Home / Fantasi / Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku / 106 - Bunga Solara & Undangan Duchess of Oakhaven

Share

106 - Bunga Solara & Undangan Duchess of Oakhaven

Author: Chryztal
last update Last Updated: 2026-03-10 23:47:28

Celestine melihat Elian mulai menanam benih-benih itu di tanah yang subur, gerakannya penuh kasih seolah sedang merawat sesuatu yang paling berharga di dunia.

​"Bunga ini bernama Solara." jelas Elian sembari menepuk tanah dengan lembut. "Ia tidak butuh banyak air, ia hanya butuh kehadiran seseorang yang tulus menjaganya. Ia akan mekar dengan warna emas yang sangat cantik, persis seperti warna hatimu yang sebenarnya, Celestine."

​Celestine berjongkok di samping Elian, jemarinya menyentuh tanah y
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   106 - Bunga Solara & Undangan Duchess of Oakhaven

    Celestine melihat Elian mulai menanam benih-benih itu di tanah yang subur, gerakannya penuh kasih seolah sedang merawat sesuatu yang paling berharga di dunia.​"Bunga ini bernama Solara." jelas Elian sembari menepuk tanah dengan lembut. "Ia tidak butuh banyak air, ia hanya butuh kehadiran seseorang yang tulus menjaganya. Ia akan mekar dengan warna emas yang sangat cantik, persis seperti warna hatimu yang sebenarnya, Celestine."​Celestine berjongkok di samping Elian, jemarinya menyentuh tanah yang hangat. Menggunakan sihir Aethel-flora miliknya untuk mempercepat pertumbuhan benihnya, Celestine mengerahkan seluruh pehatian dan kasih sayangnya pada tunas bunga itu. Seolah-olah ia bertelepati agar bunga ini cepat tumbuh dan mekar."Tunas ini kelak akan tumbuh menjadi bunga yang sangat indah." gumam Celestine, suaranya kini terdengar lebih tenang saat merasakan kehangatan tanah meresap ke dalam pori-pori kulitnya. Untuk sejenak, bayangan Alaric yang sedang tersenyum pada Seraphina memudar

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   105 - Kekhawatiran Celestine yang Berlebihan

    Pagi di kediaman Montclair biasanya membawa aroma embun dan mawar yang menenangkan, namun bagi Celestine, udara pagi ini terasa mencekik. Ia duduk di ruang makannya yang luas, menatap sebuah selebaran gosip istana, "The Royal Whispers", yang baru saja diletakkan oleh salah satu pelayannya dengan tangan gemetar.Di halaman depan, tertulis dengan tinta emas yang mencolok. "Cinta Bersemi di Bawah Pilar Kuil? Pangeran Mahkota Alaric mengirimkan rangkaian Lilac langka dan Mawar Putih tanpa duri kepada Lady Seraphina. Apakah ini pertanda bahwa sang Serigala telah menemukan kedamaian yang tak pernah ia dapatkan dari Mawar berduri?"Celestine meletakkan selebaran itu dengan perlahan. Tangannya tidak bergetar, namun dingin yang luar biasa mulai merambat dari ujung jemarinya, sebuah tanda bahwa mananya mulai beresonansi dengan ketakutan yang ia tekan jauh di dalam dirinya."Jadi... alurnya benar-benar kembali." bisik Celestine pada kesunyian ruangan.Dalam novel asli yang ia ingat, Seraphina ad

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   104 - Lady Seraphina Yang Naif dan Polos

    Pagi di Kuil Agung pusat ibu kota biasanya diwarnai dengan aroma dupa cendana dan nyanyian para burung peliharaan kuil yang menenangkan. Namun bagi Lady Seraphina pagi ini terasa jauh lebih berseri. Di bawah pilar-pilar marmer putih yang menjulang, ia berdiri dengan anggun sembari menatap sebuah rangkaian bunga besar yang baru saja dikirimkan oleh kurir istana.Bukan sembarang bunga. Rangkaian itu terdiri dari bunga Lilac langka dan mawar putih tanpa duri—simbol penghormatan yang sangat tinggi, atau dalam bahasa rahasia istana, sebuah bentuk perhatian khusus dari sang pemberi."Untukku? Benar-benar dari Pangeran Alaric?" suara Seraphina terdengar sedikit bergetar, jemarinya yang lentik menyentuh kelopak bunga yang masih berembun."Benar, Milady. Pesan dari paviliun utara mengatakan ini sebagai bentuk apresiasi atas kesediaan Anda menemani Yang Mulia berdansa semalam." jawab sang pelayan kuil sembari membungkuk hormat sebelum undur diri.Seraphina menarik napas panjang, menghirup aroma

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   103 - Zephyran, Pangeran Yang Peka

    Lampu kristal di kamar pribadi Alaric telah diredupkan, menyisakan pendaran remang dari perapian yang mulai mengecil. Sang Pangeran melepaskan kancing-kancing atas seragamnya dengan kasar, melemparkan jas kebanggaannya ke lantai tanpa peduli pada lencana emas yang berdenting keras menabrak marmer. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa beludru berwarna zamrud, bersandar dengan satu tangan menutupi matanya yang lelah dan panas. Wajahnya masam, garis rahangnya masih mengeras seperti batu karang. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan tangan Elian yang melingkar di pinggang Celestine kembali muncul, memicu denyut kemarahan di pelipisnya.Klek.Pintu kamar terbuka pelan. Langkah kaki kecil yang ringan mendekat, memecah kesunyian yang mencekik itu."Kakak Alaric? Kau terlihat... Sedang tidak dalam suasana hati yang bagus?" suara Pangeran Kecil Zephyran terdengar ceria, sangat kontras dengan atmosfer suram di ruangan tersebut.Alaric tidak mengubah posisinya. "Pergilah, Zephyr. Aku sedang tidak

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   102 - Belati Kata di Atas Lantai Dansa

    Ketegangan di tengah aula Grand Ballroom kini telah mencapai titik didih. Musik waltz yang seharusnya melambangkan keanggunan dan romansa berubah menjadi latar suara yang ironis bagi konfrontasi tiga insan yang menjadi pusat perhatian hampir seluruh bangsawan kerajaan. Bisikan-bisikan halus mulai merambat di sudut-ruang, namun tak ada yang berani mendekat saat aura tidak menyenangkan Alaric mulai menyelimuti area dansa tersebut.Alaric menarik napas panjang, sebuah gerakan yang disengaja untuk menekan emosinya yang hampir meledak. Ia melepaskan sarung tangan putihnya yang kini ternoda merah oleh anggur dan serpihan kaca, menjatuhkannya ke lantai tanpa rasa hormat. Wajahnya yang semula tampak dikuasai amarah, kini berubah menjadi topeng ketenangan yang dingin—sebuah ketenangan yang jauh lebih mengerikan bagi mereka yang mengenal sang Pangeran Mahkota terdahulu ini."Sibuk? Ah, Archduke Elian tampaknya memiliki interpretasi yang sangat menarik mengenai etiket istana kami." ujar Alaric d

  • Pangeran yang Membunuhku Kini Mengejar Cintaku   101 - Archduke Dari Kerajaan Selatan

    "Apakah mawar yang indah ini sedang merunduk karena embun malam?"Sebuah suara bariton yang asing, namun memiliki nada yang sangat halus dan menenangkan, menyapa pendengaran Celestine. Celestine yang sedang menikmati angin malam tersentak. Ia menoleh, jantungnya masih berdegup kencang karena amarah yang tersisa, dan menemukan seorang pria berdiri di ambang bayang-bayang balkon.Pria itu tidak mengenakan seragam militer kaku atau zirah berat seperti pria-pria di lingkaran Alaric. Ia mengenakan jubah beludru biru muda dengan bordiran benang perak yang menandakan statusnya sebagai bangsawan tinggi dari Kerajaan Selatan. Cahaya bulan menyinari wajahnya yang simetris, dengan rambut pirang madu yang tertata rapi."Archduke... Elian?" bisik Celestine ragu.Seketika, potongan ingatan dari pemilik tubuh asli Celestine berputar di kepalanya seperti kaset lama yang berdebu. Pria ini adalah Elian de Valencian, kandidat tunangan masa kecilnya sebelum Celestine jatuh cinta pada Pangeran Alaric. Eli

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status