Luna masih jadi tunangan Jordan. Dan setelahnya, banyak rangkaian kejadian

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   85. Mutualisme

    Jordan beruntung ada di tempat itu sekarang. Bukan hanya Luna yang akan berurusan dengan keluarga Carter, namun juga dirinya. Luna membuka jalan yang lebih lebar untuk membalas kejahatan Olivia. Dan dia menemukan cara yang lebih efektif untuk menarik Luna ke pihaknya.“Olivia dan ibunya punya hubungan yang sangat dekat. Aku tidak mau mencurigai istriku, tetapi aku tidak bisa membiarkannya kalau dia berbuat buruk pada orang lain, apalagi pada kakaknya sendiri.” Dengan tegas menjawab Marilyn, Jordan sekaligus memancing Luna meskipun dia sudah tahu kebenarannya.Luna dan Jordan seperti sedang bicara dengan tatapan mereka meski hanya sekilas. Luna mengerti apa yang diinginkan Jordan darinya, mengingat Olivia tega memberikan racun pada pria itu.Dia pun merasa diuntungkan. Tadinya dia hanya bisa menanamkan benih kecurigaan pada Marilyn agar tidak terkesan menjatuhkan nama baik Olivia. Jordan membuka peluang agar Luna bisa membicarakan tentang Olivia lebih banyak.“Ti

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   64. Kenangan

    “Dengan satu syarat.” Mata Jordan mengilat oleh cahaya petir yang menyambar. Seringai pria itu membuatnya tampak lebih berbahaya.Luna mendadak sedikit ragu ketika Jordan memberi sebuah syarat. Namun, dia tidak mau mundur jika memang dia bisa mendapatkan lebih banyak keuntungan dari tawaran Jordan.“Katakan,” tantang Luna.Sebelum Jordan mengatakan syarat itu, suara derapan langkah kaki terdengar. Luna buru-buru mendorong Jordan. Kali ini, Jordan melepaskan Luna dengan mudah.Mereka langsung duduk di kursi yang berjauhan, tepat ketika Marilyn muncul ke ruangan itu. Marilyn terkejut sejenak melihat Jordan ada di dalam, namun segera melangkah hingga duduk di samping Luna.“Jordan, kupikir kamu sedang bersama William.”“Tuan William sedang menelepon seseorang. Kupikir, tidak ada salahnya menemui kakak iparku sebentar untuk menanyakan kabarnya.”Ekspresi Jordan sudah kembali seperti semula. Tenang, datar, dan tidak terbaca, seakan-akan dia dan Luna tidak pernah membicarakan hal rumit yang

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   83. Jadikan Aku sebagai Alatmu

    “Aku juga tidak pernah menyangka seorang Jordan Reed ternyata punya kebiasaan menguping pembicaraan orang,” balas Luna sinis.Luna tiba-tiba menelan ludah susah payah. Petir menyambar berulang kali saat Jordan mendekat, seolah-olah langit mengiringi setiap langkahnya.Kaki Luna bereaksi terlambat. Ketika dia beranjak pergi untuk menghindari pembicaraan yang tidak perlu dengan Jordan, pria itu sudah mencengkeram pergelangan tangannya.“Luna … Blackwood …” Jordan menekan kata Blackwood, masih tak terbiasa mengucapkannya setelah nama Luna. “Jangan bermain-main denganku. Kesabaranku ada batasnya.” Nada bicaranya terdengar rendah dan mengancam.Namun, Luna tetap menatap Jordan dengan sorot mata menantang. “Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan. Lepaskan aku sebelum Nyonya Marilyn kembali dan salah paham.” Dia membalas dengan nada mengancam.Jordan bergeming, menatap Luna secara intens. Rahangnya tampak mengeras, seperti sedang menahan amarah.“Apa kamu sengaja mendekatkan putraku dengan G

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   82. Pendukung

    Marilyn ternganga, lalu sontak menutup mulutnya. Dia tidak pernah mendengar cerita itu sebelumnya. Semua yang pernah dikatakan Nancy hanyalah keluarga dan kediaman Carter yang sempurna, kecuali Luna yang seperti duri yang menodai nama baik keluarga. “Yah, tapi itu semua sudah jadi masa lalu.” Dengan mata berkaca-kaca, Luna memandang Marilyn dengan sedih. “Yang menjadi penyesalanku hanya satu. Aku seharusnya keluar dari rumah itu sejak mama kandungku meninggal dan mengetahui bahwa mereka tidak menginginkan aku.” Luna tidak malu menjual kesedihan di masa lalu. Lagi pula, memang itulah yang sebenarnya terjadi. Hanya saja, dia dulu tidak punya keberanian bicara seperti sekarang. Mata Marilyn ikut berkaca-kaca. Dia mengulurkan tangan untuk menaruh cangkir teh yang digenggam Luna ke atas meja, kemudian menggenggam tangannya. “Aku minta maaf, Luna. Aku benar-benar tidak tahu ada kejadian seperti itu.” Marilyn bukan wanita yang mudah percaya dengan omongan orang. Namun, semua yang dikatak

  • Paman, Berhenti Mengejar Mama!   81. Nilai Plus

    George masuk bersama seorang pria yang tidak asing bagi mereka. Tuan Muda Kennedy itu tampak tidak nyaman, melirik-lirik pria di sebelahnya.“Jordan, aku tidak tahu kamu mau datang ke sini.” Bahkan, William tidak tahu dan juga terkejut melihat Jordan tiba-tiba muncul bersama putranya.George menjawab dengan canggung, “Tadi sewaktu aku keluar, kami tidak sengaja bertemu dan membicarakan proyek sampai lupa waktu. Aku sampai lupa Nona Blackwood datang ke sini dan malah mengajak Tuan Jordan makan malam bersama kita.”Luna menatap Marilyn sekilas. Ibu George itu memicingkan mata pada putranya, terlihat tak memercayai alasan putranya membawa Jordan secara tiba-tiba.“Duduk dan makan malam bersama kami, Jordan,” perintah William.William memelototi George setelahnya. Demi bisa makan malam bersama Luna hari ini, dia sampai mendatangi Harvey dan minta maaf atas perkataan kasar putranya di pesta kehamilan Olivia. Dari informasi yang dia dengar dari asistennya yang juga ikut hadir di pesta itu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status