Share

004 - Pangeran Kembali

Author: Chryztal
last update Last Updated: 2026-01-20 12:04:58

​"Ibu... aku pulang."

​Suara Alaric Alderwyn terdengar parau, pecah oleh debu medan perang yang masih melekat di tenggorokannya. Pangeran tampan itu tidak melepaskan zirahnya yang penuh goresan pedang, ia melangkah terburu-buru menyusuri lorong paviliun Selir Pertama.

Tak ada pesta kemenangan, tak ada sorak-sorai untuk sang pahlawan perbatasan Utara. Yang menyambutnya hanyalah aroma obat-obatan yang menyengat dan keheningan yang menyesakkan.

​Alaric berlutut di sisi ranjang besar yang tampak menelan tubuh kurus Grace. Selir Pertama itu adalah satu-satunya alasan Alaric tetap menjaga kewarasannya di tengah haus darah peperangan.

Alaric menggenggam tangan ringkih ibunya. "Aku membawa kemenangan, jadi tidak perlu pergi berperang lagi dan bisa menemani Ibu."

Grace, wanita yang selalu tersenyum meski diperlakukan dingin oleh sang Raja, kini tampak seperti lilin yang hampir padam. Grace membuka matanya yang meredup, mencoba mengulas senyum saat melihat putra tunggalnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggenggam tangan kasar Alaric.

"Kau... selamat, Putraku. Hiduplah yang Bahagia." bisiknya hampir tak terdengar.

​Namun, genggaman itu hanya bertahan sesaat. Seiring dengan embusan napas terakhir yang terputus, tangan Grace terkulai lemas. Cahaya di mata itu perlahan menghilang, meninggalkan Alaric dalam kehampaan yang menghancurkan.

​"Ibu? Ibu!" Alaric meraung, namun paviliun itu tetap membeku.

​Berita kematian Selir Pertama Grace menyebar secepat api di musim kering ke seluruh penjuru kerajaan. Langit Alderwyn seolah turut berduka, mendung menggantung rendah saat upacara pemakaman dilaksanakan di taman makam kekaisaran.

​Alaric berdiri mematung di depan peti mati ibunya. Wajahnya yang tampan kini tampak seperti pahatan batu, dingin dan tidak terbaca. Sebagai pangeran yang sejak remaja dikirim ke medan perang untuk dihilangkan nyawanya oleh intrik istana, Grace adalah satu-satunya kehangatannya. Tanpa Grace, Alaric merasa tak lagi memiliki jangkar di dunia ini.

​Di antara barisan bangsawan yang hadir dengan pakaian hitam formal, Celestine de Montclair berdiri agak jauh di belakang. Matanya yang berwarna amethyst memperhatikan sosok Alaric yang tampak hancur, namun ia tidak berani mendekat. Hubungan mereka sudah berakhir secara administratif, dan kehadirannya di sini murni sebagai bentuk penghormatan terakhir.

​Namun, saat prosesi pemakaman berlangsung dan peti mati hendak ditutup, langkah Celestine mendadak terhenti. Jantungnya berdegup kencang.

​"Tunggu, ada yang salah." gumam Celestine pelan.

​Berdasarkan ingatannya, Selir Grace diceritakan meninggal karena komplikasi penyakit paru-paru menahun. Kematian ini seharusnya menjadi motivasi bagi Alaric untuk menjadi lebih ambisius.

Namun, saat Celestine memicingkan matanya, ia melihat sesuatu yang luput dari pandangan orang lain. Di bagian bawah peti mati kayu cendana itu, terdapat semburat tipis berwarna ungu kehitaman yang perlahan memudar seolah terserap ke dalam kayu. Itu bukan noda biasa.

​Nightshade Marrow.

​Darah Celestine seolah membeku. Sebagai calon pewaris Montclair yang baru saja mempelajari ensiklopedia tanaman sihir secara obsesif, ia mengenali ciri khas tanaman itu.

Nightshade Marrow adalah tanaman sihir terlarang yang sangat langka. Racunnya tidak berbau dan gejalanya menyerupai gagal napas kronis, sehingga sangat mudah dikelirukan dengan penyakit paru-paru.

​Yang paling mengerikan, tanaman ini hanya bisa tumbuh subur dan dimurnikan menjadi racun cair di satu tempat di seluruh kekaisaran. Wilayah Barat, tanah kekuasaan Montclair.

​Celestine menatap sekeliling dengan waspada. Para pendeta kuil sedang merapal doa, sang Raja berdiri dengan wajah formal yang datar, dan para bangsawan sibuk berbisik.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari semburat ungu itu. Kekuatan sihir tanaman yang mulai berdenyut di dalam darah Montclair miliknya memungkinkan Celestine melihat sisa-sisa energi tanaman sihir tersebut, meski sihirnya sendiri belum bangkit sepenuhnya.

​"Mengapa ada jejak racun dari wilayah barat di sini?" bisik Celestine dengan tangan gemetar.

"Kau bisa merasakannya bukan?" Tanya Grand Duke yang menatap lurus ke depan.

​Dalam novel, kematian Grace tidak pernah disebut sebagai pembunuhan. Alaric membenci Celestine karena obsesinya yang mengganggu, bukan karena dendam darah. Jika ternyata Grace diracun menggunakan produk dari Montclair, maka ini adalah jebakan maut yang jauh lebih besar dari sekadar kegagalan cinta.

​Seseorang telah memalsukan narasi novel yang Celestine baca. Atau mungkin, ada pemain lain di balik layar yang menggunakan kekayaan Montclair untuk menghancurkan keluarga kerajaan dan menjadikannya sebagai kambing hitam.

​Saat Alaric berbalik setelah meletakkan bunga terakhir, matanya yang tajam sempat berserobok dengan mata ungu Celestine. Ada kilat amarah dan kesedihan yang begitu pekat di sana, membuat Celestine merinding. Pria itu tidak tahu bahwa ibunya mungkin dibunuh oleh racun.

​Celestine segera memalingkan wajah, ia berjalan menjauh dari kerumunan dengan langkah terburu-buru, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut.

​"Ini benar-benar tidak masuk akal." gumam Celestine saat ia sudah berada di balik pilar besar istana.

Ia menyentuh dadanya, napasnya memburu merasakan kecemasan dan ketakutan yang dingin. "Di novel, dia meninggal karena sakit. Kenapa sekarang jadi ada jejak racun?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   010 - Aethel Flora

    Hutan belakang kediaman Montclair bukanlah sekadar taman bunga yang tertata rapi. Semakin jauh kaki melangkah ke barat, pepohonan tumbuh semakin rapat, dengan dahan-dahan tua yang saling membelit menciptakan kanopi gelap yang jarang tertembus cahaya matahari. Di sinilah letak jantung kekuatan keluarga Montclair, tempat yang dulu sangat dihindari oleh Celestine asli karena dianggap kotor dan tidak elegan.​Celine, yang kini menempati tubuh itu, berjalan dengan napas yang sedikit tersengal. Ia telah mengganti gaun merahnya dengan setelan ksatria—celana kulit hitam ketat dan kemeja linen putih yang ditutupi rompi pelindung. Pakaian ini terasa jauh lebih benar bagi jiwanya daripada tumpukan kain sutra yang menyesakkan.​Milly berjalan beberapa langkah di belakangnya, membawa tas kecil berisi air dan handuk. Pelayan itu terus menatap punggung Lady-nya dengan dahi berkerut. "Lady, kita sudah berjalan terlalu jauh. Area ini biasanya hanya dimasuki oleh para ksatria penjaga perbatasan." bisi

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   009 - Perasaan Celestine Asli

    "Sial, aura pangeran itu benar-benar menyesakkan." batin Celestine sesaat setelah keluar dari ruang tamu.Celine menutup pintu ruang tamu dengan perlahan, memastikan bunyi klik pengaitnya tidak terdengar oleh telinga tajam Alaric. Namun, begitu kayu ek itu tertutup rapat, lututnya mendadak lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan dinginnya kayu menembus gaun merahnya.Ia menarik napas panjang, mencoba teknik pernapasan box breathing yang sering ia ajarkan pada kliennya dulu di dunia nyata. Tarik empat detik, tahan empat detik, hembuskan empat detik."Tenanglah, Celestine. Ayo tenangkan dirimu." bisiknya pada diri sendiri.Tangannya gemetar hebat. Sebagai mahasiswa psikologi semester akhir, Celine tahu persis apa yang sedang terjadi. Ini bukan sekadar rasa takut, ini adalah reaksi psikosomatik. Tubuh Celestine de Montclair telah dikondisikan selama bertahun-tahun untuk bereaksi secara ekstrem terhadap kehadiran Alaric Alderwyn. Detak jantung yang berpacu kencang ini a

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   008 - Senyum Asing Celestine

    "Sialan! Aku kesal sekali." gerutu Alaric yang sedang duduk di sofa mewah ruang tamu keluarga Montclair. Aroma kayu cendana dan amis darah seolah masih melekat di jubah hitam Alaric Alderwyn, meski ia telah membasuh diri setibanya di ibu kota. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa menggema di lorong kediaman musim panas keluarga Montclair. Para pelayan tertunduk lesu, tubuh mereka gemetar merasakan aura dingin yang memancar dari sang Pangeran Ke-2. Bagi Alaric, kembali ke peradaban setelah tujuh tahun di perbatasan Utara yang membeku adalah sebuah transisi yang mengganggu. Baginya, dunia hanya terdiri dari dua hal, kawan yang bisa memegang pedang, atau lawan yang harus ditebas. Namun, ada satu variabel yang selalu ia benci karena sifatnya yang berisik dan emosional—Celestine de Montclair. Dalam benak Alaric, pertemuan ini seharusnya berjalan seperti biasa. Celestine akan berlari ke arahnya, mata ungu amethyst miliknya akan banjir air mata, dan ia akan meracau tentang betapa

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   007 - Kunjungan Alaric

    "Apa maksud dari semua ini, Yang Mulia?!" Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam ruang audiensi pribadi raja, menghantam dinding-dinding marmer yang dingin. Napasnya memburu, debu pertempuran di Utara seolah masih menyesakkan dadanya, namun api amarah di matanya jauh lebih membara daripada sebelumnya. Di tangannya, surat pembatalan pertunangan itu gemetar karena cengkeraman yang terlalu kuat. Raja Alderwyn tetap tenang di kursinya, jemarinya yang mulai keriput mengusap janggutnya dengan lambat. "Kau baru saja kembali, Alaric. Duduklah. Berduka adalah hakmu, tapi ketenangan adalah kewajibanmu sebagai pangeran." "Ketenangan?" Alaric tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pedang. "Ibu saya baru saja dimakamkan, dan di hari yang sama, keluarga Montclair mencabut dukungan mereka seperti membuang barang rongsokan. Anda membiarkan mereka menghina keluarga kerajaan, Anda membiarkan mereka menghina saya!" Raja menghela napas panjang, menatap putranya dengan tata

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   006 - Alaric Mengamuk

    ​"Berani-beraninya dia... Di saat tanah makam ibuku bahkan belum mengering!" ​Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam paviliun Selir Pertama yang sunyi. Tangannya meremas sebuah surat resmi berperakat lilin perak hingga kertas mahal itu hancur dalam genggamannya. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah jendela, di mana langit ibukota Alderwyn tampak mendung, seolah turut mengejek kehancuran harga dirinya. ​Ibukota Alderwyn tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, hiruk-pikuknya terasa berbeda. Di kedai-kedai kopi hingga aula pesta para bangsawan, hanya ada satu topik yang dibisikkan dengan nada tajam, Pangeran Alaric telah dicampakkan oleh tunangannya sendiri tepat setelah kematian ibunya. ​Berita pembatalan pertunangan oleh keluarga Montclair menyebar secepat wabah hanya beberapa jam setelah upacara pemakaman Selir Grace berakhir. Bagi publik, ini adalah skandal yang menjijikkan. Keluarga Montclair, yang selama ini dikenal sebagai pilar finansial dan militer kekai

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   005 - Tidak Sesuai Alur

    Ia menatap tangannya yang pucat, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penonton di dunia ini. "Plotnya berubah... atau sejak awal, buku itu tidak benar?" Lantai marmer kediaman Montclair yang biasanya terasa megah, kini seolah berubah menjadi lorong dingin yang tak berujung di mata Celestine. Ia melangkah terburu-buru, mengabaikan sapaan hormat para pelayan yang membungkuk di sepanjang koridor. Gaun hitam pemakamannya yang berat dan berbahan beludru tebal terasa mencekik lehernya, seolah ribuan pasang mata dari masa depan yang pernah ia baca kini sedang menertawakan kebodohannya di balik bayang-bayang pilar. Begitu sampai di depan pintu perpustakaan utama di sayap barat, ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam dengan tangan gemetar. Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di ruangan sunyi itu, memberikan sedikit rasa aman yang semu. Celestine menyandarkan punggungnya di daun pintu, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton. "Ini tidak mungkin... ini terasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status