Masuk"Ibu... aku pulang."
Suara Alaric Alderwyn terdengar parau, pecah oleh debu medan perang yang masih melekat di tenggorokannya. Pangeran tampan itu tidak melepaskan zirahnya yang penuh goresan pedang, ia melangkah terburu-buru menyusuri lorong paviliun Selir Pertama. Tak ada pesta kemenangan, tak ada sorak-sorai untuk sang pahlawan perbatasan Utara. Yang menyambutnya hanyalah aroma obat-obatan yang menyengat dan keheningan yang menyesakkan. Alaric berlutut di sisi ranjang besar yang tampak menelan tubuh kurus Grace. Selir Pertama itu adalah satu-satunya alasan Alaric tetap menjaga kewarasannya di tengah haus darah peperangan. Alaric menggenggam tangan ringkih ibunya. "Aku membawa kemenangan, jadi tidak perlu pergi berperang lagi dan bisa menemani Ibu." Grace, wanita yang selalu tersenyum meski diperlakukan dingin oleh sang Raja, kini tampak seperti lilin yang hampir padam. Grace membuka matanya yang meredup, mencoba mengulas senyum saat melihat putra tunggalnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menggenggam tangan kasar Alaric. "Kau... selamat, Putraku. Hiduplah yang Bahagia." bisiknya hampir tak terdengar. Namun, genggaman itu hanya bertahan sesaat. Seiring dengan embusan napas terakhir yang terputus, tangan Grace terkulai lemas. Cahaya di mata itu perlahan menghilang, meninggalkan Alaric dalam kehampaan yang menghancurkan. "Ibu? Ibu!" Alaric meraung, namun paviliun itu tetap membeku. Berita kematian Selir Pertama Grace menyebar secepat api di musim kering ke seluruh penjuru kerajaan. Langit Alderwyn seolah turut berduka, mendung menggantung rendah saat upacara pemakaman dilaksanakan di taman makam kekaisaran. Alaric berdiri mematung di depan peti mati ibunya. Wajahnya yang tampan kini tampak seperti pahatan batu, dingin dan tidak terbaca. Sebagai pangeran yang sejak remaja dikirim ke medan perang untuk dihilangkan nyawanya oleh intrik istana, Grace adalah satu-satunya kehangatannya. Tanpa Grace, Alaric merasa tak lagi memiliki jangkar di dunia ini. Di antara barisan bangsawan yang hadir dengan pakaian hitam formal, Celestine de Montclair berdiri agak jauh di belakang. Matanya yang berwarna amethyst memperhatikan sosok Alaric yang tampak hancur, namun ia tidak berani mendekat. Hubungan mereka sudah berakhir secara administratif, dan kehadirannya di sini murni sebagai bentuk penghormatan terakhir. Namun, saat prosesi pemakaman berlangsung dan peti mati hendak ditutup, langkah Celestine mendadak terhenti. Jantungnya berdegup kencang. "Tunggu, ada yang salah." gumam Celestine pelan. Berdasarkan ingatannya, Selir Grace diceritakan meninggal karena komplikasi penyakit paru-paru menahun. Kematian ini seharusnya menjadi motivasi bagi Alaric untuk menjadi lebih ambisius. Namun, saat Celestine memicingkan matanya, ia melihat sesuatu yang luput dari pandangan orang lain. Di bagian bawah peti mati kayu cendana itu, terdapat semburat tipis berwarna ungu kehitaman yang perlahan memudar seolah terserap ke dalam kayu. Itu bukan noda biasa. Nightshade Marrow. Darah Celestine seolah membeku. Sebagai calon pewaris Montclair yang baru saja mempelajari ensiklopedia tanaman sihir secara obsesif, ia mengenali ciri khas tanaman itu. Nightshade Marrow adalah tanaman sihir terlarang yang sangat langka. Racunnya tidak berbau dan gejalanya menyerupai gagal napas kronis, sehingga sangat mudah dikelirukan dengan penyakit paru-paru. Yang paling mengerikan, tanaman ini hanya bisa tumbuh subur dan dimurnikan menjadi racun cair di satu tempat di seluruh kekaisaran. Wilayah Barat, tanah kekuasaan Montclair. Celestine menatap sekeliling dengan waspada. Para pendeta kuil sedang merapal doa, sang Raja berdiri dengan wajah formal yang datar, dan para bangsawan sibuk berbisik. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyadari semburat ungu itu. Kekuatan sihir tanaman yang mulai berdenyut di dalam darah Montclair miliknya memungkinkan Celestine melihat sisa-sisa energi tanaman sihir tersebut, meski sihirnya sendiri belum bangkit sepenuhnya. "Mengapa ada jejak racun dari wilayah barat di sini?" bisik Celestine dengan tangan gemetar. "Kau bisa merasakannya bukan?" Tanya Grand Duke yang menatap lurus ke depan. Dalam novel, kematian Grace tidak pernah disebut sebagai pembunuhan. Alaric membenci Celestine karena obsesinya yang mengganggu, bukan karena dendam darah. Jika ternyata Grace diracun menggunakan produk dari Montclair, maka ini adalah jebakan maut yang jauh lebih besar dari sekadar kegagalan cinta. Seseorang telah memalsukan narasi novel yang Celestine baca. Atau mungkin, ada pemain lain di balik layar yang menggunakan kekayaan Montclair untuk menghancurkan keluarga kerajaan dan menjadikannya sebagai kambing hitam. Saat Alaric berbalik setelah meletakkan bunga terakhir, matanya yang tajam sempat berserobok dengan mata ungu Celestine. Ada kilat amarah dan kesedihan yang begitu pekat di sana, membuat Celestine merinding. Pria itu tidak tahu bahwa ibunya mungkin dibunuh oleh racun. Celestine segera memalingkan wajah, ia berjalan menjauh dari kerumunan dengan langkah terburu-buru, mencoba menenangkan pikirannya yang kalut. "Ini benar-benar tidak masuk akal." gumam Celestine saat ia sudah berada di balik pilar besar istana. Ia menyentuh dadanya, napasnya memburu merasakan kecemasan dan ketakutan yang dingin. "Di novel, dia meninggal karena sakit. Kenapa sekarang jadi ada jejak racun?"Pagi di kediaman Montclair biasanya membawa aroma embun dan mawar yang menenangkan, namun bagi Celestine, udara pagi ini terasa mencekik. Ia duduk di ruang makannya yang luas, menatap sebuah selebaran gosip istana, "The Royal Whispers", yang baru saja diletakkan oleh salah satu pelayannya dengan tangan gemetar.Di halaman depan, tertulis dengan tinta emas yang mencolok. "Cinta Bersemi di Bawah Pilar Kuil? Pangeran Mahkota Alaric mengirimkan rangkaian Lilac langka dan Mawar Putih tanpa duri kepada Lady Seraphina. Apakah ini pertanda bahwa sang Serigala telah menemukan kedamaian yang tak pernah ia dapatkan dari Mawar berduri?"Celestine meletakkan selebaran itu dengan perlahan. Tangannya tidak bergetar, namun dingin yang luar biasa mulai merambat dari ujung jemarinya, sebuah tanda bahwa mananya mulai beresonansi dengan ketakutan yang ia tekan jauh di dalam dirinya."Jadi... alurnya benar-benar kembali." bisik Celestine pada kesunyian ruangan.Dalam novel asli yang ia ingat, Seraphina ad
Pagi di Kuil Agung pusat ibu kota biasanya diwarnai dengan aroma dupa cendana dan nyanyian para burung peliharaan kuil yang menenangkan. Namun bagi Lady Seraphina pagi ini terasa jauh lebih berseri. Di bawah pilar-pilar marmer putih yang menjulang, ia berdiri dengan anggun sembari menatap sebuah rangkaian bunga besar yang baru saja dikirimkan oleh kurir istana.Bukan sembarang bunga. Rangkaian itu terdiri dari bunga Lilac langka dan mawar putih tanpa duri—simbol penghormatan yang sangat tinggi, atau dalam bahasa rahasia istana, sebuah bentuk perhatian khusus dari sang pemberi."Untukku? Benar-benar dari Pangeran Alaric?" suara Seraphina terdengar sedikit bergetar, jemarinya yang lentik menyentuh kelopak bunga yang masih berembun."Benar, Milady. Pesan dari paviliun utara mengatakan ini sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan Anda menemani Yang Mulia berdansa semalam." jawab sang pelayan kuil sembari membungkuk hormat sebelum undur diri.Seraphina menarik napas panjang, menghirup aroma
Lampu kristal di kamar pribadi Alaric telah diredupkan, menyisakan pendaran remang dari perapian yang mulai mengecil. Sang Pangeran melepaskan kancing-kancing atas seragamnya dengan kasar, melemparkan jas kebanggaannya ke lantai tanpa peduli pada lencana emas yang berdenting keras menabrak marmer. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa beludru berwarna zamrud, bersandar dengan satu tangan menutupi matanya yang lelah dan panas. Wajahnya masam, garis rahangnya masih mengeras seperti batu karang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tangan Elian yang melingkar di pinggang Celestine kembali muncul, memicu denyut kemarahan di pelipisnya.Klek.Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki kecil yang ringan mendekat, memecah kesunyian yang mencekik itu."Kakak Alaric? Kau terlihat... Sedang tidak dalam suasana hati yang bagus?" suara Pangeran Kecil Zephyran terdengar ceria, sangat kontras dengan atmosfer suram di ruangan tersebut.Alaric tidak mengubah posisinya. "Pergilah, Zephyr. Aku sedang tidak
Ketegangan di tengah aula Grand Ballroom kini telah mencapai titik didih. Musik waltz yang seharusnya melambangkan keanggunan dan romansa berubah menjadi latar suara yang ironis bagi konfrontasi tiga insan yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh bangsawan kerajaan. Bisikan-bisikan halus mulai merambat di sudut-ruang, namun tak ada yang berani mendekat saat aura tidak menyenangkan Alaric mulai menyelimuti area dansa tersebut.Alaric menarik napas panjang, sebuah gerakan yang disengaja untuk menekan emosinya yang hampir meledak. Ia melepaskan sarung tangan putihnya yang kini ternoda merah oleh anggur dan serpihan kaca, menjatuhkannya ke lantai tanpa rasa hormat. Wajahnya yang semula tampak dikuasai amarah, kini berubah menjadi topeng ketenangan yang dingin—sebuah ketenangan yang jauh lebih mengerikan bagi mereka yang mengenal sang Pangeran Mahkota terdahulu ini."Sibuk? Ah, Archduke Elian tampaknya memiliki interpretasi yang sangat menarik mengenai etiket istana kami." ujar Alaric d
"Apakah mawar yang indah ini sedang merunduk karena embun malam?"Sebuah suara bariton yang asing, namun memiliki nada yang sangat halus dan menenangkan, menyapa pendengaran Celestine. Celestine yang sedang menikmati angin malam tersentak. Ia menoleh, jantungnya masih berdegup kencang karena amarah yang tersisa, dan menemukan seorang pria berdiri di ambang bayang-bayang balkon.Pria itu tidak mengenakan seragam militer kaku atau zirah berat seperti pria-pria di lingkaran Alaric. Ia mengenakan jubah beludru biru muda dengan bordiran benang perak yang menandakan statusnya sebagai bangsawan tinggi dari Kerajaan Selatan. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang simetris, dengan rambut pirang madu yang tertata rapi."Archduke... Elian?" bisik Celestine ragu.Seketika, potongan ingatan dari pemilik tubuh asli Celestine berputar di kepalanya seperti kaset lama yang berdebu. Pria ini adalah Elian de Valencian, kandidat tunangan masa kecilnya sebelum Celestine jatuh cinta pada Pangeran Alaric. Eli
Istana Utama Grand Ballroom malam itu berubah menjadi samudra cahaya. Ribuan lilin kristal menggantung di langit-langit yang dilukis dengan mitologi dewa-dewi, memantulkan pendaran emas pada lantai marmer yang dipoles hingga menyerupai cermin. Musik harpa dan biola mengalun rendah, memenuhi ruangan dengan irama yang anggun namun sarat dengan ketegangan politik yang tersembunyi di balik tawa para bangsawan.Celestine Montclair melangkah masuk melalui pintu ganda besar, dan seketika, kebisingan di sekitarnya seolah meredup. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang berkilau, dengan sulaman perak berbentuk duri mawar yang merambat dari pinggang hingga ke bahunya. Rambut peraknya disanggul tinggi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah pucatnya yang tampak sangat tenang—sebuah topeng sempurna yang ia bangun selama dua hari terakhir di kediaman Montclair.Di sampingnya, Caelum berjalan dengan zirah perak lengkap, tangannya selalu berada di dekat hulu pedang, memancarkan aura







