Masuk"Mas, otot di bahu kamu beneran kaku lagi, atau ini cuma alasan baru buat nyuruh aku dekat-dekat sama kamu?" Suara Naya mengalun pelan, hampir membelah keheningan kabin kaca yang diselimuti kabut pagi. Ia berdiri di dekat nakas, memegang botol minyak aromaterapi. Matanya yang sembab menatap lurus ke arah Arga yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan kemeja setengah terbuka. Arga sedikit tersentak. Kilat terkejut melintas sejenak di manik matanya sebelum akhirnya berganti menjadi seringai miring yang begitu gelap. "Kenapa tanya gitu, Sayang? Kamu mulai ragu sama rasa sakit yang Mas rasain?" rintih Arga, memasang raut wajah terluka dengan nada suara yang sengaja dibuat bergetar. "Mas ini korban, Naya. Saraf di punggung Mas beneran nyeri tiap kali trauma itu datang..." "Mas Arga, stop," potong Naya. Langkah kakinya mendekat ke tepi ranjang, rantai besi di pergelangan kakinya bergemerincing halus. "Tangan kamu enggak gemetar sama sekali hari ini. Napas kamu juga stabil
"Kamu enggak pinter bohong, Adik kecilku," bisik Arga, menggeser wajahnya hingga hidungnya menyapu pipi Naya yang merona hebat. "Kamu suka kan diintimidasi begini? Kamu suka saat akal sehatmu dipaksa tunduk? Kamu butuh alasan supaya kamu bisa ngelepasin semua beban moralmu tanpa harus ngerasa bersalah, kan?" "Jangan ngomong sembarangan, Mas... kepalaku pusing dengarnya..." erang Naya tertahan, memejamkan matanya rapat-rapat saat embusan napas Arga menyapu telinganya. "Jangan mikir pakai kepala, Sayang. Pakai instingmu," perintah Arga dengan suara bariton yang mutlak, tak terbantahkan. Tangan besarnya menutupi punggung tangan Naya, memberikan tekanan lembut namun memaksa. "Pijat urat saraf itu pelan-pelan. Lemaskan ototnya buat Mas." Naya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah. Logikanya berteriak menyuruhnya lari, tapi tubuhnya benar-benar tak mau beranjak. Dengan perlahan, sangat perlahan hingga membuat napas Arga tercekat, jari-jari Naya mulai bergerak. Ia me
Arga memejamkan mata, menyembunyikan seringai iblisnya. "Ke atas lagi, Sayang... urat pusatnya bukan di situ... urat di perut bawah Mas kram parah." "D-di sini, Mas?" tanya Naya ragu, tangannya perlahan memijat perut bagian bawah kakak tirinya yang mengeras karena otot-otot yang tegang. "Lebih ke bawah lagi, Naya. Di pangkal paha Mas... akhh! Sakit banget, Dek..." desah Arga dengan intonasi yang begitu rapuh, sengaja mendongakkan kepalanya agar terlihat sangat menderita. "Tolong pijit pelan-pelan urat di titik sensitif itu... atau darahnya bakal berhenti ngalir dan Mas beneran bisa lumpuh permanen." Tangan Naya seketika berhenti. Tubuhnya mematung kaku. Wajahnya memerah padam bercampur pucat pasi. "M-Mas... tapi itu... itu area sensitif kamu... aku enggak berani nyentuh sampai ke sana, Mas. Kita ini saudara..." "Saudara?! Di saat nyawa Mas lagi dipertaruhkan dan Mas bisa lumpuh, kamu masih mikirin status kita?!" bentak Arga tiba-tiba, suaranya pecah oleh isak tangis palsu ya
Tangan besar Arga yang menyusup ke balik punggung Naya meremas pinggang sang adik tiri dengan keposesifan gila. Sentuhan yang tadi diminta sebagai 'pengobatan' kini berubah menjadi invasi yang membakar kewarasan. Arga terus memonopoli bibir Naya, menyesap setiap rintihan manis yang keluar dari tenggorokan wanita itu, mengubah niat suci Naya menjadi penyaluran gairah gelapnya. Naya menangis di sela ciuman memabukkan itu. Ia bingung, takut, sekaligus tak berdaya. Tubuhnya terlalu kecil untuk melawan tenaga Arga yang mendadak bangkit kembali. Hatinya menjerit, menyadari ada yang salah dengan kekuatan pria ini, namun manipulasi rasa bersalah yang ditanamkan Arga membuatnya tak berani memberontak keras. Ia takut Arga akan kembali 'sekarat' jika ia menolaknya. Setelah Naya benar-benar kehabisan napas dan tubuhnya melemas di pelukan Arga, barulah pria itu melepaskan pautannya. Arga menatap bibir Naya yang membengkak merah dengan napas yang kini memburu—bukan karena sakit, melainkan kar
"Akhh! N-Naya... dada Mas..." Suara rintihan tertahan itu diiringi bunyi debuk keras dari arah sudut kamar. Naya yang baru saja duduk menyandarkan punggungnya di kepala ranjang langsung melompat panik. Rantai di kakinya berbunyi nyaring saat ia berusaha menjangkau Arga yang kini sudah jatuh berlutut di lantai marmer, mencengkeram kemejanya sendiri tepat di bagian dada kiri. "Mas Arga! Kamu kenapa, Mas?!" pekik Naya histeris, mengulurkan tangannya sejauh mungkin karena rantai itu menahan langkahnya. "Sini, Mas! Naik ke kasur!" "S-sesak, Dek... ruangan ini... tiba-tiba kerasa kayak ruang bawah tanah tempat mereka ngurung Mas dulu..." napas Arga tersengal-sengal parah. Matanya membelalak liar menatap langit-langit, keringat dingin membanjiri pelipisnya. Pria itu merangkak dengan susah payah mendekati ranjang, tubuh besarnya bergetar hebat layaknya orang yang sedang terkena serangan jantung mematikan. "Astaga, Mas! Ini bukan ruang bawah tanah! Ini kamar! Lihat aku, Mas, tatap mata
Arga perlahan melempar pisau itu ke sudut ruangan. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum manis seolah adegan bunuh diri barusan tidak pernah terjadi. Ia menghapus air mata Naya dengan ibu jarinya, mengecup kening wanita itu dalam-dalam. "Anak pintar. Masih jadi malaikat penurut Mas," bisik Arga. Ia menyalakan tombol rekam di kamera itu. "Ayo, Sayang. Mulai bicara. Dan pastikan kamu angkat tangan kirimu supaya Rekha bisa lihat cincin pernikahan kita yang cantik itu." Dengan bibir bergetar, napas tersengal, dan hati yang hancur berkeping-keping karena manipulasi gila kakak tirinya, Naya menatap lensa kamera itu. "R-Rekha... ini aku..." Naya menelan ludah, suaranya bergetar hebat. Ia melirik Arga sejenak, pria itu memberikan isyarat anggukan yang sangat mendominasi. "Jangan pernah cari aku lagi. Aku muak sama kamu. Kamu monster... dan aku milih pergi dari kamu. Aku sekarang sama Mas Arga... aku bahagia sama dia... aku yang minta dikurung sama dia..." Naya mengangkat tangan ki







