Share

33. Puaskan Aku

Author: Dre LA
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-17 22:20:01

Naya mencapai puncak lebih dulu dengan jeritan panjang, tubuhnya kejang hebat di bawah Rekha. Tak lama kemudian Rekha menyusul, mengerang rendah saat meledak di dalam diri Naya, tubuhnya mengejang kuat.

Napas mereka masih memburu saat Rekha mencium bibir Naya dalam-dalam, masih menyatu di dalam tubuh wanita itu.

Belum sempat Naya menarik napas lega, Rekha membalik tubuh wanita itu dengan kasar hingga posisi tengkurap. Ia menarik pinggul Naya ke atas, membuatnya bertumpu pada lutut dan dad
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    35. Tenangkan Aku, Naya

    Rekha menarik Naya lebih erat ke dalam pelukannya di balkon, bibir mereka menyatu dalam ciuman yang semakin dalam. Angin malam menyapu kulit mereka, tapi panas yang membara di antara tubuh mereka jauh lebih kuat. Tangan Rekha meluncur turun, meremas pinggang Naya dengan posesif, jari-jarinya menekan daging lembut itu seolah ingin meninggalkan jejak kepemilikan. "Mas..." desah Naya pelan di sela ciuman, suaranya sudah mulai parau. Tubuhnya gemetar, masih sensitif dari malam-malam sebelumnya. Rekha tersenyum di bibirnya, gigitannya ringan di bibir bawah Naya. "Ayo ke kamarku. Sekarang." Tanpa menunggu jawaban, Rekha mengangkat Naya seperti boneka menuju kamarnya, kaki gadis itu melingkar di pinggangnya. Rekha melempar Naya ke kasur dengan lembut tapi tegas, tubuhnya langsung menindih di atasnya. Pakaian tipis yang mereka kenakan segera lenyap, robek dengan sabar oleh tangan Rekha yang tak sabar. Kulit Naya yang halus bersentuhan dengan tubuh Rekha yang tegang. Rekha menunduk, m

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    35. Kamu Tuh Cuma Anak Pelayan!

    Wajah Dewa seketika memerah padam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di leher dan pelipisnya menonjol keluar. Ia menggebrak meja kerja Rekha dengan kedua tangannya, membuat beberapa pena mahal di atasnya terpelanting jatuh ke karpet. Matanya nyalang menatap sang kakak tiri, memancarkan kebencian murni yang sudah mendarah daging."Kamu pikir kamu sudah menang, hah?!" bentak Dewa dengan napas memburu."Duduk, Dewa. Jangan membuat keributan yang memalukan di ruanganku," balas Rekha sangat tenang."Aku tidak akan pernah membiarkan kamu bahagia, Rekha! Jangan pernah bermimpi kamu bisa duduk tenang setelah merebut semuanya dariku!""Aku tidak merebut apa-apa, Dewa. Kamu yang menyerahkannya sendiri kepadaku lewat kebodohanmu.""Pembohong! Kamu sengaja merencanakan audit mendadak ini, kan? Kamu merancang semuanya hanya untuk menjebakku!""Menjebakmu? Siapa yang memalsukan invoice fiktif itu? Siapa yang memakai dana perusahaan untuk membiayai perempuan simpananmu? Bukan aku.""Itu semua kare

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    34. Pembalasan Untuk Dewa

    Rekha terbangun lebih dulu keesokan paginya, sinar matahari pagi menyusup lembut melalui tirai kamar. Tubuh Naya masih meringkuk di pelukannya, napasnya pelan dan teratur, wajahnya memerah sisa kenikmatan semalam. Rekha mengecup keningnya lembut, lalu bangkit tanpa membangunkannya. Ia mengenakan kimono sutra tipis, melangkah ke meja kerja di sudut kamar. Ponselnya sudah penuh notifikasi. Rekha membuka pesan dari asisten pribadinya. Senyum tipis muncul di bibirnya. Dewa belum menyerah. Pria itu mengirim email panjang penuh ancaman dan keluhan ke alamat perusahaan, menuduh Rekha melakukan pemerasan dan manipulasi keluarga. "Bodoh," gumam Rekha pelan. "Kau baru saja memberiku amunisi tambahan." Ia membuka laptop, jari-jarinya menari cepat di keyboard. Sebagai anak pertama—meski lahir dari ibu selir yang dulu bekerja sebagai pelayan di rumah besar keluarga—Rekha selalu tahu posisinya rapuh. Ayahnya, seorang taipan properti dan manufaktur, memilihnya memimpin perusahaan bukan karena da

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    33. Puaskan Aku

    Naya mencapai puncak lebih dulu dengan jeritan panjang, tubuhnya kejang hebat di bawah Rekha. Tak lama kemudian Rekha menyusul, mengerang rendah saat meledak di dalam diri Naya, tubuhnya mengejang kuat. Napas mereka masih memburu saat Rekha mencium bibir Naya dalam-dalam, masih menyatu di dalam tubuh wanita itu. Belum sempat Naya menarik napas lega, Rekha membalik tubuh wanita itu dengan kasar hingga posisi tengkurap. Ia menarik pinggul Naya ke atas, membuatnya bertumpu pada lutut dan dada. "Mas... tunggu—" Naya belum selesai bicara saat Rekha sudah menghentak masuk dari belakang dengan satu dorongan brutal. "Aaahhh!" jerit Naya, tangannya mencengkeram sprei kuat-kuat. Rekha tak memberi ampun. Ia meremas pinggul Naya dengan keras sampai meninggalkan bekas jari, lalu memompa dengan tempo gila dan kasar. Setiap hantaman dalam dan kuat, seolah ingin menghancurkan Naya dengan kenikmatan yang menyakitkan. "Terlalu... kasar... Mas!" rintih Naya, air matanya meleleh lagi — kali

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    32. Apa Aku Cuma Alat, Mas?

    Naya mengangguk cepat, tangisnya kian keras. "Aku tolak, Mas! Aku nggak mau disentuh sama dia lagi! Sejak dia dengan teganya menjualku dan menyeretku ke ranjangmu semalam untuk melunasi hutangnya, aku sudah kehilangan rasa hormat padanya! Bagaimana bisa seorang suami menumbalkan istrinya sendiri?!" Naya mendongak, menatap Rekha dengan mata merah yang bengkak. Penderitaannya selama ini akhirnya tumpah ruah. "Aku ini dianggap apa di rumah ini, Mas? Cuma parasit! Cuma alat buat dia pamer kekuasaan! Ibu juga selalu menghinaku miskin dan nggak bisa kasih anak. Padahal... padahal Mas Dewa yang bermasalah! Aku merasa jadi barang rongsokan yang nggak berharga! Aku nggak punya tempat untuk pulang..." Naya tersedak oleh tangisannya sendiri, tubuhnya bergetar hebat. Mendengar semua pengakuan itu, dada Rekha terasa diremas kuat. Pria yang terkenal bertangan dingin dan tak punya hati di dunia bisnis itu, kini merasakan sengatan nyeri melihat wanita di pelukannya sebegitu hancur. "Kau bukan

  • Panasnya Ranjang Kakak Ipar    31. Mas, Aku ....

    Di dalam kamar bersuasana maskulin yang diterangi lampu temaram itu, ketegangan menguar pekat di udara. Rekha membuang kompres es ke atas meja kaca dengan gerakan kasar. Pria itu menatap tajam ke dalam mata Naya, seolah ingin menguliti setiap rahasia yang disembunyikan wanita itu di balik mata sayunya. "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Naya. Semuanya. Tanpa ada yang ditutupi," perintah Rekha, suaranya rendah namun penuh penekanan. Naya menelan ludah, memalingkan wajahnya dari tatapan mematikan sang kakak ipar. Ego dan rasa malunya sebagai seorang wanita membuat Naya berusaha membangun dinding pertahanan. Ia tidak ingin terlihat terlalu menyedihkan. Ia tidak ingin dikasihani. "Nggak ada apa-apa, Mas," dusta Naya dengan suara bergetar yang berusaha ditstabilkan. "Ini cuma pertengkaran suami istri biasa. Mas Dewa cuma lagi stres masalah kerjaan, makanya dia emosi. Aku... aku nggak apa-apa. Aku kuat, Mas. Luka begini nanti juga sembuh sendiri." Mendengar jawaban itu, rahang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status