Home / Zaman Kuno / Pangeran, Aku Bukan Istrimu / #013 Siapa Yang Datang?

Share

#013 Siapa Yang Datang?

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-07-10 11:16:49

“Sebenarnya bukan sengaja, tapi beliau tidak meralat saat kabar itu beredar.” Heba memperbaiki penjelasannya, tapi itu tidak membuat situasinya terdengar lebih masuk akal.

“Hah?”

“Anda lihat Serail ini kosong, bukan? Ini tidak normal, Tuan Putri. Keempat pangeran lain paling tidak sudah memiliki dua atau tiga istri. Bahkan Pangeran Kelima yang baru berusia tiga belas tahun sudah menikah sebulan lalu.”

Lea ingin berseru jika itu adalah kejahatan, tapi kemudian ia sadar, zaman mereka berbeda deng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
hayo..deg degan pastinya kan...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #162 Kau Pilih Mana?

    Malam yang ditunggu datang sesuai dengan janji matahari, yang akan selalu tenggelam pada wakatunya.Setelah menunggu beberapa saat, memastikan waktu makan malam telah lewat, Ra akhirnya bergerak. dengan Amon di belakangnya.Waktu selepas makan malam, adalah saat santai. Di mana orang mulai sedikit menurunkan tingkat kewaspadaan menunggu kantuk datang.Saat di mana orang menjadi lebih mudah untuk ditaklukkan.Untuk jalan masuk mereka tadi harus menyingkirkan dua penjaga, yang ada di depan gerbang kecil, tempat lalu-lalang kereta pembawa bahan makanan.Penjagaan di sana tidak terlalu ketat seperti gerbang utama, dua orang bisa disingkirkan dengan mudah. Ra bakal belum perlu membunuh.Mereka kini menyusuri bagian dalam istana dengan Amun berada di depan.Matanya yang tajam, memastikan mereka tidak akan bertemu seseorang yang tidak perlu. Dia memberi tanda bersembunyi setiap ada orang lewat. Orang yang bukan budak tentu saja, karena saat ini Ra membutuhkan budak untuk ditanyai.“Ada di de

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #161 Bantuan Dari Siapa?

    Nour menggeleng. “Mungkin terdengar kasar, tapi hanya ini jalan satu-satunya. Mustahil Ra bisa menemukanmu. Dia bahkan mungkin belum tahu siapa yang mengambilmu saat ini.”Nour lalu melepas salah satu tirai yang ada di sisi paviliun dalam sekali tarikan, lalu memberikannya pada Lea.Sekadar untuk menutupi tubuhnya, atau mungkin menghapus air mata yang terus mengalir di pipi Lea.Nour mendesah, lalu berbalik pergi. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan. Menyelamatkan Lea lebih jauh juga akan membuatnya mati.Lea bergelung menutupi tubuhnya dengan kain itu. Tangannya kini berusaha menarik rantai yang melilit kakinya.Lea tahu tidak akan berguna, tapi Lea ingin melakukan sesuatu, agar dirinya tidak benar-benar menuruti saran Nour.Saran itu benar-benar terdengar menggiurkan, apalagi saat kehidupannya hanya bersandar pada emosi wanita bernama Thema itu.***Dua orang terlihat mengendap-endap, bersembunyi di balik pohon yang tersebar sekitar istana kota Qis.Ra dan Amun, memeriksa keadaan s

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #160 Kau Sudah Membicarakannya?

    “Siapa lagi Gyasi ini?” Amun lelah dengan nama-nama yang sejak tadi di dengarnya.“Dia Adikku.”Amun mengeluarkan seruan yang mirip sekali dengan burung bangau, karena terlalu heran. "Adikmu menculik Lea? Untuk apa?" "Aku tidak ingin menjawabnya."Ra berseru sambil melompat naik ke atas kudanya. Selain karena penjelasan akan rumit, Ra tidak ingin membayangkan hal apa saja yang akan dilakukan Gyasi pada Lea.Bayangan itu selalu membuatnya ingin memutar leher seseorang saat itu juga.***Lea berjalan menjauhi Gyasi begitu dia muncul di depannya, tapi pria itu dengan santai duduk pada karpet.Dengan santai, Gyasi menarik rantai kaki Lea, membuatnya kembali jatuh terjerembab.“TIDAK! LEPASKAN!” jerit Lea, saat pria itu dengan mudah menariknya mendekat.“Aku hanya ingin melihatmu tanpa cadar.”Gyasi meraih dagu Lea. Memaksan Lea memandang wajahnya. Mata “Kau ternyata memang cantik. Pantas saja!” Gyasi mengusap pipi Lea sekali, dan Lea menggeleng panik, mencoba melepaskan tangan Gyasi d

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #159 Kau Mengenal Ibuku?

    “Maaf, tapi ini yang terakhir. Dan aku tak tahu lagi kemana, hujan sudah menyapu bersih daerah ini,” kata Amun dengan nada menyesal.Amun bahkan berhasil menemukan kereta kuda yang membawa Lea, meski petunjuk keranjang dan periuk yang dijatuhkan Heba telah berakhir.Tapi setelah itu mereka beralih ke kereta yang lain. Amun tidak bisa lagi melihat bekasnya. Hujan telah menyapu jalan tanah itu. Tidak ada lagi tersisa jejak untuk dilihat oleh matanya.“Aku rasa kita harus meminta bantuan pada ‘Ibumu’” kata Ra.“Hah? Kau bicara apa? Ibuku sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Dan apa kau mengenal ibuku?” Amun terdengar tersinggung, sekaligus heran.“Bukan ibu kandungmu, tapi Ibu yang memberimu mata tajam yang bisa melihat dalam kegelapan itu!” Ra malas menjelaskan sebenarnya.Amun adalah seorang ‘Anak’ seperti Ra, tapi dia tidak pernah menyadari itu, karena tidak ada yang pernah menjelaskan padanya. Ra menyadari begitu tahu kemampuan matanya, dan kemampuannya dalam bertarung lebih dari or

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #158 Bantuan Siapa?

    Ra memacu kudanya seperti kesetanan.Dia melintasi kota yang ramai tanpa peduli bagaimana orang-orang di jalanan bertemperasan menghindar.Entah sudah berapa banyak orang yang memaki, Ra sama sekali tidak bergeming. Otak dan pikirannya saat ini hanya terpusat pada Lea, dan juga penyesalan karena dia baru menyadari musibah ini, dua hari kemudian. Sangat terlambat, sangat amat terlambat.Rombongan Lea seharusnya melewati jalan yang sama, yang tadi baru saja dia tempuh untuk menuju ke istana tadi. Tetapi saat dia lewat, Ra tidak melihat ada sesuatu yang aneh. Semuanya terlihat sama. Tidak ada satu pun yang berbeda.Ra memiliki kemampuan mencari jejak yang cukup hebat, tapi tetap tak akan mampu mencari jejak yang sudah basi selama dua hari.Sebab itulah, saat ini Ra sedang memacu kudanya keluar dari Yamu, karena dia hanya kenal satu orang yang memiliki kemampuan melacak jejak lebih hebat dari dirinya.Dan jika dia ternyata juga sudah tidak juga mampu membantu, baru Ra akan meminta bantu

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #157 Siapa Yang Membawanya?

    “Jadi maksud anda, Putri seharusnya sudah pulang dua hari yang lalu?” Zaim mencoba mencerna sekali lagi.Ra mengangguk, sambil menutup mata. Berpikir keras. Ra menutup wajah dengan tangan, mengusir segala pikiran buruk karena sudah dua hari berlalu sejak Lea menghilang. Kalaupun dia ingin mengejar, sudah sangat terlambat.“Kau bisa menggantikanku beberapa hari? Mungkin akan lebih dari lima hari!” tanya Ra.Kali ini dia tidak memikirkan apakah pekerjaannya akan kacau atau tidak. Dia hanya ingin menemukan Lea.“Tentu saja, Pangeran. Apa perlu saya memanggilkan prajurit?” tanya Zaim. Jelas terlihat jika Ra akan keluar mencari Lea.“Tidak! Aku akan melakukan ini sendiri saja.”Dia tidak akan bisa memakai bantuan ‘istimewa’, jika harus bersama dengan prajurit. “Tapi…’Ra tak lagi mendengar sisa dari kalimat Zaim, dia berlari keluar menyambar kuda yang baru saja akan dibawa ke istal, tak lupa busur panah, juga pedangnya.“Tunggu aku, Lea,” gumam Ra, sambil memacu kuda yang berwarna hita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status