로그인"Kalau Mas paksa aku sekarang, apa bedanya Mas sama Dewa?!" teriak Naya dengan suara melengking dan bergetar hebat. Ia memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan wajahnya yang bersimbah air mata. "Katanya Mas sayang sama aku! Katanya Mas mau ngelindungin aku! Dulu Dewa juga bilang gitu sebelum dia siksa dan perkosa aku setiap malam! Kalau Mas lakuin ini secara paksa, Mas sama jahatnya kayak iblis itu! Mas bunuh aja aku sekarang, Mas! Bunuh!" Tubuh Arga mendadak kaku. Gerakannya terhenti total di udara. Nama 'Dewa' dan kata 'perkosa' menampar kewarasan Arga dengan sangat keras. Ia melihat Naya meringkuk gemetar ketakutan layaknya burung kecil yang sekarat, napas wanita itu tersengal-sengal karena serangan panik yang sangat parah. Rantai di kakinya berbunyi menyedihkan setiap kali Naya menggigil. Sisi psikopat Arga meronta ingin menerkam dan mengklaim Naya detik itu juga, namun sisi obsesifnya yang lain—sisi yang mendambakan pemujaan dan kepatuhan mutlak dari Naya—menahannya dengan
"Tatap mata Mas, Naya. Jangan berani-berani kamu tutup matamu waktu Mas lagi nyentuh kamu!" bisik Arga dengan napas memburu, menahan kedua rahang Naya yang terus berusaha memalingkan wajah. "Mas, tolong... aku malu... jangan dilihatin terus..." rintih Naya dengan suara bergetar. Air mata sudah membanjiri pelupuk matanya. Tangannya yang mungil meremas seprai putih di bawahnya dengan sangat kuat saat merasakan embusan napas panas Arga menyapu kulit dadanya yang kini terekspos sempurna. "Malu? Atau kamu nutup mata karena jijik lihat wajah hancur Mas dari jarak sedekat ini, hah?!" bentak Arga tiba-tiba. Urat-urat di lehernya menonjol, kilat amarah yang gelap terpancar jelas dari manik matanya. "Kamu ngebayangin wajah Rekha yang mulus itu ada di atas tubuhmu sekarang?! Iya?!" "Enggak, Mas! Ya Tuhan, sumpah demi apa pun enggak!" tangis Naya pecah seketika, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia terlalu takut menyakiti perasaan rapuh kakak tirinya. "Aku enggak pernah mikir gitu! Aku cum
Naya terdiam, isakannya tertahan di tenggorokan. "Siapa yang gendong kamu pulang hari itu, Naya? Siapa yang bersihin luka kamu pakai kapas sambil ikut nangis karena enggak tega lihat adik kesayangannya kesakitan?" bisik Arga parau. "K-kamu, Mas... kamu yang gendong aku," jawab Naya terbata, logikanya kembali terjerat kuat dalam jaring laba-laba manipulasi Arga. Memori masa kecil yang hangat itu mendadak berputar jelas di kepalanya, mengingatkannya betapa Arga dulu selalu pasang badan untuk melindunginya. "Terus kenapa sekarang kamu berubah, Dek?" bisik Arga sangat pelan, suaranya bergetar hebat menahan tangis palsu. Bibirnya sengaja mengecup pelan nadi di leher Naya, memberikan sensasi basah dan panas yang membuat tubuh wanita lugu itu menegang sempurna. "Giliran Mas yang hancur, giliran fisik Mas cacat penuh luka bakar, kenapa kamu malah mau ninggalin Mas? Apa janji masa kecil kita udah enggak ada artinya sama sekali buat kamu?" "Enggak gitu, Mas... aku enggak niat ninggalin
"Kalau kamu nolak, berarti ucapan maafmu tadi cuma bohong, Naya," potong Arga cepat, matanya kembali menyipit tajam, memberikan tekanan mental yang luar biasa berat. "Berarti kamu memang masih nungguin bajingan buronan itu datang ngejemput kamu." "Enggak, Mas! Jangan mikir gitu!" Naya memejamkan mata, air mata keputusasaan menetes dari sudut matanya. Logikanya mati total ditekan rasa bersalah. Dengan sisa keberanian yang rapuh, Naya mencondongkan wajahnya, menempelkan bibirnya yang bergetar ke bibir Arga dengan kaku. Sedetik Naya menyentuhnya, Arga langsung mengambil alih kendali sepenuhnya. Ia membalik tubuh Naya dengan gerakan kasar yang tiba-tiba, kembali mengungkung wanita itu di bawah tubuh besarnya. Ciuman kaku itu seketika berubah menjadi lumatan liar, rakus, dan penuh invasi tanpa ampun. Naya merintih dalam ciuman itu, tangannya tanpa sadar meremas seprai putih di bawahnya saat tangan Arga mulai menjelajah pinggangnya dengan beringas, merobek batas kewajaran seorang kaka
"T-tapi kamu nyium aku paksa, Mas... kamu kasar..." isak Naya, ketakutannya mulai berbaur dengan rasa bersalah yang kembali disuntikkan Arga ke otaknya. "Kasar? Mas kasar?!" Arga tiba-tiba menarik tangan Naya, menempelkan telapak tangan mungil itu tepat ke bekas luka bakar parah di sisi kiri wajahnya. "Raba ini, Naya! Rasain kulit Mas yang hancur lebur ini! Ini hasil siksaan mereka! Harga diri Mas hancur, kewarasan Mas hilang! Satu-satunya hal yang bikin Mas tetap hidup di neraka itu cuma bayangan kamu!" Naya tersentak pelan. Ujung jarinya merasakan tekstur kulit Arga yang tidak rata dan kasar. Air matanya kembali menetes menderas. "Mas ngelakuin ini karena Mas putus asa, Naya!" teriak Arga parau, menjatuhkan dahinya ke bahu Naya, menangis terisak-isak dengan sangat meyakinkan. "Mas tahu kalau Mas jujur Mas udah kuat, kamu pasti bakal milih ninggalin Mas. Kamu pasti lebih milih Rekha! Mas cuma cowok penyakitan yang terlalu terobsesi sama adik tirinya sendiri. Mas jijik sama diri M
"Kamu mau bunuh Mas pelan-pelan, Naya?! Kamu mau lihat Mas mati panik sekarang juga?!" bentak Arga histeris, memukul dadanya sendiri dengan keras hingga terbatuk hebat. Darah segar—yang sebenarnya ia gigit dari bagian dalam pipinya sendiri—mengalir dari sudut bibirnya. "Astaga, Mas! Darah! Iya, iya! Jangan pukul dada kamu lagi!" jerit Naya panik luar biasa melihat darah itu. Akal sehatnya benar-benar tumpul dihantam rasa kasihan. Dengan tangan bergetar hebat dan air mata bercucuran, Naya menundukkan wajahnya. Saat bibir mungilnya yang gemetar ragu menyentuh bibir Arga, pria itu langsung berubah menjadi predator buas. Tidak ada lagi sisa pria lemah yang sedang kesakitan. Arga mencengkeram tengkuk Naya dengan kuat, menekan kepala wanita itu agar ciuman mereka semakin dalam. Bibirnya melumat bibir Naya dengan rakus, brutal, dan penuh tuntutan obsesif, merampas semua oksigen dari paru-paru adik tirinya. "Mmmph! M-Mas... lepass, tolong, Mas. lepas mas..." erang Naya terkejut, mer







