LOGINSambil berlari kecil, Ra memasuki area gawat darurat, tapi usahanya menemui Lea tidak mulus. Baru beberapa langkah berjarak dari pintu masuk, seorang perawat menghentikannya.“Maaf ada apa? Apa yang bisa saya bantu?” tanyanya.Ra menunjuk ke dalam ruang gawat darurat.“Apa Anda salah satu keluarga dari korban yang dibawa ke sini malam ini? Siapa namanya? Aku akan…”Ra menggeleng. Dia tidak punya hal untuk memasuki ruang gawat darurat karena dia bukan keluarga dari Lea. Dia tak bisa berbohong begitu saja, karena pastinya akan mereka akan mencatat namanya nanti. Namanya tidak boleh muncul dalam hal yang berkaitan dengan Lea sebelum dia kembali dari Tamiat.“Mmm... Gadis yang baru saja dibawa masuk dengan luka di kepala, apa kau tahu bagaimana keadaannya?” Ra menyerah mencoba masuk, dia hanya ingin tahu keadaan Lea.Perawat itu mengerutkan kening. “Apakah anda keluarganya?” Dia juga tidak mungkin memberi tahu keadaan pasien kepada orang asing.“Ya, dia keluarganya.”Osiris versi dewasa m
“Say what?!”Kalau bisa, Marin pastinya mengumpat. Setelah perintah kepindahan yang absurd kemarin, itu tadi adalah perintah tak masuk akal kedua yang terdengar tidak masuk akal di telinga Marin.“Kau ingin apa?”“Saham British Food!” Ra mengulang dengan jelas.Marin terdengar menghela nafas. Ra mengucapkan keinginan itu dengan sangat mudah, seperti saat dia ingin membeli permen atau camilan, bukan transaksi yang akan melibatkan uang ratusan ribu bahkan jutaan poundsterling. Yah… dia punya uangnya. Mungkin itu juga yang membuat Marin akhirnya menghela nafas, maklum.“Apa kau ingin mengembangkan bisnis disini? Kau mengatakan kemarin tidak ingin melakukan bisnis yang melibatkan perusahaan lokal di sini.” Marin mengingatkan niat Ra, yang berusaha tidak sibuk saat di London.“Sekarang aku ingin, dan aku ingin British Food.”“Apa kau tahu jika British Food saat ini sahamnya sedang lesu? Kau yakin? Memang bisa sedikit lebih murah, tapi akibatnya bisa fatal.”“Aku ingin British Food!”Ra ba
“Apa maksudmu kau harus mampir untuk minum kopi?” tanya Marin dari airpod yang menempel di telinganya.“Kau bisa minum kopi di kantor!” protesnya berlanjut, tapi Ra sudah turun dari mobil, dan berjalan menuju salah satu kedai kopi favoritnya.“Kopi yang ada di kantor tidak enak!” kata Ra dengan jujur, lalu memutus panggilan begitu saja. Tidak ingin mendengar omelan lanjutan dari Marin. Dia memang terlambat karena letak rumah orang tuanya yang cukup jauh dari kota.Karena itu dia akan sampai di kantor setelah makan siang. Pastilah Marin mengamuk. Tapi dia hanya akan mampir sebentar di kedai ini, dengan begitu keterlambatannya tidak akan semakin parah.Atau begitulah setidaknya harapan Ra. Namun sayangnya, dia datang saat makan siang. Kedai kopi itu penuh sekali.Dengan terpaksa Ra mengantre. Paling tidak ada sepuluh orang di depannya. Hanya bisa pasrah, Ra mengambil ponsel. Dia tidak ingin membuang waktu, dan memutuskan untuk memeriksa beberapa laporan.“Kenapa kau tidak menolaknya?! Ji
Ra menyesap kopi yang pahit dari cangkir sambil menghela nafas panjang. Dia baru saja membaca laporan dari Marin soal pencarian Lea yang tak berujung pangkal.Nama Azalea ternyata lebih umum daripada yang diperkirakan Ra, dan orang suruhannya tidak menemukan Azalea dengan nama belakang Caldwell.Ini membuat mereka harus memeriksa satu demi satu nama Azalea, dan nama itu tidak unik. Ada ratusan wanita bernama Azalea di London saja.Satu-satunya kemajuan yang didapat oleh Ra setelah dua bulan ini mencoba menata kehidupannya beserta ingatan lamanya adalah, dia berhasil pindah ke London dengan sukses.Marin mengatur agar pekerjaannya bisa dilakukan dari London. Dan karena dia memang sudah sangat jarang turun ke lapangan, jadi hal itu tidak terlalu bermasalah. Dia punya beberapa orang kepercayaan di Spanyol. Hanya satu orang yang ikut bersamanya ke Inggris, yaitu Marin. Di sini dia mempekerjakan beberapa orang, tapi kantornya belum terlalu ramai, karena dia memang ke London bukan untuk bek
“Apa aku harus juga ikut berpikir hal seperti itu? Apa kau punya otak untuk berpikir sendiri? Pakai otakmu, jangan sampai berkarat!” Osiris sepertinya sudah benar-benar kesal, karena keluhan Ra yang terkesan tidak puas dengan hasil kerjanya sejak tadi.“Aku tidak bertanya padamu! Aku bertanya pada diri sendiri!” tukas Ra.“Puh!” Osiris mendengus, tapi memilih untuk menyesap wine.Wine yang dia bawa lezat, karena dia memang sengaja memilih wine yang paling mahal dan paling tua yang bisa ditemukan di rumah ini. Ra meraih ponsel yang tergeletak di sebelahnya, lalu memilih nama Marin di sana. Saat ini pukul dua pagi, bukan waktu pantas untuk menghubungi siapa saja, tapi dia tidak peduli.Setelah cukup lama mendengarkan nada panggil, akhirnya ada sahutan dengan suara mengantuk.“Raff? Apakah ada sesuatu yang terjadi?”Dia menelpon tengah malam, tentu saja akan mengundang pertanyaan.“Aku ingin pindah ke London.”Kata-kata yang membuat lawan bicaranya terjaga sempurna.“Maaf, apa maksudmu?”
“Bukan salahku! Kau sendiri yang berniat untuk pindah ke Spanyol saat berumur dua puluh tiga. Sebelumnya kau ada di London seperti janjiku.” Osiris balik menuding, menyalahkan Ra.“Oh!” Ra menepuk kening, lalu menyandarkan punggung pada kepala ranjang.“Ya, tentu saja,” batin Ra. Dia menyusun ingatannya yang lain. Kehidupannya sebagai Raffael Navaro. Kehidupannya yang sekarang. Sedikit campuran ingatan masa lalu, membuatnya bingung sesaat. Sebagai Raffael, dia merasa jika pindah ke Spanyol--ke tempat kakeknya--adalah keputusan yang tepat, karena dia membuka bisnis yang cukup berhasil di sini. Tapi sekarang keputusannya itu terasa bodoh.Keputusan itu membuatnya jauh dari Lea.“Kau seharusnya membuatku ingat lebih cepat! Kenapa kau tidak membuatku ingat begitu lahir?” gerutu Ra. Dengan begitu dia tak akan membuat keputusan bodoh.“Ungrateful bastard!” maki Osiris, dengan bahasa Inggris sempurna, bahkan dengan logat.‘“Kau akan menjadi bayi aneh jika mengingat semua kehidupanmu yang du







