Home / Zaman Kuno / Pangeran, Aku Bukan Istrimu / #180 Apa Kau Mempertimbangkannya?

Share

#180 Apa Kau Mempertimbangkannya?

Author: aisakurachan
last update publish date: 2026-08-21 06:50:17
Luz mencintai Moswen, dan patah hati saat wanita itu meninggal. Soal istri yang satu lagi, dia mendapatkannya dari hadiah, dan tidak menginginkannya, karena itu ayah mereka mengambilnya.

“Saat ini aku tidak melihatnya seperti itu. Maksudku aku belum tertarik padanya tapi mungkin bisa jadi di masa depan…”

Luz tentu saja mempercayai firasat itu, tapi dia juga tak mengerti apa yang akan mengantarnya sampai pada titik itu.

“Kau gila! Dia ular!” Ra tidak percaya Luz mempertibangkan Rana.

“Dia ular ha
aisakurachan

Ayo, jangan kalah :))

| 3
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Haruki Matsuda
lea udah nyampe..ada korbannya langsung
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #215 Kau Selalu Seperti Ini?

    Ra yang awalnya juga menganggap Lea terlalu berani, mulai mengamati lebih detail. Dan mulai merasa kesimpulan Lea masuk akal.Dia juga melihat kemiripan yang terlalu banyak, untuk disebut dengan kebetulan saja.“Kau benar-benar Giza?!” Ra mundur semakin menjauh dengan tubuh merinding, dan serta merta mencari kain untuk menutup tubuhnya.Sedikit jijik membayangkan jika tubuh telanjang yang tadi menempel padanya adalah Giza.Sekarang dia berbentuk perempuan, tapi Ra melihat dengan jelas bentuk tubuh Giza siang tadi adalah laki-laki. Ini…. Ra tak ingin membayangkan apapun lagi.Gadis itu tidak terlihat ingin mengakui apapun, tapi bergerak lebih masuk akal. Ia mengambil kain yang menjadi penutup tubuhnya.Itu adalah awal rencana pelarian. Tapi Lea melihat saat matanya melirik ke arah pintu keluar. Secepat kilat, Lea langsung bergeser menutupi pintu itu dengan tubuhnya, mencegahnya kabur.“Katakan yang sebenarnya sekarang, atau aku akan meminta Ra untuk tidak memperlakukanmu seperti wanita

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #214 Kau Makhluk Apa?

    Ra memandang dengan puas permukaan kolam pemandian yang tenang. Karena yang menyiapkan adalah Daka, jadi seperti biasa ada aroma citrus di sana.Persiapan sempurna, maka kini dia tinggal menunggu Lea untuk datang. Ra tahu benar meskipun Lea berkata tidak, tapi tubuhnya lebih jujur daripada bibirnya. Dia akan datang. Dan Ra sangat yakin akan ini.Ra melepaskan semua kain yang menempel pada tubuh, lalu menenggelamkan diri ke dalam kolam yang hangat itu.Setelah seluruh tubuhnya basah, Ra duduk pada undakan yang ada di tepi kolam, membelakangi pintu. Karena ingin melihat ruang terbuka yang ada di sekitar pemandian itu.Tidak terlalu berbeda dengan Yamu, ruang itu menghadap ke taman yang kini telah gelap gulita.Bibir Ra tersenyum, saat mendengar langkah pelan mendekatinya. Tebakannya tidak salah, Lea tidak mengecewakannya.Ra tidak bergerak, memejamkan mata, mendengarkan langkah kaki Lea mendekat.Dia sengaja menunggu sampai jarak Lea sangat dekat. Langkah kaki itu kini berhenti di bel

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #213 Apa Kau Tidak Terlalu Kasar?

    “Kau mengundangku kesini karena kita harus membicarakan soal harga Linen. Kau berencana menaikkan harga linen yang akan dikirim ke Tamiat,” jelas Ra. Mencoba bersabar.“Oh.. Iya. Aku tidak akan menaikkan harganya. Ada lagi? Atau sudah?” tanya Giza, dengan malas. Dia menunduk mengaduk makanan yang ada dalam piringnya.Perundingan singkat yang hanya berlangsung tidak lebih dari dua detik. Meski bisa dikatakan berhasil, Ra jauh dari kata gembira. Dia luar biasa kesal karena semakin merasa telah membuang waktu dengan pergi ke Memphis.Sementara Lea justru geli melihat sikap Giza, sejak tadi agak sulit menahan tawa. Di mata Lea, ekarang Giza terlihat seperti seorang wanita yang sedang merajuk. Sikapnya hampir terasa feminin. Jika menuruti perasaannya, Lea akan menebak jika Giza hanya ingin berteman dengan Ra. Satu-satunya ‘anak dewa’ yang dikenalnya saat ini. Tapi Ra telah menolaknya, jadi dia terlihat sangat kecewa dan malas.Tapi sekali lagi Lea tidak terlalu percaya dengan perasaanny

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #212 Kau Sengaja Melakukannya?

    “Aku sangat luar biasa gembira tak mendengar jika salah satu pangeran di Tamiat ternyata adalah Putra Osiris.”Giza kini terlihat akan melompat dari tempat duduknya karena bersemangat, menjulurkan kepala ke arah Ra. Masih tidak bisa membaca keadaan hati Ra yang sudah dipenuhi kesal.“Aku sebenarnya ingin mengundang secara langsung, tapi tak punya alasan. Jadi terpaksa aku melakukan ini.” Ra menyipitkan mata. “Maksudmu kau membuat acara ini dengan sengaja? Kau dengan sengaja ingin menaikkan harga linen hanya agar aku datang ke sini dan berunding denganmu?” Ra tidak membentak, tapi suaranya mendesis.Giza tersenyum canggung. “Apa aku berlebihan? Pasti berlebihan kau terlihat marah!” katanya, terlihat menyesal. Akhirnya sedikit menyadari emosi Ra yang berkebalikan dengan semangatnya.“Tidak, aku tidak marah,” ujar Ra, sambil melemparkan senyum palsu. Ra sebenarnya lebih dari marah. Dia sudah bersusah payah untuk melakukan perjalanan ke Memphis, padahal sebenarnya dia bisa menghabiskan

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #211 Kau Anak Siapa?

    Ra sekali lagi hanya mengedipkan mata, tidak mengakui apapun dan tidak membenarkan perkataan Giza.Lea awalnya tidak terlalu tertarik pada Giza, karena menurutnya dia terlihat sama seperti tipikal penguasa lain, kaya dan mata keranjang, tapi begitu dia menyebut nama Osiris, Lea memperhatikannya dengan lebih teliti.Pria itu mungkin sebaya Ra. Dua puluh lebih sedikit. Tidak lebih tua daripada Zaim, tapi dia juga sudah sangat matang dan terlihat berpengalaman.Lea tidak akan menyebut dia tampan berlebihan, tapi dia adalah tipe pria yang menarik wanita dengan sifat simpatik yang terpancar saat dia tersenyum. Wajahnya tirus, dengan hidung mancung. Matanya berwarna gelap, menyorot lembut, dan ada tahi lalat di bawah mata kirinya. Satu kata menggambarkan Giza, charming.Lea sempat berharap akan menemui seorang paruh baya yang tamak dan licik, tapi Giza kebalikan dari itu semua. Tapi tentu itu hanya penampakan luar saja. Lea tidak tahu apakah Giza akan licik sesuai dugaannya, atau mungkin

  • Pangeran, Aku Bukan Istrimu   #210 Menikmati Pemandangan?

    Ra membawa Amun kali ini, karena tak tahu apa yang akan dilakukan Lea, saat dirinya sibuk mengurusi perundingan itu.Dia tidak mungkin mengurung Lea dalam kamar seharian. Paling aman memang membawa Amun. Dengan begitu Lea bisa berkeliaran, dan tetap akan ada yang menjaganya.“Banyak… banyak sekali. Aku sendiri tak terlalu mengenal sebagian besar, hanya yang dekat dengan Osiris." Ra tidak bisa memastikan berapa jumlahnya, yang pasti tidak sedikit.Untuk Ptah dan RA (Matahari) yang mereka bahas tadi, Ra juga hanya pernah mendengar namanya saja belum pernah bertemu secara langsung“Apa yang mereka sembah berbeda, tapi bangunan batu mereka tapi tidak terlalu berbeda dengan yang ada di Tamiat,” gumam Lea.Saat memandang kuil-kuil yang sepertinya dibangun untuk menghormati Ra. Bangunan itu terlihat besar dan megah seperti kuil yang ada di Tamiat, desainnya juga hampir sama.“Itu karena memang mereka mengambil desain dari Tamiat. Batu yang dipakai membanguan juga berasal dari Tamiat. Mereka m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status