LOGINIa menatap tangannya yang pucat, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penonton di dunia ini. "Plotnya berubah... atau sejak awal, buku itu tidak benar?"
Lantai marmer kediaman Montclair yang biasanya terasa megah, kini seolah berubah menjadi lorong dingin yang tak berujung di mata Celestine. Ia melangkah terburu-buru, mengabaikan sapaan hormat para pelayan yang membungkuk di sepanjang koridor. Gaun hitam pemakamannya yang berat dan berbahan beludru tebal terasa mencekik lehernya, seolah ribuan pasang mata dari masa depan yang pernah ia baca kini sedang menertawakan kebodohannya di balik bayang-bayang pilar. Begitu sampai di depan pintu perpustakaan utama di sayap barat, ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam dengan tangan gemetar. Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di ruangan sunyi itu, memberikan sedikit rasa aman yang semu. Celestine menyandarkan punggungnya di daun pintu, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton. "Ini tidak mungkin... ini terasa aneh." bisiknya parau. Tangannya yang dingin segera menyambar buku catatan kecil yang ia sembunyikan di balik deretan buku sejarah. Itu adalah catatan rahasianya, tempat ia merangkum seluruh alur novel The Fallen Crown berdasarkan ingatannya sebagai Celine. Dengan jari yang bergetar hebat, ia membaca baris demi baris hingga menemukan bagian tentang kematian Selir Grace. "Meninggal karena komplikasi paru-paru yang diderita sejak usia muda. Menjadi titik balik karakter Alaric menjadi sosok yang lebih dingin." Celestine membaca baris itu berulang kali sampai matanya terasa panas. "Sakit paru-paru. Seharusnya penyakit alami. Begitulah narasi aslinya!" ia berseru tertahan, suaranya pecah di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi. Namun, bayangan semburat ungu kehitaman pada peti mati Selir Grace yang ia lihat tadi sore terus menghantui penglihatannya. Warna itu bukan imajinasi. Itu adalah Nightshade Marrow, tanaman sihir terlarang yang racunnya hanya bisa dimurnikan di laboratorium alkimia rahasia di wilayah terpencil Aethelgard. Celestine jatuh terduduk di atas permadani tebal, membiarkan gaun mahalnya berkerut berantakan. Keheningan perpustakaan yang biasanya menenangkan kini terasa menindas, seolah setiap buku di ruangan ini adalah saksi bisu atas kebohongan takdir yang ia yakini. Kecemasan mulai merayap seperti kabut tebal di dalam kepalanya. "Jika penyebab kematian ibunya saja sudah berbeda, apa lagi yang salah di dunia ini?" Duar! Suara petir di luar jendela membuat Celestine terlompat kaget. Cahaya kilat sesaat menerangi wajahnya yang pucat di pantulan kaca lemari buku. Ia merasa seolah-olah sedang berjalan di atas jembatan kaca yang sudah retak, satu langkah salah berdasarkan informasi novel yang keliru, dan ia mungkin akan jatuh ke dalam jurang eksekusi jauh sebelum waktu tiga tahun yang dijadwalkan. "Apakah aku benar-benar berada di dunia yang sama?" gumamnya, mencengkeram kepalanya sendiri. "Atau sejak awal, penulis itu menyembunyikan kebenaran ini? Atau... kehadiranku di sini telah mengubah segalanya hingga ke akar-akarnya?" Rasa terisolasi itu mulai mencekiknya. Ia tidak bisa bertanya pada ayahnya, karena ada kemungkinan Grand Duke sendiri terlibat. Ia tidak bisa bertanya pada Alaric, karena pria itu adalah calon eksekutornya. Di dunia yang asing ini, ia benar-benar sendirian dengan rahasia yang bisa meledakkan seluruh kekaisaran. Dalam puncak kecemasannya, Celestine mulai mengacak-acak rak buku kategori "Botani Barat Terlarang". Ia butuh kebenaran. Ia butuh tahu siapa di kediaman ini yang memiliki akses ke penyimpanan Nightshade Marrow dalam satu bulan terakhir. Tangannya bergerak liar, menjatuhkan beberapa gulungan perkamen hingga akhirnya ia menarik sebuah buku tebal tentang ekstraksi racun tanaman tingkat tinggi. Saat buku itu terbuka, sebuah amplop kecil berwarna gading terjatuh dari sela-sela halaman. Amplop itu tidak memiliki nama pengirim, hanya sebuah stempel lilin berbentuk bunga mawar yang terpotong—sebuah lambang rahasia yang tidak pernah disebutkan dalam satu bab pun di novel aslinya. Dengan napas tertahan, Celestine membuka surat itu. Isinya hanya satu kalimat pendek yang ditulis dengan tinta merah tua yang sudah mengering. "Mawar yang layu tidak selalu karena musim, adakalanya karena akar yang disirami cuka." Celestine merasakan sensasi dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kakinya hingga ke tengkuk. Kalimat itu bukan sekadar puisi. Itu adalah pengakuan. Itu adalah kode yang menyatakan bahwa kematian Grace adalah pembunuhan yang disengaja dari dalam sistem mereka sendiri. Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu perpustakaan yang terkunci. "Nona Celestine? Ini saya, pengasuh Anda. Grand Duke meminta Anda segera turun untuk makan malam. Beliau bilang ada hal penting yang harus dibicarakan mengenai kepulangan Pangeran Alaric." suara pelayan tua itu terdengar biasa, namun di telinga Celestine, itu terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang. Celestine segera menyembunyikan surat itu di balik lipatan gaunnya. Ia berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas, mencoba merapikan rambut peraknya di depan cermin kecil. Matanya yang ungu masih memancarkan ketakutan yang mendalam. "Sesuatu telah berubah." bisiknya pada pantulannya sendiri. "Atau mungkin... cerita yang sebenarnya baru saja dimulai.”Hutan belakang kediaman Montclair bukanlah sekadar taman bunga yang tertata rapi. Semakin jauh kaki melangkah ke barat, pepohonan tumbuh semakin rapat, dengan dahan-dahan tua yang saling membelit menciptakan kanopi gelap yang jarang tertembus cahaya matahari. Di sinilah letak jantung kekuatan keluarga Montclair, tempat yang dulu sangat dihindari oleh Celestine asli karena dianggap kotor dan tidak elegan.Celine, yang kini menempati tubuh itu, berjalan dengan napas yang sedikit tersengal. Ia telah mengganti gaun merahnya dengan setelan ksatria—celana kulit hitam ketat dan kemeja linen putih yang ditutupi rompi pelindung. Pakaian ini terasa jauh lebih benar bagi jiwanya daripada tumpukan kain sutra yang menyesakkan.Milly berjalan beberapa langkah di belakangnya, membawa tas kecil berisi air dan handuk. Pelayan itu terus menatap punggung Lady-nya dengan dahi berkerut. "Lady, kita sudah berjalan terlalu jauh. Area ini biasanya hanya dimasuki oleh para ksatria penjaga perbatasan." bisi
"Sial, aura pangeran itu benar-benar menyesakkan." batin Celestine sesaat setelah keluar dari ruang tamu.Celine menutup pintu ruang tamu dengan perlahan, memastikan bunyi klik pengaitnya tidak terdengar oleh telinga tajam Alaric. Namun, begitu kayu ek itu tertutup rapat, lututnya mendadak lemas. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan dinginnya kayu menembus gaun merahnya.Ia menarik napas panjang, mencoba teknik pernapasan box breathing yang sering ia ajarkan pada kliennya dulu di dunia nyata. Tarik empat detik, tahan empat detik, hembuskan empat detik."Tenanglah, Celestine. Ayo tenangkan dirimu." bisiknya pada diri sendiri.Tangannya gemetar hebat. Sebagai mahasiswa psikologi semester akhir, Celine tahu persis apa yang sedang terjadi. Ini bukan sekadar rasa takut, ini adalah reaksi psikosomatik. Tubuh Celestine de Montclair telah dikondisikan selama bertahun-tahun untuk bereaksi secara ekstrem terhadap kehadiran Alaric Alderwyn. Detak jantung yang berpacu kencang ini a
"Sialan! Aku kesal sekali." gerutu Alaric yang sedang duduk di sofa mewah ruang tamu keluarga Montclair. Aroma kayu cendana dan amis darah seolah masih melekat di jubah hitam Alaric Alderwyn, meski ia telah membasuh diri setibanya di ibu kota. Langkah kakinya yang berat dan berwibawa menggema di lorong kediaman musim panas keluarga Montclair. Para pelayan tertunduk lesu, tubuh mereka gemetar merasakan aura dingin yang memancar dari sang Pangeran Ke-2. Bagi Alaric, kembali ke peradaban setelah tujuh tahun di perbatasan Utara yang membeku adalah sebuah transisi yang mengganggu. Baginya, dunia hanya terdiri dari dua hal, kawan yang bisa memegang pedang, atau lawan yang harus ditebas. Namun, ada satu variabel yang selalu ia benci karena sifatnya yang berisik dan emosional—Celestine de Montclair. Dalam benak Alaric, pertemuan ini seharusnya berjalan seperti biasa. Celestine akan berlari ke arahnya, mata ungu amethyst miliknya akan banjir air mata, dan ia akan meracau tentang betapa
"Apa maksud dari semua ini, Yang Mulia?!" Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam ruang audiensi pribadi raja, menghantam dinding-dinding marmer yang dingin. Napasnya memburu, debu pertempuran di Utara seolah masih menyesakkan dadanya, namun api amarah di matanya jauh lebih membara daripada sebelumnya. Di tangannya, surat pembatalan pertunangan itu gemetar karena cengkeraman yang terlalu kuat. Raja Alderwyn tetap tenang di kursinya, jemarinya yang mulai keriput mengusap janggutnya dengan lambat. "Kau baru saja kembali, Alaric. Duduklah. Berduka adalah hakmu, tapi ketenangan adalah kewajibanmu sebagai pangeran." "Ketenangan?" Alaric tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pedang. "Ibu saya baru saja dimakamkan, dan di hari yang sama, keluarga Montclair mencabut dukungan mereka seperti membuang barang rongsokan. Anda membiarkan mereka menghina keluarga kerajaan, Anda membiarkan mereka menghina saya!" Raja menghela napas panjang, menatap putranya dengan tata
"Berani-beraninya dia... Di saat tanah makam ibuku bahkan belum mengering!" Suara Alaric Alderwyn menggelegar di dalam paviliun Selir Pertama yang sunyi. Tangannya meremas sebuah surat resmi berperakat lilin perak hingga kertas mahal itu hancur dalam genggamannya. Matanya yang tajam menatap nanar ke arah jendela, di mana langit ibukota Alderwyn tampak mendung, seolah turut mengejek kehancuran harga dirinya. Ibukota Alderwyn tidak pernah benar-benar tidur, namun pagi ini, hiruk-pikuknya terasa berbeda. Di kedai-kedai kopi hingga aula pesta para bangsawan, hanya ada satu topik yang dibisikkan dengan nada tajam, Pangeran Alaric telah dicampakkan oleh tunangannya sendiri tepat setelah kematian ibunya. Berita pembatalan pertunangan oleh keluarga Montclair menyebar secepat wabah hanya beberapa jam setelah upacara pemakaman Selir Grace berakhir. Bagi publik, ini adalah skandal yang menjijikkan. Keluarga Montclair, yang selama ini dikenal sebagai pilar finansial dan militer kekai
Ia menatap tangannya yang pucat, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penonton di dunia ini. "Plotnya berubah... atau sejak awal, buku itu tidak benar?" Lantai marmer kediaman Montclair yang biasanya terasa megah, kini seolah berubah menjadi lorong dingin yang tak berujung di mata Celestine. Ia melangkah terburu-buru, mengabaikan sapaan hormat para pelayan yang membungkuk di sepanjang koridor. Gaun hitam pemakamannya yang berat dan berbahan beludru tebal terasa mencekik lehernya, seolah ribuan pasang mata dari masa depan yang pernah ia baca kini sedang menertawakan kebodohannya di balik bayang-bayang pilar. Begitu sampai di depan pintu perpustakaan utama di sayap barat, ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam dengan tangan gemetar. Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di ruangan sunyi itu, memberikan sedikit rasa aman yang semu. Celestine menyandarkan punggungnya di daun pintu, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton. "Ini tidak mungkin... ini terasa







