Share

#208 Musim Apa?

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-08-28 06:50:54
Seperti dugaan Lea, proses pembuatan kain linen itu adalah proyek yang panjang.

Jika mengolah batang rami setelah dipanen sudah cukup menjadi tantangan tersendiri, maka memintal serat rami yang sudah bersih menjadi benang adalah tantangan berat yang lain.

Lea tahu seharusnya dia menggunakan alat pintal, tapi tidak tahu detail cara kerjanya. Lea payah mengingat soal detail mekanis.

Kemarin Lea bisa meminta bagian perkakas istana untuk membuat berbagai alat aneh yang dia butuhkan, termasuk alat p
aisakurachan

Nooo :(((

| 6
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
galau jadinya...moga aja lea cepet hamil
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #393 Tinggal Bersamanya!

    “Terima kasih.”Lea mengucapkan sekali lagi, kepada dua orang yang membantu dan juga mengantar barangnya sampai ke rumah itu.Lea tadi sempat menolak angkutan truk mereka, karena barangnya sangat minim. Kursi belakang dan bagasi mobilnya sudah cukup untuk menampung barangnya. Barang Lea hanya berwujud dua kardus dengan besaran sedang dan satu koper. Lea merasa mengangkut dengan truk sedikit berlebihan.Tapi mereka bersikeras, karena itu adalah pekerjaan yang harus mereka lakukan, dan mereka sudah dibayar untuk itu. Lea mengalah. Sekarang Lea merasa jika tawaran itu ternyata sangat berguna, karena meski hanya dua buah kardus, keduanya sangat berat. Kardus itu berisi buku novel koleksi Lea. Tak mungkin Lea bisa mengangkatnya sendiri. Kopernya sendiri bukan masalah, karena hanya berisi baju.Untuk laptop, dan juga barang-barang kecil lainnya, dengan mudah Lea bisa memasukkannya pada tas tangan, yang saat ini dia tenteng.Saat melihat betapa minimnya barang yang dia bawa, Lea yang menyad

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #392 Selamat Datang!

    Lea menurunkan kaca mobilnya, karena sopir truk yang ada di depannya turun. "Ya?""Katanya Anda punya kuncinya.""OH! Iya!" Wajah Lea langsung memerah, malu. Ia benar-benar lupa.Lea bergegas turun, mengambil kunci yang kemarin diserahkan padanya begitu menandatangani kontrak pekerjaan tambahan ini. Ada dua kunci, yaitu kunci terbang dan kunci pintu utama rumah. Seharusnya sejak tadi Lea turun dan membuka gerbang, bukan malah ikut menunggu gerbang terbuka.Lea memasukkan kunci besi itu, lalu membuka gerbang yang sedikit berat, tapi dia berhasil mendorongnya sendiri.“Holy fu---molly!”Lea tidak sengaja menggumamkan umpatan, saat melihat bentuk rumah yang ada di depannya. Rumah itu sesuai dengan apa yang ada di deskripsi, tapi melebihi dari apa yang Lea bayangkan. Pertama rumah itu lebih besar daripada yang Lea bayangkan. Kedua, Lea tadinya mengira akan menemukan keadaan rumah yang terlihat seperti rumah hantu yang ditelantarkan.Tapi ternyata jauh dari itu.Rumah itu atapnya berwarna m

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #391 Jangan Melewatkan!

    “Ini gila.” Lea bergumam, membayangkan pekerjaan itu akan sangat melelahkan.“Memang, tapi tetap penawaran yang cukup menarik. Sejak buletin ini dikeluarkan kemarin, ada beberapa penghuni lantai lima yang melamar. Tapi semua..”Michelle memberi isyarat mengiris leher dengan tangan, yang artinya belum ada yang diterima. “Tunggu! Tapi ini bagian dari British Food? Merawat taman?” Lea heran, kenapa pekerjaan seperti itu harus dimuat di buletin kantor.“Menurut rumor, rumah itu milik salah satu petinggi perusahaan yang telah lama ditinggalkan. Jadi mereka ingin mencari pegawai dari dalam British Food untuk merawatnya. Kau tetap terikat kontrak dengan British Food jika bekerja di sana. Bukankah jelas? Kau melakukan pekerjaan itu sebagai sambilan, pekerjaan utamamu tetap di sini.” Michelle menunjuk satu bagian artikel yang paling bawah. “Oh... jadi ini seperti pekerjaan tambahan.” Michelle mengangguk. “Ya. Seperti pekerjaan lembur yang dilakukan di luar kantor.”“Hmm… Ini bukan pekerjaa

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #390 Ini Cocok!

    Lea baru saja merasa sangat beruntung, karena bisa bekerja biasa setelah sekian lama koma, tapi kemudian begitu saja kesialan datang menerpa. Terlalu ironis menurutnya.“Kau diusir dari mana?” Michelle mendekati Lea, dan berbisik. Tak ingin dua rekan kerjanya yang ada di ruangan itu ikut mendengar cerita Lea.Tapi Lea tak ingin bercerita. Dia menunjukkan pesan yang baru saja diterima kepada Michelle“Maaf, Ms. Caldwell, dengan penuh penyesalan kami mengabarkan... terpaksa meminta anda keluar secepatnya, DALAM WAKTU DUA HARI?!”Awalnya Michelle hanya membaca dalam gumaman, tapi kemudian tak sengaja berseru, karena perintah pengusiran yang diterima Lea sangat absurd.Inti dari pesan itu adalah, gedung apartemen yang Lea tempati telah berganti pemilik, dan pemilik yang baru akan merobohkannya segera. Jadi seluruh penghuninya diminta pindah. Tidak merugikan, karena seluruh biaya sewa yang telah dibayar dimuka akan dikembalikan.Tapi masalahnya adalah waktu. Dua hari adalah waktu yang sanga

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #389 Aku Diusir

    “LEA!”Michelle berteriak nyaring, saat melihat Lea sedang mengantri lift.Tanpa peduli pandangan orang disekitarnya, Michelle berlari menyambut Lea, sementara jas laboratorium berkelebat di sekitar tubuhnya. Dia memang punya kebiasaan memakai jas itu begitu turun dari mobil.Lea sendiri, menyimpan jasnya dengan rapi di tas, dan baru akan memakainya nanti setelah sampai di ruangannya.Michelle adalah teman akrab Lea, dan dia juga bekerja sebagai peneliti di laboratorium yang sama dengan Lea. Pelukan hangat adalah hadiah wajar setelah akhirnya melihat Lea kembali bekerja setelah sekian lama.Pelukan itu terlalu hangat malah, karena terlalu erat, dan selangkah lagi meremukkan tubuh Lea. Lea sudah mengambil jeda waktu tiga hari, dari hari kepulangannya dari rumah sakit, sebelum kembali bekerja, agar tubuhnya lebih kuat. Tapi tetap saja, tubuh Lea yang sedikit tipis kalah telak oleh pelukan Michelle yang tebal.Tubuh Michelle tidak kecil, dia sedikit gempal. Tapi tidak gemuk, Lea akan men

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #388 Kau Menangis!

    “Aku tidak akan pernah lelah memintamu meninggalkannya lagi, karena aku ingin kau meninggalkannya dengan berani. Aku ingin kau merasa menang darinya, Mom. Bukan melarikan diri.”Lea tidak bisa menyeret ibunya untuk keluar dari rumah itu begitu saja, karena keadaan mental Daisy yang tidak stabil.Lea pernah melakukan ini sekali, tapi dengan mudah ayahnya meminta ibunya kembali dan dia patuh karena takut. Perasaan inferior yang dimiliki Daisy, membuatnya sangat sulit melepaskan diri dari racun Mark. Lea menyadari ini, saat melihat bagaimana ibunya dengan gemetar memilih untuk kembali, padahal tahu hanya neraka yang menunggunya jika kembali bersama dengan Mark.Sayangnya Daisy sudah merasa terbiasa dengan neraka itu. Dia terbiasa oleh rasa panas dan api yang ada di rumah itu, karena sudah menjalaninya selama bertahun-tahun. Jadi meski saat dia terluka atau sakit, Daisy sudah terbiasa dan menganggapnya bagian dari hidup.Semenjak itu Lea tahu jika pekerjaan membujuk ibunya meninggalkan ay

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status