Share

005 - Tidak Sesuai Alur

Author: Chryztal
last update Last Updated: 2026-01-20 12:05:57

Ia menatap tangannya yang pucat, menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar penonton di dunia ini. "Plotnya berubah... atau sejak awal, buku itu tidak benar?"

Lantai marmer kediaman Montclair yang biasanya terasa megah, kini seolah berubah menjadi lorong dingin yang tak berujung di mata Celestine. Ia melangkah terburu-buru, mengabaikan sapaan hormat para pelayan yang membungkuk di sepanjang koridor.

Gaun hitam pemakamannya yang berat dan berbahan beludru tebal terasa mencekik lehernya, seolah ribuan pasang mata dari masa depan yang pernah ia baca kini sedang menertawakan kebodohannya di balik bayang-bayang pilar.

Begitu sampai di depan pintu perpustakaan utama di sayap barat, ia membanting pintu dan menguncinya dari dalam dengan tangan gemetar. Suara kunci yang berputar terdengar nyaring di ruangan sunyi itu, memberikan sedikit rasa aman yang semu. Celestine menyandarkan punggungnya di daun pintu, napasnya tersengal seolah ia baru saja berlari maraton.

"Ini tidak mungkin... ini terasa aneh." bisiknya parau.

Tangannya yang dingin segera menyambar buku catatan kecil yang ia sembunyikan di balik deretan buku sejarah. Itu adalah catatan rahasianya, tempat ia merangkum seluruh alur novel The Fallen Crown berdasarkan ingatannya sebagai Celine. Dengan jari yang bergetar hebat, ia membaca baris demi baris hingga menemukan bagian tentang kematian Selir Grace.

"Meninggal karena komplikasi paru-paru yang diderita sejak usia muda. Menjadi titik balik karakter Alaric menjadi sosok yang lebih dingin." Celestine membaca baris itu berulang kali sampai matanya terasa panas.

"Sakit paru-paru. Seharusnya penyakit alami. Begitulah narasi aslinya!" ia berseru tertahan, suaranya pecah di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi.

Namun, bayangan semburat ungu kehitaman pada peti mati Selir Grace yang ia lihat tadi sore terus menghantui penglihatannya. Warna itu bukan imajinasi. Itu adalah Nightshade Marrow, tanaman sihir terlarang yang racunnya hanya bisa dimurnikan di laboratorium alkimia rahasia di wilayah terpencil Aethelgard.

Celestine jatuh terduduk di atas permadani tebal, membiarkan gaun mahalnya berkerut berantakan. Keheningan perpustakaan yang biasanya menenangkan kini terasa menindas, seolah setiap buku di ruangan ini adalah saksi bisu atas kebohongan takdir yang ia yakini.

Kecemasan mulai merayap seperti kabut tebal di dalam kepalanya. "Jika penyebab kematian ibunya saja sudah berbeda, apa lagi yang salah di dunia ini?"

Duar!

Suara petir di luar jendela membuat Celestine terlompat kaget. Cahaya kilat sesaat menerangi wajahnya yang pucat di pantulan kaca lemari buku. Ia merasa seolah-olah sedang berjalan di atas jembatan kaca yang sudah retak, satu langkah salah berdasarkan informasi novel yang keliru, dan ia mungkin akan jatuh ke dalam jurang eksekusi jauh sebelum waktu tiga tahun yang dijadwalkan.

"Apakah aku benar-benar berada di dunia yang sama?" gumamnya, mencengkeram kepalanya sendiri. "Atau sejak awal, penulis itu menyembunyikan kebenaran ini? Atau... kehadiranku di sini telah mengubah segalanya hingga ke akar-akarnya?"

Rasa terisolasi itu mulai mencekiknya. Ia tidak bisa bertanya pada ayahnya, karena ada kemungkinan Grand Duke sendiri terlibat. Ia tidak bisa bertanya pada Alaric, karena pria itu adalah calon eksekutornya. Di dunia yang asing ini, ia benar-benar sendirian dengan rahasia yang bisa meledakkan seluruh kekaisaran.

Dalam puncak kecemasannya, Celestine mulai mengacak-acak rak buku kategori "Botani Barat Terlarang". Ia butuh kebenaran. Ia butuh tahu siapa di kediaman ini yang memiliki akses ke penyimpanan Nightshade Marrow dalam satu bulan terakhir.

Tangannya bergerak liar, menjatuhkan beberapa gulungan perkamen hingga akhirnya ia menarik sebuah buku tebal tentang ekstraksi racun tanaman tingkat tinggi. Saat buku itu terbuka, sebuah amplop kecil berwarna gading terjatuh dari sela-sela halaman. Amplop itu tidak memiliki nama pengirim, hanya sebuah stempel lilin berbentuk bunga mawar yang terpotong—sebuah lambang rahasia yang tidak pernah disebutkan dalam satu bab pun di novel aslinya.

Dengan napas tertahan, Celestine membuka surat itu. Isinya hanya satu kalimat pendek yang ditulis dengan tinta merah tua yang sudah mengering.

"Mawar yang layu tidak selalu karena musim, adakalanya karena akar yang disirami cuka."

Celestine merasakan sensasi dingin yang luar biasa menjalar dari ujung kakinya hingga ke tengkuk. Kalimat itu bukan sekadar puisi. Itu adalah pengakuan. Itu adalah kode yang menyatakan bahwa kematian Grace adalah pembunuhan yang disengaja dari dalam sistem mereka sendiri.

Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu perpustakaan yang terkunci.

"Nona Celestine? Ini saya, pengasuh Anda. Grand Duke meminta Anda segera turun untuk makan malam. Beliau bilang ada hal penting yang harus dibicarakan mengenai kepulangan Pangeran Alaric." suara pelayan tua itu terdengar biasa, namun di telinga Celestine, itu terdengar seperti lonceng kematian yang berdentang.

Celestine segera menyembunyikan surat itu di balik lipatan gaunnya. Ia berdiri dengan kaki yang masih terasa lemas, mencoba merapikan rambut peraknya di depan cermin kecil. Matanya yang ungu masih memancarkan ketakutan yang mendalam.

"Sesuatu telah berubah." bisiknya pada pantulannya sendiri. "Atau mungkin... cerita yang sebenarnya baru saja dimulai.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   104 - Lady Seraphina Yang Naif dan Polos

    Pagi di Kuil Agung pusat ibu kota biasanya diwarnai dengan aroma dupa cendana dan nyanyian para burung peliharaan kuil yang menenangkan. Namun bagi Lady Seraphina pagi ini terasa jauh lebih berseri. Di bawah pilar-pilar marmer putih yang menjulang, ia berdiri dengan anggun sembari menatap sebuah rangkaian bunga besar yang baru saja dikirimkan oleh kurir istana.Bukan sembarang bunga. Rangkaian itu terdiri dari bunga Lilac langka dan mawar putih tanpa duri—simbol penghormatan yang sangat tinggi, atau dalam bahasa rahasia istana, sebuah bentuk perhatian khusus dari sang pemberi."Untukku? Benar-benar dari Pangeran Alaric?" suara Seraphina terdengar sedikit bergetar, jemarinya yang lentik menyentuh kelopak bunga yang masih berembun."Benar, Milady. Pesan dari paviliun utara mengatakan ini sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan Anda menemani Yang Mulia berdansa semalam." jawab sang pelayan kuil sembari membungkuk hormat sebelum undur diri.Seraphina menarik napas panjang, menghirup aroma

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   103 - Zephyran, Pangeran Yang Peka

    Lampu kristal di kamar pribadi Alaric telah diredupkan, menyisakan pendaran remang dari perapian yang mulai mengecil. Sang Pangeran melepaskan kancing-kancing atas seragamnya dengan kasar, melemparkan jas kebanggaannya ke lantai tanpa peduli pada lencana emas yang berdenting keras menabrak marmer. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa beludru berwarna zamrud, bersandar dengan satu tangan menutupi matanya yang lelah dan panas. Wajahnya masam, garis rahangnya masih mengeras seperti batu karang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tangan Elian yang melingkar di pinggang Celestine kembali muncul, memicu denyut kemarahan di pelipisnya.Klek.Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki kecil yang ringan mendekat, memecah kesunyian yang mencekik itu."Kakak Alaric? Kau terlihat... Sedang tidak dalam suasana hati yang bagus?" suara Pangeran Kecil Zephyran terdengar ceria, sangat kontras dengan atmosfer suram di ruangan tersebut.Alaric tidak mengubah posisinya. "Pergilah, Zephyr. Aku sedang tidak

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   102 - Belati Kata di Atas Lantai Dansa

    Ketegangan di tengah aula Grand Ballroom kini telah mencapai titik didih. Musik waltz yang seharusnya melambangkan keanggunan dan romansa berubah menjadi latar suara yang ironis bagi konfrontasi tiga insan yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh bangsawan kerajaan. Bisikan-bisikan halus mulai merambat di sudut-ruang, namun tak ada yang berani mendekat saat aura tidak menyenangkan Alaric mulai menyelimuti area dansa tersebut.Alaric menarik napas panjang, sebuah gerakan yang disengaja untuk menekan emosinya yang hampir meledak. Ia melepaskan sarung tangan putihnya yang kini ternoda merah oleh anggur dan serpihan kaca, menjatuhkannya ke lantai tanpa rasa hormat. Wajahnya yang semula tampak dikuasai amarah, kini berubah menjadi topeng ketenangan yang dingin—sebuah ketenangan yang jauh lebih mengerikan bagi mereka yang mengenal sang Pangeran Mahkota terdahulu ini."Sibuk? Ah, Archduke Elian tampaknya memiliki interpretasi yang sangat menarik mengenai etiket istana kami." ujar Alaric d

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   101 - Archduke Dari Kerajaan Selatan

    "Apakah mawar yang indah ini sedang merunduk karena embun malam?"Sebuah suara bariton yang asing, namun memiliki nada yang sangat halus dan menenangkan, menyapa pendengaran Celestine. Celestine yang sedang menikmati angin malam tersentak. Ia menoleh, jantungnya masih berdegup kencang karena amarah yang tersisa, dan menemukan seorang pria berdiri di ambang bayang-bayang balkon.Pria itu tidak mengenakan seragam militer kaku atau zirah berat seperti pria-pria di lingkaran Alaric. Ia mengenakan jubah beludru biru muda dengan bordiran benang perak yang menandakan statusnya sebagai bangsawan tinggi dari Kerajaan Selatan. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang simetris, dengan rambut pirang madu yang tertata rapi."Archduke... Elian?" bisik Celestine ragu.Seketika, potongan ingatan dari pemilik tubuh asli Celestine berputar di kepalanya seperti kaset lama yang berdebu. Pria ini adalah Elian de Valencian, kandidat tunangan masa kecilnya sebelum Celestine jatuh cinta pada Pangeran Alaric. Eli

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   100 - Pangeran Alaric & Lady Seraphina

    Istana Utama Grand Ballroom malam itu berubah menjadi samudra cahaya. Ribuan lilin kristal menggantung di langit-langit yang dilukis dengan mitologi dewa-dewi, memantulkan pendaran emas pada lantai marmer yang dipoles hingga menyerupai cermin. Musik harpa dan biola mengalun rendah, memenuhi ruangan dengan irama yang anggun namun sarat dengan ketegangan politik yang tersembunyi di balik tawa para bangsawan.Celestine Montclair melangkah masuk melalui pintu ganda besar, dan seketika, kebisingan di sekitarnya seolah meredup. Ia mengenakan gaun sutra berwarna biru tua yang berkilau, dengan sulaman perak berbentuk duri mawar yang merambat dari pinggang hingga ke bahunya. Rambut peraknya disanggul tinggi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah pucatnya yang tampak sangat tenang—sebuah topeng sempurna yang ia bangun selama dua hari terakhir di kediaman Montclair.Di sampingnya, Caelum berjalan dengan zirah perak lengkap, tangannya selalu berada di dekat hulu pedang, memancarkan aura

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   099 - Suasana Galau Yang Dramatis

    Kamar utama di paviliun utara istana terasa lebih dingin dari biasanya, meskipun perapian besar telah dinyalakan hingga jilatan apinya menari setinggi dada. Alaric duduk di kursi kebesarannya yang berlapis kulit hitam, namun tubuhnya tidak bersandar. Ia membungkuk dengan siku bertumpu pada lutut, jemarinya yang panjang bertautan erat di depan wajah. Netra sapphire miliknya menatap kosong ke arah lidah api, memantulkan kemurkaan yang kini mulai mendingin menjadi keputusasaan yang sunyi.Penolakan Celestine di taman Montclair tadi malam masih terngiang jelas, setiap kata-katanya terasa seperti sayatan belati yang lebih menyakitkan daripada racun Vane kemarin. “Tindakanku kemarin adalah kesalahan.” Kata-kata itu berputar di kepalanya, menghancurkan sisa-sisa ego sang Pangeran."Kakak Alaric? Kenapa wajahmu terlihat seperti itu?" Suara kecil yang lembut itu memecah kesunyian. Alaric tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang masuk. Zephyran Alderwyn, Pangeran Kedelapan yang berusia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status