MasukUdah telat ya Lea wkwkwk
“Tidak!” Mata Lea yang telah memandang sembarang tempat, bergerak semakin cepat. “Apanya yang tidak? Tidak karena kau menolakku, atau tidak karena kau tak butuh bujukan lagi? Dua hal ini sangat berbeda.”“Pokoknya tidak!”Lea berusaha berbalik menghindari pertanyaan, tapi Ra menangkap bahunya. Memastikan Lea tak bisa bersembunyi.“Aku tidak mengerti arti jawaban itu, kau harus menjelaskan.” Ra tak akan menerima jawaban setengah hati seperti itu.“Tidak ada yang perlu dijelaskan!”“Ada, Lea. Jawaban itu tidak berarti apa-apa bagiku. Aku masih tidak tahu apa kau menginginkan aku atau tidak.”Mata Lea kali ini memandang kancing kemeja kedua Ra, sementara tangannya saling meremas karena gelisah.“Aku akan butuh jawaban, Lea. Kau tidak akan menjadi kejam dengan membuatku menunggu seumur hidup dalam keadaan seperti ini bukan? Terkadang kau hanya harus mengaku, maka hidupmu akan menjadi lebih mudah,” bujuk Ra.“Mengakui apa?”“Mengakui kalau kau cemburu. Mengakui jika kau marah melihatku de
Tangis Lea sudah mulai berhenti saat mereka mencapai rumah. Masih tersisa sedikit isakan tapi paling tidak air matanya lebih jarang muncul.Ra ingin mengangkat Lea ke kamarnya, tapi akan berlebihan. Dia hanya bisa menahan diri, sementara membantunya berjalan masuk ke rumah.Osiris yang ada di ruang tengah, sudah ingin menyahut bertanya, tapi Ra menggeleng. Bukan saatnya dia banyak bicara. Kali ini Osiris bertenggang rasa, melihat keadaan Lea yang payah.Ra membantu Lea membuka mantel begitu mereka sampai di kamarnya, sementara Lea membuka sepatu, lalu menjatuhkan diri ke ranjang begitu saja.Kepalanya terasa bagai terbelah karena mengeluarkan begitu banyak air mata.“Aku akan mengambil minum,” kata Ra.Tapi tangan Lea menyambar lengan jas Ra yang ada di depan matanya. Meski itu adalah gerakan tangannya sendiri, Lea merasa heran. Tubuhnya sekali lagi dengan lancang bergerak tanpa meminta persetujuan otaknya.“In... Ini..” Lea tergagap saat ingin menjelaskan, karena tak tahu harus beral
Ra melirik arloji di lengannya. Dia hanya terlambat tak lebih dari lima menit. Tidak mengerti kenapa Lea terlihat marah.Lea yang dia kenal bukan gadis tanpa toleransi. Dia tak akan marah hanya karena hal seperti ini.“Kita makan lain kali saja!” Lea berbalik memunggungi Ra, berjalan menuju mobil.“Tunggu, Lea. Kau marah padaku?” Ra menarik bahu Lea, memintanya untuk berbalik.“TIDAK! Untuk apa aku marah?!”Dari jawaban tidak saja, sudah sangat menjelaskan jika Lea marah. Otak Ra berputar cepat, mencoba mengingat hal apa yang biasanya membuat Lea marah.Lea marah saat dirinya berlaku tak adil. Lea marah saat merasa tidak didengar. Lea marah saat dirinya ceroboh tidak memikirkan dirinya sendiri. Lea marah saat bertemu Menna dan Shinna.“Itu...” Ra paham dengan cepat.“Lea? Apa kau cemburu?” tanyanya, sambil menatap Lea. Ra tak tahu apakah harus bertanya dengan panik atau bahagia. Reaksi ini membuatnya senang, karena setidaknya Lea bereaksi, tapi di sisi lain dia panik. “Aku tidak cemb
Lea melirik ke arah jam yang ada di pojok layar laptop, dan menghembuskan nafas panjang.Sudah hampir pukul sepuluh, dan dia masih berada di ruangannya. Tapi setidaknya dia sudah menyelesaikan tugasnya yang terakhir, dan mulai membereskan peralatan.Lea kembali melirik ke arah jam. Gerakan yang dilakukan karena keraguan, rencana makan malam yang tadi pagi dibahas bersama Ra masih berlaku.Ini sudah terlalu malam. Tak mungkin dia akan rela kelaparan menunggunya. Lea sudah berusaha bekerja dengan cepat, tapi dia baru bisa menyelesaikannya saat ini.Setelah berhasil menyingkirkan sedikit kegalauan akibat berita tentang ibunya Lea bekerja gila-gilaan hari ini. Dia menolak semua ajakan Michelle untuk mengobrol maupun bergosip.Dan semenjak makan siang, dia tidak memandang ponselnya, karena tak ingin terganggu oleh apapun. Dia berkonsentrasi penuh menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai selama tiga hari dengan cukup cepat. Dia menerima bantuan dari Michelle, sebelum dia pulang tadi. Dia
“Kau yakin? Kau sudah beberapa hari di rumah sendirian?” tanya Lea, sambil membungkuk dan menatap mata keemasan cantik yang membuatnya takjub karena indah.“Aku baik-baik saja!” Osiris nyaris membentak, tapi dia berhasil membuat nada suaranya masih terdengar seperti anak-anak.“Aku yakin sekali!” Osiris mengulang jawaban itu untuk kesekian kali, sementara Ra yang duduk di belakang Lea, bersusah payah menahan tawa. Penyebab utamanya karena dia sangat puas, melihat bagaimana Osiris begitu kesal akibat khawatir berlebihan yang ditunjukkan oleh Lea.Kekhawatiran itu karena timbul karena akting Osiris sebagai anak-anak begitu meyakinkan. Ra sangat tergoda untuk menunjuk ke wajah Osiris, dan mengatakan ‘rasakan hasil perbuatanmu’.Tapi tentu Lea akan curiga. Jadi sebisa mungkin, Ra berpura-pura membaca berita di ponsel, sambil menahan tawa. Sudah sejak tadi, dia belum membalik halaman sama sekali. Menikmati bagaimana Osiris jengkel karena diperlakukan terlalu seperti anak-anak.“Ayo kita
“Red? Hmm… Aku rasa jawabannya adalah iya. Kalau begitu cukup.” *merahBibir Lea mungkin diam, tapi wajahnya menjawab pertanyaan itu dengan jujur. Wajah Lea memerah sampai ke leher. Hati Lea mungkin tidak siap, tapi tubuhnya bereaksi jujur.Wanita itu mengamati Lea. “Kau kurus sekali, Sayang. Tapi tidak apa. Aku akan mengurus nanti.”“Mengurus apa?” Lea tidak tahan lagi dengan segala tanda tanya. Tapi wanita itu menggeleng, tidak ingin menjelaskan.“Sampai jumpa lain waktu!”“Tunggu! Tunggu sebentar!” Lea sudah turun dari tempat tidur, ingin mengejar wanita itu, yang tiba-tiba berpamitan, dan keluar dari kamarnya begitu saja.Tapi langkah Lea tertahan oleh tarikan nyeri pada lengannya, ada infus yang masih menempel di sana.“Tunggu!” Lea kembali ke tepi ranjang, dan berusaha melepaskan infus itu, tapi kemudian berhenti bergerak.Waktu dia berhasil melepaskan infus dari gantungan, wanita itu sudah pasti akan jauh. Meninggalkan Lea yang setengah mati penasaran.Wanita itu seperti badai







